
"Iya, ada apa Tante?."
"Kamu Maura, kan?." tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan dingin. Membuat Maura bingung.
"Iya, Tante benar ... saya Maura. Tante kenal saya?."
"Kebetulan sekali. Perkenalkan ... saya Inggrid, Mamanya Virza."Inggrid menjulurkan tangan kanannya dengan suara yang masih terdengar dingin."Kebetulan sekali kita bertemu disini. Ada yang perlu saya bicarakan sama kamu. Bisa minta waktu kamu sebentar?."
"Boleh, Tante." Maura menelan ludah. Seraya menadahkan tangan menuju sofa minimalis disudut toko."Kita bicara disana aja, Tante."
Inggrid berjalan tanpa suara. Ia mendudukkan diri pada sofa berwarna merah itu. Diikuti oleh Maura yang duduk disampingnya.
"Saya tau kamu masih berhubungan dengan anak saya." Inggrid membuka suara tanpa basa-basi."Kenapa?." ia menatap Maura datar."Kenapa kamu masih mengganggu anak saya .. padahal kamu tau kalau anak saya sudah ingin bertunangan."
"Kamu lupa sama apa yang sudah kamu lakukan kepada anak saya beberapa tahun lalu?."
Pertanyaan Inggrid membuat Maura menelan ludah kelu.
"Kamu meninggalkan dia begitu saja, dan menikah dengan orang lain." sambung Inggrid dengan suara yang sedikit keras.
__ADS_1
"Tante ... saya minta maaf. Tapi saya dulu terpaksa melakukan itu."
Inggrid bergeleng pelan."Kamu pernah membuat anak saya terluka Maura. Dia sempat terpuruk gara-gara kamu!."jelasnya kembali kali ini dengan suara bergetar mengingat Virza kala itu."Sekarang kamu datang lagi dalam kehidupan anak saya, setelah dia hampir bisa melupakan kamu."
"Dia sudah hampir bertunangan dengan Evelyn ... tapi semuanya berantakan gara-gara kamu!."sambung Inggrid dengan tatapan marah."Kamu pasti sudah merayu anak saya, sampai-sampai dia memilih kamu dan meninggalkan Evelyn begitu saja."
"Sebagai wanita kamu punya hati enggak, sih?."tanya Inggrid dengan suara yang kali ini perlahan pelan namun tetap terdengar jelas."Kamu bisa fikir enggak perasaan Evelyn bagaimana?."
Maura bergeming. Ia menangis dengan wajah tertunduk. Ucapan Inggrid telah membuat hatinya tercubit sakit.
"Jangan pernah kamu berfikir kamu bisa kembali dengan anak saya! karena sampai kapan pun, saya tidak akan pernah bisa menerima kamu."
"Jadi mulai sekarang ... saya mohon tinggalkan Virza. Jangan pernah kembali dalam kehidupannya lagi!."pungkas Inggrid tegas, lalu berdiri meninggalkan Maura yang masih tertunduk menangis.
Maura berjalan menapaki trotoar. Sesekali menyusut air mata yang jatuh. Kalimat Inggrid beberapa saat lalu masih terekam jelas diingatan. Membuatnya merasa seakan menjadi wanita paling jahat di dunia ini.
Beberapa saat berjalan, membawa Maura berada didekat sebuah taman. Ia memutuskan untuk duduk pada kursi kayu yang tersedia di taman itu. Ada beberapa orang yang tampak di kursi kayu lainnya. Tapi beberapa saat kemudian satu persatu pergi, karena langit telah berubah mendung. Dan mungkin sebentar lagi akan hujan.
Hanya Maura yang tak ingin peduli. Ia tetap duduk meluapkan rasa sedih dengan tangis yang tumpah sejadi-jadinya, ketika itu hujan pun turun dengan sangat deras.
__ADS_1
"Apa aku memang tidak berhak bahagia? apa aku tidak berhak mencintai?? kenapa semua orang yang aku cintai tidak bisa bersama dalam hidupku??."
"Kenapa??."tanyanya dengan keras pada hujan yang turun dengan sangat deras. Diiringi isak tangis yang membuat bahunya berguncang. Ketika itu, ia dibuat tertegun karena tubuhnya tiba-tiba terhindar dari hujan. Sontak ia melihat keatas, sebuah payung telah melindunginya. Ia pun, lalu menoleh kebelakang untuk melihat seseorang yang datang.
"Kenapa teriak-teriak disini? enggak takut gosong disambar petir?."
Ujar pria itu yang ternyata adalah Kevin.
Maura berbalik ke depan, sambil melingkupi tubuhnya yang basah dengan kedua tangan. Sama sekali tak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Kakak ngapain kesini?."
"Tadi kebetulan lewat .... enggak sengaja lihat cewek bodoh teriak-teriak ditengah hujan."jelas Kevin sedikit keras, masih sambil berdiri dibelakang Maura sambil memegangi payung.
Maura tak ingin merespon kalimat pria itu.
"Kamu mau teriak-teriak sampai air hujan berubah jadi batu juga enggak bakalan bisa menjawab pertanyaan kamu."
"Mending sekarang ikut aku pulang." pungkas Kevin dengan tegas.
__ADS_1
"Kakak pulang aja sendiri!."
"Berdiri sekarang, atau aku gendong paksa masuk kedalam mobil?."