
Hari libur menjadi waktu yang selalu ditunggu. Terutama bagi orang-orang yang setiap harinya menghabiskan waktu dengan bekerja. Tentu merasa lega karena bisa sejenak bernafas tenang. Bermalas-malasan dirumah, atau pergi berlibur ketempat-tempat yang indah bersama keluarga.
Tapi Maura, ia memilih menghabiskan waktu dirumah. Saat ini, dirinya tengah sibuk di dapur bersama sang jagoan kecil. Keduanya tampak riang gembira membuat adonan cake coklat. Tampak Nathan sedang duduk diatas meja, sambil sesekali menjilati gula pasir ditangannya.
"Masukin tepungnya, nak."ucap Maura seraya mengecilkan kecepatan mixer.
"Yang ini, Ma?." Nathan menunjuk cup berisi gundukan berwarna putih.
"Iya, sayang. Pelan-pelan masukannya biar enggak tumpah."
"Oke, Ma." Nathan mengambil cup tersebut dan memasukkannya kedalam wadah berisi gula dan kawan-kawannya yang telah diaduk menjadi satu. Ia menuangkannya dengan hati-hati.
"Makasih, sayang." Maura tersenyum.
"Masih lama, Ma?."tanya Nathan dengan mulut yang sedang mengunyah gula.
"Enggak, sayang ... ini juga udah mau siap. Tinggal kita masukin kedalam cup satu persatu. Habis itu dipanggang sebentar, terus dikasih toping .... jadi deh"
"Yeeee!." seru Nathan girang."Ma aku mau nanti cupcake-nya dikasih toping biskuit."
"Boleh, sayang."ucap Maura santai. Ia mulai memasukkan adonan ceke kedalam cup satu persatu. Tapi tiba-tiba saja ujung hidungnya gatal. Refleks saja ia menggaruk hingga membuat sedikit adonan menempel. Nathan yang melihat itu langsung tertawa.
"Kenapa, sayang?."
"Hidung Mama kotor." Nathan masih tertawa menunjuk ujung hidungnya sendiri.
Maura refleks mengusap. Namun sepertinya ia lupa bahwa sarung tangan yang ia kenakan sudah hampir sepenuhnya dipenuhi adonan. Dan itu justru membuat noda putih di hidungnya semakin bertambah. Kembali membuat Nathan tertawa hingga terbahak-bahak.
"Mama lucu, deh." ucap Nathan seraya berusaha meredakan tawa.
Maura dibuat gemas melihat bocah kecil itu. Kali ini ia menjulurkan tangan mencolek pipi dan ujung hidung bocah kecil itu.
"Yah, Mama. Aku jadi kenak, deh." Nathan terkejut, tapi kemudian kembali tertawa.
Bik Imah yang sedang lewat hanya tersenyum seraya bergeleng pelan melihat tingkah Mama dan anak tersebut.
Beberapa saat berlalu, cake coklat telah matang. Kini saatnya membuat toping. Bocah kecil itu meminta untuk menghiasinya sendiri. Dengan gerakan memutar tangan gembulnya memberikan butter cream. Diberi mata dan mulut dengan bahan biskuit. Menciptakan sebuah cupcake yang lucu.
"Yee!, selesai." Nathan bertepuk tangan dengan riang.
"Waah .... lucu banget, sayang."Maura tersenyum."Anak Mama memang pintar."
"Iya, dong, Ma ... anaknya siapa dulu?."ucap Nathan dengan sombong, ketika saat itu suara bel berbunyi.
"Siapa yang datang, Ma?." tanya Nathan heran.
__ADS_1
Maura hening sesaat."Mungkin Om Kevin." tebaknya ketika mendengar sayup-sayup suara laki-laki dari arah depan. Dan yang pasti ia tau, itu bukan suara Razdan. Karena ia kenal betul dengan suara mertua laki-lakinya itu.
"Coba kamu lihat, nak."
Nathan langsung bergeleng."Aku nggak mau, Ma. Om Kevin jahil ... suka gelitikin aku sampai ngompol."
Maura tertawa pelan."Enggak apa-apa, sayang. Sekalian ini." ia menaruh tiga buah cupcake diatas nampan."Kasih Oma, sama Opa. Sekalian Om Kevin juga."
"Mereka pasti senang."
"Ya udah, deh."
"Pelan-pelan ya, sayang. Awas jatuh." ucap Maura ketika Nathan berjalan ke depan.
Maura telah selesai menghias cupcake, ketika Nathan kembali muncul di dapur lalu menarik paksa lengannya."Ma ayo, Ma."
"Iya, sayang .... tapi Mama ....."
"Udah, Ma ... Mama jangan berisik." sambung Nathan memutus kalimat sang Mama seraya terus berjalan menarik lengan sang Mama."Mama harus lihat siapa yang datang."
"Memangnya siapa yang datang sih, sayang?."
"Taraaa!." seru Nathan dengan sangat gembira ketika sampai diruang tamu."Ada om ganteng, Ma."
Maura berdiri tertegun. Melihat pria berpenampilan casual tengah duduk bersenda gurau bersama Razdan dan Desi.
Sementara Desi dan Razdan yang melihat penampilan menantunya itu dibuat terkekeh. Bagaimana tidak, saat ini Maura masih menggunakan celemek, lengkap dengan sarung tangan dan bekas adonan yang menempel diujung hidung.
Maura seketika tersadar. Ia sempat melihat Virza sedang mengulum senyum kearahnya, sebelum dirinya berbalik, dan kembali ke dapur.
Dengan masih menyimpan rasa malu, ia melepas celemek dan sarung tangan. Kemudian mencuci muka dengan air keran.
"Siap yang datang, non?." suara Bik Imah membuat Maura terkejut. Wanita paruh baya itu masuk dari pintu belakang usai menyapu halaman."Bibi lihat dihalaman depan ada mobil."
"Temanku, Bik." sahut Maura sekenanya.
Bik Imah seketika tersenyum penuh arti."Temen apa temen?."
"Teman, bik." aku Maura lagi.
"Iya deh, iya ... temen tapi demen." Bik Imah terkikik pelan.
Mendengar itu Maura hanya bergeleng pelan. Ia lalu membuat minuman. Meletakkannya diatas nampan kemudian melangkah ke depan dengan perasaan gugup.
Saat ini, ia melihat Nathan sedang bermanja duduk dipangkuan pria itu. Ia meletakkan minuman dengan perasaan tak menentu."Silahkan diminum."
__ADS_1
Virza tak menjawab. Ia hanya sekilas melihat Maura sambil memasang wajah cuek. Membuat Maura berdengus pelan.
Maura kemudian mendudukkan diri, memilih tempat yang sedikit jauh dari tempat duduk Virza saat ini. Sekilas ia menoleh pada sepasang mertuanya. Tampak kedua paruh baya itu menyambut kehadiran Virza dengan ramah. Bahkan tadi Maura juga sempat melihat ketiganya saling mengobrol, seolah sudah pernah saling mengenal sebelumnya.
"Tadi saya juga sudah lihat di media online. Setelah kalian mengkonfirmasi ... para pelanggan sepertinya mulai percaya, bahwa PT. Alingga tidak benar-benar menggunakan bahan pewarna berbahaya."
Virza tersenyum tipis.
"Terima kasih nak Virza, atas kerja samanya telah membantu PT. Alingga."ucap Razdan kembali."Kalau tidak ... entah lah, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan PT. Alingga kedepannya."
"Tidak perlu berterima kasih seperti itu, Pak. Kami adalah supplier untuk PT. Alingga ... itu sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya."
Saat ini, Maura baru menyadari bahwa sang mertua dan sang mantan kekasihnya itu sudah sama-sama saling mengenal. Keduanya tampak dekat sebagai rekan kerja.
Razdan manggut-manggut."Yah ... saya harap kerja sama kita masih bisa terjalin kembali."
"Tentu saja, Pak." Virza tersenyum."Beberapa hari lalu memang Maura sempat membatalkan kontrak kerja sama." ia mengerling sesaat pada Maura, membuat wanita itu memandang kearahnya.
"Tapi saya bisa memaklumi itu, Pak."sambung Virza kembali memandang pada Razdan."Karena saat itu dia sedang marah. Itu hal yang wajar."
Razdan tertawa pelan.
"Saya harap perusahaan kita bisa bekerja sama dengan baik. Saya percaya, perusahaan kamu bisa membuat PT. Alingga bangkit kembali."sambung Razdan lagi.
Apa? jadi Papa memutuskan PT. Alingga kembali bekerja sama dengan PT. VB Textile?. batin Maura.
"Om ... ayo, main. Aku udah lama tau ... pingin main-main sama om lagi."ucap Nathan tiba-tiba karena sejak tadi merasa dicuekin."Udah kangen."
Desi dan Razdan tertawa. Mereka paham akan perasaan cucu mereka itu. Pasalnya ketika pulang dari Bali beberapa Minggu lalu, bocah kecil itu pernah menceritakan sosok om ganteng. Mereka tak tau bahwa sosok pria itu adalah Virza Bramasta. Rekan bisnis Razdan sendiri.
Virza tertawa renyah melihat bocah kecil itu berbicara."Maafin Om, ya. Om sampai lupa. Padahal kan, om kemari selain mau ketemu Opa Razdan ... ya, pingin ketemu kamu."
"Om juga kangen, tau." sambung Virza dengan suara manja. Membuat Nathan tertawa.
Sementara Maura hanya diam memperhatikan.
_________________
Virza dan Nathan sedang berada dihalaman kecil yang ada di samping rumah. Keduanya tampak asik bermain bola. Hingga akhirnya keduanya berhenti karena merasa lelah.
"Anak ganteng ... Om minta izin ngobrol sama Mama kamu, dulu. Boleh kan?."ucap Virza sambil membungkukkan tubuh, ketika saat itu, tampak Nia datang seraya membawakan sebotol susu untuk Nathan.
"Kamu minum susu dulu. Tuh." ia menujukan dagu pada Nia yang sedang berjalan."Mbak Nia udah datang."
"Oke, Om." sahut Nathan cepat.
__ADS_1
Virza berdiri tegak. Ia berjalan menghampiri Maura yang sedang duduk di kursi besi yang tersedia tak jauh dari taman.
"Ngapain kemari? bukannya tadi kamu bilang cuma pingin ketemu Papa sama Nathan aja." ucap Maura dengan wajah ketus sambil melipat kedua tangan didepan dada.