KIMCHI

KIMCHI
Kamu Adalah Wanita Pilihan


__ADS_3

"Om, ayo aku kenalin sama Mama aku."


Nathan tiba-tiba menarik lengannya. Sebenarnya ia ingin menolak. Tapi dirinya tak sampai hati melihat bocah kecil itu yang dengan semangat bertemu dengannya.


"Itu Mama, Om." Nathan menunjuk sang Mama yang tengah duduk diatas hamparan pasir putih sambil menekuk kedua lutut.


Pandangan Virza mengikuti Nathan. Ia melihat wanita memakai dress putih tengah duduk membelakangi menatap langit yang mulai berwarna kemerahan.


"Mama!." seru Nathan sambil berlari kecil menghampiri sang Mama. Sambil dengan tangan yang tak lepas menarik tangan Virza.


"Iya, sayang." Maura menoleh tersenyum. Tapi kemudian terdiam. Karena terkejut melihat kehadiran Virza yang datang bersama sang anak.


Bukan hanya Maura yang terkejut. Tapi Virza juga. Pria itu melangkah dengan ragu.


"Kalian ...." Maura tak melanjutkan ucapannya. Ia seperti bingung.


"Tuan ini yang kemarin ngobatin lukanya den Nathan, Non. Namanya Tuan Virza." jelas Nia sambil tersenyum."Tadi enggak sengaja ketemu waktu beli es krim."


"Ini es krimnya, sayang." Nia memberikan es krim yang baru dibeli pada Nathan.


"Makasih, Mbak Nia." Nathan langsung menjilat es krim yang sedikit meleleh."Iya, Ma. Ini Om ganteng yang kemarin."


"Ayo, Om ... kenalin. Ini Mama aku." ucap Nathan lagi sambil mendongakkan kepala menatap Virza. Kemudian kembali menjilat es krim.


Virza tersenyum tipis.


"Enggak perlu, sayang." Maura menatap putranya."Mama dengan Om Virza udah saling kenal."


"Ooo." bibir Nathan membulat sempurna, turut dengan es krim yang sudah menempel disekitar bibir."Jadi Mama sama Om ganteng sudah saling kenal?."


"Iya, sayang ... Om ini teman kerja Mama."jelas Maura lagi.


"Ternyata Nathan anak kamu?." tanya Virza masih tak percaya.


"Iya." Maura tersenyum tipis.


Nia memperhatikan sikap Virza dan Maura yang terlihat kikuk.


"Kalau bapak tidak keberatan, silahkan bergabung dengan kami." pinta Maura ramah.


"Apa tidak menggangu?." tanya Virza. Sejujurnya ia takut kehadirannya membuat Maura tidak nyaman.


Maura terkekeh pelan."Tentu saja, tidak."


"Iya, Om ... temani aku main, yuk." ajak Nathan kembali menarik tangannya.


Virza memandang bocah kecil itu."Oke." ia tersenyum kemudian menekuk kedua lutut."Ayo, naik." ia menepuk punggungnya.


Begitu antusias, Nathan langsung meletakkan kedua tangan dileher Virza, menaiki punggung pria itu. Tawanya begitu lepas. Binar matanya memancarkan kebahagiaan ketika Virza membawanya berlari-lari kecil ditepian pantai. Membiarkan helai-helai rambut keduanya tersapu angin.


Setelah keduanya puas berlarian, Virza menemani Nathan membuatkannya istana dari tumpukan pasir. Meski saat ini kemeja putihnya sudah dilumuri noda, ia tak merasa risih. Entah mengapa melihat tawa bahagia di wajah bocah kecil itu, membawa kebahagian yang tak terucap dihatinya. Ditengah kegiatannya membuat istana pasir, tanpa sengaja tatapannya bersirobok dengan tatapan Maura yang sedang memperhatikannya. Seperti gugup, wanita itu langsung memalingkan muka.


"Aduh, den Nathan ... rumahnya bagus banget." ujar Nia yang datang menghampiri Nathan dan Virza."Siapa yang buatin?."


"Aku dong, Mbak Nia. Tapi dibantu Om ganteng." Nathan terkikik pelan.

__ADS_1


"Nathan ... kamu main dengan Mbak Nia dulu, ya." ujar Virza sambil menepuk-nepuk kedua tangannya yang dipenuhi pasir.


"Oke, Om." bocah itu mengangguk cepat. Membuat pipi gembulnya turut bergerak.


Virza kemudian berdiri. Ia berjalan menghampiri Maura. Lalu mendudukkan diri diatas pasir putih, tepat disisi wanita itu.


Maura menoleh. Bibirnya terbuka dan kembali tertutup berkali-kali. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun ia bingung harus bicara apa.


"Bapak, apa kabar?."


"Apa kabar?."


Ucap keduanya bersamaan.


"Jangan memanggilku seperti itu. Kita sedang tidak membahas pekerjaan." Virza melihat pada Maura."Aku, baik."


"Aku juga, baik."sahu Maura membalas tatapan Virza.


Hening beberapa saat. Keduanya menatap ke depan.


"Dimana, Damar?." Virza kembali membuka suara.


Pertanyaan itu membuat Maura terdiam.


"Kemarin Nathan memintaku menjadi Papanya. Sebenarnya apa yang terjadi?." Virza kembali memandang Maura.


"Soal itu aku minta maaf, Mas.Tolong jangan difikirkan, aku sama sekali tidak pernah mengajarinya seperti itu."ucap Maura merasa tidak enak.


"Itu tidak masalah. Yang aku tanya, dimana suamimu?."


"Maksudnya?." Virza mengernyit.


"Mas Damar sudah meninggal." ucap Maura dengan tatapan nyalang menatap laut.


Virza terdiam seketika. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Maura."Maafkan aku. Aku tidak tahu." ucapnya merasa tidak enak, melihat kesedihan di wajah Maura.


Maura tersenyum kecut."Tidak apa-apa, Mas."


Sesaat kembali hening.


"Tiga tahun lalu, tepat satu minggu sebelum resepsi pernikahan kami, Mas Damar brangkat ke Surabaya bersama Fariz. Saat menuju bandara .... mereka mengalami kecelakaan." sambung Maura lagi tanpa melihat pada Virza."Sebuah bus besar menabrak mobil mereka dari belakang. Fariz selamat .... " ia menjeda kalimat menelan ludah kelu."Tapi Mas Damar, tidak."


Virza diam mendengarkan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir mungil wanita itu. Jujur, ia terenyuh. Merasa iba melihat Maura yang harus berkali kali ditinggalkan orang-orang yang dicintainya.


"Kadang aku merasa Tuhan tidak adil padaku, Mas. Dia sudah mengambil satu persatu orang yang aku sayangi." Maura menunduk menahan isak tangis.


Melihat air mata yang jatuh dari pipi wanita itu, membuat Virza tidak tega. Perlahan tangan kanannya bergerak ingin meraih tubuh mungil itu dan membawanya kedalam pelukan. Namun ragu.


"Tuhan tau kamu wanita kuat. Kamu adalah wanita pilihan yang mampu melewati semua ini." Virza mengusap bahu Maura pelan.


Maura tersenyum kecut, kemudian menyusut air mata.


"Mama !"teriak Nathan sambil berlari kecil ke arah Maura. Anak itu kini sudah terlihat rapi. Nia sudah membersihkan tubuhnya dari pasir pasir yang menempel dan memakaikan pakaiannya kembali.


Maura menoleh."Hei sayang ... sudah selesai mainnya?."

__ADS_1


"Udah, Ma." Nathan mengangguk.


"Ya udah, sekarang kita pulang ya?."


Nathan menekuk bibirnya kesamping."Tapi aku masih mau sama Om ganteng, Ma."


"Sayang .... tapi ini udah hampir gelap. Kita harus pulang. Hotel the Ritz Family bentar lagi tutup, loh. Kamu mau kita enggak bisa masuk terus tidur di luar?." ucap Maura menakut-nakuti anaknya.


Virza tersenyum tipis mendengar itu.


"Om antar pulang, mau?."


Nathan langsung mengangguk.


"Mas, aku nggak mau ngerepotin kamu."ucap Maura tidak enak.


"Enggak apa-apa. Kebetulan aku juga menginap di hotel itu." terang Virza.


"Ayo anak ganteng. Kita pulang." Virza langsung mengendong tubuh gempal Nathan membawanya dengan posisi tengkurap."Kita terbang!."


"Yeee .... aku terbang.!"seru Nathan kegirangan. Suara tawa dan kekehan terdengar tiada henti disepanjang menuju mobil Virza yang terparkir.


Maura tersenyum melihat itu. Pemandangan yang membuat hatinya terasa hangat.


Hanya 15 menit perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh Virza telah sampai di pelataran hotel. Nathan yang sedang berada di kursi belakang ternyata tengah tertidur pulas di pangkuan Nia. Sepertinya anak itu kelelahan usai bermain di pantai.


Maura turun dari dalam mobil dan hendak menggendong Nathan. Tapi Virza menahannya.


"Biar aku saja." Virza meraih pelan-pelan tubuh gempal Nathan agar tidak terbangun. Lalu menggendongnya menuju kamar hotel.


Maura membuka pintu kamarnya. Mempersilahkan Virza masuk dan meletakkan Nathan diatas tempat tidur.


"Terima kasih, ya, Mas." Maura memandang Virza."Maaf merepotkan."


"Tidak apa-apa." Virza tersenyum tipis."Aku permisi dulu." ia keluar dari kamar itu.


"Mas."


Virza menoleh kembali.


"Aku dengar dari Kevin sebentar lagi kamu akan bertunangan. Selamat, ya ... semoga nanti acaranya lancar."


Virza tak menjawab. Ia hanya menarik kedua sudut bibirnya tipis. Sebuah senyuman yang hampir tak terlihat.


_


_


_


_


Dukung author dengan memberikan like, komen dan Vote-nya ya.☺️


Terima kasih. Salam sayang dari author😘

__ADS_1


__ADS_2