
Maura terbangun. Ia mengerjap-ngerjapkan mata seraya memegang kepalanya yang terasa pusing. Mungkin karena obat bius yang sempat menguasai kesadarannya. Perlahan ia beringsut, berusaha bangkit dari posisi tidurnya seraya menyapukan pandangan pada setiap sudut ruangan tempat dirinya berada saat ini. Sebuah Villa dengan dinding yang terbuat dari kayu jati. Terlihat sederhana dengan nuansa berwarna coklat. Villa itu terlihat rapih dan terawat, namun sepi.
Aku dimana? siapa yang membawaku kemari?. saat ini, yang bisa dia ingat adalah kejadian ketika dirinya hendak memasuki mobil usai dirinya berbelanja di supermarket. Seseorang seperti membekapnya dari arah belakang. Setelah itu, ia tak mengingat apapun lagi.
Derap langkah seketika membuat Maura menoleh kearah pintu yang terbuka. Ia menjadi terkejut dan takut melihat seorang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam, menyeringai sambil berjalan mendekatinya.
"S-siapa kamu?"Maura beringsut mundur, tubuhnya bergetar ketakutan.
Bukannya menjawab, pria itu malah terkekeh, membuat Maura bergidik ngeri.
"Apa kabar Maura?? selamat datang ditempat terakhirmu."
Maura seketika beralih menatap seorang wanita yang juga tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu. Dan perlahan berjalan mendekatinya.
"Evelyn ... apa maksudmu? dan apa yang ingin kamu lakukan?" Maura menelan ludah ketakutan.
Evelyn tertawa. Lalu sejurus kemudian menangkup wajah wanita yang ketakutan itu dengan satu tangannya kuat-kuat."Kamu tanya apa maksudku? huh?." ia menatap Maura dengan sorot kebencian yang berapi-api.
"Aku akan melenyapkan mu!." pungkas Evelyn dengan suara tinggi, seraya melepaskan tangannya dengan kasar hingga meninggalkan jejak kemerahan diwajah Maura.
Maura kembali menelan ludah."Aku mohon, Evelyn. Jangan sakiti aku."ucapnya sambil menangkup kedua tangan. Ia memohon dengan suara bergetar ketakutan. Air mata mengalir di pipinya. Kembali ia diingatkan dengan kejadian beberapa tahun lalu. Dimana Risna berusaha melenyapkannya hingga merenggut penglihatannya.
Evelyn menyeringai."Apa kamu pikir aku bodoh? kamu telah mengambil kebahagiaanku, Maura. Kamu telah mengambil orang yang aku cintai! Aku benci kamu! aku benci kamu!"teriaknya dengan mata memerah sarat dengan amarah yang berapi-api.
Maura menangis terisak.
"Lakukan seperti apa yang sudah aku katakan!"perintah Evelyn pada pria yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.
"Baik, Nona."ucap pria itu pada Evelyn yang berjalan keluar. Ia lalu berjalan mendekati Maura.
"Kamu mau apa?." ia kembali beringsut. Tapi tubuhnya sudah rapat pada dinding."Tolong menjauh dariku! jangan dekati aku." ia menepis tangan pria berpakaian serba hitam itu ketika mencoba menjamahnya.
__ADS_1
Pria itu tersenyum licik."Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Sebelum melenyapkan mu ... tidak ada salahnya kan, jika aku mencicipi tubuhmu lebih dulu." ia kembali menyentuh wajah Maura.
"Pergi kamu.!"Maura menunjang bagian alat vital pria itu. Refleks pria itu terhuyung kebelakang seraya meringis kesakitan. Hal itu tak ingin disia-siakan oleh Maura. Ia gegas keluar dari ruangan sempit itu.
"Jangan lari kamu!"seru pria itu, sambil berlari berusaha mengejar Maura.
Maura sudah berada didalam ruangan lain. Ruangan yang terlihat seperti ruangan tempat berkumpulnya keluarga. Ia terus berlari, berusaha keras keluar dari tempat itu. Namun sayang, karena terburu-buru, kakinya terserimpet, lalu terjatuh. Ia menoleh kebelakang. Dan betapa terkejutnya dia karena melihat pria itu sudah berdiri dibelakangnya sambil menertawakannya.
"Kamu mau kemana, cantik? Mau minta tolong?"tanya pria itu sambil menekuk kedua lutut didepan Maura. Lalu berdecak-decak pelan."Sayang sekali. Karena sepertinya tidak akan ada yang mendengarkan mu."
"Tempat ini sunyi. Hanya ada binatang buas yang akan menerkammu kalau kamu keluar dari Villa ini."sambung pria itu menakut-nakuti.
"Tolong lepaskan aku .... aku mohon."Maura menangkup kedua tangan didepan dada, memohon dengan suara terisak-isak.
Pria itu bergeleng."Kamu harus mendapatkan pembalasan dariku, karena kamu sudah berani menunjang bagian berharga milikku."ucapnya mendorong bahu Maura, hingga terlentang dilantai.
Maura ingin bangkit, tapi pria itu menindih tubunya. Ia tak kuasa melawan tubuh besar itu. Hanya bisa menangis ketakutan saat pria itu membuka paksa satu persatu kancing bajunya. Pria itu menatap tubuh bagian atasnya yang sudah terbuka dengan tatapan rakus. Seperti singa kelaparan.
Detik itu, pintu tiba-tiba terbuka.
Membuat pria itu terkejut.
"Mas."
Bugh!!
Sebuah tunjangan menghantam bagian dada pria itu sebelum berhasil menghindar, hingga terjungkal dilantai.
"Beraninya kamu!" ujar Virza geram seraya menarik jaket hitam pria itu dan memaksanya berdiri.
Bugh!!
__ADS_1
Virza kembali melayangkan bogem mentah. Dan kali ini kali membuat darah segar mengalir dari bibir pria itu. Pria itu seketika lemas dan tak sadarkan diri. Ia beralih pada Maura yang sudah duduk dilantai sambil menutupi dada karena beberapa kancing bajunya yang terlepas.
"Sayang, apa kamu terluka?"tanya Virza khawatir. Ia menekuk kedua lutut, lalu membuka jas yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Maura.
Maura hanya bergeleng. Ia langsung memeluk tubuh Virza dengan erat dan menangis sejadinya. Tak dapat ia bayangkan apa yang akan terjadi, jika saja Virza tidak datang tepat waktu.
"Tenang, sayang." Virza menelan ludah mengatur nafas yang masih tersengal."Tidak apa-apa ... sekarang kamu aman. Ada aku disini." ia mengusap punggung Maura, sambil sesekali membubuhkan kecupan lembut dipuncak kepala kekasihnya itu.
"Mas ... kita harus pergi dari sini. Jangan sampai Evelyn tau kamu datang. Dia berusaha ingin melenyapkan ku, Mas."suaranya bergetar ketakutan.
"Kata siapa kamu akan selamat?."
Maura dan Virza menoleh pada sumber suara.
"Kamu akan mati ditanganku hari ini juga, Maura."Evelyn turun dari lantai atas sambil memegang sebuah pistol dan membidiknya ke arah Maura.
Virza dengan sigap berdiri, menutupi tubuh Maura dengan tubuhnya."Kamu jangan gila, Evelyn. Turunkan tanganmu!"
Evelyn tersenyum kecut. Seperti tak peduli, ia terus menuruni tangga, dengan pistol yang tak lepas dari bidikan. Matanya memerah, kalap.
"Evelyn, sadarlah! Jangan sampai kamu menyesali perbuatanmu."Virza berusaha setenang mungkin untuk menyadarkan wanita yang menjadi buas itu.
"Aku tidak akan menyesalinya, Za. Kalau aku tidak bisa mendapatkan mu ... maka tidak akan kubiarkan orang lain memilikimu."
"Kamu hanya milikku Virza. Kamu hanya milikku!!.""teriak Evelyn, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Netranya berkaca-kaca.
Hati Maura terenyuh. Ia tidak menyangka Evelyn begitu mencintai Virza segila ini. Dengan sedikit kepayahan Maura berusaha berdiri seraya pelan-pelan memegangi kedua tangan Virza. Sepertinya kakinya terkilir akibat terjatuh beberapa saat lalu.
"Evelyn ... tolong jangan berbuat nekat seperti ini." Maura memandang Evelyn lembut."Aku memahami perasaanmu." ia menelan ludah."Kalau memang ini yang kamu inginkan .... aku siap meninggalkan Mas Virza untukmu."
Virza seketika menoleh pada Maura. Terdiam beberapa saat. Ia benar-benar tak menyangka Maura akan berkata seperti itu.
__ADS_1