
Seminggu telah berlalu hari-hari dilalui Virza dengan rasa sunyi. Entah mengapa tiba-tiba saja Maura menghindarinya. Setiap kali ia ingin bertemu namun Maura selalu saja menolak dengan alasan sibuk. Virza pun berusaha memahami itu.
Virza yang saat ini sedang berdiri di balkon kamar, merasakan ponsel ditangannya bergetar sesaat. Satu pesan tertera dilayar. Ternyata itu adalah pesan dari wanita yang sangat ia rindukan.
Hatinya sedikit senang. Gegas ia membuka layar kunci. Tapi ketika pesan itu terbaca, seketika air mukanya berubah terkejut.
"Apa maksudnya? kenapa dia tiba-tiba mengirim pesan begini?." lirih Virza bertanya pada diri sendiri. Selang kemudian ia berjalan cepat menuju kamar. Tapi didepan pintu balkon, langkahnya tiba-tiba berhenti melihat Kevin yang entah sejak kapan berdiri disana.
"Kamu dari kapan disini?." Virza menatap Kevin datar.
"Cukup lama." Kevin yang saat ini sedang bersandar pada dinding pintu, berdiri tegak."Kamu mau kemana?."
Virza hening sesaat."Menemui Maura."ucapnya kemudian.
Kevin diam.
"Aku pergi dulu." Virza melangkah kembali.
"Sebentar." Kevin menahannya.
"Aku buru-buru. Kalau ada yang mau di bicarakan ... nanti saja." Virza terus berjalan masuk kedalam kamar. Membuka lemari pakaian, lalu mengambil sebuah jaket kulit berwarna coklat dari dalam sana.
"Ini soal Maura."
Virza langsung menutup pintu lemari, berbalik menatap Kevin dengan tanya.
"Aku tau perasaanmu belakangan ini." ujar Kevin lagi berjalan mendekati Virza.
Virza diam.
"Seminggu yang lalu Maura bertemu Mama disebuah toko tas. Dia bilang .... Mama menyuruhnya untuk menjauhimu."
Virza menatap Kevin tak percaya.
"Itulah mengapa Maura menjauhimu." sambung Kevin kembali."Sebenarnya Maura menyuruhku untuk tutup mulut."
__ADS_1
"Tapi karena melihat wajahmu yang akhir-akhir ini seperti menanggung beban kepahitan ...."Kevin menjeda kalimat menunjuk wajah Virza dengan suara nada suara mengejek."Aku jadi tidak tega."
Virza berdesis geram.
"Sekarang Mama dimana?."tanya Virza kemudian.
"Mama keluar. Tadi katanya ada acara di komplek sebelah."
Virza menghela nafas berat."Tapi ngomong-ngomong ... terima kasih sudah memberitahuku. Ya walau pun, aku sedikit kesal karena kamu baru mengatakannya."
"Aku minta maaf."
Virza tersenyum tipis. Ia kemudian mengambil kunci mobil diatas meja."Aku pergi dulu."
Kevin memperhatikan Virza yang sedang berjalan keluar.
_________________
Maura meletakkan buket bunga terakhir diatas makam milik Damar. Tak lupa sebait kalimat penuh kerinduan ia ucapkan."Assalamualaikum, suamiku. Kamu apa kabar?." lirihnya lembut."Aku kangen Mas."
"Mas ... k-kamu kenapa bisa ada disini?." Maura menyusut air mata memandang Virza.
Virza tak menjawab. Ia hanya menatap Maura sesaat. Lalu menunduk, menatap makam Damar seraya memanjatkan doa. Maura pun, akhirnya turut melakukan hal yang sama. Sesekali ia memperhatikan Virza yang dengan khusyuk membaca doa dengan mata terpejam.
Hingga beberapa saat keduanya pun, selesai.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Mas ... kenapa kamu bisa ada disini?." Muara memandang Virza.
"Aku tadi ke rumah kamu. Tapi Nia bilang kamu ke makam. Jadi aku datang."
"Buat apa kamu cari aku lagi, Mas? bukannya udah jelas pesan yang tadi aku kirim? kita putus."ucap Maura dengan tegas.
"Enggak ada kata putus." Virza menatap Maura dingin.
"Tapi aku tetap mau kita putus, Mas." tegas Maura lagi.
__ADS_1
Virza mengambil lengan Maura agar berdiri."Kita bicarakan ditempat lain. Tidak baik membahasnya ditempat seperti ini."
Maura menurut untuk berdiri. Mengikuti langkah Virza yang berjalan membawanya menuju mobil."Kamu mau bawa aku kemana, Mas?."
"Ke rumahku."
"Enggak, Mas!." Maura menarik paksa lengannya.
"Kenapa? kamu takut sama Mama aku?."
Maura menelan ludah.
"Aku sudah tau semuanya. Aku sudah tau alasan kenapa kamu tiba-tiba meminta hubungan kita berakhir."
Maura bergeming.
"Sayang ..." Virza mengambil tangan kanan Maura, menggenggamnya."Aku minta tolong .... tolong kamu jangan menyerah. Kita harus sama-sama memperjuangkan hubungan kita apapun yang terjadi."
"Maaf, Mas. Aku nggak bisa." Maura menatap Virza dengan tatapan tegas."Hubungan kita memang seharusnya tidak perlu dilanjutkan lagi.
"Semudah itu kamu menyerah? apa kamu tidak benar-benar mencintaiku?." tanya Virza dengan nada suara yang kecewa.
"Aku cinta, Mas ... aku cinta sama kamu." aku Maura sungguh-sungguh."Tapi percuma ... Mama kamu enggak suka sama aku. Mama kamu sendiri yang bilang ke aku kalau dia enggak akan pernah bisa menerima aku sampai kapan pun."
"Dan Evelyn ... dia juga cinta sama kamu Mas. Aku enggak mau hubungan kita terus berlanjut kalau harus ada yang tersakiti."
"Hubungan kita salah Mas ... karena cuma kita yang bahagia. Tapi yang lain enggak."sambung Maura dengan suara bergetar.
Virza diam, menunduk menahan sebak.
Maura menelan ludah. Ia menurunkan pandangan."Jadi mulai sekarang ... kita akhiri saja hubungan kita, Mas. Anggap kita tidak pernah saling mencintai sebelumnya."
Virza menatap Maura dengan netra memerah. Bait-bait kalimat yang terlontar dari bibir wanitanya itu benar-benar telah membuatnya kecewa."Baik, kalau itu mau kamu. Kita putus." ucapnya akhirnya. Kemudian langsung melangkah masuk kedalam mobil. Pergi dari tempat itu.
Sementara Maura yang melihat kepergian Virza, akhirnya menangis. Baginya ini adalah keputusan yang sulit. Namun terpaksa harus ia lakukan agar tidak ada yang terluka.
__ADS_1