
Tiga tahun kemudian,
Bali,
Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang bermain bola disebuah taman. Ia tak sendiri, ada baby sitter yang selalu menemaninya di saat sedang bermain.
"Ayo, den ... tendang bolanya." kata Nia sambil melebarkan kedua tangannya. Bocah kecil itu langsung bersiap-siap untuk menendang.
"Yeee ... dapat!" seru Nia yang berhasil manangkap bola yang menggelinding."Sekarang gantian. Aden yang nangkap. mbak Nia yang nendang. Oke?."
"Oke. mbak Nia." kata bocah kecil itu dengan suara khas anak kecil yang baru lancar berbicara.
"Tangkap."
"Aaaa !" pekik anak itu sedikit keras, lalu menangis sambil memegangi lutut."Huhuhuhu."
"Den Nathan!"Nia langsung berlari menghampiri."Ya ampun, sayang?." ia meniup pelan lutut bocah kecil itu."Maaf, ya ... gara-gara mbak Nia kamu jadi jatuh."
Nathan masih menangis."Huhuhuhu. Sakit, mbak Nia."
"Ya udah, sekarang kita pulang, yuk ... lukanya harus diobatin."
Nathan mengangguk. Tapi saat Nia menggendongnya, bola matanya yang bulat tertuju pada tukang es krim yang berada beberapa meter darinya.
"Aku mau es krim itu, mbak Nia." kata Nathan sambil menunjuk ke arah tukang es krim yang memakai topi putih.
"Aden mau es krim? ya udah ... kalau gitu aden tunggu disini dulu, ya." Nia menunjukan dagunya pada kursi besi putih di taman."Nanti kalau ikut, Aden capek. Soalnya ngantri."
Nathan mengangguk.
"Jangan kemana-mana ... duduk disini aja. Mbak Nia beli es krimnya dulu. Oke." kata Nia mengingatkan.
"Oke, Mbak Nia." ujar Nathan sambil mengusap bekas air mata di pipinya dengan punggung tangannya yang berisi. Sepanjang menunggu Nia kembali, anak itu duduk diam sambil memperhatikan orang-orang disekelilingnya.
"Eh jatuh!"serunya tiba-tiba karena bola karet yang ada ditangannya jatuh menggelinding sampai kejalan. Ia pun gegas turun sambil berusaha mengejar bolanya tersebut, dengan langkah tertatih karena lututnya yang memar. Saat itu, sebuah mobil BMW berwarna putih perlahan melambat dan berhenti.
Seorang pria tinggi berkulit bersih terlihat turun lalu mengambil bola tersebut."Apa ini milikmu?." pria itu berjalan mendekati Nathan.
Nathan mengangguk pelan.
"Ini." pria itu berjongkok seraya tersenyum memberikan bola itu pada Nathan.
"Terima kasih, Om."
"Iya."Pria tersebut kembali tersenyum sambil mengusap puncak kepala Nathan."Tapi lain kali hati hati, ya. Jangan mencoba menyeberangi jalanan kalau sendirian. Bahaya ... ada banyak kendaraan yang lewat."
"Iya, Om."
"Kaki kamu kenapa?." tanya pria itu tiba-tiba karena tak sengaja melihat pada lutut bocah kecil itu yang sedikit berdarah.
"Habis jatuh waktu nangkap bola, Om." sahut Nathan dengan gaya bahasanya yang sedikit terbata.
"Om obati, ya?."
Kali ini Nathan tak menjawab. Ia bergeming mengingat ucapan sang Mama yang pernah melarangnya dekat dengan orang yang tidak dikenali.
Seolah tau apa yang ada didalam pikiran bocah kecil itu, pria itu tersenyum."Jangan takut. Om bukan orang jahat."
"Mau kan, Om obatin?." tanya pria itu lagi.
Nathan akhirnya mengangguk.
Sementara itu, seorang wanita yang ada didalam mobil yang sama dengan pria itu, tiba-tiba memanggil.
"Sayang ... buruan, dong. Acara lamarannya sudah mau mulai."
__ADS_1
"Sebentar." pria itu menoleh dan berdiri mengambil kotak p3k dari dalam mobil. Tak perduli meski sang kekasih sudah menekuk wajah. Ia kemudian berbalik dan segera mengobati memar pada lutut bocah kecil itu.
"Siapa namamu, anak tampan?."
"Namaku, Nathan om."
"Nathan ..." pria itu manggut-manggut."Nama yang bagus."
Nathan pun, tersenyum."Terima kasih, ya om ganteng ... udah ngobatin lukaku."ucap Nathan dengan polos.
Pria tersebut terkekeh mendengar sebutan om ganteng yang diucapkan bocah kecil itu kepadanya. Menurutnya bocah kecil itu terlalu bijak dan menggemaskan."Om ganteng?." ucapnya mengulangi.
"Iya ... om kan memang ganteng. Baik lagi."aku Nathan sambil tersenyum."Om Mau nggak, jadi Papa aku?"celetuknya tiba-tiba dengan polos.
Pertanyaan Nathan membuat pria itu terdiam sesaat."Memangnya papa kamu kemana?"tanyanya ragu.
"Kata mama ... papa ada diatas sana, om." ucap Nathan sambil menunjuk ke atas langit."Enggak balik-balik lagi."
Pria tersebut menatap sendu pada Nathan. Kedua tangannya menangkup pipi gembul bacah itu."Silahkan kamu panggil Om dengan sebutan papa. Semoga kita bisa bertemu lagi, ya."
Nathan langsung mengangguk dengan wajah yang bahagia.
"Sayang ...." panggil wanita yang ada didalam mobil itu kembali."Kamu ngapain, sih? lama banget."
"Om pergi dulu, ya." ucap pria itu sambil mengusap kembali puncak kepala Nathan.
Nathan kembali mengangguk meski sedikit kecewa.
Nia yang baru saja kembali dari membeli es krim menjadi cemas karena tidak melihat keberadaan Nathan. Ia celingukan mencari kesana kemari. Dan akhirnya pandangannya tertuju pada bocah kecil yang berdiri dipinggir jalan sedang melambaikan tangan pada sebuah mobil.
"Ya ampun, aden ... bikin sport jantung aja sih, den ... den."gerutu Nia sambil berjalan cepat kearah Nathan berada."Ngapain disini? kan Mbak Nia sudah bilang jangan kemana-mana."
"Mbak Nia cemas, tau." sambung Nia lagi.
"Tadi itu, bolaku jatuh Mbak Nia." jelas Nathan dengan logat bahasanya yang manja."Jadi aku kejar, deh."
"Itu om ganteng, Papa baru aku."sahut Nathan dengan wajah polos.
Mendengar itu Nia langsung terbelalak."Papa baru?."
Nathan mengangguk cepat."Iya."
"Ya ampun, kamu jangan aneh aneh, dong, den. Ingat enggak pesan Mama, kalau kamu itu enggak boleh dekat-dekat dengan orang yang baru dikenal." Nia mengingatkan."Kalau diculik gimana?"
"Aku ingat, Mbak Nia. Tapi Om itu baik, kok ... dia bukan penculik." kata Nathan dengan yakin."Lihat ini, Om itu udah ngobatin luka aku." ia menunjukkan lututnya yang sudah dipakaikan plaster luka.
Nia hening sesaat. "Ya udah ... tapi lain kali nggak boleh gitu, ya. Harus hati-hati."
Nathan mengangguk.
"Ya udah, ini es krimnya dimakan dulu. Nanti cair."ucap Nia memberikan es krim yang tadi ia beli, pada Nathan.
__________________
The Ritz Family Nusa Dua,
Maura berdiri menatap pantai Nusa Dua yang begitu indah dari balkon hotel. Pemandangan indah itu sedikit mengurangi rasa lelah pada tubuh yang sejak tadi belum beristirahat. Pukul 10 pagi mereka sampai di Bali. Tapi siang harinya ia harus bertemu pemilik hotel The Ritz Family Nusa Dua, untuk membahas proyek pembuatan seragam karyawan.
Ya, sejak suaminya meninggal, dialah pengelola perusahaan PT. Alingga. Tak mudah baginya untuk mempertahankan perusahaan menjadi perusahaan konveksi terbaik di ibu kota. Ada banyak perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan, mengakibatkan persaingan. Seperti saat ini, PT Alingga sedang berada diposisi terbawah. Namun hal itu, tak membuat Maura menyerah. Sebisa mungkin ia ingin membuat PT, Alingga kembali bangkit. Beruntung hotel the Ritz Family Nusa Dua menawarkan kerjasama. Tentu hal ini tak ingin dilewatkan oleh Maura.
Getar gawai yang ada ditangan membuat Maura tersentak. Ia kemudian menjawabnya.
"Hallo, Riz."
Bagaimana pembahasan kerjasama dengan tuan Adam? apa berjalan dengan lancar?
__ADS_1
Sudut bibir Maura tertarik tipis."Alhamdulillah lancar, Riz. Saya dan Pak Adam sudah menandatangani kontrak kerja."
Syukurlah kalau begitu. Oh, iya ... sekalian aku ingin mengatakan kalau pemilik perusahaan tekstil dari Jerman itu, besok sudah siap untuk bertemu denganmu.
Pertemuannya pukul 11 siang. Semoga lancar, ya.
"Terima kasih, Riz." ucap Maura sebelum panggilan terputus.
"Mama!" seru Nathan sambil berlari memeluk tubuh sang Mama dari belakang.
"Eh, anak mama. Gimana mainnya? seru?" Maura berjongkok mengimbangi Nathan.
Nathan bergeleng pelan."Aku tadi jatuh, Ma."
"Jatuh? kok bisa?." Maura langsung memperhatikan seluruh tubuh bocah gembul itu. Untuk melihat apakah anaknya itu mengalami luka yang serius atau tidak. Pandangannya pun, tersita pada lutut Nathan yang kini terbalut plaster.
"Ya ampun, sayang ... lain kali hati-hati dong, mainnya." Maura menyentuh lutut Nathan dengan pelan-pelan."Apa masih sakit?."
"Udah enggak, Ma. Kan udah diobati sama Om ganteng." jelas Nathan.
"Om ganteng?." Maura mengulangi."Maksud kamu siapa, sayang?."
"Om ganteng itu papa baru aku, Ma." jelas Nathan lagi dengan polosnya.
Maura semakin tak mengerti. Ia kemudian memandang Nia. Tatapannya menuntut jawaban.
"Maaf non ... tapi saya juga enggak tau siapa pria yang di maksud den Nathan. Soalnya tadi itu ... posisinya saya lagi beli es krim. Karena Den Nathan lututnya lagi sakit ... jadi saya tinggal sebentar dikursi yang ada di taman."
"Eh, pas saya balik ... ternyata kakinya den Nathan udah dibalut plaster. Dan yang ngobatin katanya papa barunya itu, Non."terang Nia panjang lebar.
Membuat Maura membeliakkan mata mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nia.
Nia reflek menutup mulut dengan kedua tangannya."P-pria itu, maksudnya Non." ralatnya sambil cengengesan, dalam hati ia mengumpat menyesali bibirnya yang seperti petasan.
"Tolong, ya, Mbak Nia ... lain kali jangan meninggalkan Nathan sendirian. Kalau dia diculik gimana?." nada suara Maura sedikit kecewa.
"Maafin, saya, non." Nia menunduk.
"Kali ini kamu saya maafin. Tapi tolong, lain kali jangan begitu."
"Iya, non." Nia merasa menyesal.
"Sayang, sini."Maura berdiri lalu menarik pelan lengan Nathan, kemudian membawanya duduk di sofa.
"Mama kan, sudah pernah bilang. Tidak boleh dekat-dekat dengan orang yang baru dikenal. Kita enggak tau, sayang ... orang itu orang jahat atau bukan."
"Tapi Om itu baik, Ma ... dia udah ngambilin bola aku,terus ngobatin luka aku." jelas Nathan lagi sambil terbata.
"Iya sayang, Mama tau. Tapi Mama minta tolong sama kamu lain kali jangan seperti tadi. Mama takut, sayang."
"Mama takut kamu kenapa-napa."sambung Maura dengan mata berkaca-kaca. Saat ini, dia hanya punya Nathan. Dia tak ingin kehilangan lagi.
"Maafin aku ya, Ma." Nathan menatap bulir bening yang mengintip dari bola mata sang Mama. Jari jemari gembulnya perlahan bergerak untuk mengusap."lain kali aku hati-hati, deh."
Maura tersenyum."Iya sayang."
"Tapi kalau ketemu om ganteng, papa baru aku boleh, kan Ma?."
Maura menghela nafas jengah."Sayang, mama minta tolong, jangan panggil dia papa. Nathan kan, uda punya papa. Meskipun papa udah di surga ... tapi dia tetap disini " Maura sambil menaruh tangan mungil itu di dadanya."Didalam hati kita."
"O, gitu ya, Ma? ya udah deh ... kalau gitu aku panggil om itu om ganteng aja."
Maura menatap sendu pada sang anak. Ia tau, anak seusia Nathan masih sulit untuk dikasih pemahaman. Perlu kesabaran untuk membuat anaknya itu mengerti.
"Ya sudah ... Mama tinggal dulu, ya, sayang. Mama mau bersih bersih."
__ADS_1
"Oke, Ma."
Maura masuk kedalam kamar mandi, didalam ia bersandar pada dinding. Ia meremas dadanya yang tiba-tiba berdenyut. Jauh disudut hatinya ada rasa yang tercubit disana. Sungguh mendengar kalimat Nathan yang seolah merindukan kehadiran seorang Ayah, membuatnya tak berdaya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Rasa cintanya yang begitu besar pada almarhum Damar membuatnya tak pernah berfikir untuk menikah lagi.