
Usai mengantar Maura, Virza kembali pulang ke rumah. Ketika itu, ia menjadi gusar melihat mobil merah yang terparkir dipelataran rumahnya."Mau ngapain lagi dia kemari." gerutunya pelan sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Didalam ia sedikit terkejut saat melihat Evelyn kesusahan sedang merangkul tubuh Kevin yang terlihat sempoyongan. Ia lalu menghampiri."Kenapa dengan Kevin."
"Dia mabuk." jawab Evelyn singkat.
"Virza ... tolong Kevin, nak. Bawa dia ke kamarnya."ujar Inggrid khawatir.
"Iya, Ma."Virza menarik pelan tubuh Kevin, lalu meletakkan lengan saudara angkatnya itu di bahunya. Sesampainya didalam kamar, Virza menghempaskan tubuh Kevin diatas ranjang. Ia menatap intes wajah Kevin yang terlihat sudah mabuk berat.
"Hei ... pelan-pelan, dong. Memangnya kamu kira badanku ini buntelan kapas. Tapi kok, kamu punya kembaran sih, Za?." Kevin berceloteh tidak jelas, seraya menyipitkan mata memandang Virza yang berdiri."Ada tiga ..." ia mengangkat jarinya lima."Eh, bukan ... enam."sambungnya lagi ketika melihat bayangan Virza bertambah.
"Banyak banget kembaran kamu." Kevin menggaruk rambutnya yang berantakan."
Virza berdesis geram, seraya menendang pelan kaki Kevin yang menggantung ditempat tidur."Berisik kamu!."
Kevin meringis, tapi tiba-tiba bangkit dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi.
"Mau kemana kamu?." Virza menarik cepat kerah kemeja Kevin, hingga mundur sedikit kebelakang.
"Mau nyanyi." celoteh Kevin kembali, seolah merasa dirinya masih berada di Bar dengan seorang penyanyi cantik didepannya.
"Hiss!." geram Virza menghempaskan tubuh Kevin kembali ketempat tidur. Kevin akhirnya terkapar tak berdaya.
Setahuku dia sudah lama tidak pernah mabuk-mabukan seperti ini. Kenapa dengannya?bathin Virza heran. Sesaat hening, ia akhirnya memutuskan untuk keluar. Tapi tertahan karena lengannya ditarik oleh Kevin.
"Jangan pergi ... aku mencintaimu."
"Dasar gila!." umpat Virza kesal, langsung melangkah keluar, meninggalkan Kevin yang kini sepertinya sudah tertidur.
________________
__ADS_1
Pukul 06:30 Kevin mengerjap-ngerjapkan mata sambil memegangi kepalanya yang teras berat. Dengan mata yang masih sedikit kabur ia menyapukan pandangan kesetiap sudut ruangan.
Kevin terperanjat dengan mata yang seketika berubah terang, ketika mendapati Virza tengah duduk ditepi ranjangnya. Saudara angkatnya itu terlihat setengah telanjang dengan handuk putih yang menggantung dileher, serta celana boxer yang menutupi tubuh.
"Kamu ngapain?."
"Nyanyi." sahut Virza asal melihat sekilas.
Kevin berdecak pelan.
"Tadi malam, siapa yang membawaku pulang?." tanya Kevin tak ingin basa-basi. Ia mengingat dirinya tadi malam yang memang tengah mabuk berat.
"Kang cilok." Virza menoleh."Katanya tadi malam enggak sengaja liat kamu tidur dipinggir jalan."
"Kamu serius?." Kevin terkejut.
Virza tak menjawab. Tapi justru melempar pertanyaan lain.
Mendengar pertanyaan itu Kevin tertegun sesaat. Ia cemas. Menduga bahwa dirinya telah mengigau tentang Maura, tadi malam.
"Siapa? enggak ada." Kevin gugup.
"Kalau tidak ada ... kenapa tadi malam kamu bisa sampai mabuk berat. Pasti seorang wanita sudah membuatmu frustasi."tebak Virza yakin.
"Kamu bahkan tanpa sadar mengatakan padaku, kalau kamu mencintaiku."
"Siapa wanita itu? aku akan membuatnya bertekuk lutut padamu. Seenaknya saja membuat saudaraku patah hati."pungkas Virza geram.
Kevin terkekeh pelan."Tidak ada ... aku tadi malam mabuk. Itu hanya halusinasi."
Virza menatap ambigu.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan." Kevin turun dari tempat tidur."Sebenarnya apa mau mu? kenapa sepagi ini kemari?."
"Tidak ada." Virza berdiri."Oh iya ... lebih baik kamu enggak usah ikut rapat hari ini. Otakmu mungkin masih sedikit oleng. Aku takut kamu hanya akan membuat masalah."
"Benarkah?." larangan Virza membuat Kevin bernafas lega."Huh ... lumayan bisa istirahat seharian."
"Siapa yang nyuruh kamu libur? aku hanya menyuruhmu untuk tidak hadir mengikuti rapat." jelas Virza.
"Ya ampun, Za ... memangnya enggak bisa apa kamu berbaik hati sedikit saja."
Virza tak ingin peduli."Kamu bisa datang setelah rapat selesai."
"Aduh ... aduh. Kepalaku pusing."Kevin berpura pura sempoyongan seolah efek minuman tadi malam masih belum hilang."Za ... aku masih mabuk."ia men-jerembabkan tubuh ke atas ranjang.
"Jangan banyak alasan!." seru Virza sebelum tenggelam dibalik pintu.
Tepat pukul 08:00 pagi Virza tiba di kantor. Sembari menunggu klien datang, ia masuk kedalam ruangannya, lalu meletakkan laptop diatas meja. Namun sepertinya ada sesuatu yang terlupa. Gegas ia mengambil ponsel untuk menghubungi Kevin.
"Berkasnya kamu taruh dimana?"
Didalam laciku. Map biru. sahut Kevin dari seberang ponsel.
Virza memutus panggilan. Gegas keluar menuju ruangan Kevin untuk mengambil berkas yang tadi ia tanyakan. Ia membuka setiap laci. Tepat di laci paling bawah, ia menemukannya."Ini dia."cicitnya pelan.
Tanpa sengaja selember foto terjatuh saat dia mengangkat map tersebut. Virza kemudian mengambilnya. Selembar foto lawas yang sudah sedikit kabur. Hingga wajah-wajah yang ada tidak terlihat begitu jelas. Sepasang anak lelaki dan perempuan menggunakan seragam sekolah SMP itu tampak saling merangkul dan tersenyum.
"Foto siapa ini?." gumamnya pelan melihat secara intens foto anak lelaki bertubuh kurus tersebut. Dan sepertinya kali ini ia bisa menduga itu adalah Kevin. Tapi gadis remaja berpipi chubby itu, Virza tak mengenalinya. Hanya saja ia merasa tak asing.
"Permisi Pak, rapat akan segera dimulai. Pak Agung dan asisten nya sudah datang."seorang karyawan wanita masuk begitu saja karena melihat pintu ruangan Kevin terbuka. Setelah tadi memeriksa ruangan Direktur Utama, namun kosong.
"Baik, saya akan segera keruang rapat." Virza langsung menyimpan potret itu kembali pada tempat semula. Mungkin itu adalah potret kenangan yang berarti bagi Kevin. Pikirannya.
__ADS_1