KIMCHI

KIMCHI
Mimpi Indah


__ADS_3

Braaaak!!


Tubuh Maura menabrak tubuh seorang pria tegap memakai setelan jas rompi berwarna hitam. Ia mendongakkan wajahnya, tatapannya bersirobok dengan tatapan mata elang yang menatapnya dingin.


"M-mas ... kamu disini?."


Tanya Maura ketika beberapa saat sempat tertegun. Pasalnya yang ia tau Virza sudah kembali ke Jerman. Namun mengapa bisa berada disini? apa dia juga sedang berhalusinasi seperti Nathan?


Genggaman tangan pada sela-sela jari jemarinya membuat Maura menoleh pada genggaman itu. Bersaman dengan saat itu, ia merasakan sebuah lengan melingkarkan dipanggangnya membawanya perlahan bergerak mengikuti irama musik. Saat ini dirinya yakin, bahwa dirinya sedang tidak berhalusinasi.


"Ada hubungan apa kamu dengan Kevin?." Virza tak berniat menjawab pertanyaan Maura. Ia justru kembali melayang pertanyaan pada wanita itu dengan nada tak suka.


Maura menelan ludah."Kami hanya berteman."


Virza diam. Sepertinya tak berniat kembali bertanya. Namun ekspresinya masih tetap menggambarkan bahwa dirinya tak suka dengan kedekatan Maura dan Kevin.


"Kenapa kamu tidak berdansa dengan Evelyn?."tanya Maura kali ini sambil menatap Virza lembut.


"Tolong jangan membahas dia." ujar Virza cepat.


"Kenapa?." dahi Maura berkerut.


Virza kembali hening. Ia menatap Maura dengan pandangan yang sulit diartikan.


Hal itu membuat Maura menelan ludah gugup. Entah mengapa tatapan itu seolah kembali membangkitkan perasaan lain didalam hatinya yang sudah lama mati.


Selang kemudian, Maura kembali dibuat gugup, ketika pria tampan itu membawa kedua tangannya, dan mengalungkannya dileher. Namun anehnya perlahan Maura merasa nyaman dengan gerakan dansa seperti itu. Alunan musik yang mengalun dengan romantis membuatnya kembali menikmati setiap gerakan.


Virza pun sama, tanpa sadar ia menyatukan keningnya dengan kening Maura. Seolah dituntun rasa nyaman, keduanya terpejam sambil menikmati setiap gerakan yang romantis.


Detik demi detik berlalu, namun masih membuat keduanya dalam posisi yang sama. Sementara pasangan dansa yang lain sudah berganti pasangan. Tak sedikit orang yang menyadari dan tersenyum menatap mereka. Mereka mengira pria dan wanita yang sedang berdansa itu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Tapi disisi lain, ada juga yang terlihat cemburu dan menahan amarah.


Siapa lagi kalau bukan Evelyn. Gadis itu saat ini sedang berdansa dengan sang kakak, Yohan. Ia baru menyadari kehadiran Virza, wajahnya terlihat mengetat dengan dada yang bergerak bergemuruh saat melihat calon tunangannya berdansa dengan romantis dengan wanita lain.


Wanita itu adalah wanita yang tak sengaja ia lihat ketika di Bali. Wanita yang membuatnya merasa tak asing. Kini, ia baru menyadari bahwa wanita yang mengenakan gaun berwarna merah maroon itu, adalah mantan pacar sang kekasih.


Evelyn berjalan dengan langkah cepat menghampiri Maura. Menarik bahunya, lalu menamparnya dengan sangat keras.


Maura terkejut. Begitu pun, Virza. Juga seluruh tamu undangan yang hadir.


"Evelyn, apa-apaan kamu?." suara Virza menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Ia menatap Evelyn murka.


"Aku hanya memberinya pelajaran, supaya tidak murahan dengan calon tunangan orang, Virza!." teriak Evelyn tak kalah keras."Dia sudah mencoba merebutmu dariku. Apa aku harus diam saja?." ia memandang Virza, lalu kemudian menatap Maura dengan sorot mata penuh kebencian.


"Dasar kamu wanita murahan!." teriak Evelyn mengangkat tangannya kembali ingin menampar Maura.


"Jaga ucapanmu!." Virza menahan tangan wanita itu, dan melepaskannya kasar."Maura wanita baik-baik. Dia bukan seperti wanita yang kamu pikirkan."

__ADS_1


Sambung Virza lagi dengan sorot penuh amarah. Sementara disisinya Maura hanya bisa menangis terisak.


"Ayo ... aku akan mengantarmu pulang." tiba-tiba saja Kevin menarik pelan lengan Maura dan membawanya keluar. Ia sempat melihat orang-orang menatap Maura dengan senyum merendahkan.


Adira yang tadi terkejut saat melihat Evelyn menampar Maura, juga sempat kesal dan marah. Ia bahkan sempat ingin membalas tamparan itu pada wajah Evelyn, namun Fariz menahannya.


______________


"Mari kita akhiri hubungan ini." ucap Virza tiba-tiba sambil menatap Evelyn, saat sudah sampai mengantarkan wanita itu didepan rumah.


"Apa?." Evelyn terkejut menoleh pada Virza.


"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita." ucap Virza lagi kali ini tanpa melihat. Ia menatap pada arah lampu taman yang terpasang dihalaman rumah mewah itu.


"T-tapi kenapa Virza?." bulir bening menitik di pipi Evelyn. Ia menatap Virza penuh tanya."Apa karena wanita murahan itu??."


"Stop mengatakan dia wanita murahan!." Tatapan Virza berubah murka.


"Kenapa??." tanya Evelyn kali ini dengan sedikit meninggikan suaranya."Kamu masih mencintainya??."


Virza hening dengan segala perasaannya saat ini.


"Jawab, Virza!."


"Aku tidak bisa membohongi perasaanku, Evelyn."aku Virza menatap Evelyn dalam-dalam."Aku tidak pernah mencintaimu."


"Mama kamu ingin kita segera menikah, Virza." sambung Evelyn mengingatkan.


Virza kembali bergeming. Ia teringat akan sang Mama yang belakangan ini kerap sakit-sakitan dan memintanya untuk segera menikah. Dan Evelyn, adalah salah satu wanita dari sekian banyak wanita, yang menurut sang Mama adalah wanita yang tepat untuknya.


"Soal itu kamu tidak perlu khawatir." ucap Virza akhirnya, ia menoleh menatap Evelyn dengan dingin."Aku akan membicarakan semua dengan Mamaku secara baik-baik."


Tanpa banyak bicara lagi, Virza melangkah membuka pintu mobilnya untuk segera pulang.


"Virza, kamu mau kemana?." Evelyn menarik lengan Virza. Namun pria itu tetap masuk kedalam mobil dan menutup pintu.


"Virza, aku enggak mau putus dari kamu." Evelyn memukul-mukuli pintu mobil itu."Virza!." panggilnya lagi, namun Virza seakan tidak perduli. Kedua tangan Evelyn menyugar rambutnya dengan kasar. Sambil menangis, ia melihat mobil Virza yang sudah berlalu.


Maura ... batin Evelyn manggil nama wanita itu dengan sorot mata penuh dendam.


_______________


Maura menangis terisak didalam mobil Kevin yang akan membawanya pulang. Sesekali jemari lentiknya menyusut air mata yang sudah melunturkan make up-nya.


Kevin menyadari itu. Ia menoleh ragu.


"Sudah ... jangan menangis." ucap Kevin akhirnya."Sebentar lagi kita akan sampai. Jangan sampai keluarga kamu melihat kalau kamu habis menangis. Bisa-bisa aku yang disalahkan."

__ADS_1


"Aku malu, kak." jawab Maura sambil terisak."Semua orang di pesta tadi pasti menganggap ku wanita murahan." sambungnya lagi, dengan bahu berguncang menahan tangis.


Mendengar itu, Kevin perlahan mengulurkan tangan kirinya, mengusap kepala Maura pelan."Kita sudah sampai." ucapnya kemudian, perlahan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah berpagar hitam yang menjulang.


Kevin memutar bahu Maura, menghadapnya."Sudah ... jangan nangis lagi." ucapnya lembut dengan tangan kanan yang terulur menyusut air mata di pipi wanita itu."Make up kamu jadi luntur begini."


"Jelek, tau." sambung Kevin lagi.


Maura terkesiap saat jemari Kevin tiba-tiba saja mengusap pipinya. Tatapan pria itu begitu hangat. Membuat Maura tersentuh. Sesaat tatapan keduanya bertemu. Maura langsung cepat-cepat menurunkan pandangan.


Maura menelan ludah."T-terima kasih, kak."


Kevin tersenyum tipis. Menurunkan tangan.


"Ini sudah malam. Masuklah!."


Maura mengangguk pelan lalu kemudian membuka pintu.


"Maura ..."


"Iya, ada apa, kak?." Maura kembali menoleh.


"Mimpi indah." Kevin tersenyum.


Maura pun, membalas dengan senyuman tipis."Kakak juga."


"Tentu saja." ucap Kevin yakin."Belakangan ini kamu selalu hadir di mimpiku."


Maura kembali tersenyum tipis. Sepertinya sifat lebay pria itu kembali kumat. Maura turun dari mobil, kemudian hendak menutup pintu, tapi kemudian Kevin memanggilnya lagi.


"Maura ..."


"Iya, apa lagi, kak?." tanya Maura dengan malas.


"Titip salam dengan Nathan. Bilang dari calon Papa." Kevin cengengesan.


Maura dibuat bergeleng-geleng.


"Maura!."


"Apa lagi??." kali ini Maura dibuat geram.


Kevin hening sesaat.


"Enggak jadi."ucapnya akhirnya.


Maura menghela nafas jengah. Lalu kembali bergeleng.

__ADS_1


Sementara Kevin hanya tersenyum sambil melihat Maura masuk kedalam pelataran rumah saat pak Rizal membukakan pagar. Barulah ia memacu mobil dan kembali pulang.


__ADS_2