KIMCHI

KIMCHI
Malu


__ADS_3

"Ampun ... kenapa masih kelihatan, sih. Bisa malu aku kalau sampai oppa Deva melihat wajahku seperti ini." decaknya pelan melihat wajahnya yang kusut dari dalam cermin kecilnya. Ketika menyapukan pandangan, dirinya semakin panik melihat motor milik Deva sudah terparkir rapi dihalaman, berjajar dengan kendaraan para karyawan lain. Tak tahu harus berbuat apa, Maura hanya bisa menghela nafas panjang dan masuk kedalam restoran.


Maura menunduk menutupi wajahnya yang kacau. Berjalan terburu-buru menuju ruang locker.


Bruk!


"Auu!." pekik Maura pelan. Tanpa menegakkan wajah, Maura sudah tau dada bidang siapa yang saat ini berada tepat didepan wajahnya. Juga harum maskulin yang menguar dari seragam putih dan hitam yang selalu membuatnya tak berdaya.


"Maaf oppa. Maaf aku tadi terburu-buru." ucap Maura kemudian, lalu melanjutkan langkah meninggalkan Deva yang masih berdiri menatapnya tak beralih.


Kenapa dia?


Deva bingung, pasalnya gadis itu mendadak aneh. Tak lagi menggodanya seperti biasa.


"MBAK NAOMI, MAS DAMAR!! ini semua gara-gara kalian!."teriak Maura tertahan menahan kesal. Dengan gerakan cepat ia menarik pintu locker. Meletakkan tasnya, kemudian mengambil seragam karyawan dan memakainya satu persatu.


Tak lama, ia keluar. Didepan, terlihat beberapa pengunjung yang masih menikmati sarapan. Ada juga Aina yang sedang duduk diruang tunggu sedang melihat kearahnya.


"Kesiangan, ya?." tebak Aina melihat wajah kusut dan pucat Maura."Sepertinya tidurmu menjelang pagi. Apa yang membuatmu tidak tidur semalaman?."


"Bukan apa-apa, Aina."sahut Maura malas. Kalau saja ia menceritakan biang masalahnya bisa-bisa Aina tertawa terbahak-bahak.


"Kamu terlambat setengah jam. Deva tadi mencari mu." ujar Aina kemudian. Maura yang baru saja duduk disisinya terkejut tak percaya.


"Serius, kamu?"


"Em."


"Lihat, dia melihat kemari." Aina tak sengaja melihat dapur restoran yang hanya dibatasi dinding batu estetik yang tingginya sebatas pinggang orang dewasa. Dari jarak tiga meter, Aina bisa melihat jelas gerak gerik pria tampan yang sedang bertempur dengan api itu.


Maura tersipu-sipu malu. Namun dirinya tak berani melihat lama-lama ke arah pria itu.


Menjelang tengah hari, satu persatu pelanggan mulai kembali berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah kaum muda mudi. Para pekerja kantoran, dan anak kuliahan.


Ketika malam, pengunjung di restoran ini akan semakin ramai. Selain tempatnya yang Instagrammable dan makanannya yang lezat, menu yang ditawarkan pun hanya kisaran harga 20 ribu-50 ribu rupiah perporsi. Sangat-sangat terjangkau bukan? Dan yang pasti halal! itulah kenapa tempat ini tak pernah sepi pengunjung.


Maura, Aina, dan beberapa karyawan lain yang sempat santai kini kembali bekerja melayani dengan tugas masing-masing.


"Selamat siang ... selamat datang di Nara House." sapa Maura dengan keramahan seperti biasa menggunakan bahasa Korea yang ia ketahui."Menu kami siang ini ada empat menu, mbak-mbak cantik."ucapnya pada empat orang gadis yang sepertinya masih duduk di bangku kuliah itu."Ada miyeokgGuk, bibimbap, Jajangmyeon dan pastinya kimchi andalan yang tidak pernah ketinggalan."


"Untuk minuman, semua pilihannya ada disini." sambung Maura memberikan daftar menu minuman. Ia berdiri dengan sabar mencatat pilihan dari empat orang gadis yang hampir seusia dengannya itu. Tak lama, ia berbalik dan berjalan cepat menuju Aina berada.

__ADS_1


"Aina, tolong berikan ini pada Oppa Deva." Maura memberikan catatan pesanan pada Aina.


"Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya Aira? biasanya juga begitu."


"Aku malu." Maura memajukan wajahnya."Pesanannya banyak. Kalau aku teriak dari sini ... aku takut dia lupa."


Aina yang kini mengerti langsung tersenyum."Baiklah cantik ... aku akan memberikan ini padanya."


"Teh barley dua, watermelon punch dua!" seru Maura pada dua orang barista di dapur.


Aina sudah masuk ke dalam dapur. Baru saja ia ingin bicara, Deva sudah bersuara.


"Tempelkan disitu." Deva yang sedang menyiapkan bibimbap diatas piring, menujukan dagu pada dinding didepannya.


Aina mengerti kesibukan Deva, ia menambah satu langkah, langsung menempelkan catatan pesanan yang di pegang. Menurutnya, pria itu mendadak lebih dingin dari biasanya. Aina tak ingin bertanya.


"Tolong berikan ini untuk pengunjung nomor 15."


"Baik, Chef."Aina menunduk sekilas, lalu meraih nampan dari kedua tangan Deva dengan hati-hati.


"Apa dia bertanya tentangku?." Maura tiba-tiba penasaran ketika Aina selesai menyajikan makanan.


"Tidak." ujar Aina terus terang."Sikapnya mendadak dingin sedingin kulkas."


Aina hanya mengedikkan bahu.


Sesuai jadwal pertukaran shift, pukul dua siang Maura sudah harus pulang. Naomi yang meminta pada sang suami agar adik kesayangannya itu hanya bekerja di shift pagi menjelang sore saja. Naomi tak berani ambil resiko membiarkan Maura jika harus pulang malam hari. Damar yang mengerti pun menyetujui.


Taksi yang membawa Maura sudah sampai didepan pelataran rumah mewah dengan desain interior minimalis. Senda gurau, tawa kecil terdengar ketika dirinya sampai didepan pintu. Diruang tamu, ia melihat Naomi, juga Aira yang sedang duduk menggendong si tampan mungil, Zayn.


"Hai ... Maura. Kamu baru pulang?."sapa Aira ramah melihat kehadirannya. Gadis cantik berpenampilan casual chic itu hanya melempar senyum tipis membalasnya.


"Kamu sudah makan?." tanya Naomi pada adiknya itu.


"Sudah mbak. Ke atas dulu, ya. Mau bersih-bersih." Maura sedikit menunduk pada keduanya, lalu melangkah menuju kamarnya.


"Sayang ... map hitam yang aku letak diatas meja hias mu kemarin, apa kamu menyimpannya?." Damar bertanya dari lantai atas.


"Iya, Mas. Aku menyimpannya? di laci sebelah kiri." Naomi menoleh kebelakang. Lalu melihat Aira."begitulah setiap harinya. Apapun itu, selalu saja bertanya. Entah itu keberadaan kunci, ponsel dan yang lainnya. Padahal dia yang meletakkannya sendiri." ucapnya seraya bergeleng dan tertawa kecil diakhir kalimat.


Aira terkekeh pelan.

__ADS_1


"Sayang, dimana? aku tidak melihatnya."


Lagi-lagi suara Damar kembali terdengar.


Naomi langsung tersenyum seraya mengedikkan bahu."Sebentar, ya, Aira. Titip Zayn dulu." ucapnya beranjak.


"Iya, Naomi ... pergilah. Zayn anak yang baik. Dia tidak akan menangis bersamaku."


Beberapa saat didalam kamar, Maura sudah selesai membersihkan dirinya. Ia membuka pintu kamar, turun ke dapur hendak mengambil minum. Namun ketika menuruni tangga, ia tak sengaja melihat Aira meletakkan Zayn dibibir sofa. Wanita itu terlihat kesal sambil membersihkan pakaian di bagian dadanya.


"Astaga ... mbak Aira. Apa yang mbak lakukan? kenapa meletakkan Zayn seperti ini."


Aira terkejut melihat kedatangan Maura yang langsung mengambil Zayn dari sisinya.


"Bagaimana kalau dia jatuh?."


"Maaf, Maura ... aku tidak sengaja. Tadi tiba-tiba Zayn muntah dan mengotori pakaianku."


"Hanya muntahan sedikit susu. Dan itu tidak bau. Dibersihkan dengan sedikit air, semuanya beres."ujar Maura sambil menggendong Zayn.


"Ada apa ini?" tanya Damar yang sudah turun dari lantai atas bersama Naomi.


"Tidak apa-apa, Damar." sahut Aira cepat sedikit gugup membuat Maura yang ingin bicara kembali menutup mulut.


"Ya sudah ... ini sudah sore. Kita harus ke lokasi proyek menemui Pak Gilang." ujar Damar melihat jam yang melingkar gagah di lengannya.


"Naomi, terima kasih untuk minumannya. Maaf sudah merepotkanmu."


Naomi tersenyum."Tidak sama sekali, Aira."


"Sayang, aku berangkat dulu." Damar ingin mencium pipi sang istri, tapi Naomi mendorong dadanya seraya menajamkan mata. Damar tau, istrinya itu sedang memasang kode karena malu didepan Aira. Tapi Damar sepertinya tak peduli, tanpa aba-aba ia langsung melayangkan kecupan di pipi kanan Naomi, ketika istrinya itu sedang lengah hendak mengambil Zayn dari Maura.


Naomi yang terkejut hanya bisa mengeluh malu kemudian mencubit gemas perut suami jahilnya itu. Sementara Aira, wanita cantik itu tersenyum kaku.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2