
..."Jika beristirahat itu lebih baik dari berkelahi, ya sudahlah ku pahami. Berpikirlah kembali, tetap ingin disini atau sama-sama pergi."...
Maura keluar dari ruang locker usai mengganti seragam kerjanya. Didepan pintu, dirinya dibuat terkejut dengan Damar yang sudah berdiri seraya bersandar pada dinding. Seperti siluman yang tiba-tiba muncul, padahal beberapa saat lalu dirinya melihat Damar mengantar Aira. Wanita yang selalu saja menempel kemana pun pria itu pergi.
Maura tak ingin bertanya, dan malah pergi melewati begitu saja.
"Pulang denganku!."
Suara Damar dihiraukan begitu saja oleh Maura dan terus berjalan keluar. Menghentikan taksi yang melintas.
"Maura, berhenti!!."
Saat hendak naik, dengan sigap Damar menarik tubuh mungil gadis itu dan langsung menggendongnya hingga Maura terkejut.
Supir taksi itu tak kalah terkejut karena mengira Damar seorang penculik.
"Saya suaminya, Pak. Jalan saja!." ucap Damar pada pria paruh baya itu sambil menahan kuat tubuh Maura yang memberontak memaksa turun. Pria itu akhirnya mengangguk dan pergi.
"Mas kamu apa-apaan, sih? Turunkan aku!." teriak Maura sambil terus memukuli tubuh Damar."Turunkan!!." namun Damar seperti tak peduli, terus berjalan memasukkan paksa tubuh mungil itu kedalam mobil.
"Duduk diam atau ku cium?!." ucap Damar dengan tatapan mengancam. Gadis itu langsung terdiam dengan wajah menahan kesal.
Rupanya kejadian itu diketahui oleh Anya yang juga hendak pulang. Wanita yang kerap dijuluki ratu ghibah itu masuk lagi kedalam restoran dan langsung bercerita pada Ivan yang juga sudah hendak pulang.
"Aku tadi melihat Maura digendong paksa sama Pak Damar masuk kedalam mobil. Sepertinya Maura tidak mau. Terus aku tidak sengaja dengar Pak Damar bilang begini ..."
"Duduk disini, atau aku cium." ucap Anya dengan wajah dingin memperagakan gaya atasannya tadi ketika bicara pada Maura."Bodohnya Maura langsung diam ... kalau jadi aku, aku pasti memilih di cium. Ya ampun .... secara Pak Damar kan tampan sekali. Walau jadi duda anak lima aku juga mau."sambung Anya gemas membayangkan wajah tampan Damar.
"Yang benar kamu?."tanya Ivan tak percaya, pria melambai itu juga tak kalah ghibahannya dengan Anya. Itu sebabnya dua karyawan ini terkenal begitu akrab.
"Iya, beib. Aku melihatnya sendiri."aku Anya yakin sambil keduanya berjalan keluar.
__ADS_1
Saat itu Deva hendak keluar dengan tatapan mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Maura. Namun ekspresinya berubah dingin manakala mendengar dua bibir setajam silet itu berkumandang. Sementara Aina yang baru keluar dari ruang locker, menyadari wajah Deva yang terlihat cemburu. Dirinya perlahan menghampiri.
"Chef." sapanya dengan nada ragu.
"Eh, Aina." Deva langsung tersenyum tipis. Sangat tipis sarat akan keterpaksaan.
"Besok ikut kemping, kan?."
Deva menanggapinya hanya dengan anggukan pelan.
Aina tersenyum.
"Kamu pulang sama siapa?."tanya Deva kemudian.
"Kebetulan hari ini motor lagi diservis. Jadi naik taksi chef."
Deva manggut-manggut."Kalau begitu pulang denganku saja."
"Tidak masalah." Deva tersenyum tipis."Ayo."
Wajah Aina tampak senang sambil berjalan mengikuti Deva ke parkiran.
*****
"Kamu sengaja tidak mau pulang denganku, karena ingin diantar pria itu lagi, kan?." ucap Damar dengan tatapan menuduh sambil mengemudi.
"Kalau iya, kenapa? Itu bukan urusan kamu, Mas. Dengar, ya ... kita cuma menikah kontrak. Kamu tidak ada hak untuk mengaturku!."
Rahang Damar tiba-tiba mengetat, entah mengapa ia tak suka mendengar kalimat Maura. Rasanya terlalu berisik di kepala. Padahal semua itu benar adanya.
"Malam itu kamu mengusirku. Kamu bilang kamu benci dan tidak ingin melihatku. Beberapa bulan ini kamu juga menghindari ku. Aku tau itu, Mas. Tapi sekarang tiba-tiba kamu nongol di depanku seolah-olah kamu peduli sama aku. Aku tidak mengerti denganmu, Mas. Kamu aneh!." Maura kembali berbicara seolah menumpahkan uneg-unegnya selama ini.
__ADS_1
Damar terdiam. Sambil mengemudi. Tak tau harus bagaimana untuk menjelaskan semuanya.
"Mama katanya mau datang. Mungkin sekarang sudah dirumah. Tolong jangan menunjukkan didepannya kalau kita sedang bertengkar." ucap Damar akhirnya.
"Oh, jadi karena Mama."Maura tersenyum kecut sambil membuang pandangan ke samping jendela."Oke." ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Suasana didalam mobil itu mendadak bisu dan dingin hingga sampai dirumah.
"Bagaimana hubungan mereka, apa masih sering bertengkar?." Amelia bertanya pada Bik Imah dan sus Ana, ketika itu kebetulan Damar dan Maura masuk.
"Emm, s-sudah tidak Buk." sahut Buk Imah sambil melihat Damar yang memberinya isyarat melalui tatapan mata. Sementara sus Ana hanya mengangguk mengiyakan pernyataannya.
"Syukurlah." Amelia membuang nafas lega.
"Assalamualaikum, Ma." ucap Damar berjalan mencium tangan sang Mama takzim diikuti oleh Maura juga.
"Waalaikumussalam." Amelia tersenyum menyambut anak dan menantunya itu.
"Papa sehat kan, Ma? Kenapa tidak ikut?."tanya Damar mendudukkan diri dan Maura duduk disampingnya.
"Papa sehat. Sebenarnya Mama datang ke Jakarta karena menjenguk teman Mama yang lagi sakit. Jadi Papa tidak ikut. Takutnya kelelahan. Tau sendiri kan, kondisi Papa bagaimana." jelas Amelia melihat anak dan menantunya itu bergantian.
"Oh, iya sama ini ... Mama mau minta izin sama kalian. Mama mau membawa Zayn ke Surabaya. Papa kalian rindu katanya. Boleh, kan?. Sekalian sama sus Ana juga."
Maura tak tau harus menjawab apa. Ia melihat pada Damar.
"Ya sudah. Tidak apa-apa, Ma. Tapi ingat loh, dibalikin."ucap Damar dengan nada berseloroh diakhir kalimat.
Amelia berjalan kelantai atas untuk mencari sus Ana yang katanya sedang bersiap-siap menyusun pakaian milik Zayn. Sudah beberapa bulan tidak datang, umurnya yang sudah memasuki kepala lima membuatnya lupa dimana letak kamar sang cucu. Saat itu Maura juga berjalan keatas seketika dibuat panik dan berlari menghampiri Amelia yang ingin membuka pintu kamarnya.
Didalam ada banyak barang-barang miliknya. Karena sejak seminggu ini, Maura memang memakai kamar lamanya kembali. Itu karena pertengkaran antara dirinya dan Damar belakangan ini.
"Mama mau ngapain?."
__ADS_1
Jantung Maura hampir lepas karena pintu kamar miliknya saat ini sudah dibuka oleh Amelia.