KIMCHI

KIMCHI
Itu Kunci Milikmu


__ADS_3

BRUK!!


"Maaf, Mbak. Aku enggak sengaja."


Wanita yang baru saja ditabrak Kevin, panik karena minuman yang ia bawa tertumpah mengotori gaunnya sendiri, tepat dibagian dadanya yang tertutup kain sopan.


Kevin yang bingung, spontan saja tangannya ingin membersihkan gaun itu. Tapi suara wanita itu berhasil menahannya.


"Jangan!." wanita itu menyilangkan kedua tangan didepan dadanya.


"M-maaf." Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini enggak apa-apa. Biar aku aja yang membersihkan."ucap wanita itu kemudian seraya mengusap-usap dadanya."Saya permisi." ia berjalan, terlihat tidak nyaman.


"Sebentar."


Suara Kevin membuat kaki wanita itu berhenti dan menoleh.


"Ini." Kevin mengambil kain kecil berwarna biru bermotif garis putih dari dalam saku jasnya."Pakai sapu tangan ini untuk membersihkannya."


"Tidak apa-apa. Enggak perlu repot."


"Pakai aja. Tidak perlu dipulangkan. Aku masih punya banyak. Itu cuma hadiah lempar gelang di pasar malam."ucap Kevin kemudian sambil menatap wanita yang terlihat lugu itu. Entahlah, wanita ini mengingatkannya dengan Maura, wanita yang ia cinta dalam diam.


"Terima kasih." Wanita itu dengan ragu mengambilnya.


"Vin!." seorang wanita memanggil ke arah mereka.


"Iya,"sahut Kevin dengan PD'nya melihat kearah wanita bergaun maroon.


"Dia memanggilku." wanita itu memandang Kevin dengan senyum lucu."Dia temanku ... Sofia."


"Oh." Kevin menekuk bibir sedikit kikuk. Dalam hati ia merasa geli sendiri karena terlalu PD.


"Aku kesana, dulu. Terima kasih, saputangannya."


Kevin mengangkat tangan ingin memanggil wanita itu kembali, namun urung karena wanita itu sudah menjauh."Siapa namanya? Vin, Vin ... Vina, Vinda ... Vivin. Atau jangan-jangan, Kevin. Sama seperti namaku." ia terus menebak sambil berjalan keluar.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Satu persatu tamu undangan yang memberikan ucapan selamat, mulai pulang.


"Selamat atas pernikahanmu."ucap Yohan yang hadir bersama sang istri.


"Terimakasih."Virza tersenyum.

__ADS_1


"Za ..." Yohan sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun Virza dengan cepat merubah ekspresi wajah wajahnya menjadi dingin. Virza seolah tau apa yang ingin dikatakan sepupunya itu. Namun kali ini ia tak sedikitpun ingin membahas tentang Evelyn. Ini adalah hari bahagianya, tak ingin merusak suasana hati menjadi kacau hanya karena mengingat kembali wanita yang hampir memisahkannya dari Maura.


Yohan akhirnya urung, mencoba memahami.


_____________


Maura memekik terkejut ketika Virza tiba-tiba menggendongnya menuju kamar hotel. Sambil berjalan, Virza sesekali memainkan ujung hidungnya pada ujung hidung Maura yang bangir.


Maura terkekeh geli.


"Buka pintunya, sayang."


"Dimana cardlock-nya?."


"Disaku celana depan."


Maura mencoba meraih dengan kanannya. Namun ia tanpa sengaja justru menyentuh benda lain yang sudah hampir mengeras. Detik itu Virza langsung membulatkan mata.


"Salah, sayang .... itu kunci milikmu."


Maura tertawa geli sambil berusaha kembali merogoh saku celana. Setelah pintu dibuka, Virza langsung merebahkan tubuh Maura diatas ranjang king size beralas seprai berwarna putih yang sengaja dihias dengan begitu indah. Kelopak-kelopak mawar merah begitu kontras bertaburan diatasnya. Sementara selimut yang dirangkai seperti angsa terlihat saling berciuman membentuk hati yang menyatu.


"Malam ini aku akan memanjakan mu." bisik Virza seraya mengedipkan sebelah matanya genit. Mendadak wajah Maura bersemu merah.


"Boleh ... kita mandi sama-sama?."


Maura menggeleng."Kamu dulu aja. Aku mau bersihin make-up sama lepasin hiasan di kepala dulu."


Virza menghela nafas berat, hembusannya terasa menyapu wajah Maura."Padahal aku ingin memulainya dari kamar mandi, setelah itu membawamu ke tempat tidur, lalu, emp ......"


Maura membeliakkan mata. Sambil membekap mulut Virza dengan satu tangannya.


Virza tertawa keras."Oke baiklah, sayang .... aku mandi dulu."ucapnya setelah berhasil menyingkirkan tangan Maura."Tunggu aku." ia mengerling dengan genit, kemudian beranjak dari atas tubuh Maura untuk membuka sepatu.


Maura bergeleng dengan senyum melihat punggung tegap sang suami yang sudah berjalan ke kamar mandi. Netranya melirik tas yang mengeluarkan bunyi suara dari dalam. Tangannya terulur untuk meraih. Dahinya mengernyit, demi mendapati pesan suara dari Mama Desi. Terlihat pesan suara dikirim pukul 9 malam. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Itu artinya, pesan dikirim sudah sekitar satu setengah jam yang lalu. Maura gegas membukanya.


Mama, Papa .... selamat pengantin baru. Cepat pulang ya ... aku nunggu dirumah. Aku saaayang, sama Mama, sama Papa. Emmuah ... o-iya, buatin aku adek yang banyak, ya. Hihihihi


Jelas itu adalah suara Nathan. Suara terbata-bata yang berhasil membuat Maura berkaca-kaca dan tertawa lucu. Akhirnya bocah gembul itu suda bisa memahami, usai tadi sore Maura memberinya penjelasan dengan pelan-pelan tentang pernikahannya.


"Iya sayang ... besok Mama, Papa pulang. Mama sama Papa juga sayang kamu. Emmuah."Ia membalas pesan suara tersebut. Meski dirinya tau, jam-jam segini sudah pasti anaknya itu sedang tidur.


Tadi, rencananya Desi dan Razdan akan menginap di hotel. Namun berubah pikiran karena bantal pisang bau iler kesayangan Nathan tertinggal dirumah. Belakangan ini, bocah kecil itu tak bisa tidur jika tidak memeluknya."Kami pulang, ya ... kasihan Nathan. Dia sedikit rewel .... sepertinya ngantuk."ucap Desi berpamitan pada Maura ketika di pelaminan.

__ADS_1


"Loh, bukannya nginap disini, Ma?."


"Bantal Nathan ketinggalan." bisik Desi ditelinga Maura."Bisa kebangun semua orang-orang dihotel ini kalau dia ngamuk." ia terkekeh pelan."Tadi Nia udah disuruh bawa .... tapi lupa karena buru-buru."


"Tapi, Nathan ..."


"Udah .... nggak usah risau soal Nathan. Kami akan menjaganya sampai kalian kembali."timpal Razdan sambil menggendong Nathan yang terus merengek.


"Ya udah. Mama sama Papa hati-hati, ya. Aku titip Nathan dulu."pinta Maura mengusap kepala sang anak.


"Mau sama Mama, Oma." rengek Nathan sambil menunjang-nunjangkan kakinya di udara.


"Sayang .... ingat, enggak tadi kata Oma. Mau punya adik yang lucu, kan?."


Nathan mengangguk, mengingat kembali perkataan sang Oma beberapa saat lalu."Mau Oma, aku mau banyak ... biar ada teman main."


"Ya udah ... kalau gitu, malam ini boboknya sama Oma, sama Opa dulu. Mau, ya?."


"Ya udah, deh." Nathan mengerucutkan bibirnya pasrah.


Desi dan Razdan tersenyum."Anak pintar."


"Udah, jangan khawatir .... enggak usah buru-buru untuk pulang. Nikmati aja dulu masa-masa pengantin baru kalian." Desi tersenyum.


"Mama ..." lirih Maura malu-malu.


Virza keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Terlihat Maura sudah tertidur pulas masih dengan gaun utuh dan hiasan di atas kepala.


Ia berjalan mendekati, seraya membuang nafas pelan."Ditinggal mandi sebentar aja langsung molor. Dasar istriku!."gumamnya pelan mengambil ponsel yang ada ditangan Maura. Lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.


Virza membaringkan tubuh di atas tempat tidur dengan hati-hati tak ingin istrinya itu terbangun."Selamat malam istriku."bisiknya pelan sambil mencium kening Maura. Tak butuh waktu lama, ia juga terlelap sambil memeluk tubuh mungil Maura yang masih terbalut gaun pengantin.


Maura mengerjap-ngerjapkan mata, ia terbangun karena tubuhnya merasa gerah dan lengket. Tapi ia terkesiap saat merasakan perutnya ditimpahi lengan kokoh yang memeluk pinggang rampingnya dengan erat. Sudut bibirnya tertarik saat kesadarannya sudah terkumpul. Ditengah keremangan, ia melirik jam yang menempel didinding, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah 1 malam.


Maafin aku, Mas. Berniat menunggumu malah ketiduran. bathinnya menyesal, sembari memandangi wajah tampan suaminya yang terlelap. Ia turun dengan pelan-pelan, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit berkecimpung dikamar mandi, Maura pun akhirnya selesai. Ia membuka lemari berniat mengambil pakaian tidur yang telah disusun oleh Nia sebelumnya. Namun netranya terbelalak demi mendapati beberapa lingerie seksi kurang bahan yang bergantungan."Pakaian apa ini?"gumamnya pelan, membolak-balik salah satu lingerie.


Ia menyibak-nyibakkan isi lemari, berharap menemukan pakaian halal. Mamun tak satu pun ia mendapatkan pakaian yang masih dalam batas kesopanan. Akhirnya setelah melewati perdebatan pikiran, ia memutuskan untuk tetap memakai salah satu lingerie yang menurutnya masih sedikit layak untuk dipakai. Walaupun tetap saja, transparan.


Maura memandangi dirinya didalam cermin. Terlihat sekali ia merasa tak nyaman. Meski penampilan itu untuk sang suami, tapi entah mengapa ia merasa geli seperti wanita penggoda. Akhirnya ia mengambil bathrobe yang teronggok dilantai, berniat memakainya kembali demi menutupi lekuk tubuhnya yang transparan. Tanpa ia menyadari, Virza sedang tersenyum memandanginya.


"Kenapa ditutupi?"

__ADS_1


Suara bass dari belakang membuat Maura terperanjat. Hingga bathrobe yang belum sepenuhnya terpakai melorot kembali.


__ADS_2