
"Kita tidak akan bercerai." ucap Damar kemudian. Berhasil menghentikan jemari Maura, dan menoleh.
"Kamu egois, Mas." Maura menatap dengan mata basah.
Damar bergeleng pelan.
"Aku bahkan menolak Chef Deva, demi pernikahan ini."
"Dan aku akan mempertahankan pernikahan kita."sahut Damar kemudian.
"Tapi kalian saling suka."
"Kamu salah paham."tegas Damar kembali. Ia menatap Maura yang langsung memasang senyum kecut seraya melempar pandangan ke arah lain. Perlahan tangan Damar terulur menjangkau kedua tangan Maura, mengusapnya lembut, lalu menggenggamnya. Membuat gadis itu terkesiap dan kembali menatapnya.
"Maafkan aku karena sudah membuatmu menangis."
"Dengar, Mas."Maura menatap Damar lekat."Apapun hubungan kalian aku enggak perduli."
"Terus kenapa tadi kamu menangis?."
Pertanyaan itu lagi-lagi membuat Maura terbungkam. Dirinya sendiri pun merasa kesal dengan air mata yang sejak tadi tumpah tanpa alasan. Ini kali pertama ia menumpahkan tangis didepan seorang lelaki. Menyadari itu, membuatnya merasa bodoh. Tapi tak dipungkiri hal itu memberikan kelegaan tersendiri baginya. Aku cemburu??
Seolah menghindari pertanyaan, Maura gegas berbalik ingin segera pergi. Tapi tubuhnya di buat memaku ketika tiba-tiba dari belakang Damar memeluknya. Dua lengan kokoh itu melingkar erat ditubuh, membuatnya merasakan debaran dada yang mendadak bertalu.
"Apa yang kamu rasakan sekarang, itu juga yang aku rasakan waktu aku melihat kamu dekat dengan Deva."ucap Damar pelan kemudian."Marah ... kesal .... rasa tidak rela."
"Tapi aku pura-pura bodoh, menganggap itu bukanlah rasa cemburu. Mungkin karena mindset ku hanya ada almarhumah mbakmu di hatiku. Dan tidak pernah berharap ada orang lain yang menggantikannya."
__ADS_1
"Aku berusaha untuk masa bodoh dengan kedekatan kalian, tapi semakin aku melakukannya hatiku semakin tidak karuan."jelas Damar lagi masih dengan posisi memeluk tubuh Maura yang mematung."Aku tidak suka melihatmu menatap Deva berlama-lama. Aku tidak suka kalian bicara berdua-duaan ... aku tidak suka kamu terus memujinya di depanku."
Damar perlahan memutar tubuh mungil gadis itu menghadapnya."Maura Serillya Ayu ... mari kita hapus kontrak pernikahan itu. Dan jadilah istriku selamanya."
Maura yang sejak tadi hening, netra bulatnya mendadak berkaca-kaca, dan dalam hitungan detik membuat bulir bening itu menitik, bersamaan dengan gerakan kepalanya mengangguk menyetujui. Beberapa saat menyelami kalimat-kalimat Damar, air mata, dan rasa sesak belakang ini, menjadi bukti bahwa hatinya telah mengakui bahwa rasa cinta itu telah ada. Entah sejak kapan, ia tak pernah menyadari.
Damar tersenyum bahagia, gegas memeluk tubuh mungil gadis itu dalam dekapnya. Beberapa saat berlalu, Damar mengurai pelukan. Ia memandang lembut Maura yang melihatnya tersenyum. Perlahan pandangannya turun, terkunci pada bibir yang pernah membuat darahnya berdesir hebat. Namun sengaja ditahan karena tembok perjanjian, dan ego diri yang menolak cinta itu tak boleh ada.
Sekarang tembok itu tak lagi ada, dan pengakuan cinta telah di sahkan. Seakan tak sabar, ia menunduk merapatkan wajah. Sedetik hampir menghapus jarak. Namun dibuat terkejut karena Maura dengan cepat menutup akses dengan telapak tangan, menutupi bibir Damar yang hampir mendarat.
"Bayar dulu hutang yang kemarin. Aku berubah pikiran."
Damar mengernyit."Bukannya sudah sepakat kontrak pernikahan akan dihapus?."
"Benar! Tapi itu hanya masa aktif kontraknya saja. Dari satu tahun ... menjadi selamanya. Kalau sanksi yang ada didalamnya ... itu tetap berlaku." Maura tersenyum penuh kemenangan."Sekarang, ayo ajarin aku membuat kimchi." ucapnya, langsung menarik lengan Damar.
Beberapa saat, bahan-bahan membuat kimchi telah disiapkan kembali. Sementara sambil menunggu larutan air garam, Damar mulai memotongi sawi putih. Tapi tangannya kemudian berhenti, dan langsung mengangkat tubuh mungil Maura, mendudukkannya diatas meja kitchen yang kosong. Membuat gadis yang hendak mengambil lobak itu terkejut.
"Duduk diam disini. Perhatikan aku membuatnya."
Maura hanya mengangguk menurut. Mengamati seksama Damar yang memotongi sawi putih dengan gerakan teratur, menciptakan potongan potongan sawi putih dengan ukuran yang sama. Cara Damar melakukannya, hampir sama dengan Deva. Keduanya memang memiliki skill yang menurut Maura sudah tidak diragukan lagi.
"Membuat kimchi pasti tidak sulit lagi bagimu. Aku yakin kamu sudah banyak belajar dari Deva." ucap Damar yang kini meraih lobak, usai memasukkan potongan-potongan sawi kedalam rendaman air garam."Tapi aku tetap akan mengajarimu." ia melihat Maura sekilas."Setidaknya kalau orang lain bertanya dari mana kamu belajar, kamu bisa menyebut namaku. Bukan pria itu."
"Aku orangnya jujur, Mas. Aku akan sebut namamu juga nama chef Deva. Salah siapa ... sejak awal kamu tidak mau mengajariku. Kalau tidak ... pastilah hanya namamu yang akan aku agung-agungkan sebagai guru terbaikku." sahut Maura yang sebenarnya menggoda karena mendengar ada nada kecemburuan ketika Damar bicara. Dan jelas saja langsung mendapatkan tatapan protes dari suaminya itu.
"Tapi, ya ... bisa saja, sih. Asal setelah ini kamu mau seterusnya mengajariku. Bukan hanya kimchi, tapi juga masakan Korea yang lainnya."ujar Maura selanjutnya sambil mengambil satu potongan lobak dan memasukkannya kedalam mulut.
__ADS_1
Damar manggut-manggut, lalu meletakkan pisau yang dipegang."Tentu saja."ia maju selangkah menghadap Maura. Sedikit membungkuk seraya menumpukan kedua tangannya di atas kitchen. Membuat Maura menelan ludah, tubuh tegap Damar menguncinya, wajah mereka bahkan hampir bersentuhan jika saja Maura tak langsung memundurkan tubuh.
"Mengajarimu memasak itu soal kecil. Selain itu apapun akan ku lakukan untukmu."suara Damar terdengar lembut. Tatapannya lekat, tak lepas dari manik hitam Maura.
Ditatap seperti itu, Maura kembali gugup. Bahkan kali ini membuat debar jantungnya bertalu berkali-kali lebih cepat. Posisi seperti ini, seperti part adegan romantis disebuah drama Korea yang pernah ia tonton. Drama apa itu? Ah, entahlah aku lupa. Ternyata begini rasanya. Ia menelan ludah berkali-kali, ketika Damar semakin memajukan wajah. Refleks menutup mata ketika detik itu merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.
Perlahan bibir Maura terbuka, memberi akses saat bibir Damar semakin dalam. Mengingat ketika didalam mimpi kali itu ia begitu menggila, namun dalam posisi sadar seperti ini ia justru gugup dan akhirnya membuat gerakan bibir menjadi tak beraturan. Sedetik, dua detik, Damar justru semakin menggebu. Maura tak bisa mengimbangi dan mulai kehabisan nafas. Detik itu, dengan nafas yang tersengal-sengal ia langsung mendorong tubuh Damar.
Hanya sesaat. Seolah ciuman itu tak ingin berhenti, Damar ingin memulai lagi. Namun gerakannya dibuat tertahan ketika melihat wajah Maura meringis.
"Kamu kenapa?."
"Perutku sakit, Mas."keluh Maura sambil memegangi perut.
"Kok bisa? kamu tadi makan ap ......"
Belum selesai bertanya, Maura mendorong tubuh Damar dan buru-buru turun berlari ke toilet. Hampir satu jam lamanya ia berada didalam. Dan baru keluar saat merasa perutnya sudah lebih baik.
Damar yang sejak tadi cemas menunggu langsung berbalik ketika mendengar pintu toilet terbuka. Semakin cemas ketika melihat kondisi Maura yang keluar dengan wajah pucat dan pakaian yang hampir basah semua.
"Gimana, udah enakan?."
Maura mengangguk lemas.
"Itu bajunya kenapa basah semua?."
"Kerannya lepas, airnya jadi menyiprat semua."ucap Maura dengan nada suara hampir menangis.
__ADS_1