KIMCHI

KIMCHI
Pertahankan Dia


__ADS_3

Bramasta Group,


Semua karyawan tampak serius dan fokus dengan tugas masing-masing. Tak ada yang bersuara, apalagi berleha-leha. Ini karena perubahan sikap sang atasan. Pasalnya sejak tiba di gedung perusahaan pagi tadi, Virza menampakkan sikap tak biasa.


Dulu ia adalah sosok pria yang ramah pada semua orang. Begitu pun, terhadap para karyawan-karyawannya. Namun hari ini, ia menjadi sangat dingin. Sapaan beberapa karyawan yang menyapa tidak dihiraukan. Begitu pun ketika sedikit saja kesalahan yang dilakukan akan direspon dengan kemarahan.


"Kamu itu kerjanya ngapain aja, sih? kenapa hal seperti ini saja kamu tidak bisa mengurus?." Virza menatap Syarif dengan kemarahan. Pasalnya karyawan yang bertugas di bidang pengawasan produksi ini telah lalai mengirimkan pesanan model pakaian kepada konsumen.


"Kamu sadar nggak, kamu sudah membuat konsumen kecewa."Virza semakin meninggikan suaranya."Kalau sudah begini, perusahaan yang malu. Mereka pasti mengira perusahaan ini, perusahaan yang tidak bertanggung jawab."


"Saya minta maaf, Pak." Syarif menunduk."Bapak jangan khawatir, saya akan bertanggung jawab atas kesalahan ini."


"Ingat, ya ... ini kesempatan terakhir buat kamu."Virza mengangkat telunjuknya didepan wajah Syarif."Kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi, saya pastikan kamu tidak berkerja lagi disini."


Syarif menelan ludah."Baik, Pak." ucapnya masih terus menunduk."Kalau begitu saya permisi, Pak."


Virza menghela nafas kasar. Kemudian menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Tapi ketika itu suara Kevin tiba-tiba terdengar.


"Marah-marah terus dari tadi." Kevin masuk dan berdiri didepan Virza.


"Kesalahan yang dilakukan Syarif itu biasa. Barang bisa di return, dan dikirim ulang. Apa susahnya?."sambung Kevin lagi.


Virza sama sekali tak berniat menjawab. Wajahnya masih dipenuhi amarah yang belum sepenuhnya reda.


"Apa ini karena perjodohan itu?." tebak Kevin sok tau. Sementara Virza tatap diam.


Kevin tersenyum tipis. Seraya memainkan bolpoin yang ada ditangannya."Perjuangkan cintamu."


Kalimat itu membuat Virza menoleh."Maksud mu?."


Kevin menghela nafas berat, kemudian berjalan lalu mendudukkan diri pada sofa panjang yang tersedia diruang kerja itu."Kamu masih mencintai Maura, kan?."tanyanya seraya membalas tatapan Virza."Pertahankan dia ... jangan bertunangan dengan Evelyn, kalau karena terpaksa."


Virza menatap Kevin penuh tanya.


Seolah tau apa arti tatapan itu, Kevin pun tersenyum dan kembali bersuara."Tadi malam aku tidak sengaja mendengar percakapan mu dengan Mama."


"Aku baru tau kalau Maura adalah mantan kekasihmu. Ternyata dia wanita yang pernah kamu ceritakan?."Kevin tertawa pelan. Namun entah apa arti tawa itu.


"Aku sudah hampir melupakannya. Tapi dia malah hadir kembali." Virza tersenyum kecut."Tuhan sepertinya sedang mengujiku."


"Kamu salah." sergah Kevin cepat."Tuhan bukan sedang menguji mu ... tapi dia sedang ingin memberimu hadiah atas kesetiaan hatimu selama ini."


"Ya ... dia ingin memberikan Maura kembali padamu."sambung Kevin dengan yakin.


Virza berdecih pelan. Sejak kapan pria tengil didepannya ini pandai berkata-kata. Selalunya hanya pandai merayu wanita saja.


Kevin berdecak."Aku serius. Perjuangkan cintamu kalau kamu mencintainya."


"Bagaimana denganmu?."Virza berdiri, kemudian menatap gedung-gedung tinggi dari balik dinding kaca kantornya.


"Maksudmu?." Kevin memandang Virza yang berdiri memunggunginya.

__ADS_1


"Aku perhatikan kamu juga dekat dengan Maura."sambung Virza lagi masih dengan posisi menatap gedung-gedung yang menjulang.


Kevin hening.


"Apa kamu menyukainya?."tanya Virza kali ini memutar badan menatap Kevin. Ia memandang Kevin dengan serius. Karena sungguh, kedekatan mereka membuatnya kerap diusik perasaan cemas.


Kevin tertawa."Kamu ini bicara apa?."ia berdiri dan berjalan mendekati Virza."Aku memang dekat dengannya. Tapi aku hanya menganggapnya seperti adikku sendiri. Tidak lebih."


Virza diam.


"Jadi, seperti yang aku katakan tadi ... perjuangkan cintamu. Jangan teruskan perjodohan itu kalau hatimu terpaksa." sambung Kevin lagi seraya menepuk-nepuk pelan punggung Virza."Oh, iya .... Carlen tadi menghubungiku."


"Bagaimana katanya?." tanya Virza cepat.


"Dia sudah memastikan bahan pakaian yang dikirim kepada PT. Alingga tidak memiliki zat pewarna berbahaya. Bahan-bahan yang digunakan adalah bahan yang biasa digunakan." jelas Kevin serius."Seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi aku heran ... kenapa pelanggan-pelanggan mereka mengeluh, ya?."


Virza terdiam. Kali ini ia bisa menyimpulkan bahwa yang terjadi adalah akibat kesengajaan seseorang.


__________________


Beberapa hari berlalu, Maura masih berjuang mengembalikan nama baik PT. Alingga. Segala cara telah ia lakukan. Mencari supplier, mempromosikan barang kepada pelanggan melalui media online, dan kemarin ia baru saja menemui Jeanny, seorang model yang cukup terkenal di tanah air. Berharap Jeanny mau menjadi model untuk brand pakaian miliknya. Namun wanita cantik itu langsung tegas menolak dengan alasan cacatnya PT. Alingga akibat kasus yang terjadi belakangan ini.


"Aku dengar Pak Gerry Djohan mencari seseorang untuk pembuatan kostum hewan untuk acara pentas seni di sekolahnya. Apa buk Maura tidak berniat untuk menemuinya?." tanya Fariz melihat Maura yang sedang melihat layar laptop."Kita punya satu model kostum hewan kelinci yang sudah siap. Kita tunjukkan padanya, siapa tau dia tertarik mau bekerja sama dengan kita."


Maura menghela nafas berat. Meniggalkan sejenak kegiatannya dilayar laptop, melihat pada Fariz."Kemarin aku sudah bicara dengan Kevin untuk membantuku dalam proyek ini. Tapi Sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau Pak Gerry menyetujui."ia tersenyum kecut."Kita terlalu banyak berharap pada sesuatu yang tidak mungkin, Riz. Ada banyak pengusaha konveksi yang terkenal di kota ini. Mereka pasti memakai bahan-bahan yang berkualitas."


"Sementara kita ...."Maura tertawa getir, menjeda kalimatnya sesaat."PT. Alingga sudah tercoreng, Riz."


"Apa itu artinya buk Maura menyerah?."


Maura terdiam. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Ketika itu, ia sedikit terkejut mendengar telepon yang berada diatas mejanya berdering.


Fariz memperhatikan. Entah apa yang dibicarakan, namun dirinya bisa melihat perubahan wajah Maura yang menjadi bahagia usai panggilan telepon itu di akhiri.


"Buk Maura kenapa?."


"Fariz ... kamu tau, barusan tadi yang menghubungiku adalah Pak Gerry."ucap Maura sangat senang.


"Oh, ya?." tanya Fariz tak percaya.


"Kamu tau apa yang dia bilang?."


Fariz bergeleng pelan."Pak Gerry mengatakan apa, buk?."


"Dia bilang, dia ingin bertemu denganku untuk menunjukkan salah satu kostum hewan terbaik yang kita punya. Itu artinya kita memiliki harapan untuk diterima." ucap Maura dengan percaya diri yang kembali muncul.


Fariz mengangguk cepat."Selamat, buk. Aku berdoa semoga perusahaan kita lah, yang terpilih."


"Terima kasih, Fariz."


"Kapan pertemuan itu?."

__ADS_1


"Pukul 3, sore ini."


Fariz hening sesaat seperti sedang berfikir."Sore ini?." tanyanya lagi memastikan.


"Iya ... kenapa?."


"Maaf, buk ... sepertinya saya tidak bisa ikut. Soalnya pukul 3 sore nanti saya ada pertemuan dengan supplier dari Bandung." jelas Fariz menyayangkan.


"Tidak apa-apa." Maura tersenyum."Nanti aku minta tolong dengan Aya dan Salma untuk membawa kostum itu."


Pukul 3 sore, Maura sampai disebuah alamat yang dikirimkan oleh Pak Gerry Djohan beberapa saat lalu. Sementara Aya dan Salma telah lebih dulu diantar memakai mobil perusahaan sambil membawa contoh kostum hewan rancangan dari PT. Alingga. Didepannya, sebuah bangunan dengan dinding kaca yang luas. Dari dalam, Maura bisa melihat telah banyak orang yang berkumpul. Itu artinya, ada beberapa perusahaan yang diundang. Sedikit membuatnya tak percaya diri. Akankah perusahaannya mampu memenangkan proyek itu?


Ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangkannya secara perlahan. Ayo Maura! kamu harus yakin. batinnya menyemangati diri. Diundang untuk datang saja, cukup membuatnya senang. Itu artinya rancangan pakaian dari PT. Alingga masih memiliki nilai untuk dipandang meski ditengah kasus besar yang tengah melanda.


Maura berjalan dengan langkah mantap memasuki tempat itu. Didalam ia sudah melihat Aya, dan Salma tengah berdiri diantara kostum hewan kelinci yang terpajang. Sementara di sisi kanan kiri mereka sudah ada beberapa orang dari perusahaan lain, yang juga tengah berdiri seraya menunjukkan pajangan kostum hewan dengan bentuk yang berbeda.


Tampak Pak Gerry tengah berjalan melihat dan menilai satu persatu kostum dari beberapa perusahaan yang diundang. Waktu berjalan, kini tiba PT. Alingga yang mendapatkan penilaian. Aya dan Salma menjelaskan secara detail bahan kain dan fungsinya. Berhubung ini kostum yang akan digunakan untuk anak-anak, Pak Gerry tak ingin jika nantinya kostum itu membuat para anak-anak murid di sekolahnya merasakan ketidaknyamanan.


"Terima kasih sekali lagi saya ucapkan kepada pemilik PT. Agra, PT. Alingga ... dan Bramasta Group yang telah datang memenuhi undangan saya ..."


Ucap Gerry Djohan, dengan suara yang menggema memenuhi seluruh ruangan.


"Setelah menilai satu persatu kostum ... kami memutuskan untuk bekerja sama dengan PT. Alingga."


Sungguh, pernyataan Gerry Djohan membuat Maura tak percaya. Ia tak menyangka keyakinannya berbuah manis. Riuh tepuk tangan membuatnya hampir menitikkan air mata bahagia. Namun tak sedikit orang yang mencibir dan berbisik terkait kasus yang saat ini sedang melanda PT. Alingga.


"Terima kasih, Pak." ucap Maura menyambut tangan Gerry Djohan yang menghampirinya."Saya berjanji. Saya tidak akan mengecewakan bapak."


Gerry tersenyum."Saya percaya, PT. Alingga pasti bisa menyanggupi kerjasama seperti yang saya harapkan."


Maura mengangguk sopan.


"Untuk lebih lanjut ... nanti kita bisa atur pertemuan kembali."


Maura mengangguk."Baik, Pak."


"Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Gerry sebelum berlalu.


"Cantik, selamat untuk perusahaan mu."


Suara dari belakang Maura membuatnya menoleh."Kak Aryan." ia tersenyum."Ini karena bantuan kakak. Terima kasih, ya."


"Kalau bukan karena kakak, Pak Gerry tidak akan berkenan mengundangku dan melihat rancangan PT. Alingga."


Sambung Maura lagi sambil terus tersenyum.


Kevin terkekeh pelan."Sepertinya kamu salah paham, Maura. Belakangan ini aku sibuk dan tidak sempat menemui Pak Gerry."


"Aku rasa kemenanganmu kali ini ... itu adalah penilaian dari Pak Gerry sendiri. Mungkin dia merasa puas dengan rancangan kostum dari PT. Alingga." Kevin mengedikkan bahunya."Bisa saja, kan?."


Maura hening. Ia meragukan ucapan Kevin. Pasalnya PT. Alingga sedang mengalami masalah. Pak Gerry pasti tidak semudah itu memutuskan untuk mengundangnya, apa lagi memilih perusahaannya sebagai pemenang. Perusahaan konveksi lain bahkan lebih terkenal, dan tentu dengan bahan-bahan berkualitas terbaik pula. Lalu, kenapa PT. Alingga yang terpilih sebagai pemenang?.

__ADS_1


Maura menelan ludah. Ia melempar ke sembarang arah. Tanpa sengaja netranya tersita pada sosok pria memakai jas rompi berwarna biru tua, tampak sedang mengobrol santai dengan Pak Gerry.


__ADS_2