KIMCHI

KIMCHI
DASAR PRIA MENYEBALKAN!!


__ADS_3

..."Jangan menerka nerka dengan apa yang ku perbuat, sebab bisa ada yang hilang kelak. Tak perlu banyak bertanya, cukuplah rasakan saat kau di sampingku. Ini tentang kedewasaan."...


^^^_Puisitentangcinta^^^


Segaris cahaya matahari menyusup masuk melalui celah jendela. Silaunya membuat kedua bola mata Maura yang terbuka jadi menyipit. Ia beringsut perlahan bangun, ketika sebuah handuk kecil yang hampir mengering jatuh dari kening, lalu mengambilnya. Jadi tadi malam aku demam?


Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Bisa ia pastikan itu adalah Damar. Ah, mengingat pria itu tiba-tiba saja Maura menyentuh bibir. Mimpi tadi malam seolah nyata. Selama ini ia berharap Deva lah yang hadir didalam mimpinya. Tak pernah berkhayal sekali pun jika pria itu adalah Damar. Bisakah ia katakan bahwa mimpi tadi malam adalah mimpi buruk? Mungkin ya. Tapi nyata mimpi itu menyisakan debaran aneh yang ia sendiri tak mengerti. Bahkan meski sudah terjaga. Dan ketika suara pintu kamar mandi terbuka, melihat kemunculan pria itu membuat detak jantungnya lagi-lagi menari tak jelas. Refleks ia menurunkan tangan yang sedari tadi menyentuh bibir.


Maura menelan ludah, ketika tatapannya bertemu pada manik hitam milik Damar. Hanya beberapa detik, karena pria yang masih mengenakan handuk itu kembali berjalan, masuk ke ruang ganti.


Beberapa menit berjalan, Maura asik didepan ponselnya seraya bersandar pada dinding ranjang, dan langsung menoleh ketika mendengar suara tebal Damar. Pria itu keluar dari ruang ganti telah mengenakan pakaian lengkap. Setelan jas berwarna biru tua, tanda sudah siap untuk berangkat ke kantor. Tak hanya itu, sebuah koper kecil hitam turut Damar bawa. Sedikit heran, tapi ia tak berniat bertanya. Menganggap itu bukan urusannya.


"Bagaimana keadaanmu ... apa demamnya sudah turun?."


Maura mengangguk pelan."Sudah ... panasnya sudah hilang." ia menyentuh keningnya sendiri.


"Syukurlah." Damar tak lagi menimpali. Mata elangnya justru terpaku pada bibir Maura yang sedikit memiliki tanda. Ah, itu pasti karena kelakuannya tadi malam. Ia hampir tak bisa menguasai diri. Berbulan-bulan lamanya gairah tertahan. Hampir lepas kontrol ketika tadi malam gadis itu tak berniat berhenti. Hingga ketika tangannya menyentuh dahi Maura yang seperti terbakar, baru lah ia tersadar.


"Terima kasih, ya, Mas ... tadi malam kamu sudah menjagaku."


Suara Maura berhasil mengalihkan pandangannya. Ia langsung mengangguk.


"Terima kasih juga karena tadi malam kamu sudah menyelamatkan ku dari orang-orang jahat itu. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku kalau kamu tidak datang.?."sambung Maura lagi dengan mata memanas ingin menangis mengingat kejadian tadi malam yang hampir merenggut kehormatannya. Senyum menyeringai, perlakuan kasar dan bau alkohol yang menguar dari pria-pria itu membuatnya sampai saat ini masih merasa jijik.


"Aku harap kejadian tadi malam adalah yang terakhir. Aku minta sama kamu jangan nekat seperti tadi malam lagi. Kamu harus tau, Maura ... keberuntungan tidak selalu datang dua kali."


Maura mengangguk pelan, diiringi bulir bening yang akhirnya luruh."Sekali lagi terima kasih, ya, Mas."


"Hemm." sahut Damar singkat menatap Maura yang menyusut air mata.


"Oh, iya, Mas ... aku mau minta ...."


Damar langsung menghela nafas kasar seolah tau apa yang ingin disampaikan gadis itu."Hari ini dirumah saja. Tidak ada camping, camping. Aku khawatir demam mu kambuh lagi." memutus kalimat Maura, ia langsung berjalan menuju lemari kaca, dimana beberapa jam tangan mahal miliknya tersimpan disana.


"Tapi, Mas ... aku sudah sembuh" Maura menyentuh dahi dan lehernya meyakinkan. Berharap Damar yang sedang berdiri didepan lemari kaca dengan posisi memunggunginya, bisa melihat pantulan dirinya dari dalam sana."Sudah tidak demam lagi. Boleh, ya?! kalau tidak percaya, kamu bisa pegang sendiri."


Mendengar ocehan gadis itu Damar merasa berisik dan langsung berbalik. Dengan satu tangan yang sudah memegang sebuah jam tangan kulit berwarna coklat tua."Kamu mengerti tidak aku tadi bilang apa? sekali aku bilang tidak boleh, tetap tidak boleh! Paham, kan?!."ucapnya dengan tatapan tegas pada Maura. Entahlah, sebenarnya bukan hanya karena alasan demam yang dialami Maura tadi malam pemicu utama penolakannya. Melainkan pria itu, Deva Aryan Wiguna. Pemuda yang tanpa sadar sudah dianggapnya pesaing. Maura selalu saja menempel seperti cicak didinding. Dan itu berhasil membuatnya ketar ketir.


His, dasar menyebalkan!. gerutu Maura dalam hati. Baru saja memuji pria itu dalam hati. Sekarang pujian itu ia tarik kembali. MENYEBALKAN!! Ya, hanya kata itu yang tepat menurutnya. Sungguh sangat diluar ekspektasi. Izin itu langsung mendapatkan penolakan keras. Mematahkan segala rangkaian rencana yang sejak tadi terbungkus rapi di kepala. Memasang api unggun, bernyanyi diiringi alunan musik gitar yang dimainkan oleh jemari Deva, memasak makanan bersama, dan masih banyak sekali rencana seru lain dalam khayalannya.


Namun bukan Maura namanya jika tak keras kepala. Saat ini dalam pikirannya adalah cepat-cepat keluar dari dalam kamar itu untuk segera menyusun pakaian. Tapi tunggu! bukankah seluruh pakaiannya sudah dipindahkan oleh bik Imah di kamar ini saat mendengar kabar Amelia akan datang kemarin? Ah, ia akhirnya hanya menghela nafas kasar. Tampaknya ia harus sedikit lebih sabar menunggu pria menyebalkan didepannya ini untuk pergi dulu. Kalau kemarin ia merasa berterima kasih karena bik Imah telah menyelamatkan jantungnya yang hampir lepas, tapi sekarang ia justru menyalahkan, karena ini menjadi salah satu penghambat baginya. Mungkin saat ini Aina dan teman-temannya yang lain sudah bersiap-siap untuk pergi.

__ADS_1


Hei, pria menyebalkan ayo cepat pergi!


"Aku tau isi di kepalamu." ucap Damar sok tau sambil memakai jam dipergelangan tangannya.


"Semua orang tau, isi di kepala itu otak."sahut Maura dengan nada sewot.


Damar hanya tertawa tanpa suara seraya berjalan ke arahnya.


Tanpa Maura duga, pria itu membungkukkan tubuh didepannya, dengan kedua tangan kokoh bertumpu di ranjang tepat dikedua sisi tubuhnya. Perlahan wajah Damar semakin dekat, menatapnya lekat. Ia dibuat gugup hingga menelan ludah berkali-kali. Harum maskulin dari pakaian pria itu jelas terasa, membuatnya tak karuan. Sial! Kenapa dia jadi terlihat tampan sekali. Mirip Park seo-joon malah. Astaga Maura .... Otakmu kenapa??!


Gugup, sangat gugup. Seperti tak berdaya, ia ingin berpaling. Namun tanpa sengaja pandangannya justru turun tepat di bibir tebal milik Damar. Lagi-lagi ia dibuat kembali menelan ludah. Teringat pada mimpi indah tadi malam. Apa? mimpi indah? Big no! his!!


Wajah Damar semakin dekat memutus jarak, membuatnya tergeragap."K-kamu mau ngapain, Mas?."


Tak langsung menjawab, Damar masih terus menatapnya lekat. Membuat jantung Maura seperti ingin melompat keluar. Tatapan itu begitu dalam hampir membuatnya terperdaya.


"Ponsel ku kamu duduki." ucap pria itu akhirnya sambil menarik ujung ponsel yang terlihat dibawah bokong Maura. Mendengar itu Maura dibuat tak percaya dan refleks mengangkat tubuhnya sedikit ketika merasakan sebuah tarikan dibawah pantatnya.


"Untung tidak lecet." Damar berdiri sambil mengusap layar dan menekuri setiap sisi ponsel.


"Kurang ajar! memangnya kamu pikir pantatku berduri?!." Maura memandang Damar kesal. Rasa malu karena sudah terlalu pede mungkin itu juga penyebabnya. Dirinya sempat berpikir Damar akan menciumnya. Tapi, ternyata ... sial! Kalau mau mengambil ponsel, ya ambil saja! Tidak perlu membungkukkan tubuh di depanku seperti tadi!


"Hallo, Ra."


Maura menajamkan telinga, ketika Damar berjalan meraih koper. Itu pasti Aira. Karena Damar langsung menyebut unjung nama wanita itu ketika menyambut panggilan.


"Iya, sebentar lagi aku berangkat. Kamu tunggu dirumah, nanti ku jemput."


Kali ini ia berdesis sebal. Lalu dengan bibir bergerak merot-merot mengikuti kalimat Damar. Iya, sebentar lagi aku berangkat. Kamu tunggu dirumah, nanti ku jemput.


Kala itu Damar berbalik, ia sontak mengatur ekspresi sambil mengusap ujung hidung.


"Kenapa begitu?."rupanya kelakuan mengejeknya itu sempat dilihat oleh Damar.


"Kenapa memangnya?."tanya Maura pura-pura tak mengerti.


Damar tak lagi berniat menimpali. Meski ia tau gadis itu sudah mengejeknya tadi. Melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi, tak cukup waktu lagi jika terus berbicara dengan gadis itu."Tetap dikamar ini, jangan kemana-mana. Aku tidak mau Bik Imah meneleponku dan mengatakan kalau kamu pergi." sambil membawa koper, ia melangkah keluar. Tapi kemudian berhenti, kembali melihat Maura.


Seolah tak ingin peduli, Maura tak menjawab sambil melemparkan pandangan pada sudut lain kamar itu.


"Pintu kamar ini akan ku kunci ... sarapan, makan siang, dan makan malam mu akan diantar sama bik Imah."sambung Damar kembali, membuat Maura akhirnya menoleh tak percaya.

__ADS_1


"Mas ..." protes Maura tertahan langsung turun dari tempat tidur mengejarnya. Namun terlambat pintu itu sudah ditarik lebih dulu dari luar dan langsung dikunci oleh Damar."Mas, jangan gitu, dong, Mas! buka pintunya!."


"MAS!!." teriaknya sambil memukuli pintu dengan mata memanas hampir menangis.


"KAMU JAHAT, MAS! KAMU JAHAAAT!!! MENYEBALKAN!! AKU BENCI SAMA KAMU!!"


"lihat saja ... bagaimana pun, caranya aku akan tetap pergi!."


Tanpa Maura tau, diluar Damar masih berdiri mendengarkan umpatan dan sumpah serapahnya. Kemudian melangkah turun.


Sulit bukan berarti tidak mungkin. Bukan Maura namanya kalau gampang menyerah. 1001 cara akan ia coba asal tetap pergi. Beberapa saat usai membersihkan diri, ia memakai pakaian dan gegas menyusun beberapa stel pakaian kedalam tas ransel hitam dari dalam lemari, ketika dari luar terdengar sebuah suara kunci saling beradu.


Dengan gerakan terburu-buru ia memasukkan tas ransel itu kembali kedalam lemari, lalu melompat secepat kilat naik keatas ranjang, meraih selimut untuk menutupi tubuh hingga sebatas leher. Saat itu Bik Imah masuk sambil membawa sepiring sarapan dan segelas susu hangat, meletakkannya diatas nakas. Lalu mengangkat wajah menatapnya heran.


"Non kenapa, bengek begitu?"tanya Bik Imah melihat wajah pucat Maura dengan nafas tak beraturan terlihat dari balik selimut.


"Tidak apa-apa, bik. Cuma sesak sedikit, mungkin masuk angin karena hujan-hujanan tadi malam." Masuk akal bukan? Maura merasa bangga dengan otaknya yang encer. Padahal ini jelas nafas gugup karena hampir ketahuan.


"Oh." bik Imah menatapnya ambigu. Pasalnya saat sarapan tadi, Damar telah menceritakan alasan mengapa mengunci Maura didalam kamar. Termasuk juga dengan demam yang dialami Maura tadi malam.


Maura sepertinya harus bersabar untuk bersandiwara dulu. Dengan wajah yang dibuat-buat lemah seolah sisa demam tadi malam masih ada.


"Ya sudah ... Non istirahat saja. Bibi tinggal dulu, ya. Nasinya dimakan, dan susunya jangan lupa diminum."


"Makasih, Bik." balasnya dengan senyum lemah gaya orang sakit. Usai Bik Imah keluar, ia langsung menghela nafas lega. Ia juga sempat menyantap sarapan itu sedikit. Walau segunung harapan untuk berhasil pergi, ia tetap tak ingin kelaparan. Atau dia akan pingsan dan semua gagal.


Bugh!


Sebuah suara seperti terjatuh terdengar dari luar ketika Bik Imah sedang membersihkan kamar milik Maura. Dengan dituntun rasa penasaran ia berjalan menuju sumber suara tadi terdengar. Betapa terkejutnya, dihalaman Maura sedang terduduk sambil meringis mengusap pantat. Sementara dari dipinggiran balkon kamar utama sebuah kain panjang yang sengaja diikat saling menyambung terjuntai hingga ke tanah.


"Astaga, non?!"


Maura mengangkat wajah, terkejut melihat Bik Imah yang mengetahui rencananya. Ia buru-buru mengambil tas ransel yang memang lebih dulu dijatuhkan, kemudian berlari keluar menuju gerbang. Sementara dipinggir jalan tampak sebuah minibus berwarna biru muda tengah berhenti. Dan salah seorang pria bertopi turun dari dalam.


"Hei, non ... jangan pergi! Dadang, ya ampun, itu!." Bik Imah berteriak pada pria paruh baya si penjaga gerbang. Jarak yang cukup jauh, dirinya diatas balkon, sementara Mang Dadang di pelataran. Membuat pria paruh baya itu tak mendengar.


Ditambah lagi seorang pria yang tadi turun mengajak mang Dadang berbicara. Baru ketika mendengar seruan dari Maura, pria paruh baya itu langsung berlari terbirit-birit mengejar minibus yang kini bergerak maju.


"MANG, IZIN PERGI DULU, YA!!."


"Non, jangan pergi, non!!."Mang Dadang akhirnya tak kuasa lagi mengejar. Berhenti mengatur nafas yang ngos-ngosan.

__ADS_1


__ADS_2