KIMCHI

KIMCHI
Surprise


__ADS_3

Maura baru saja kembali dari kantor. Ia gegas turun dari dalam mobil ketika Pak Rudy membuka pintu untuknya.


"Maura!." sambut Adira dengan wajah ceria, lengkap dengan celemek menutupi badan ketika ia hendak masuk kedalam rumah.


"Ra ... tumben kamu kemari." sahut Maura tak kalah senang."Terus ini ngapain?." ia menunjuk celemek yang Adira kenakan.


"Oh, ini ... habis bantuin Tante Desi masak." Adira cengengesan.


"Terus kamu sama siapa kemari? bukannya Fariz masih di kantor?." tanya Maura lagi.


"Aku sendiri." Adira merangkul bahu Maura sambil berjalan masuk kedalam rumah."Nanti suamiku kemari. Ayo ke kamarmu. Aku akan meriasmu."


"Buat apa?." Maura mengerutkan kening. Ia melemparkan pandangan ke sekelilingnya. Dapat ia lihat dari kejauhan, Desi tengah sibuk memasak didapur bersama bik Imah, dan Nia.


"Em, ini ... aku lagi butuh model untuk praktek make-up pernikahan. Kamu tau sendiri, kan ... aku paling suka hal-hal yang berkaitan dengan kecantikan. Kebetulan aku enggak ada kegiatan dirumah .... jadi aku berniat untuk beralih profesi menjadi dukun manten sekarang?."jelas Adira cepat.


"Jadi kamu datang kemari cuma mau jadikan aku bahan praktek, gitu?."


"Iya." Adira terkekeh."Enggak apa-apa, kan?."


"Iya, deh ... demi kamu apa sih, yang enggak."Maura menjawab pasrah.


"Tante kepo, Tante kepo .... Mama kapan didandaninnya? Kan nanti ...."


Adira membungkam cepat mulut Nathan yang tiba tiba saja datang dari dapur. Dengan pipi yang telah ber-make up tepung.


Adira tertawa ragu pada Maura, lalu membungkuk berbisik pelan ditelinga bocah gembul itu."Sayang ... kita kan, mau buat surprise untuk Mama. Jadi, jangan bilang-bilang."


Refleks Nathan menutup bibir dengan kedua tangannya."Oh, iya, ya tante. Aku lupa."balasnya ikut-ikutan berbisik ditelinga Adira.


"Kalian kenapa sih, pakai bisik-bisik segala?"tanya Maura bingung.


"Mama kepo, ih. Kepo-nya udah nular dari Tante Adira. Hihihi." Nathan terkikik sambil menutup mulut.


"Sayang ... cerita dong, sama Mama. Nanti mau ada apa?"tanyanya lembut berharap Nathan akan memberitahunya.


Anak itu terlihat menekuk ujung bibirnya seperti ragu. Lalu ia menatap Adira. Wanita itu bergeleng-geleng pelan memberi isyarat agar tidak menjawab.


"Sayang ... anak Mama yang tampan, yang pintar dan lucu." kali ini Maura semakin melembutkan suaranya."Ayo dong, cerita sama Mama. Nanti kalau Nathan jujur ... Mama belikan permen yang baaaaaanyaaak banget."


"Mau, kan?."


"Kabuuuur!" seru Nathan sambil berlari. Seolah tidak peduli dengan tawaran permen yang banyak. Tentu saja karena tadi Adira sudah menyumbatnya dengan memberikan aneka ragam permen kesukaannya.


Saat itu Maura hanya menghela nafas panjang.


"Udah ... enggak ada apa-apa kok. Aku tadi cuma janji mau nunjukin hasil make-up aku ke Nathan."


"Oh." respon Maura singkat.


"Udah, yuk ... buruan aku dandanin." ajak Adira menarik lengannya.

__ADS_1


"Buru-buru banget." Maura sedikit menekuk wajah. Sementara Adira hanya mengulum senyum.


"Eh, sebentar ... aku taruh ini dulu." Adira melepas celemek, berlari cepat ke dapur. Kemudian menyusul Adira yang telah berjalan ke kamar lebih dulu.


Beberapa saat didalam kamar, tepatnya pukul 7 malam urusan rias merias telah usai. Jari jemari Adira telah berhasil menyulap Maura menjadi semakin cantik. Maura disuruh mengenakan kebaya berwarna abu-abu, dipadu dengan kain batik yang terbalut rapih menutupi tubuhnya.


"Mesti gini banget ya, Ra? bukannya yang perlu cantik cuma wajah doang. Kenapa harus pakai kebaya segala?."


"Iya, dong, Maura ... biar perfek." sahut Adira tanpa ragu."Aku mau fotoin kamu .... terus aku upload di media sosial. Biar orang-orang tertarik untuk menggunakan jasa rias dari aku."


Maura menekuk bibir seperti berpikir, bahwa yang dikatakan Adira ada benarnya.


Foto model dimulai. Adira meminta Maura bergaya bak model sungguhan. Beberapa jepretan telah didapatkan.


"Udah, kan? gerah, nih ..." Maura mengipasi lehernya.


"Belum ... bentar dulu, Maura." Adira menambah volume AC didalam kamar, berusaha mengurangi rasa gerah pada Maura. Ia kemudian berjalan ke arah jendela, melihat ke bawah, tepat pada halaman luas rumah itu. Saat itu ia langsung tersenyum lega.


"Udah, yuk."


"Ayuk, kemana?."


"Ke bawah ... kamu lupa tadi Nathan mau liat?."


Maura menuruti. Pasrah saja ketika Adira menuntun tangannya keluar.


Saat menuruni tangga, tiba-tiba Maura merasakan keanehan. Dari lantai bawah, sayup-sayup ia bisa mendengar keramaian. Ia lalu menahan Adira."Ra ... sebenarnya ada apa, sih?."


Dengan rasa penasaran dan rasa gugup yang tiba-tiba datang, Maura melangkah menuruti Adira. Hingga akhirnya ia terkejut bercampur haru melihat Virza dan seluruh keluarga besarnya tengah duduk diruang tamu. Tampak juga Fariz yang sudah hadir. Semua tersenyum hangat menyambutnya.


"Surprise!."bisik Adira pelan ditelinga Maura."Selamat, kamu akan dilamar, nyonya."


Mendengar itu bola mata Maura berkaca-kaca. Ia melangkah dengan rasa gugup ketika Desi memintanya duduk dan bergabung.


Sementara diluar, wanita cantik tengah menangis terisak.


"Virza, kenapa kau melakukan ini?!"teriak Evelyn frustasi sambil memukul setir mobil, lalu menjambak rambutnya sendiri.


Tadi tanpa sengaja ia melihat mobil putih keluar dari halaman rumah Bramasta. Mobil itu adalah milik Virza. Dengan rasa penasaran ia akhirnya mengikuti. Jalanan saat itu sedikit ramai. Ia tak ingin kehilangan jejak.


Kecemasan tergambar diwajahnya Manakala ia bisa menebak kemana arah tujuan mobil itu. Lagi, ia kembali harus menahan rasa luka, saat melihat mobil putih itu berhenti di pelataran rumah mewah, yang ia ketahui itu adalah tempat tinggal Maura. Tidak terlihat ramai, hanya ada beberapa mobil yang bertengger di pelataran rumah itu.


Tiga orang turun dari dalam mobil sedan mewah berwarna putih itu. Deretan lampu taman yang terlihat terang, membuatnya bisa melihat dengan jelas. Itu bukan hanya Virza, tapi juga ada Kevin dan Inggrid. Ketiganya terlihat rapih dengan wajah-wajah yang menyiratkan bahagia. Tak lama, dua orang paruh baya keluar menyambut ramah kehadiran tamunya tersebut. Kali ini ia bisa menyimpulkan acara apa yang akan berlanjut.


"Maaf mbak ... ada apa, ya? kenapa teriak-teriak?"


Suara Pak Rizal, selaku security rumah itu membuat Evelyn tersentak. Rupanya teriakannya tadi terdengar sampai ditelinga pria itu.


Evelyn menoleh dengan tatapan tajam. Tak ingin menjawab, ia pun segera melajukan mobilnya.


"Siapa, ya? aneh banget ... pakai teriak-teriak segala." gumam Pak Rizal heran melihat mobil Evelyn yang melaju menjauh.

__ADS_1


___________________


Braaakkk!!


Evelyn masuk kedalam rumah, lalu membanting pintu dengan sangat keras. Menyusut air mata, seolah menggambarkan hatinya yang penuh kesakitan. Membuat Yohan dan Nathalie yang sedang bersantai sambil menonton tv dibuat terkejut dan heran.


"Kenapa dia?."


Nathalie memandang suaminya."Kenapa dia?."


Yohan menghela nafas berat."Apalagi kalau bukan karena urusan cinta."


Nathalie diam.


Sementara Evelyn terus berjalan menuju kamarnya dilantai atas. Lagi, ia kembali membanting pintu kamarnya. Seolah tak peduli dengan sekitarnya, ia melempar tas mahal yang ia kenakan ke sembarang arah, hingga membuat jatuh sebuah bingkai foto yang berada diatas nakas.


Sontak ia menoleh, saat sadar bingkai foto itu sudah terjatuh dengan kaca yang sudah menjadi serpihan. Perlahan ia mendekat. Jemarinya mengambil selembar foto berisi gambar seorang lelaki yang sangat ia cintai. Ya, siapa lagi kalau bukan Virza. Lelaki yang sejak lama ingin ia miliki. Tanpa sadar salah satu jemarinya sudah berdarah tergores serpihan kaca.


"Kamu jahat, Za ... kamu jahat!." teriaknya histeris.


Yohan yang kembali mendengar suara hempasan pintu dan teriakan, akhirnya menjadi cemas pada adik kesayangannya itu. Dengan cepat ia melangkah kelantai atas untuk segera melihat adiknya itu, disusul Nathalie yang mengikutinya dari belakang.


"Evelyn, apa yang terjadi?"


Keduanya terkejut melihat Evelyn sedang menangis terisak-isak. Duduk bersandar pada didinding seraya memeluk sebuah gambar dengan tangan berdarah. Yohan berniat mendekat untuk mencari tau masalah apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh adiknya tersebut, namun Nathalie menahannya.


"Biar aku saja, Mas. Aku juga akan mengobati lukanya."ujar Nathalie pelan. Lalu mendekati Evelyn.


"Ada apa, hum? cerita sama, Mbak."ujar Nathalie lembut.


Evelyn perlahan menoleh. Pipinya terlihat basah karena air matanya yang terus mengalir."Virza, Mbak ... sebentar lagi dia akan menikah dengan wanita murahan itu."


Nathalie dan Yohan tidak terkejut, karena keduanya sebelumnya sudah mendengar kabar itu, ketika keduanya menjenguk Inggrid dirumah sakit beberapa saat lalu. Jujur, sebenarnya Yohan kecewa ketika Inggrid berterus terang membatalkan rencana pertunangan Evelyn bersama Virza. Tapi ia tak bisa memaksakan kehendak, karena memahami Virza tak pernah ingin pertunangan itu terjadi.


"Lupakan Virza, dia tidak pernah mencintaimu!"ujar Yohan tegas.


"Enggak, kak .... Kakak sendiri tau kalau aku mencintainya. Dan kami juga sudah dijodohkan sejak kecil, kak. Pokoknya aku nggak mau tau ... pernikahan kami harus terjadi."ujar Evelyn tak kalah tegas.


"Jangan gila, Evelyn! Jangan memaksa seseorang yang tidak pernah mencintaimu untuk menikahi mu. Lupakan obsesimu itu!"ujar Yohan sedikit emosi karena melihat adiknya yang keras dan sulit untuk diberi pengertian.


"Mas ..."Nathalie mencoba meredam emosi suaminya.


"Ayo keluar! biarkan saja dia seperti itu."Yohan keluar dari kamar itu.


Nathalie menghela nafas berat."Evelyn ... Mbak tau kau mencintai Virza. Tapi kamu harus tau, Virza tidak pernah mencintaimu, sayang." ucapnya dengan lembut dan hati-hati sambil menyeka air mata Evelyn."Seandainya pun, kau memaksa perjodohan itu tetap terjadi ... kamu enggak akan bahagia."


"Biarkanlah dia memilih menikah dengan wanita yang dia cintai. Percayalah ... suatu saat kamu akan mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintaimu."


Evelyn bergeming.


"Mbak keluar dulu, ya ... mau ambil obat untuk ngobatin luka kamu." Nathalie mengusap pelan bahu Evelyn, lalu berdiri keluar.

__ADS_1


"Merelakan?"Evelyn berdengus. Ada tarikan tipis disudut kanan bibirnya.


__ADS_2