KIMCHI

KIMCHI
Umpatan dan Sumpah Serapah


__ADS_3

..."Ketika kita berjanji disini, akankah ikrar datang disana? berbisik penuh usik gelapkan siang yang terik. Kuharap kita mampu berteduh di derasnya hujan, dalam perjalanan yang masih panjang."...


"Mas, kamu mau bawa aku kemana?." tanya Maura bingung sambil mengikuti langkah panjang Damar. Namun pria itu tak menjawab. Dari samping, Maura bisa melihat rahang pria itu yang mengetat, dan genggaman tangan yang semakin kuat dilengannya.


"Mas tolong lepaskan. Ini sakit!."


Cukup jauh dari keramaian tamu yang hadir dan bisa dipastikan tak ada satu pun orang yang melihat, Damar langsung melepaskan dengan kasar tangan Maura. Hingga tubuh mungil itu hampir limbung."Berani-beraninya kamu! siapa yang menyuruhmu memakai baju Naomi dan berdandan sepertinya di depanku? huh?!."


"Sebenarnya apa maksudmu?! Kenapa kamu lancang sekali?!." Sambung Damar dengan nada tinggi, membuat tubuh Maura berjengit karena terkejut. Tak percaya pria itu akan marah seperti ini.


"M-maaf, Mas. Tapi aku tadi tidak punya pilihan lain selain memakai baju mbak Naomi, karena aku tidak punya gaun sama sekali. Lagipula ini juga salahmu, mengapa mengabari ku mendadak? aku tidak punya persiapan apa pun!."terang Maura dengan berani, meski sorot kemarahan masih terpancar pada mata elang pria itu.


"Seharusnya belikan aku gaun baru kalau tidak ingin melihatku memakai gaun ini. Kamu pengusaha kaya, kan? setidaknya bermodal sedikit. Uangmu tidak akan habis hanya karena membelikanku satu gaun!" tandasnya kesal.


Mendengar mulut pedas gadis itu membuat Damar geram."Pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu!."


Mendengar itu Maura dibuat tak percaya. Susah payah ia berdandan, tapi tak dihargai sama sekali."Kamu ...."


"Pergi dari hadapanku, sekarang!."


Seruan tegas Damar memutus kalimat Maura yang sepertinya ingin mengeluarkan umpatan. Sementara tak jauh dari tempat mereka berada, Aira muncul. Melihat pertengkaran diantara keduanya, ada sebuah tarikan disudut bibir wanita itu. Sebuah senyuman yang tak kentara.


Sementara itu Maura langsung pergi, meninggalkan hotel dengan perasaan kesal. Sepanjang jalan menuju keluar, bibir gadis itu tak henti-hentinya mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah.

__ADS_1


Damar hendak kembali ke depan. Tapi langkahnya berhenti ketika melihat Aira."Jelaskan padaku kenapa dia tidak memakai gaun yang aku minta?."


"Maaf, soal itu aku lupa memberitahumu. Satu jam yang lalu pemilik butik itu menghubungiku. Ternyata karyawannya mengalami kecelakaan saat ingin mengantarkan gaun itu ke alamat rumahmu."


Damar menghela nafas tak percaya.


"Kenapa harus mengusirnya? padahal menurutku dia sangat cantik malam ini." tanya Aira kemudian. Namun Damar tak berniat menjawab. Pria itu memilih melanjutkan langkah berjalan ke depan untuk berkumpul dengan tamu yang lain.


Diatas panggung, Pak Gilang tampak berdiri menyampaikan beberapa patah kata untuk acara peresmian hotelnya.


"Untuk hasil yang sangat sempurna ini, saya sangat-sangat bersyukur. Dan terutama saya sangat berterimakasih kepada nak, Damar Alga Zachni. Karena berkat rancangan tangan beliaulah hotel mewah ini berdiri, sesuai yang saya harapkan." Pak Gilang tersenyum melihat Damar.


"Dan kalau tidak keberatan, saya ingin beliau naik disini, bersama saya untuk memberikan sedikit cerita atau motivasi kepada pengusaha-pengusaha muda lainnya. Boleh kan, nak Damar?." tanya Pak Gilang seraya terkekeh pelan diakhir kalimat.


"Kenapa denganmu? apa kamu memakan sesuatu yang salah?." tanya Aira pelan.


"Tidak ada." Damar memberikan sisa air mineral yang pada Aira kembali. Usai minum, ia merasa tenggorokannya sudah lebih baik.


"Mohon maaf semuanya." Damar berdeham menjernihkan suaranya untuk kembali melanjutkan.


****


Pukul sepuluh malam Damar pulang ke rumah. Seperti biasa sudah ada bik Imah yang akan menyambutnya.

__ADS_1


"Maura sudah pulang, bik?." tanya Damar ketika sudah berada didalam.


"Sudah, Tuan. Lagi dikamar menemani Den Zayn." ucap Bik Imah sambil menutup pintu."Kayaknya lagi ngambek, Tuan. Tadi pulang-pulang langsung ke dapur sambil ngomel-ngomel. Camilan dalam kulkas langsung dilahap semua." sambungnya menghela nafas panjang mengingat kebiasaan gadis itu yang setiap kali dalam mood tidak stabil pasti akan makan sebanyak mungkin.


Damar tak berniat menimpali. Seperti dugaannya, hal ini pasti akan terjadi.


"Memangnya kenapa sih, Tuan? soalnya Non Maura tadi baru saja pergi. Eh, tiba-tiba udah balik lagi."


"Tidak ada apa-apa, Bik."sahut Damar datar.


Bik Imah akhirnya diam, tak lagi bertanya.


Damar masuk kedalam ruang kerja. Membuka jas, serta melonggarkan dasinya kemudian menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa disudut ruangan. Sambil menengadahkan kepala, ia membuang nafas berat, memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing. Sejak tadi, bayangan Maura ketika masuk kedalam hotel terus mengisi pikirannya.


Maura, Maura ... kenapa kamu terus membuatku pusing! gerutunya dalam hati. Namun sedikit penyesalan berbisik dihatinya, apalagi mengingat penjelasan bik Imah tadi.


"Apa aku tadi berlebihan sudah mengusirnya?." tanyanya pada dirinya sendiri. Entah apa yang saat ini dirasakan pria itu. Tanpa diminta, Damar beranjak. Keluar dari ruangan kerja berjalan menuju kamar Zayn.


Dengan perlahan ia membuka pintu kamar itu. Dapat ia lihat Maura sedang duduk disisi Zayn yang sepertinya baru tertidur. Melihat kehadirannya, gadis itu langsung turun dari ranjang, keluar dengan wajah dingin.


"Maura, soal tadi ...."


"Diam, Mas. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu!." ucap Maura cepat memutus kontan kalimat pria itu dengan nada ketus. Tanpa melihat melewati begitu saja Damar yang berdiri didepan pintu. Ketika itu rengekan pelan Zayn terdengar. Damar langsung menghampiri putranya.

__ADS_1


__ADS_2