
"Nyatanya, detik ini aku kembali jatuh pada senyummu, 'yang paling aduh'."
Pukul lima sore, Maura kembali menuju tenda bersama Aina. Kolam air panas yang sempat menghangatkan tubuh beberapa saat lalu, menguap sepersekian detik berganti dengan hawa dingin yang kian menusuk ke tulang. Tempat wisata ini memang berada dikawasan pegunungan dengan ketinggian kurang lebih dari 1700 MDPL. Bahkan sore ini suhu berada pada suhu 15 derajat Celcius.
"Astaga, Na ... ini dingin banget." ucap Maura dengan bibir bergetar dan dua tangan mengusap bahu. Masih mengenakan jaket kulit milik Deva yang sedikit bernoda untuk membungkus tubuh.
"Makanya buruan! kalau masuk tenda mungkin sedikit lebih hangat." sahut Aina seraya berjalan disisi Maura dengan gaya yang sama mengusap bahu."Eh, tapi ngomong-ngomong Pak Damar pulang ke hotel atau bermalam disini? Soalnya masih ada, aku lihat." sambungnya memajukan dagu ke arah Damar yang sedang duduk berkumpul dibawah pohon besar bersama yang lain.
Maura mengikuti arah pandang Aina."Tau'?!."
Aina menghela nafas berat. Membiarkan Maura masuk kedalam tenda lebih dulu.
"Masih kesal karena dikurung tadi pagi?."tebak Aina sambil duduk disisi Maura yang sedang meletakkan pakaian kotor didalam kantong plastik berwarna hitam ke sudut tenda.
"Bukan cuma tadi. Tapi sering dibuat kesal." aku Maura sambil membuka tas ransel mengambil alat kosmetik dari dalam, dengan gerakan mengekspresikan hati.
Aina mengulum senyum."Entar, juga bucin."
Maura sontak menoleh dengan ekspresi tak suka."Ogah!!."
"Kok, gitu?." Aina mengernyit dahi."Memangnya kamu nggak mau, kalian punya rumah tangga bahagia, saling mencintai?."
Maura menghela nafas jengah."Itu enggak mungkin terjadi, Na. Kami ...."ia menelan ludah, hampir saja mengatakan kebenaran yang ada.
"Kami, apa?." tanya Aina lagi dengan tatapan tak mengerti."Dan kenapa enggak mungkin, Ra? cinta itu kan, datang tanpa diduga. Bagaimana mungkin kamu seyakin itu kalau kalian tidak akan jatuh cinta?."
Maura menelan ludah gugup.
"Ra ... kamu menyembunyikan sesuatu dariku?."
"Emm ... begini, Na ... s-sebenarnya" Maura melihat ke kanan dan ke kiri. Memastikan tak ada bayangan diluar tenda dari seseorang yang menguping. Dan suara riuh yang terdengar dari arah pohon Jamuju, membuatnya yakin untuk bersuara. Menurutnya tak salah jika Aina tau soal rahasia pernikahannya. Dirinya juga yakin, Aina adalah orang yang pandai menyimpan rahasia. Bahkan selama ini keduanya juga tak ragu untuk bercerita tentang keluh kesah bersama.
"Sebenarnya kami cuma menikah kontrak, Na." ucapnya pelan setengah berbisik. Dan itu langsung membuat netra Aina terbelalak.
Oh, ini kah alasan dibalik kecurigaanku selama ini? Aina memang sempat merasa aneh dengan pernikahan keduanya. Itu ditandai dengan sikap Maura yang seolah tak ingin jauh dari Deva, meski ditengah ikatan pernikahan yang sudah terjadi. Ya, dirinya memang tau pernikahan itu hanya keterpaksaan. Tapi jika itu hal yang sakral, sekali pun benci, ia yakin Maura tak akan nekat mendua.
Dan akhirnya dia tau, inilah kenyataan sesungguhnya. Entahlah, jauh disudut hati, Aina tiba-tiba merasakan ada kecemasan.
"Hanya satu tahun, dan setelah itu bercerai." sambung Maura kembali dengan tatapan nyalang menatap dinding tenda.
Aina menelan ludah."Lalu, kamu akan kemana?"tanyanya akhirnya.
"Mas Damar akan mengirim ku Korea untuk kursus memasak. Karena memang penerimaan murid baru akan di mulai saat itu."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan, Zayn?."
Pertanyaan Aina kembali membuatnya menelan ludah. Dari awal ia sepakat. Namun kali ini ia bergeming. Ah, entahlah ... mengingat wajah mungil Zayn, netranya berubah sendu.
"Zayn ... dia ada Papanya. Itu tidak akan terlalu menyedihkan untuknya. Ada Mama Amelia, Papa Razdan dan sus Ana juga. Dan mungkin setelah aku dan Mas Damar bercerai ... tidak lama dia akan memiliki Mama baru." entah mengapa kalimat terakhir yang keluar, terasa mencubit ulu hatinya sendiri. Nyeri sekali. Ia bahan belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.
Aina hening, seolah tau siapa Mama baru yang dimaksud oleh Maura.
Maura menunduk dengan tawa tanpa suara."Dan setelah itu aku bisa mengejar impianku untuk menjadi Chef hebat. Belajar ke Korea, itu pasti akan seru sekali."
"Benar." sahut Aina kemudian menatap lekat Maura yang masih menunduk melihat tas ransel yang menjadi tumpuan kedua tangan."Lalu kenapa kamu menangis?." tanyanya kemudian, karena sebelum Maura menunduk ia sempat melihat mata Maura memerah.
Maura tersenyum mengangkat wajah."Hei ... ini air mata bahagia. Beberapa bulan lagi aku akan pergi ke Korea."
Aina menatap ambigu.
"Aku rasa rasa penasaranmu sudah terjawab. Kalau aku bicara terus, mungkin rahasiaku akan terbongkar dan didengar oleh semua orang." ia terkekeh pelan diakhir kalimat.
"Oh iya, dimana tadi sepatuku?." Entah itu sebuah pengalihan, Maura langsung celingukan mencari keberadaan sepatunya.
"Diluar ... disamping tenda." sahut Aina mengingat.
Maura gegas beringsut, meraih sepatu sneakers miliknya. Namun dibuat mengernyit melihat kotak putih dengan lambang merah juga catatan kecil menempel, berada diatasnya. Dipakai, ya! Semoga lekas sembuh
Aina mengendikkan bahu."Mungkin seseorang tau kalau kamu terluka. Pakai saja, sebelum telapak tanganmu mu itu infeksi."
"Masih sakit, kan?." tanya Aina memastikan.
Maura mengangguk pelan."Perih dan sedikit berdenyut." ucapnya melihat telapak tangannya yang memang sudah tak lagi berdarah namun memberi jejak kebiruan. Dan tiba-tiba dirinya mengulum senyum seolah bisa menebak siapa gerangan orang yang telah memberi perhatian dengan mengirimkan kotak obat itu padanya.
"Malah senyum-senyum ... sini aku pakai, kan!." Aina merebut kotak obat itu darinya.
...****************...
Aku tak bisa luluhkan hatimu,
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Dan aku t'lah terpagut oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
__ADS_1
Namun kau masih terdiam membisu
Iringan musik gitar mengalun merdu dengan suara yang berhasil menyentuh kedalam sanubari. Pria memakai jaket kulit berwarna coklat muda itu membawakan lagu Menanti sebuah jawaban yang di populerkan oleh penyanyi terkenal Padi, seolah menjadikannya ungkapan hati yang telah lama dipendam dan secara tak langsung dibawakan didepan seorang wanita yang saat ini tersenyum kagum memandangnya.
Senyum itu jelas terlihat, dari terangnya pancaran cahaya api unggun yang menyala ditengah-tengah.
Sepenuhnya aku ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan 'tuk mencintaimu
Setulusnya aku akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku ...
"Wohoooo!!!. Riuh tepuk tangan di berikan dari para teman-temannya ketika lagu itu berakhir.
Tepat ketika Damar keluar dari tenda dan langsung duduk disisi Maura. Membuat gadis itu terkesiap karena terkejut. Melihat dengan tatapan sebal kepadanya.
"Ngapain disini? Disitu masih banyak tempat." ucap Maura pelan dengan nada geram menujukan dagu pada tempat kosong yang mengelilingi api unggun.
"Supaya kamu ingat kalau kamu punya suami!."sahut Damar tanpa menoleh kesamping.
Sontak kalimat itu membuat Maura berdesis geram. Ia melihat Damar yang juga langsung melihat padanya. Baru saja membuka membuka mulut, namun tertahan. Hampir saja ia kelepasan untuk menjelaskan bahwa dirinya ini hanyalah seorang istri kontrak. Beruntung ia mengingat bahwa saat ini mereka sedang berada ditengah-tengah teman yang lain. Dan akhirnya kembali melihat ke depan dengan wajah tertekuk seribu. Seperti kertas yang diremas lalu dipijak berkali-kali.
"Chef Deva keren!! Ternyata selain jago masak, Chef juga jago main gitar dan nyanyi, ya ... aku baru tau. Hihihi." ucap Riri sambil dengan mulut mengunyah camilan stik rasa jagung bakar didalam mulut."Bagus banget." pungkasnya dengan mengacungkan jempol tangan kanan. Mendengar itu Deva hanya tersenyum.
"Kebetulan sekarang Pak Damar sudah bergabung. Sekarang giliran Bapak yang bernyanyi. Ayo, Pak!." seru Donny tiba-tiba membuat pria itu yang baru saja duduk dibuat bingung.
"Iya, betul! Ayo, Pak nyanyi untuk kami." sahut Anya kemudian dengan semangat.
"Maaf, saya tidak biasa bernyanyi." aku Damar kemudian.
"Yaah ... Ayo lah, Pak. Sebentar saja!." kali ini Anya memaksa dengan mengambil gitar dari tangan Deva, dan menyodorkannya pada Damar."Untuk hari ini jadilah teman kami. Karena kalau besok sudah kembali ke restoran, Bapak akan kembali dalam mode serius. Kami tidak mungkin berani memaksa."
Mendengar itu Damar terkekeh pelan."Baik, lah aku akan bernyanyi."ucapnya seraya menerima gitar tersebut. Kemudian memetik senar gitar dengan perlahan.
__ADS_1
"Wohooo!!." riuh tepuk tangan dari beberapa para karyawan menyambut lagu pertama yang akan segera ia nyanyikan. Sementara Maura hanya memutar bola mata malas, tak yakin.