
Beberapa jam berlalu, proses operasi mata yang baru saja dijalani Maura berjalan dengan lancar. Wanita cantik itu menggerak-gerakkan jemarinya saat baru tersadar dari pengaruh bius yang membuatnya tertidur beberapa waktu.
"Maura, kamu sudah sadar?"tanya seorang gadis yang sedang duduk disamping brankar.
"Adira, kamu disini?" Maura bisa menebak suara siapa itu. Ia menjawab dengan suara lemah dan dengan mata yang masih berbalut perban.
Adira menahan isak tangis yang sebenarnya ingin pecah. Namun ia berusaha mengatur perasaan sedih yang saat ini ia rasakan, karena tak ingin Maura menyadarinya."Iya. Aku disini, Maura. Tante Desi yang memintaku kesini untuk menemanimu. Kamu istirahat ya ..."
"Jangan bergerak dulu. Kondisimu masih belum pulih."sambungnya lagi sambil merapikan selimut yang menutupi separuh tubuh Maura.
"Memangnya mertuaku kemana, Ra? kenapa mereka tidak disini?"
Lagi, Adira kembali menahan tangis. Ia pun bingung harus menjawab apa."Emm ... tante Desi dan om Razdan sudah pulang ke rumah. Aku yang meminta."
"Mereka pasti lelah sejak sampai dari Malang, belum ada istirahat" sambungnya lagi berdalih. Maafkan aku karena telah berbohong padamu Maura. Karena belum saatnya kamu untuk mengetahui semua ini. batin Adira menggigit bibirnya menahan isak.
"Iya, kamu betul. Mereka perlu istirahat." bibir puncat Maura tertarik tipis."Oh, iya Ra ... bisa minta tolong ambilkan ponselku? Aku ingin menghubungi mas Damar. Pasti saat ini dia sudah sampai."
"Aku ingin memberitahukan kepadanya kalau aku sudah mendapatkan pendonor mata ... dan aku juga mau bilang kalau aku sudah selesai operasi. Dia pasti bahagia mendengarnya."ucap Maura dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Adira terenyuh. Rasanya ia tak sanggup membayangkan jika Maura tau yang sebenarnya. Ia menelan ludah."Maura ... jangan sekarang ya. Suamimu saat ini pasti lagi sibuk. Kamu juga harus istirahatkan? kan, kamu bilang ingin segera melihat. Kondisi kamu harus fit biar operasi mata kamu berhasil."
"Aku juga yakin ... kalau suami kamu ada disini, pasti dia juga akan menyuruhmu untuk beristirahat dulu."
"Jadi, istirahatlah." titah Adira lagi seraya mengusap rambut Maura lembut.
"Tapi, Ra ... ?"
"Maura ..."
Maura akhirnya menghela nafas berat."Baiklah, aku istirahat."
"Ya sudah ... aku keluar sebentar, ya."ucap Adira yang dibalas anggukan lemah oleh Maura. Ia lalu melangkah keluar. Didepan pintu, Adira tak kuasa lagi menahan tangis. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya menahan tangis yang hampir pecah. Ia tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Maura nanti, saat mengetahui yang sebenarnya.
Adira berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Langkah kakinya berhenti didepan ruangan ICU. Pandangannya tertuju pada sosok lelaki yang terbaring lemah diatas brankar. Dengan beberapa bagian tubuh yang dibalut perban. Tanpa diminta bulir bening kembali menitik membasahi wajah.
-----------
Matahari enggan memancarkan sinarnya. Sepertinya masih betah bersembunyi dibalik awan gelap yang menyelimutinya sejak pagi. Cuaca itu, begitu mewakilkan perasaan dua orang paruh baya yang saat ini tengah bersimpuh didepan tanah merah yang masih basah, dengan taburan bunga-bunga segar diatasnya.
__ADS_1
Desi menangis meraung sambil memeluk batu nisan yang sudah tertancap didalam tanah. Matanya yang sembab seolah menandakan bahwa tangisnya tak henti-henti sejak tadi."Tenanglah disana, nak. Keinginanmu sudah terkabulkan. Kami sudah memenuhinya."ucapnya sambil terisak-isak.
Razdan terus merangkul istrinya. Ia berusaha tegar. Meski air mata turut mengalir di pipinya. Keduanya terlihat rapuh. Karena anak lelaki semata wayang yang menjadi kebanggaan hidup, harus pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu untuk selamanya."Sudah sore, Ma. Kita pulang, ya?"
"Besok kita kemari lagi." sambung Razdan mengusap lembut bahu Desi."Kasihan cucumu saat ini, apa kamu tidak ingin segera memeluknya."bujuknya lagi pada istrinya yang masih menangis tersedu-sedu.
Desi mengangguk pelan. Lalu meraih jemari suaminya yang menuntunnya untuk berdiri. Ia terlihat lemah. Bukan hanya hati, namun juga fisik. Separuh nyawanya terasa hilang. Keduanya kemudian melangkah meninggalkan pemakaman. Sesaat keduanya menoleh kebelakang, menatap kembali tanah merah yang masih basah itu, tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir anaknya.
Dirumah, Desi langsung memeluk Nathan yang sedang berada didalam gendongannya. Berkali kali dia menciumi pipi cucunya itu. Nathan sangat lelap. Tak terusik sama sekali meski air mata Desi turut menempel di pipi gembulnya."Nyenyak sekali tidurnya sayang. Ketemu papa, ya, didalam mimpi?." suaranya bergetar. Ia memandang sendu cucunya yang tertidur. Batinnya menangis melihat cucunya itu harus kehilangan kedua orang tuanya diusianya yang masih sangat kecil."Jangan sedih sayang ... masih ada Oma ... ada Opa, dan juga mama Maura yang akan membesarkanmu,"
"Kamu akan tetap mendapatkan kasih sayang yang utuh. Dan kami akan pastikan kamu tidak akan pernah merasakan kekurangan apapun di dunia ini."seolah mendengar apa yang diucapkan Omanya, bayi gembul itu tersenyum didalam tidurnya. Hingga sedikit memperlihatkan gusinya yang masih kosong.
Tanpa sadar kedua sudut bibir Desi tertarik menyaksikan itu. Seketika sekelebat bayangan dimasa lalu membuka kembali memori dimana pertama kali dia menggendong tubuh mungil Damar saat baru lahir. Meski sudah berpuluh tahun lamanya. Tapi kenangan itu seolah masih terasa hangat didalam hatinya. Seperti baru saja terjadi. Ya, semua itu memang terasa singkat bagi mereka yang kehilangan.
---------
Dua hari berlalu, ini adalah saat yang ditunggu tunggu oleh Maura. Selain akan menyambut kepulangan suaminya, hari ini juga saatnya perban yang menutupi matanya akan segera dibuka.
Razdan, Desi dan Adira sudah berkumpul didalam ruangan dimana Maura berada. Ada rasa yang bercampur dihati mereka. Sedih, haru dan bingung bercampur menjadi satu memainkan perasaan. Tak banyak bicara, ketiganya hening dibungkam duka yang belum sembuh.
"Ma, apa sudah ada kabar dari Mas Damar?." tanya Maura disela-sela menunggu dokter tiba."Aku heran, kenapa semenjak pergi, dan sampai sekarang dia sama sekali belum mengabariku?"
"Hari ini juga. Padahal hari ini, kan, dia akan pulang." sambungnya lagi dengan nada suara yang kecewa.
"Maura ..." Adira mendekat mengusap bahu sahabatnya itu."Tolong jangan berfikir yang lain-lain dulu. Transplantasi matamu akan segera dibuka. Kamu tidak boleh stres, karena takutnya akan berpangaruh dengan kondisi matamu saat ini." terangnya dengan hati-hati.
Maura menghela nafas berat."Saat ini, orang yang pertama yang ingin aku lihat adalah suamiku. Apa gunanya semua ini, jika tidak ada dia didekatku, Ra?" ucapnya dengan rasa cemas yang tiba-tiba muncul.
Desi terisak dalam pelukan suaminya sambil membungkam mulutnya dengan tangan. Ia merasa kasihan pada Maura. Menantunya itu harus berkali-kali merasakan kehilangan orang-orang yang disayangi dalam waktu singkat. Kali ini, Desi berharap Maura akan tetap kuat.
"Selamat siang," sapa seorang Dokter pria yang kira-kira berusia kepala lima saat masuk kedalam ruangan tersebut.
"Selamat siang, dok,"sahut mereka hampir bersamaan.
"Nona Maura, sudah siap untuk dibuka perbannya?"tanya dokter tersebut ramah.
Maura tersenyum tipis sambil mengangguk."Siap dok,"
"Baiklah, kalau begitu saya akan membukanya."cicit Dokter tersebut. Tangannya perlahan membuka perban yang yang membalut disekitar mata Maura."Silahkan dibuka matanya pelan-pelan, ya."
__ADS_1
Dengan perlahan Maura menuruti, membuka kelopak matanya. Sesekali ia mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Hingga pandangan yang semula terlihat kabur kini sedikit demi sedikit terlihat terang. Detik itu, kedua sudut bibirnya tertarik keatas."Ma, Pa ... aku sudah bisa melihat."ucapnya sedikit berteriak melihat kearah mertuanya satu persatu."Ra ... aku sudah bisa melihat lagi." ia beralih pada Adira seraya memegang tangan sahabatnya itu.
"Syukurlah." Adira tersenyum haru.
"Selamat, nak. Akhirnya kamu bisa melihat lagi."Desi berhambur memeluk Maura. Dikecupnya kedua mata, yang memperlihatkan sorot mata yang sangat dia rindukan itu, berkali-kali. Dia sudah bisa melihat nak, Kamu senang?, tenanglah disana. batinnya dengan netra berkaca-kaca.
"Mama kenapa menangis?"tanya Maura bingung.
"M-mama hanya terharu."ucap Desi sambil mengusap pipinya yang sudah basah.
"Selamat, Maura. Papa senang sekali kamu bisa melihat lagi."sambung Razdan sambil mengusap puncak kepala menantunya itu.
"Iya Pa."ucap Maura lalu ia menoleh pada Dokter yang berdiri disampingnya."Dok, apa aku sudah boleh pulang hari ini?"
"Kalau tidak ada keluhan, Nona Maura sudah boleh pulang. Tapi jangan lupa untuk mengontrol keadaan anda setiap satu Minggu sekali selama satu bulan ini."jelas Dokter tersebut.
"Terimakasih, Dok." Maura tersenyum.
Usai berkemas, Desi, Razdan dan Maura bergegas untuk pulang ke rumah.
"Tante, Om ... kalian hati-hati ya,"ujar Adira.
"Iya, Ra. Kalau ada apa-apa dengan Fariz, kabari Tante dan Om, ya. Jaga dia." bisik Desi pelan.
"Iya, tante,"
"Loh, Ra ... memangnya kamu mau ngapain lagi? kenapa enggak langsung pulang?." tanya Maura yang berdiri tidak jauh dari keduanya."Dan tadi aku dengar Mama sebut nama Fariz. Ada apa?." tatapan Maura penuh selidik.
"Emm ..." Adira menelan ludah gugup."Enggak, Maura. Kamu salah dengar."
"Oh." Maura menjawab ambigu.
"Aku masih ada urusan. Kalian duluan saja. Aku bawa mobil sendiri kok."terang Adira lagi.
"Ya sudah, kalau begitu kami pulang duluan ya, Ra."ucap Maura. Tapi saat hendak melangkah, mereka dikejutkan dengan kehadiran sepasang paruh baya yang berjalan dengan langkah cepat menghampiri mereka. Mereka adalah Alya dan Kamal. Orang tua Adira.
"Bagaimana dengan keadaan calon menantu Mama, Ra? apa dia sudah siuman."tanya Alia tiba-tiba dengan wajah cemas.
"Mama, Papa .... kenapa kalian disini?"Adira menelan ludah cemas.
__ADS_1
"Calon menantu?" Maura tergugu. Ia teringat beberapa hari lalu Adira pernah menghubunginya, dan mengatakan bahwa dia harus berpura-pura didepan kedua orang tuanya. Mengakui Fariz sebagai kekasih agar dia terbebas dari perjodohan yang direncanakan oleh kedua orang tuanya. Persahabatan yang sangat dekat diantara Adira dan Maura membuat keduanya tak lagi memiliki rahasia untuk ditutup-tutupi. Keduanya sangat terbuka satu sama lain.
"Fariz?" lirih Maura pelan. Wajahnya menegang.