
Jakarta,
"Oma!, Opa!,"seru Nathan ketika pintu mobil terbuka. Ia langsung berlari memeluk Razdan.
"Wah ... cucu Opa sudah sampai." Razdan mencium pipi gembul cucunya itu. Tanpa diminta, Nathan langsung membalas ciuman pria paruh baya itu.
"Opa aja yang dicium. Oma enggak?." Desi pura-pura cemberut. Padahal hanya tiga hari mereka di Bali. Namun tiga hari tanpa Nathan sudah membuat mereka rindu. Tanpa tangis dan tawa bocah itu membuat rumah sepi tak berarti.
"Oma juga, dong." Nathan mendekati Desi.
Desi pun langsung membungkukkan tubuhnya ketika Nathan hendak memberikan kecupan di pipinya."Gimana liburannya? seru?."
Nathan mengangguk.
"Gimana urusan pekerjaan kamu, nak? semua lancar?." tanya Desi lembut pada Maura.
"Alhamdulillah lancar, Ma." Maura tersenyum.
"Oma, Opa ... lihat aku punya mobil-mobilan baru." Nathan kembali bersuara menunjukkan mobil-mobilan yang sejak tadi berada dikedua tangannya dengan wajah antusias.
"Wah, mobil-mobilannya bagus banget. Siapa yang pilihin? Mama, ya?." Razdan mengambil mobil-mobilan itu dan melihatnya.
"Bukan, Opa ... mobil-mobilan ini dibeliin sama Om ganteng. Bukan Mama." ucap Nathan dengan polosnya.
Desi dan Razdan terdiam saling pandang. Kemudian melihat pada Maura.
Maura menelan ludah."Emm ... mobil-mobilan itu pemberian dari teman kerjaku, Ma. Kenang-kenangan untuk Nathan."terangnya, tak ingin Razdan dan Desi salam paham.
"Oh." respon Desi santai."Ya sudah ... ayo, masuk. Kita makan siang sama-sama. Mama tadi sudah masak makanan spesial untuk menyambut kepulangan kalian." ia merangkul bahu Maura berjalan masuk kedalam rumah.
________
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Razdan dan Desi sedang berbincang berdua didalam kamar. Desi turun dari tempat tidur, ketika saat itu tiba-tiba ketukan dan suara menggemaskan terdengar didepan pintu kamar.
"Oma, Opa!"
"Eh, ada cucu oma."Desi tersenyum saat telah membuka pintu kamar."Oma baru aja mau keluar manggil kamu. Soalnya oma sama opa masih kangen."
"Malam ini tidur disini ya. Mau, kan?"sambung Desi lagi.
"Oke, Oma." Nathan mengangguk cepat.
"Apa ini, sayang?"tanya Desi saat melihat paper bag di tangan Nathan.
"Ini oleh-oleh untuk oma, sama opa."cicit Nathan dengan suara khasnya yang manja. Sambil memberikannya pada oma Desi."Semoga Oma sama opa suka, ya."
"Wah, oleh-oleh?." ucap Desi dengan bahagia menerimanya."Makasih, sayang. Yuk, masuk." ia menarik pelan lengan sang cucu."Oma udah nggak sabar pingin lihat."
Desi dan Razdan membuka hadiah pemberian sang cucu dengan antusias.
Didalam kamar itu sesekali tawa tercipta karena percakapan riang diantara mereka. Puas bercerita, ketiganya memutuskan untuk tidur.
"Nathan, Oma boleh tanya sesuatu, enggak?." tanya Desi disela-sela akan memejamkan mata.
"Tanya apa, Oma?" jawab bocah kecil itu.
__ADS_1
"Om ganteng itu siapa?"tanya Desi lembut.
"Om ganteng itu teman Mama, Oma. Namanya Om Virza." ucap Nathan sambil sesekali memain-mainkan kakinya diatas ranjang."Aku suka sama om ganteng. Soalnya om ganteng itu baik, Oma."
Desi dan Razdan mendengarkan.
"Om ganteng udah ngobatin kaki aku, waktu aku jatuh main bola. Terus pernah ngajak aku main-main waktu aku sama Mama lagi di pantai."
"Oh, ya?." Desi tersenyum.
"Iya, Oma." Nathan mengangguk cepat."Om ganteng buatin aku rumah-rumahan dari pasir. Tapi habis itu hancur gara-gara kena ombak. Hihihi." sambung Nathan sambil terkikik pelan menceritakan kegiatannya saat berada di pantai Nusa Dua kala itu.
Desi tersenyum tipis sambil memandang wajah Nathan sendu. Lalu beralih menatap suaminya.
______________
Masih ada satu hari tersisa untuk bersantai. Sebelum besok Maura kembali aktif bekerja mengurus perusahaan. Pukul 7 pagi Maura baru terbangun. Ia gegas membersihkan diri, lalu turun bersiap untuk memulai sarapan. Di ruang dapur, sudah terlihat sepasang mertuanya tengah menyantap sarapan bersama Nathan.
"Pagi, Mama" sambut Nathan sambil mengunyah sereal coklat yang hampir habis didalam mulut.
"Pagi, sayang."Maura tersenyum, menarik pelan kursi kosong lalu duduk.
Desi tersenyum hangat. Langsung mengambilkan satu centong nasi goreng cumi kedalam piring, lalu meletakkannya didepan Maura.
"Ma ... enggak usah repot-repot. Aku bisa mengambilnya sendiri." ujar Maura tidak enak, karena Desi selalu saja memanjakannya.
"Enggak apa-apa. Buruan dimakan ... mumpung masih hangat."
"Maura, kamu kenal Yohan?." tanya Razdan usai menyantap sarapan.
"Yohan?." Maura mengernyitkan dahi. Tapi ia merasa tidak asing dengan nama itu. Ia pun mencoba mengingat-ingat.
Maura manggut-manggut.
"Kamu kenal?."tanya Razdan lagi.
"Iya, Pa. Aku kenal. Mas Damar dulu pernah mengajakku ke acara peresmian hotelnya."
"Baguslah kalau begitu. Sebagai perwakilan dari keluarga ini, Papa minta kamu untuk datang. Karena kebetulan saat acara itu, Papa dan Mama tidak bisa hadir."
"Kami akan pergi ke Malang untuk sementara waktu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan disana."terang Razdan.
Maura mengangguk."Iya, Pa."
Siang hari, Maura meminta izin pada Desi untuk pergi ke restoran Nara. Entah hal penting apa, tiba-tiba saja Adira menghubunginya untuk bertemu. Maura datang bersama Nathan. Bocah kecil itu menangis meminta ikut tak ingin ditinggalkan.
"Selamat siang, buk." sambut Vina seorang karyawan yang bertugas menggantikan Adira untuk mengelola restoran Nara. Itu karena Adira mengundurkan diri setelah menjalani dua tahun pernikahannya. Entah apa sebabnya, hanya Adira lah yang tau.
"Siang, Vin." Maura tersenyum."Gimana restoran ... lancar-lancar, aja, kan?."
"Alhamdulillah, semua lancar, buk. Beberapa hari ini pengunjung terus ramai." jelas Vina sambil berdiri. Ia sempat mencubit gemas pipi Nathan yang berisi.
"Syukurlah kalau begitu." Maura duduk disalah satu kursi restoran yang kosong.
"Ibu mau minum apa? biar saya buatkan." tawar Vina dengan sopan.
__ADS_1
"Enggak usah, Vin. Nanti kalau haus saya ambil sendiri." Maura tersenyum tipis.
"Oh, gitu. Ya sudah ... kalau begitu saya lanjut kerja dulu ya, buk."ujar Vina undur diri.
"Ma, Ma ... itu tante kepo!."celetuk Nathan saat melihat Adira turun dari mobil. Kemudian berjalan masuk kedalam restoran.
"Huss, sayang! tidak boleh seperti itu."
"Memangnya kenapa, Ma? kan Mama sendiri yang bilang tante Adira, tante kepo."
"Iya, sih ... tapi kamu enggak boleh ngomong kayak gitu. Enggak sopan, sayang."jelas Maura seraya mengusap dahi Nathan yang sedikit berkeringat karena terlalu banyak bergerak.
"Berarti mama enggak sopan, dong."celetuk Nathan lagi.
Maura bungkam. Ia mendadak tak bisa berkata-kata. Alhasil hanya mampu menggigit bibir.
"Kalian sudah lama, sampai?." tanya Adira langsung duduk dikursi kosong tepat didepan Maura.
"Lumayan." sahut Maura santai."Kamu bilang ada hal penting yang mau diomongin. Soal apa?." ia menatap Adira serius.
Adira tak menjawab. Namun tiba-tiba saja air mata menitik tanpa diminta.
Maura yang melihat itu, akhirnya tahu bahwa sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja."Ra ... kamu kenapa?." ia memegang tangan Adira."Cerita sama aku."
"Mertuaku, Maura ..."Adira menyusut air mata.
"Iya ... mertuamu kenapa?"tanya Maura tak mengerti.
"Tadi pagi Mama Allen menelponku. Dia mengancamku untuk meninggalkan Fariz." jelas Adira sambil terisak.
"Kenapa begitu? bukankah dulu dia sangat menyayangimu?."
"Itu dulu. Sekarang Mama Allen berubah karena sampai sekarang aku belum bisa memberikan cucu untuknya." Adira kembali menyusut air mata."Aku enggak mau pisah dari Fariz. Aku sayang banget sama dia, Maura."
Maura menatap iba pada sahabatnya itu. Ia lalu mengusap punggung tangan Adira untuk menenangkan."Apa Fariz tau, kalau mamanya mengancammu?"
Adira menggeleng pelan."Dia tidak tau."
Maura menghela nafas berat."Jangan sedih ... kamu harus yakin, Ra .... kamu pasti bisa hamil" ucapnya terus mengusap punggung tangan Adira mencoba meyakinkan."Teruslah berdoa meminta pada Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati. Semoga Mama Allen bisa bersabar dan memahami."
Adira mengangguk lemah.
"Udah jangan nangis lagi." Maura menyusut air mata sahabatnya itu."Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah diucapkan mertuamu. Nanti yang ada kamu malah jadi stress."
"Di bawa happy aja." Maura tersenyum lembut.
Adira mengangguk seraya menyungging kan senyum tipis."Terima kasih ya ... bertahun-tahun aku menyimpan rasa takut ini sendirian. Tapi sekarang aku bisa lebih tenang karena ada kamu, Maura."
"Itu gunanya sahabat, kan?." Maura tersenyum tipis."Kalau ada masalah cerita. Oke?."
Adira merasa terharu. Saat itu Maura langsung memeluknya dengan hangat.
Sementara Nathan yang sedari tadi bermain diluar, tiba-tiba berlari masuk memanggil Maura.
"Mama!"
__ADS_1
"Ada apa, sayang?"
"Ma ... tadi aku lihat Om ganteng. Tapi keburu pergi."ujar Nathan dengan nafas berkejaran.