
..."CINTA, Semakin kenal semakin timbul rasa nyaman. Semakin dekat semakin takut kehilangan."...
"Halaah, alasan." Ivan menarik sudut bibir kanannya keatas."Eh ... tapi tadi waktu aku turun .... aku tidak sengaja melihat mobil lewat ... dan mobil itu mirip sekali dengan mobil milik Pak Damar."ujarnya kali ini dengan mimik wajah yang serius."Apa jangan-jangan Pak Damar mau ikut bergabung dengan kita?"
"Siapa tau mau kasih kejutan?."sambung Ivan lagi dengan yakin."Waaah, kalau benar, seru dong!."
Maura berdecak pelan."Di kota ini yang punya mobil seperti itu bukan cuma dia. Lagipula mana mungkin dia kemari. Dia kan, sibuk."
"Ketemu klien lah, urus proyek lah, ini lah ... itu lah."sambung Maura dengan nada suara malas."Bahkan dirumah saja jarang."
"Kok jadi curhat, sih?!." Ivan tersenyum geli.
"Bukan curhat. Cuma menjelaskan kalau apa yang kamu pikirkan itu salah."
Ivan manggut-manggut ambigu.
"Lapar nih ... makan, yuk." ucap Riri yang tiba-tiba datang sambil mengusap perutnya. Disusul Aina dan Anya sambil membawa satu keranjang kecil buah strawberry. Gadis berpipi chubby dengan tubuh paling berisi, dan dikenal doyan makan itu memang tidak bisa kalau menghirup aroma masakan. Jarak restoran yang hanya berkisar 3 meter itu membuat aroma masakan menguar kemana-mana. Hawa dingin dengan cepat memberikan koneksi pada cacing cacing didalam perutnya bersorak meminta diisi.
"Sama dong, aku juga lapar." timpal Ivan kemudian yang dibalas anggukan oleh yang lain. Semuanya berjalan menuju Saung Gawir.
Saat sedang berjalan, Aina memperhatikan heran jaket kulit yang Maura kenakan."Ra, ini jaket siapa? Seperti punya cowok."
"Em." Maura tersipu, seraya mendekatkan wajah disisi telinga Aina."Punya chef Deva. Dia meminjamnya untukku. Soalnya aku lupa membawa jaketku."
"Oh."respon Aina singkat. Tapi raut wajah gadis itu tetap menyiratkan tanya.
Waktu berjalan, tepat pukul setengah satu siang usai menyantap makan siang, mini bus yang membawa mereka kembali bergerak menuju tempat tujuan. Hingga tepat pukul satu siang, minibus tersebut akhirnya memasuki kawasan wisata hutan lindung. Pohon-pohon besar seperti pohon Huru, Hamirug, Jamuju dan pohon lainnya yang menawarkan alam hijau menyejukkan mata. Iringan kicau burung juga turut menyambut kehadiran mereka.
"Aaah ... akhirnya sampai juga." ucap Donny yang sejak tadi tidak sabaran untuk segera sampai.
Semuanya turun dari dalam minibus dengan senyum semangat sambil membawa peralatan dan perlengkapan masing-masing. Sesuai booking area kemarin, semuanya setuju memilih tempat di dekat sebuah danau. Demi untuk melihat pemandangan indah di pagi hari. Cukup jauh dari jarak tenda-tenda milik orang lain yang telah lebih dulu terpasang. Tiga tenda dengan kapasitas empat orang mereka bawa. Begitu juga dengan matras, extra bed, lampu tenda LED, persediaan makanan dan peralatan memasak lainnya.
Sebenarnya jika tak ingin repot, wisata camping ground disini juga menyediakan jasa sewa perlengkapan camping. Hanya saja diwaktu weekend begini, peminat camping ground akan lebih banyak dibanding hari biasanya. Selain takut kehabisan perlengkapan, membawa perlengkapan sendiri juga bisa menghemat biaya.
__ADS_1
Tempat yang mereka pilih ternyata cukup sepi. Sejak tadi hanya ada kicau burung yang bernyanyi.
"Pegal sekali pinggangku." ucap Anya seraya berbaring dibawah pohon Jamuju dengan alas matras."Kalian yang pasang tendanya, ya." ia mengambil ponsel dari dalam saku celana, melihat pada Maura dan Aina yang sedang memasang tenda. Sementara Riri masih mengambil stok camilan didalam bus.
"Alasan ... bilang aja mau istirahat." Maura mencebik bibir.
Anya nyengir."Gantian ... nanti ku bantuin lagi. Beneran nih, pegal banget."
"Ra, kayaknya kurang kenceng, tuh. Nanti ditiup angin malah terbang." Aina tergelak melihat Maura memasang pasak tenda seperti sedang memukuli semut.
"Bisa masangnya?."
Maura tersentak melihat Deva tiba-tiba berjongkok disisinya.
"Lumayan sulit." aku Maura malu-malu.
"Sini biar ku pasangkan." ucap Deva mengambil alih benda yang dipegang Maura."Bersihkan dulu keringat di dahi kamu. Nanti kalau aku yang bersihkan, bisa heboh."
"Makasih, chef." Maura menerimanya. Sebuah keharuman menyusup masuk kedalam hidungnya ketika saputangan itu ia hapuskan dipelipis. Membuatnya menarik saputangan itu ke depan hidung untuk sesaat meresapi harum yang selama ini kerap membuatnya tak berdaya.
"AAAA .... YA AMPUN INI BENERAN!?."
Teriakan dan lompatan Anya yang sedang berbaring dibawah pohon Jamuju membuatnya tersentak. Begitu juga dengan Deva, Andre, Donny, Ivan dan Vino yang sedang memasang tenda.
"Apa, sih, Nya ... ya ampun?." dengus Maura kesal karena terkejut.
Sementara Aina langsung mendekati Anya seolah penasaran. Karena Anya terlihat antusias didepan layar ponsel.
"Kenapa?."
"Ada apa?."
"Apa, sih?."
__ADS_1
Begitu tanya yang lain yang juga akhirnya mendekat.
"Ternyata Pak Damar juga ada disekitar sini."ucap Anya yakin."Ini, nih ... aku baru lihat storynya Buk Aira. Mereka ada di taman bunga. Aku tau tuh, tempatnya." ia menunjukkan story itu kembali pada Aina. Sementara Maura terlihat malas dengan wajah ketat tak mau mendekat.
"Ya ampun, Ra ... gila, ya Pak Damar. Kamu dikurung dalam rumah enggak boleh ikut camping sama kita, sementara dia berdua-duaan pergi sama perempuan lain kesini."
"Ngapain coba?." Anya terlihat sekali wajah kesalnya.
"Jangan suudzon ... Pak Damar kemari karena urusan pekerjaan. Kemarin waktu mereka mengadakan rapat, aku sempat dengar kalau mereka ada proyek baru disekitar kampung ini."timpal Vino kemudian."Cuma aku tidak dengar kapan rencana mereka akan pergi. Ternyata sama dengan jadwal camping kita."
"Oh, gitu." Anya manggut-manggut.
"Tapi aku kurang suka deh, sama Buk Aira. Selama ini aku perhatikan setiap kali datang ke restoran ... sikapnya itu kayak beda gitu sama Pak Damar. Seperti ada something." Anya menyipit curiga.
Aina yang berada didekatnya hanya diam tak menimpali. Begitu pun Maura yang tiba-tiba terlihat gusar. Sementara yang lain kembali pada tugas masing-masing usai mendengarkan penjelasan Vino.
"Ra, menurutku kamu hati-hati, deh. Aku tau mungkin sekarang kamu memang belum jatuh cinta sama Pak Damar. Tapi cinta itu bisa datang kapan aja, Ra ... dan aku takut waktu kamu udah falling in love, ternyata Pak Damar udah jatuh cinta sama ....."
"Haduuuuh, udah deh, Nya!." potong Maura cepat sebelum cerocosan Anya semakin panjang dan semakin membuat panas kepalanya."Bodo amat! mau mereka temenan, kek ... pacaran, kek ... apa pun itu. Kalau perlu nikah sekalian. Aku nggak peduli!."
"Ini, chef sapu tangannya. Makasih." Maura mengembalikan saputangan milik Deva, dengan hentakan kaki sebelum melangkah pergi dari tempat itu.
Deva tertegun melihatnya.
"Loh, loh ... kamu mau kemana, Ra?." tanya Aina heran.
"Cari makanan!." seru Maura tanpa melihat dengan langkah gusar.
"Hemmm ... kemana lagi kalau bukan mau menenangkan hati yang terbakar. Hihihi." Anya terkikik pelan."Gaya doang .. Bodo amat! mau mereka temenan, kek ... pacaran, kek ... apa pun itu. Kalau perlu nikah sekalian. Aku nggak peduli!"
"Lihat aja, paling juga nangis sambil ngelap ingus dibawah pohon." Anya tergelak. Sementara Aina langsung menyikut sikunya.
"Gara-gara kamu!."
__ADS_1