KIMCHI

KIMCHI
A L B U M


__ADS_3

"Ngeselin!" ia memukul pintu dengan keras."Sama aja kayak yang punya!."


Dan lagi-lagi ia dibuat terperanjat, bahkan jantungnya nyaris copot karena ruangan remang yang hanya memiliki cahaya terbatas dari celah jendela itu, mendadak terang benderang ketika kedua kakinya maju selangkah. Apa ada hantu disini? ia langsung bergeleng.


"Enggak mungkin. Mana ada hantu siang-siang bolong begini." ia hening sesaat, kemudian dengan gerakan iseng ia mundur kembali. Dan herannya lampu itu seketika mati. Kali ini ia menginjakkan kakinya lagi ke depan. Seperti tadi, lampu ruangan itu kembali menyala. Bibirnya di buah ternganga.


"Waah ... lampunya otomatis." ia menengadahkan kepala melihat lampu yang terpasang di langit-langit kamar."Keren, keren ..." kali ini tersenyum seraya manggut-manggut, dan melihat ke depan.


Sebuah kamar bernuansa maskulin dengan warna abu-abu yang di dominasi hitam terlihat rapi dan menenangkan. Ruangan yang tidak terlalu besar, diisi dengan tempat tidur berwarna gelap, dengan ukuran 160x200 cm dibalut seprai berwarna senada. Dan sebuah lukisan besar dengan wajah yang tak asing. Rahang tegas, hidung mancung, dan tarikan senyuman yang memabukkan, terpasang tepat diatasnya. Apa?? memabukkan?? mungkin, ya. Sejak malam itu, didalam tenda dengan pencahayaan yang samar, Maura bahkan sempat tak berkedip ketika pria itu mengulum senyum.


"Tapi perasaan birahi mulu, deh. Tadi siang, Rusa ... sekarang musang bulan. Kamu enggak lagi birahi juga, kan, Mas?."tanyanya dengan mata menyipit kala itu. Pertanyaannya yang polos itu tiba-tiba membuat Damar yang sedang memejamkan mata sontak menahan tawa.


Lagi-lagi dirinya dibuat berdecak kesal dan langsung memukul lengan Damar."Aku serius." ia memperhatikan sudut bibir Damar yang kini berhasil meredam tawa menjadi tersenyum. Senyum hangat yang sudah cukup lama tidak ia lihat sejak kepergian Naomi. Namun kali ini terasa berbeda. Senyum itu mendadak menjadi manis, membuatnya tanpa sadar tak berkedip.


"Aku birahi bisa kapan saja. Sekarang juga bisa kalau kamu dekat-dekat. Apalagi udah lama."


Rentetan kalimat itu seketika menyadarkannya, dari senyum manis yang membuatnya hampir hanyut. Mendadak cemas, langsung berbalik badan, sedikit menjauh seraya menarik selimut menutupi seluruh tubuh.


Ah, tiba-tiba saja ia dibuat teringat pada Damar lagi. Pria yang selalu membuatnya kesal dan marah. Namun terasa sunyi bila tak ada. Sama hal-nya seperti tadi malam. Pria itu belum juga pulang. Entah apa yang mereka lakukan disana. Dugaan demi dugaan terus menggerayangi pikirannya, membuat urat kepala kian berdenyut. Maura langsung bergeleng keras, berusaha membuang jauh-jauh bayangan pria dan si wanita itu. Ya ampun, Mauraaaa! Biarkan saja. Apa urusannya denganmu?


Sementara mengatur nafas yang sedikit tak beraturan karena kesal pada isi pikiran sendiri, kedua bola matanya tiba-tiba terkunci pada sebuah bingkai foto di atas nakas tepat di sisi kanan ranjang. Ia berjalan mendekati dan meraih.


Seorang pria tengah berpose mencubit gemas pipi wanita yang sedang tersenyum sambil men ji lat es krim dengan latar sebuah kampus. Potret yang masih sangat jelas. Membuat tatapannya berubah sendu. Senyum manis dari wanita didalam potret itu membuatnya rindu. "Jadi kangen sama kamu, mbak." lirihnya pelan mengusap potret Naomi yang tersenyum.


Beberapa saat melihat dan mendudukkan diri di bibir ranjang, ia meletakkan bingkai potret itu kembali. Netranya kini terkunci pada bingkai kecil dengan potret sedikit memudar di samping lampu tidur. Tangannya kembali bergerak untuk meraih.


Sepasang anak anak lelaki dan wanita mengenakan seragam merah putih tampak saling bergandengan tangan dengan senyum ceria. Sesaat mengamati, potret anak lelaki bertubuh kurus dan gadis kecil berpipi chubby itu, Maura akhirnya bisa menebak itu adalah Damar dan Aira. Dikenali dari senyuman yang menurutnya masih sama hingga sekarang.


Sudah selama itu persahabatan mereka? batin Maura menekuk bibir ke samping."Pantas saja sudah tidak bisa terpisahkan." gumamnya pelan setengah menggerutu, meletakkan bingkai kecil itu kembali dengan sedikit keras.


Meski merasa kesal, tapi satu tangannya justru turun membuka laci, seolah hati dan pikiran yang saling bertentangan. Disitu, ternyata dirinya melihat album gambar bersampul sedikit kabur.


Perlahan Maura membuka, dan mengamati. Di mulai dari lembar pertama yamg merupakan foto anak kecil memakai seragam biru putih, bertubuh gempal tampak menangis seperti jatuh dari sebuah ayunan, dengan noda berwarna coklat di sekitar bibir. Tanpa sadar membuat Maura tergelak melihatnya.


"Hahaha. Ini pasti dia. Ternyata pernah gendut." Merasa tertarik untuk terus melihat, Maura memposisikan diri berbaring agar lebih santai."Kocak banget."


Kini jemarinya beralih pada lembar kedua, masih dengan wajah yang sama, seorang anak lelaki tengah mendorong ayunan dengan gadis kecil berkepang dua duduk di atasnya."Ya ampun, masih kecil ternyata udah bisa genit-genit." ia berbicara sendiri dengan bibir tertarik keatas."Kelihatan sih, sekarang. Udah punya istri masi dekat-dekat sama perempuan lain."


Ia beralih pada lembar ketiga, keempat, hingga sepuluh. Masih sama dengan seragam biru putih, berisi potret kegiatan belajar serta bermain disekolah taman kanak-kanak. Yang sesekali membuatnya tertawa melihat potret bertubuh gempal itu dengan segala tingkah konyol dan kelucuannya.


Hingga tepat di lembar kesebelas, sudah berganti dengan potret merah putih. Di lembar itu, kembali ia temukan wajah dari dua anak yang sama seperti potret didalam bingkai kecil di atas nakas namun dengan pose yang berbeda-beda.


...🤍🤍...


Aina melamun, sambil menarik tas miliknya dari dalam loker. Rentetan panjang suara Anya sore tadi kembali berputar.


"Aku tadi lihat Maura dan Chef Deva naik ke rooftop." kata Anya seraya mencangkelkan tas di bahu.


Begitu turun, hendak pulang karena jam kerja di shift pertama telah habis. Dan berhenti ketika melihat Aina di bawah. Nada suara Anya begitu serius, seolah itu adalah informasi penting di sore hari yang masih terik.

__ADS_1


Aina hanya diam. Namun pandangannya seolah meminta Anya untuk terus berbicara.


"Aku ikutin mereka ... tapi aku cuma berdiri didepan pintu. Nguping .... dan kamu tau apa yang chef Deva katakan?."lanjut Anya dengan ekspresi semakin serius. Memantik Aina untuk bersuara.


"Apa?."


"Chef Deva nembak Maura, Na." nada suara Anya seperti tak percaya."Dan yang paling mengejutkan lagi adalah ...."ia bergeser sedikit, mendekatkan wajah ditelinga Aina. Mengatur suara agar tidak terdengar oleh orang lain."Ternyata Pak Damar sama Maura itu cuma nikah kontrak."


"Gila, sih! Pantesan aja Chef Deva berani. Agak aneh juga karena beberapa kali aku lihat chef Deva dan Maura saling curi-curi pandang, gitu. Padahal kan jelas kalau Maura statusnya sekarang istri Pak Damar. Ternyata ini alasannya."


Aina menelan ludah. Tak terkejut mendengar kontrak pernikahan itu, melainkan ada yang tercubit di sudut hati. Beberapa saat ia hening kemudian kembali bertanya."Terus Maura jawab apa?."


"Nah, itu, tuh ... yang aku enggak sempat dengar. Suara Maura pelan, enggak begitu kedengaran. Pas aku lagi mepetin telinga ke pintu ... Eh, hp ku malah enggak sengaja jatuh." Anya cemberut melihat latar ponselnya yang gelap dengan kondisi retak seribu.


"Anya." panggil Aina pelan, melihat Anya yang masih meratapi ponsel dengan wajah sedih.


"Hemm." Anya mengangkat wajah.


"Tolong jangan beritahu siapapun tentang apa yang baru kamu dengar di rooftop tadi."Aina menatap Anya serius."Termasuk soal kontrak itu."


Aina menghela nafas berat. Kemudian melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Sepuluh menit telah terbuang melamun. Ia melangkah membuka pintu, ketika saat itu Deva turun dari tangga rooftop.


"Ngapain, Chef?."


"Ngecek." Deva menunjuk sekilas ke arah pintu rooftop."Siapa tau Maura masih ada didalam. Tapi enggak ada. Mungkin memang sudah pulang."


"Oh." Aina terkekeh pelan. Mengingat sejak sore tadi beberapa kali Deva bertanya apakah dirinya melihat Maura pulang atau tidak. Meski sejujurnya ia tak melihat, tapi mengingat saat ini sudah pukul delapan malam, dan sudah saatnya restoran tutup, ia meyakini sekali bahwa Maura memang sudah pulang.


"Iya." sahut Aina tersenyum pada keduanya, sementara Deva hanya mengangguk ramah. Terlihat juga Andre dan Vino sedang keluar dari restoran.


"Kamu pulang sama siapa?."tanya Deva seraya berjalan keluar diikuti oleh Aina.


"Sama, Dewi. Teman satu kos ku yang kerja di toko roti, di jalan Cermai."


"Oh." Deva manggut-manggut."Memangnya dia pulang jam berapa?"


"Biasanya jam 9, Chef."


Deva melihat jam dipergelangan tangannya."Masih lama, satu jam lagi. Pulang bareng aku aja, yuk."


"Memangnya enggak apa-apa, Chef? Chef bisa kelamaan sampai rumah kalau harus mengantarkan ku dulu.?" sahut Aina yang merasa tak enak karena tempat tinggal keduanya yang memang berlawanan arah. Ini mungkin untuk yang kedua kali Deva mengajaknya pulang bersama. Pria itu memang terlihat tulus, tapi dirinya tak ingin membebani.


"Enggak masalah."Deva mematikan lampu didalam restoran, kemudian keluar, menggeser pintu jenis slide door itu lalu menguncinya."Sekalian jalan-jalan ... lagian ini masih jam delapan lewat. Masih sore, lah."ia melihat Aina dengan nada suara bercanda di akhir kalimat.


Aina terkekeh pelan."Ya sudah kalau Chef enggak keberatan."ia memandang Deva. Sungguh ia merasa sangat senang karena pria itu akan mengantarkannya pulang. Namun mengingat hati pria itu telah tertawan, membuatnya tak banyak berharap. Mempersiapkan diri dari yang namanya kekecewaan. Entah di kemudian hari perasaannya benar-benar akan di patahkan. Pernah berharap, namun rasanya tak mungkin.


"Yuk." ajak Deva kemudian. Membuat Aina sedikit tergeragap langsung menganggukkan kepala. Keduanya langsung berjalan menuju ke parkiran.


"Oh, iya ... motor kamu kemana?"Deva membuka tas ransel hitamnya."Perasaan udah lama aku enggak lihat kamu bawa motor lagi."

__ADS_1


"Sudah ku jual, Chef."


"Kenapa di jual?." tanya Deva kembali, seraya berjalan memasukkan kunci restoran kedalam tas, kemudian mengambil kunci motornya, lalu melihat kembali pada Aina."Mau ganti yang baru?."


Aina tersenyum tipis."Bukan."


"Oh." Deva merasa ambigu. Namun dirinya merasa tak berhak untuk tau lebih detail alasan wanita itu. Kerana memang Aina sepertinya tak ingin terbuka. Ia memilih memakai helm, naik ke atas motor CBR merah miliknya.


Hampir 20 menit lamanya, motor yang di kemudi oleh Deva memasuki sebuah gang sempit yang diperkirakan hanya muat untuk dua orang, atau satu motor saja. Selang kemudian berhenti didepan dua buah rumah sederhana yang dibangun berdempetan. Satu pintu terbuka, dan satu pintu lagi tertutup rapat, dengan sebuah motor matic yang terparkir tepat di depannya.


"Yang ini, kan rumah kamu?." tanya Deva membuka kaca helm-nya. Seraya melihat motor matic yang terparkir di teras rumah yang pintunya tertutup, tanpa plat nomor.


"Iya, chef." Maura turun dari atas motor.


"Kok ada motor? kamu ada tamu?."


Aina yang sejak sampai memang menyadari keberadaan motor matic yang terlihat masih baru itu terlihat bingung."Enggak, Chef. Mungkin motor tetangga sebelah."


"Oh ... tapi kok parkirnya di teras kamu?" Deva memperhatikan sekat dinding batu yang membatasi teras kedua rumah itu.


Aina mengendikkan bahu.


"Ya udah kalau gitu. Aku balik dulu, ya."


"Makasih, ya, Chef udah repot-repot nganterin aku pulang."


Deva tersenyum."Kan aku udah bilang, enggak apa-apa. Kita kan, teman."


Aina balas tersenyum.


"Oke, sampai ketemu lagi, besok di restoran." Deva menyalakan motornya kembali. Aina balas dengan mendadah-nya. Membiarkan perlahan Deva dan motor itu menjauh.


"Ciee ... Mbak Aina punya motor baru. Besok ajakin Serly jalan-jalan dong, mbak."


Suara gadis tanggung dari belakang membuat Aina menoleh. Dan apa tadi, motor baruku? Ia melihat Serly tak mengerti.


"Bukannya motor kamu, Ser?." ia menunjuk motor matic hitam itu.


"Hahaha. Enggak mbak ... ini kan, motor mbak Aina. Tadi sore ada yang ngantar kemari. Katanya buat mbak. Kalau enggak percaya, tanya ibuku aja. Iya, kan, Bu?." Serly melihat pada ibunya yang keluar dari dalam rumah hendak duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah.


"Iya, Na. Tadi ada orang dealer ngantar motor ini. Katanya sih, buat kamu."


"Oh gitu." sahut Aina kemudian."Ya udah ... aku masuk dulu ya, buk ... Ser."


"Motornya enggak dimasukin, mbak? nanti di ambil maling, loh." ujar Serly ketika ia membuka kunci pintu.


"Iya, nanti." Aina tersenyum tipis.


Didalam, ia langsung meraih ponsel dari dalam tas, dan menekan rentetan nomor tanpa nama yang memang sudah tertinggal di History panggilan masuk sejak seminggu lalu.

__ADS_1


"Anda sebenarnya mau apa, sih? Kenapa terus mengganggu kehidupan saya?." ucapnya ketika panggilan itu disambut oleh seseorang diseberang telepon. Nada suaranya geram hampir menangis.


"Jangan anda pikir saya tidak tau siapa yang telah mengirim motor itu ke rumah saya. Saya tidak akan menerima, dan saya tidak akan memakainya. Jadi tolong anda ambil motor itu kembali, sekarang juga!."


__ADS_2