
"Ngapain kemari? bukannya tadi kamu bilang cuma pingin ketemu Papa sama Nathan aja." ucap Maura dengan wajah ketus sambil melipat kedua tangan didepan dada.
"Kenapa? kamu kesal karena tujuan utama kedatanganku kemari bukan karena mu?." Virza tersenyum diujung kalimat.
Saat itu, Maura langsung melempar tatapan ketus."Bukan begitu." sahut Maura cepat setengah terbata, seraya menurunkan kedua tangannya."Maksud aku ... kenapa kamu enggak langsung pulang aja, Mas?."
"Kamu temui calon tunangan kamu. Siapa tau dia nyariin?."sambungnya lagi dengan nada suara yang masih ketus.
Virza menghela nafas berat seraya mendudukkan diri disisi Maura. Lalu kemudian memandang wanita itu dalam-dalam. Membuat wanita itu sedikit salah tingkah.
"Kenapa liatin aku kayak begitu?."Maura mengernyit.
Virza tersenyum tipis. Sesaat ia hening. Tapi kemudian kembali bersuara.
"Aku sama Evelyn enggak jadi tunangan."
Maura menatap tak percaya.
"Kami sudah putus." jelas Virza kembali, meski Maura tak bertanya. Seraya melempar pandangan pada taman kecil dihalaman samping rumah itu."Aku membatalkan perjodohan itu ... karena memang dari awal aku tidak pernah mencintai Evelyn."
Maura hening mendengarkan.
"Aku masih cinta sama kamu." aku Virza kembali menoleh pada Maura. Menatap bola mata wanita itu dalam-dalam. Mencoba mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya. Ketika kemarin ia mengutarakan perasaan, tapi Maura justru pergi meninggalkannya.
Kali ini, mendengar pernyataan itu kembali membuat Maura menelan ludah. Ia sempat melihat ke kiri kanan, takut jika mertuanya mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Virza."Kamu ngomong apa, sih, Mas? gimana kalau mertuaku dengar?."
"Memangnya kenapa?." tanya Virza santai."Tadi aku juga udah bilang soal perasaan aku ke kamu."
Maura melebarkan mata tak percaya."Kamu gila, Mas?."
Virza tertawa pelan. Sementara Maura dibuat panik bercampur kesal.
"Aku hanya bercanda." aku Virza kemudian."Tapi kalau aku bilang begitu memangnya kenapa? aku yakin mereka tidak akan marah."
__ADS_1
Maura menelan ludah dan langsung berdiri."Mas ... tolong kamu pulang sekarang." ucapnya tanpa melihat.
"Kenapa?." Virza berdiri.
"Aku bilang pulang, Mas."
"Oke ... aku akan pulang." Virza menghela nafas pelan "Tapi sebelum itu ... tolong kamu jawab pertanyaanku."
"Apa?." Maura menoleh.
"Sekarang ini apa sudah tidak ada aku di hatimu?."
Pertanyaan itu membuat Maura terdiam. Ia menelan ludah, kemudian membuang tatapan ke lain arah.
"Apa cintamu untukku sudah hilang?."
"Pulang sekarang, Mas."
"Sudah aku bilang ... aku akan pulang. Tapi tolong jawab pertanyaanku dulu."
"Aku udah enggak cinta sama kamu, Mas." aku Maura tanpa melihat, sambil mengepalkan kedua tangannya dibawah.
"Lihat aku." Virza memutar badan wanita itu pelan."Katakan sekali lagi dengan jelas."
Maura menelan ludah kelu. Ia memberanikan diri memandang kedua mata elang itu. Tapi itu hanya sesaat. Karena pada akhirnya ia tak mampu. Dan menunduk menangis. Entah mengapa. Mungkin ia takut melukai hati Virza kembali, atau karena dirinya tak mampu membohongi perasaannya sendiri? Sementara disisi lain, ia juga tak ingin mengkhianati cintanya pada almarhum sang suami. Semuanya perasaan itu berkecamuk menjadi satu, membuat hati serba salah tak menentu.
"Kenapa kamu menangis? ayo katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi."
"Katakan Maura!." paksa Virza, memegang bahu wanita itu. Tapi Maura justru semakin menangis tak mampu menjawab.
Virza akhirnya tersenyum haru penuh kelegaan. Perlahan membawa Maura kedalam pelukan."Aku tau ... kamu juga pasti masih mencintaiku."
"Bagaimana dengan Evelyn?" Maura mengurai pelukan memandang Virza. Rupanya hali ini juga salah satu alasan yang membuatnya tidak mudah mengakui hati."Aku enggak mau Mas ... putusnya hubungan kalian disebabkan karena kehadiranku."
__ADS_1
Virza bergeleng pelan."Ini sama sekali bukan karena mu. Tapi ini karena aku yang sejak dulu tidak pernah mencintainya."
"Aku tidak bisa memaksakan hatiku, Maura." sambung Virza lagi kemudian menurunkan tangan memegang kedua tangan wanita itu."Dari dulu ... sampai sekarang aku hanya mencintaimu."
Maura menatap Virza sendu. Ia tak percaya, perasaan pria itu masih tak berubah untuknya, meski dulu sempat ia tanamkan luka, namun setelah bertahun-tahun cinta di hati pria itu masih tetap tak lekang tergores waktu.
"Makasih, ya, Mas."ucap Maura akhirnya.
"Makasih, buat apa?."
"Ya ... karena kamu masih mencintaiku. Walaupun dulu aku pernah nyakitin kamu ... tapi kamu enggak benci sama aku."
Virza tersenyum tipis.
"Aku juga mau terima kasih sama kamu."
"Buat apa?." kali ini Maura yang bertanya.
"Karena masih mencintaiku dan mau menerimaku kembali."jelas Virza kemudian.
"Tapi aku belum bilang kalau aku masih cinta sama kamu, Mas"ucap Maura cepat.
"Baiklah kalau begitu cepat katakan."
Maura diam.
"Baiklah, sekarang aku tau jawabannya." Virza memutar badan hendak pergi. Tapi saat itu langkahnya berhenti karena Maura dengan gerakan cepat memeluknya dari belakang.
"Aku masih cinta sama kamu, Mas." ucap Maura dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Katakan lagi. Kurang jelas." Virza mengulum senyum.
"Aku masih cinta sama kamu." ucap Maura kali ini dengan suara geram bercampur malu.
__ADS_1