KIMCHI

KIMCHI
Jatuh Cinta Bisa Membuat Seseorang Menjadi Gila


__ADS_3

Maura tersenyum kagum melihat sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati berwarna merah muda.


"Bagus banget, Mas."


"Sini, aku pakaikan."ucap Virza, mengambil kalung itu, lalu mengaitkannya dileher Maura.


"Kamu kelihatan semakin cantik pakai kalung ini. Tolong jangan pernah dilepas."Virza menatap lembut wajah Maura.


Maura mengangguk pelan."Makasih, ya, Mas."


Virza balas tersenyum. Ia lalu meraih tangan kanan Maura, mencium lembut punggung tangan mulus itu."Aku sayang sama kamu."ucapnya menatap Maura lekat.


Maura dibuat tersenyum."Aku juga, Mas."


Detik itu, Virza langsung membawa Maura kedalam pelukannya. Ia dekap wanita itu dengan erat. Seolah menyalurkan perasaan tak ingin kehilangan lagi.


Beberapa saat keduanya menghabiskan waktu duduk diatas pasir putih, menikmati sunset sambil menyantap jagung bakar. Dan akhirnya keduanya memutuskan pulang, ketika hari dirasa mulai gelap.


Mobil putih itu sudah berada di pelataran kediaman Alingga. Maura hendak turun,tapi dirinya dibuat terkekeh karena tangannya tak kunjung dilepaskan oleh Virza.


"Mau gandengan terus?."


"Enggak mau jauh-jauh." Virza memasang wajah sedih.


"Ya gimana ... aku mau masuk, Mas." Maura tertawa melihat tingkah manja kekasihnya itu.


"Ya udah, deh." suara Virza terdengar berat.


"Bentar, sayang." ucap Virza cepat menahan Maura yang sudah ingin keluar dari dalam mobil. Ia memutar badan, mengambil satu buah paper bag di kursi belakang."Titip ini untuk Nathan."


"Apa ini, Mas?." Maura meraih paper bag tersebut.


"Sepatu bola. Tadi siang aku mampir sebentar di toko sepatu ... aku ingat Nathan suka main bola. Jadi sekalian aku belikan."


"Makasih, ya, Mas. Tapi lain kali jangan sering-sering ... nanti dia jadi kebiasaan pingin dibeliin hadiah terus."


"Iya, iya."


"Kamu enggak mampir dulu, sekalian kasih ini langsung ke Nathan?."tanya Maura mengangkat sedikit paper bag berisi sepatu bola tersebut.


"Lain kali aja, sayang ... kakiku kotor banyak pasirnya." Virza menujukan dagu kebawah, tepat ke arah kakinya yang polos sudah tanpa sepatu.

__ADS_1


"Ya udah, deh ... aku masuk, ya. Kamu pulangnya hati-hati."Maura hendak turun, tapi suara Virza kembali menahannya.


"Enggak ada salam tempel dulu, gitu?."


Virza menempelkan beberapa kali telunjuk di pipinya sebagai kode, ketika Maura menatapnya bingung.


Maura yang paham, detik itu langsung bergeleng dengan senyum malu-malu. Ia pun, buru-buru turun.


Tapi tanpa Virza duga, Maura tiba-tiba berbalik. Memberikan sekilas kecupan di pipi kirinya. Membuatnya mematung tak percaya.


________________


Bramasta Group,


Kevin melangkah melewati ruangan yang berada dilantai tujuh gedung perusahaan PT. Bramasta. Ia berjalan sambil bersiul santai. Wajahnya yang memang selalu terlihat ceria, tersenyum ramah membalas sapaan para karyawan yang menyapanya.


Kevin terus berjalan, ia masuk begitu saja kedalam ruangan yang didepannya bertuliskan Direktur utama. Didalam, ia melihat Virza sedang melamun dengan senyum tipis yang menghias disudut bibir, sampai-sampai tak menyadari kedatangannya.


"Ternyata benar, jatuh cinta bisa membuat seseorang menjadi gila."


Celetukan Kevin itu, membuat Virza tersentak."Kamu?! sejak kapan disini?."


"Enggak salah, kan?." Virza mengedikkan bahu seraya berjalan mendekati Virza."Senyum-senyum sendiri ... apa lagi kalau bukan gila namanya?."ia mendudukkan diri pada kursi kosong didepan meja Virza.


"Jaga mulutmu! enak saja mengataiku gila."protes Virza dengan ketus.


Kevin tergelak."Lagi mikirin Maura, ya?."tebaknya seraya menaik-turunkan kedua alisnya yang tebal.


Virza tak menjawab. Kali ini ia hanya tersenyum.


Seolah tau apa maksud senyuman itu, Kevin kembali bertanya."Lalu kapan kamu akan menikahinya?."


Pertanyaan Kevin membuat senyum Virza perlahan memudar. Ia akhirnya menghela nafas berat."Itulah masalah yang saat ini masih harus aku pikirkan. Kamu tau sendiri, kan ... bagaimana Mama?."


Kevin hening.


"Tapi aku akan cari waktu untuk membahas hal ini dengan Mama."sambung Virza lagi."Aku sangat mencintai Maura, Vin. Bagaimana pun, keadaannya ... aku harus memperjuangkan cintaku. Aku tidak ingin kehilangan Maura lagi."


Kevin manggut-manggut.


"Aku berdoa semoga kalian bisa secepatnya bersama. Aku yakin ... kamu bisa membuat Maura bahagia."ucap Kevin dengan wajah yang serius.

__ADS_1


"Thank's, bro." Virza tersenyum tipis.


_________________


Sore hari sepulang bekerja, Maura mampir sebentar ke sebuah toko tas yang berada tidak jauh dari gedung perusahaan PT. Alingga. Memang Maura bukan lah, tipe wanita yang suka mengoleksi barang barang mewah seperti wanita wanita muda pada umumnya. Namun mengingat tas kesukaannya sudah mulai usang, membuat dirinya mau tak mau harus membeli tas baru.


Ia melihat-lihat berbagai macam merek tas. Pandangannya tertuju pada tas berwarna mocca yang menurutnya terlihat manis. Tangannya berusaha untuk mengambi tas tersebut. Namun disaat yang bersamaan, seseorang juga berusaha sedang mengambil tas yang sama.


Maura menoleh pada orang itu."Maaf, apa tante mau tas ini juga?"tanyanya ramah pada wanita paruh baya dengan tatanan rambut yang digelung rapih itu.


"Iya ... saya suka warna dan bentuknya. Karena terlihat simple." wanita itu tersenyum."Tapi kalau kamu suka ... ya, sudah buat kamu saja."


"Tidak apa-apa, tante ... buat tante saja. Saya nanti cari yang model lain saja."Maura tersenyum tulus seraya memberikan tas tersebut pada wanita paruh baya itu.


"Terimakasih, ya."ucap wanita itu menerimanya dengan wajah berbinar.


Maura mengangguk sopan, kemudian berjalan ke sudut lain, kembali mencari-cari tas yang ingin dibeli.


Namun wanita paruh baya itu, belum mengalihkan pandangannya dari Maura. Tiba-tiba ia merasa merasa Dejavu. Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana, ya? batin wanita paruh baya itu mengingat-ingat. Sedetik kemudian ia tertegun. Ketika berhasil mengingati siapa wanita itu. Ya, dia adalah orang yang sama dengan foto yang pernah Evelyn tunjukkan kepadanya beberapa waktu lalu.


"Tunggu!."cegahnya membuat Maura kembali menoleh.


"Iya, ada apa Tante?."


"Kamu Maura, kan?." tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan dingin. Membuat Maura bingung.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalin jejak komentar, like dan Votenya ya ... biar Author bisa berkarya lebih baik lagi 🙏

__ADS_1


__ADS_2