KIMCHI

KIMCHI
Malam Panjang Penuh Cinta


__ADS_3

"Kenapa ditutupi?"


Suara bass dari belakang membuat Maura terperanjat. Hingga bathrobe yang belum sepenuhnya terpakai melorot kembali.


"Mas ... k-kenapa bangun?"Maura menelan ludah gugup seraya menutupi dada dengan kedua tangan kurusnya.


"Mandimu berisik, sayang."Virza berjalan mendekat sambil tersenyum. Lalu menyentuh pipi sang istri dan membelainya lembut."Kamu sengaja mau membangunkan ku, kan?"ucapnya setengah berbisik membuat Maura kembali menelan ludah.


"J-jadi dari tadi mas liatin aku?."


Virza mengangguk seraya perlahan menurunkan kedua tangan Maura yang masih menutupi dada."Aku sudah lihat semuanya."


Pipi Maura mendadak panas."Aku malu, Mas." ucapnya kembali menutup dada dengan kedua tangannya."Kenapa semua pakaiannya seperti ini, sih?" ia menujukan dagu ke arah lemari."Aku nggak pernah pakai pakaian kayak begini, Mas. Rasanya aneh."


"Tipis semua. Percuma ... sama aja kayak nggak pakai baju."sambung Maura mencebik bibir.


Virza terkekeh pelan. Bisa ia tebak, ini pasti ulah sang Mama.


"Mama udah siapin kado satu koper untuk Maura."ucap Inggrid kemarin disela-sela makan malam.


"Oh, ya? emang kado apa, Ma?."tanya Virza disela-sela mengunyah makanan.

__ADS_1


Inggrid bergeleng."Rahasia ... kamu pasti suka."


Virza mengernyit."Bukannya kado untuk Maura?."


Inggrid hanya mengulum senyum penuh arti.


"Dipakai aja. Enggak perlu ditutup-tutupi begini, sayang."ucap Virza kemudian seraya menurunkan kedua tangan Maura kembali. Suaranya terdengar lembut. Sambil memperhatikan lekuk tubuh Maura yang transparan. Ia merasa gemas. Berkali-kali harus menelan ludah demi menahan gejolak yang sedari tadi ia tahan. Tidak mudah, kemolekan tubuh sang istri seolah mengejeknya untuk segera digapai.


Namun kali ini ia harus bersabar. Sebab istrinya ini sepertinya masih butuh cara perlahan untuk bisa dituai. Jemari Virza terulur. Mengangkat wajah sang istri yang menundukkan pandangan. Dikesempatan pertama manik mata keduanya saling berpandangan.


"I love you, istriku."lirih Virza dengan suara berat dan pandangan yang berubah sayu.


"Love you, more."balas pelan Maura dengan wajah yang semakin bersemu merah. Meski ini bukan hal yang pertama baginya, tapi tetap saja ia merasa gugup dan malu. Terlebih lagi pria yang ada dihadapannya adalah pria yang berbeda.


Beberapa saat berdiri, Virza sejenak melepas pertautan, meraup nafas yang hampir putus sambil membuka kaos yang ia kenakan. Setelah itu, ia kembali melanjutkan, menggendong Maura menuju tempat tidur tanpa melepas pagutan, dan membaringkannya. Terus melabuhkan pertautan di bibir lembut sang istri hingga beberapa saat.


Setelah puas bermain disana, Virza beralih pada leher jenjang Maura. Aroma buah stroberi yang menguar dari helai-helai rambut yang masih basah itu membuatnya terbuai. Merasa gemas, ia menyesap leher jenjang itu berkali-kali hingga berhasil meloloskan lenguhan dari bibir sang istri.


"Mas ..."Lirih Maura dengan suara menahan kenikmatan, seraya meraba-raba punggung Virza.


Lenguhan Maura berhasil membuat debar di dada Virza semakin berpacu. Memantik sengatan hangat yang semakin menjadi. Tangannya kemudian menurunkan tali tipis lingerie yang sudah melorot dari bahu mulus Maura. Detik itu langsung menampilkan dua gundukan kenyal Maura yang memang tidak dilapisi Bra. Pemandangan itu membuatnya menalan saliva kasar. Gegas ia menyesap setiap inci lekuk tubuh putih nan mulus itu tanpa sedikitpun terlewatkan. Hingga berhasil membuat Maura berkali-kali mendesah.

__ADS_1


Maura memejamkan mata. Tubuhnya seperti terbakar. Darah yang mengalir hangat membuat tubuhnya menggeliat. Rasa aneh yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Namun tiba-tiba ia terbelalak demi mendapati Virza yang tiba-tiba melucuti tubuhnya dari lingerie tipis yang sebelumnya ia kenakan. Maura merasa malu melihat tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang.


"Sayang ... aku udah nggak sabar untuk memulainya." suara Virza terdengar serak, gejolak hasrat ingin segera dibebaskan. Ia mengecup bibir Maura lembut. Maura membalasnya, memasrahkan diri untuk segera dimiliki.


Tak lama, pekikan terdengar dari bibir mungil Maura ketika saat itu Virza berhasil melakukan penyatuannya. Sambil menggit bibir, ia menahan rasa sakit yang tiada terperih. Rasa yang hampir sama seperti dulu.


Virza terlong-long sejenak."Sayang, apa kamu merasa sakit?"


Maura mengangguk pelan.


"Tapi bukannya kamu ..."


Maura menelan ludah."Apa mungkin karena sudah lama ya, Mas?."ucapnya dengan suara hampir terputus-putus mengatur nafas yang tersengal.


Virza tersenyum puas. Bagaimana tidak, meskipun ini bukan kali pertama bagi Maura. Tapi dia berhasil membuat istrinya itu merasakan sensasi bersegel.


"Tak apa sayang ... itu hanya sebentar. Aku akan membuatmu merasa nyaman. Kamu percaya padaku kan?."


Maura mengangguk pelan.


Virza lalu membubuhkan kecupan lembut di kening sang istri sebelum melanjutkan penyatuannya kembali.

__ADS_1


Malam itu, menjadi malam panjang bagi mereka. Disaat semua orang terlelap, keduanya terus berpacu, menyerukan ******* demi ******* penuh cinta. Hingga akhirnya berhenti, saat keduanya sudah berada diambang batas kemampuan.


__ADS_2