KIMCHI

KIMCHI
Mode Aktif


__ADS_3

Maura menyipitkan mata saat sinar mentari pagi menelisik masuk dari sela-sela jendela kamar hotel. Mengganggu tidur pulasnya dibalik kehangatan selimut putih tebal yang melingkupi tubuhnya. Sambil menggeliat, ia berbalik. Mencoba merenggangkan otot-ototnya yang pegal dan ngilu setelah semalaman digempur tanpa ampun. Lelah, Ya! ia bahkan merasa tak berdaya untuk sekedar bangkit.


Sudut bibir Maura tertarik, mendapati suaminya yang masih tertidur dengan pulas, dibawah selimut tebal seraya memeluk perutnya dengan erat. Tak mengurangi ketampanan sang suami meski dalam keadaan tidur. Sungguh, bagi Maura itu pemandangan yang menyegarkan disaat membuka mata. Sambil terus memandangi, sudut bibir Maura tak henti mengukir senyum tipis. Mengingat kembali betapa perkasanya suaminya malam tadi.


"Kamu membuatku kewalahan, Mas."cicit Maura dengan kekeh pelan. Ia lalu melihat jam yang melekat didinding. Sudah menunjukkan pukul tujuh pagi."Aku mandi dulu."bisiknya kembali meski Virza masih tidur. Dengan tubuh yang terasa remuk, ia berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa saat berada didalam, ia selesai. Kini dengan langkah santai membuka lemari. Tapi Hela nafas kasar saat itu juga terlempar dari bibirnya."Aku kan, enggak punya baju. Semuanya bahan-bahan tipis begini." Ia berdecak pelan.


Virza yang ternyata sudah bangun, memandangnya sambil mengulum senyum.


"Kenapa, sayang?" tanyanya pura-pura tidak tau.


Mendengar suara sang suami, Maura menoleh dengan wajah tertekuk."Mas, pakaianku."keluhnya dengan nada merengek.


Virza tertawa pelan.


"Kemari lah." ia melambaikan tangan.


Maura pun menurut. Masih mengenakan bathrobe ia melangkah mendekati Virza.


"Enggak perlu pakai baju apa pun, untuk saat ini. Karena bakalan di lepas lagi."ujar Virza langsung menarik pinggang Maura hingga terduduk di pangkuannya.


Maura sontak membeliakkan mata.


Virza hanya tersenyum seraya menggerak-gerakkan kedua alisnya. Tanpa menunggu lama, ia membawa Maura kembali berbaring ditempat tidur. Seakan tak pernah lelah, tubuh Maura seolah menjadi candu baginya. Dengan tergesa-gesa ia kembali memposisikan diri. Mengungkung Maura yang terlihat panik. Bagaimana tidak, sisa tadi malam bahkan masih belum kering. Kini harus disembur lagi. Maura hanya bisa pasrah jika setelah ini ia benar-benar tak bisa bangkit. Dengan sekali tarikan sang suami, bathrobe putih itu langsung terbuka. Pergulatan panas tak terelakkan. Keduanya kembali pada kubangan gairah. Bermandikan peluh dan nyanyian nafas memburu saling bersahutan.


Pukul 11 siang, seorang pria yang bertugas sebagai karyawan hotel masuk seraya memberikan sebuah paper bag sekaligus paket santapan makan siang yang sudah dipesan oleh Virza.


"Ini, pesanan dan makanan yang bapak minta."

__ADS_1


"Terima kasih."Virza mengambilnya. Lalu meletakkan paper bag diatas tempat tidur. Sementara, pelayan hotel itu berjalan meletakkan makanan dan minuman diatas meja yang tersedia dikamar itu. Tak berlama-lama, pelayan itu keluar.


"Sudah selesai?"tanyanya pada Maura yang baru keluar dari kamar mandi, sambil memasang jam tangan di lengannya.


Maura mengangguk."Pakaianku udah ada, Mas?."


Virza mengambil paper bag yang tadi ia letakkan diatas tempat tidur."Baru diantar." ia memberikan nya pada Maura."Pakai sendiri atau aku pakaikan?." senyum Virza menggoda.


Maura langsung bergeleng cepat."Kalau kamu yang memakaikan .... mungkin aku akan keramas lagi untuk yang ke tiga kalinya. Mana enggak pakai baju dari tadi malam. Bisa masuk angin aku, Mas."


Virza tertawa keras. Maura mencebikkan bibir, lalu memakai pakaian yang baru dibeli oleh Virza.


"Tutup mata. Kali ini enggak boleh lihat." ucap Maura kesal seraya memakai satu persatu pakaiannya.


"Sayang ... aku suami kamu."


"Iya, tau ... tapi kamu lagi mode aktif, Mas. Jangan sampai berdiri lagi. Bisa enggak pulang-pulang kita."


Usai menyantap sarapan berkedok makan siang, keduanya akhirnya memutuskan untuk segera pulang.


________________


"Kenapa buru-buru kembali ke Jerman. Perusahaan disana kan, ada yang mewakilkan. Disini aja dulu beberapa minggu lagi." ujar Inggrid ketika Kevin mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke Jerman usai Virza selesai dari cutinya. Keduanya saat ini baru saja menyelesaikan makan malam bersama.


"Udah kangen suasana disana, Ma." Kevin tersenyum tipis.


Inggrid tersenyum penuh arti."Kangen suasana disana, atau kangen sama pacar?."


"Aku nggak punya pacar, Ma."sahut Kevin lembut.

__ADS_1


"Yang benar .... Virza bilang kamu banyak dekat sama wanita-wanita disana. Saran Mama sih, mending cari pacar disini aja. Kalau udah dapat ... dinikahin baru dibawa kesana."


"Maunya sih, begitu, Ma." Kevin tersenyum kecut."Tapi belum ada."


Inggrid manggut-manggut, ia mengambil satu buah apel, lalu mengupasnya. Tapi Kevin mengambilnya.


"Biar aku yang ngupasin, Ma."


Inggrid tersenyum.


Hening sesaat.


"Kemarin di pesta Mama lihat banyak cewek cantik-cantik. Enggak ada yang naksir?."


Kevin bergeleng sambil mengupasi kulit apel.


"Kenapa?." Inggrid memandang anak angkat tampannya itu lembut."Mama lihat wanita yang sama kamu kemarin, cantik. Kelihatannya dia gadis baik-baik. Wajahnya lembut. Mama waktu lihat dia, kayak lihat Maura." kekeh Inggrid di akhir kalimat.


Kevin mengangkat wajah."Mama lihat?."


"Enggak sengaja lihat pas mau ambil minum." Inggrid memasukkan sehelai kulit apel yang Kevin kupas kedalam piring kotor."Numpahin minuman enggak modus, kan?."


Kevin terkekeh."Enggak lah, Ma. Aku tuh memang enggak sengaja. Pas mau balik .... eh, tiba-tiba nabrak dia."


"Terus gimana? enggak diajak kenalan?."tanya Inggrid penasaran.


"Enggak sempat, Ma."ucap Kevin santai kembali mengupasi kulit apel.


Inggrid menghela nafas pelan."Sebenarnya mau cari yang kayak mana?."

__ADS_1


Kevin hening.


"Mama sudah tua, Vin ... Sudah sakit-sakitan." Inggrid menatap Kevin lembut."Virza sudah menikah. Mama juga pingin lihat kamu bahagia sama seperti Virza."


__ADS_2