
Sebenarnya, Virza datang untuk memenuhi panggilan polisi, sebagai saksi atas tindakan percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Evelyn. Tapi ketika hendak pulang, ia melihat Yohan dan Nathalie. Dengan langkah pasti, ia menghampiri.
"Aku minta maaf ... aku terpaksa melakukan ini." Virza memandang Yohan. Saat itu, Yohan langsung memegang lengannya. Tatapannya memohon.
"Tolong maafkan adikku. Kita bisa menyelesaikan semuanya dengan cara kekeluargaan, Za. Aku tau dia salah. Tapi aku janji ... setelah dia bebas aku akan menasehatinya dan memberinya peringatan."
"Aku tidak bisa. Evelyn sudah dua kali melakukan kesalahan. Di sudah pernah memfitnah perusahaan Maura. Dan saat itu aku masih bisa memaafkannya. Dan tadi ... dia berusaha ingin melenyapkan Maura."Virza bergeleng."Tidak bisa. Tidak bisa lagi, Yohan ... Evelyn sangat nekat. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan ambisinya."
"Aku harap penjara ini bisa memberinya pelajaran dan membuatnya berubah."Virza memandang Yohan tegas.
Yohan bergeming. Netranya berkaca-kaca.
____________________
Satu bulan telah berlalu.
Hari bahagia yang selama ini dinanti telah tiba. Ijab qabul sore tadi berlangsung dengan begitu khidmat dihadiri oleh kerabat, para sahabat, dan tetangga terdekat.
Sepasang pengantin yang mengenakan pakaian adat sunda itu, terlihat tak henti-henti mengumbar senyum bahagia saat dimana keduanya sudah di sah-kan sebagai sepasang suami istri. Virza bahkan sempat menitikkan air mata haru ketika kata sah di serukan khalayak ramai. Menjadi mimpi nyata baginya bisa menikahi wanita yang ia cintai selama ini. Orang-orang yang turut hadir memeriahkan acara tersebut pun, ikut merasakan haru dan bahagia. Tak terkecuali Desi dan Inggrid yang menitikkan air mata, tenggelam dalam perasaan yang mengharu biru.
Sementara Nathan, bocah kecil itu tampak aktif berjalan kesana kemari seraya mengenakan beskap berwarna senada dengan sang kakek. Terlihat lucu dan menggemaskan bermain bersama anak-anak seusianya.
Menjelang sore, tampak tamu-tamu undangan mulai sepi. Maura memutuskan memilih masuk kedalam kamar. Sejenak mengistirahatkan diri usai berdiri cukup lama menyambut ucapan selamat dari para tamu. Rasanya ia begitu lelah. Kepalanya menjadi pusing karena siger yang sedari tadi bertengger di kepalanya.
"Mbak Fitri, tolong dibuka. Aku mau istirahat sebentar."Maura menutup pintu seraya berjalan dan duduk didepan meja rias."Rasanya lelah sekali." ia memijat pelipis.
__ADS_1
Fitri sang perias pengantin yang sedang merapikan alat-alat make-up langsung berhenti."Memangnya tamu udah pada pulang?." ia mulai melepas siger dengan pelan-pelan.
"Tinggal beberapa. Tadi udah sempat salaman juga." Maura mengambil toner, membersihkan riasan wajah disela-sela Fitri membuka hiasan di kepalanya satu persatu."Aku mau tidur sebentar. Nanti malam takut ngantuk."
Fitri manggut-manggut."Iya ... kumpulin tenaga juga untuk nanti malam."
Maura mengangguk dengan polosnya. Tapi kala itu tanpa sengaja ia melihat bayangan Fitri mengulum senyum dari dalam kaca. Tadi, ia menduga Fitri sedang membahas resepsi yang memang akan berlangsung nanti malam. Namun sepertinya senyum itu menyiratkan arti lain.
Maura hanya membalas senyum itu sambil bergeleng.
"Benar kan, aku? kecuali lagi PMS ... bisa langsung tidur. Tapi kasian suaminya."Fitri terkekeh pelan."Udah siap tempur ... eh, landasannya becek."
"Ih, kamu ngomong apaan sih, Mbak?." Maura terkekeh geli mendengarnya. Fitri hanya tergelak.
"Sudah selesai. Aku tinggal, ya." Fitri mengusap-usap perutnya yang rata."Lapar lagi. Mau makan dulu dibawah."
"M-mas ... kamu kenapa masuk? m-maksudku ... teman kamu udah pulang?."Maura mendadak gagap. Mungkin karena belum terbiasa berada didalam kamar dan hanya berdua. Apalagi mengingat ucapan Fitri tentang kegiatan tempur. Padahal itu bukan pertama kali baginya. Tapi tiba-tiba tubuhnya menjadi panas dingin.
"K-kamu mau apa? mau minum? biar aku ambilkan." ia ingin berjalan, tapi Virza menahan dengan menarik pelan pinggangnya.
"Enggak usah repot-repot, sayang. Yang aku mau ada disini."ucap Virza setengah berbisik, lalu mengedipkan sebelah matanya didepan Maura. Membuat wanita yang baru beberapa saat lalu telah sah menjadi istrinya itu tersipu malu-malu. Perlahan Virza membawanya kedalam pelukan. Ungkapan kerinduan yang belakangan ini membelenggu.
"Satu minggu dipingit. Enggak bisa lihat kamu ... rasanya kayak minum kopi tanpa gula. Pahit, sayang ... enggak enak. Mau ngapa-ngapain enggak semangat."Virza mengurai pelukan sambil mencebikkan bibir.
Maura terkekeh pelan mendengar nyanyian kerinduan suaminya itu."Bisa aja kamu, Mas."
__ADS_1
"Tapi sekarang aku lega." Virza mengambil kedua tangan Maura dan mencium punggung tangan putih itu penuh cinta."Sekarang kamu sudah menjadi istriku. Udah nggak ada jarak lagi diantara kita." ia mengangkat tangan kanan, menyapukan jemari mengikuti lekuk wajah bersih sang istri. Perlahan pandangannya turun, kini jemari itu mengusap lembut bibir sang istri yang polos tanpa lipstik.
Virza semakin merapatkan wajahnya, membuat Maura refleks menutup mata. Membangkitkan desiran hangat didalam dada keduanya ketika saat itu pintu kamar terbuka tanpa izin. Refleks keduanya menoleh karena terkejut.
"Mama! Huhuhuhu." Nathan berdiri didepan pintu sambil menangis tersedu-sedu dengan mata dan hidung yang sudah memerah. Entah apa sebabnya.
"Sayang ... kenapa nangis?."
"Maaf, non." Nia berhenti didepan pintu mengatur nafas sedikit terengah karena mengejar bocah gembul itu."Den Nathan dari tadi nangis terus. Udah saya bujuk .... tapi tetap nangis. Katanya mau sama Mama."
"Enggak apa-apa, Nia." Maura tersenyum.
"Ya udah, saya permisi dulu, non." Nia pamit undur diri.
"Sayang, kenapa nangis?." Maura menumpukan kedua lututnya dilantai, mengusap pipi basah sang anak.
Nathan tak menjawab. Ia justru melihat pada Virza dengan telepati tak bersahabat."Om kenapa disini. Ini kamar Mama, Om. Laki-laki nggak boleh masuk."
"Iya, kan, Ma?."sambung Nathan meminta kebenaran dari sang Mama.
Maura menelan ludah. Sepertinya Nathan belum paham dengan pernikahan yang baru saja terjadi. Ia melihat Virza dengan perasaan tidak enak."Mas, tolong maafin Nathan, ya. Aku akan jelasin ke dia"
Virza tersenyum."Enggak apa-apa, sayang. Aku ngerti. Kelihatannya Nathan mengantuk."Virza mengusap lembut puncak kepala bocah yang yang masih sesenggukan, memandangnya cemberut."Aku keluar dulu. Kamu tidurkan dia."
Maura mengangguk pelan.
__ADS_1
Sementara Virza bejalan keluar, ia teringat Kevin yang sejak akad nikah usai, saudara angkatnya itu tak terlihat lagi batang hidungnya. Kemana dia?