
Tepat pukul 11 siang, Maura sudah bersiap untuk bertemu dengan seorang klien. Pemilik perusahaan tekstil yang saat ini menjadi salah satu perusahaan terbaik di Jerman, yaitu PT. VB Textile. Maura keluar dari dalam kamar hotel gegas turun ke bawah. Kerena kebetulan, pertemuan dengan klien tersebut memang diadakan di hotel The Ritz Family Nusa Dua.
Maura menunggu dibawah. Disebuah restoran yang tepat menghadap ke laut. Wanita berambut Curly sebatas bahu itu, tampak santai menunggu kehadiran klien yang ditunggu. Tak butuh waktu lama, suara seorang pria menyapanya.
"Permisi, benar ini dengan pemilik PT. Alingga?."
Maura yang sedikit melamun menoleh kesamping, melihat seorang pria muda mengenakan setelan jas biru tua berdiri tersenyum menyapanya."Oh, iya, benar. Silahkan duduk." sambutnya ramah.
"Perkenalkan, nama saya Kevin."pria itu mengulurkan tangannya. Saya asisten Bapak Virza Bramasta dari PT. VB Textile."
Maura sempat tertegun mendengar sebuah nama yang diucapkan oleh pria itu. Sebuah nama yang mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Entah itu orang yang sama, atau hanya sebuah nama yang kebetulan sama. Tapi kemudian ia tersenyum tipis."Saya, Maura." ia menelan ludah."Apa atasan anda tidak datang?."
"Dia datang. Mungkin sebentar lagi." Kevin mendudukkan diri disalah satu kursi kosong yang ada disamping Maura."Nah, itu dia." ia menujukan dagunya pada pria yang memakai setelan jas rompi berwarna khaki tengah berjalan ke arah mereka.
Maura mengikuti pandangan Kevin. Detak jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Dalam hati ia tadi sempat berharap bahwa pria itu bukan orang yang sama. Namun ternyata dugaan Maura salah. Sungguh ia tak menyangka, setelah bertahun-tahun akan bertemu kembali dengan sang mantan kekasih yang pernah ia gores hatinya.
"Maaf menunggu lama." ucap Virza memandang Maura. Meski sebenarnya dirinya juga sempat terkejut. Mengira Damar lah yang akan ia temui, namun ternyata malah sang mantan kekasih.
Maura menelan ludah gugup."Tidak apa-apa. Saya juga belum lama."
Jelas sekali tatapan canggung diantara keduanya.
Virza menarik kursi kosong yang tersisa tepat berada didepan Maura.
"Sebelumnya, saya berterima kasih, kepada Bapak Virza dan Bapak Kevin karena sudi meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya disini" Maura menelan ludah."Sebenarnya tujuan saya adalah ingin menjalin kerja sama dengan PT. VB Textile."
"Jujur, saat ini PT. Alingga memang sedang mengalami penurunan penjualan. Peminat dan tawaran proyek sudah sedikit. Kalian pasti sudah tahu itu." sambung Maura lagi. Ia lebih banyak melihat pada Kevin dibanding Virza. Entah mengapa ia merasa canggung melihat ke arah Virza yang terus memandangnya dingin."Tapi saya harap, kalian mau menerima tawaran kerja sama dengan PT. Alingga."
"Kami membutuhkan pasokan kain terbaik untuk meningkatkan kembali penjualan perusahaan kami. Kami percaya, PT. VB Textile adalah pilihan yang tepat." sambung Maura yakin.
Kevin menghela nafas pelan, lalu menoleh pada Virza."Bagaimana menurut anda, Pak?."
"Siapkan penandatanganan kontrak." ucap Virza tanpa basa-basi. Membuat Kevin tak percaya. Pasalnya, PT. Alingga adalah perusahaan yang saat ini mengalami krisis penjualan. Bagaimana mungkin, Virza dengan begitu mudah menyetujui. Tidakkah terlalu beresiko untuk perusahaannya?
Kevin masih bergeming karena tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Virza. Biasanya atasannya itu selalu berhati-hati untuk menjalin kontrak kerja sama. Namun kali ini berbeda.
"Warum bist du still? (kenapa diam?)." Virza memandang Kevin. Suaranya terdengar dingin.
"Oh, oke ... tut mir leid. (Oh, oke ... maaf.") Kevin langsung membuka tas yang ia bawa. Mengeluarkan sebuah map berwarna biru tua dari dalam sana.
"Baiklah, karena sudah selesai ... saya pamit undur diri, dulu." Virza berdiri dan hanya melihat sekilas pada Maura. Membuat wanita itu tercubit hatinya. Sepertinya kekecewaan yang pernah Maura torehkan dulu masih menyisakan luka yang belum sembuh di hati pria itu.
Maura memandang kepergian Virza dengan perasaan bersalah. Maafkan aku, Mas.
Selang beberapa saat, seorang wanita berambut pendek berpenampilan seksi dan glamor datang menghampiri Maura dan Kevin. Wanita itu sempat tertegun melihat keberadaan Maura. Ia merasa tidak asing. Namun dirinya tak ingin ambil pusing. Karena ada hal lain yang lebih penting baginya, ya itu mencari sang kekasih.
"Kevin ... dimana, Virza? bukannya kalian sedang bertemu klian disini, hari ini?." tanya wanita itu.
"Dia sudah pergi keluar." sahut Kevin malas.
"Kamu pasti bohong. Cepat katakan padaku, dimana dia?." tanya wanita itu lagi memaksa.
__ADS_1
"Kalau enggak percaya, ya sudah." sahut Kevin santai.
Wanita itu berdengus kesal kemudian pergi dari restoran itu. Dia tahu, Kevin sedang berusaha membohonginya.
"Dia siapa?." tanya Maura ragu pada Kevin usai wanita berambut pendek itu berlalu.
"Dia Evelyn ... kekasih Virza." sahut Kevin sekenanya.
Maura bergeming. Namun dalam hati ia turut senang karena Virza telah mampu buka hati untuk wanita lain. Aku senang, Mas ... kamu sudah memiliki penggantiku. Aku berdoa semoga kamu bahagia.
Beberapa saat Maura hening. Hingga ia tersadar ketika Kevin melambai-lambaikan tangan didepan wajahnya.
"Kok, bengong?." Kevin terkekeh pelan."Kamu pasti lapar."
Maura langsung bergeleng."Enggak."
"Udah lah, aku tahu ... kamu pasti lapar."Kevin melihat jam dipergelangan tangannya."Ini, tuh memang udah waktunya makan siang. Sebentar, ya." ia langsung memanggil pelayan tanpa menunggu persetujuan dari Maura.
Tak perlu menunggu waktu lama, seorang pelayan sudah datang membawa makanan yang mereka pesan.
"Anggap makan siang ini bentuk perkenalan antara kita sebagai teman. Bukan hanya sebagai rekan bisnis." ujar Kevin disela-sela memotong daging ayam betutu."Kamu mau kan, temenan sama aku?."
Maura tersenyum mengangguk, lalu kemudian memasukkan satu sendok nasi kedalam mulutnya.
"Kalau jadi pacar, mau nggak?."
Pertanyaan Kevin kali ini membuat Maura tersedak. Dan itu langsung membuat Kevin tergelak.
"Baru kenal dua jam, langung ngajak pacaran. Siapa yang enggak panik, coba?." Maura terkekeh pelan. Mengambil tisu lalu mengusap bibirnya.
Kevin manggut-manggut."Itu artinya aku harus menunggu beberapa bulan lagi, dong." ia menekuk bibir kesamping."Oke, baiklah. Tidak masalah."
"Maksud kamu?." Maura mengernyit.
"Enggak." sahut Kevin santai." Lanjut aja, makannya."
Maura kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Ketika beberapa kunyahan, tiba-tiba ia merasa canggung ketika mendapati Kevin terus memperhatikannya."Kenapa lihatin, saya?."
Kevin bergeleng pelan."Kamu mengingatkanku dengan seseorang."
__________________
Dari semua kota yang ada di negara ini, kenapa harus kembali dirimu yang aku temui, Maura?? aku sudah hampir melupakanmu. Tapi mengapa kamu justru hadir kembali? Virza menghela nafas kasar, seraya menatap hamparan pantai Nusa Dua dari atas balkon kamar hotel.
Virza masih sedang berusaha melupakan Maura. Tapi itu bukan karena dia benci. Melainkan kesadaran diri yang tidak mungkin bisa kembali memiliki. Jauh didasar hatinya, ia bahagia karena sekarang Maura sudah kembali melihat lagi.
Virza terkesiap ketika sepasang tangan kurus memeluknya dari belakang."Sayang ... ternyata kamu disini?."
"Evelyn?." Virza langsung berbalik melepaskan pelukan."Kamu ngapain kesini?."
Evelyn berdecak."Kamu gimana, sih? calon tunangan datang, malah nanya, ngapain. Ya mau ketemu kamu, lah."
__ADS_1
Virza menghela nafas berat.
"Kak Yohan ngajak aku balik ke Jakarta hari ini. Aku pasti kangen banget sama kamu." Evelyn memeluk manja tubuh Virza kembali."Rasanya aku pingin pernikahan kak Yohan dipercepat supaya aku bisa cepat-cepat nyusul kamu ke Jerman."
Virza hening.
"Kamu kapan balik ke Jerman?." Evelyn mengurai pelukan.
"Besok." ucap Virza dingin.
Tiba-tiba gawai yang ada didalam tas Evelyn berdering. Ia langsung meraihnya dan menjawab dengan malas ketika melihat nama yang tertera di benda tipis itu.
Wajahnya tertekuk usai panggilan di putus."Aku harus kembali ke Jakarta. Kak Yohan sudah menunggu di bandara."
Virza mengangguk dingin. Saat itu, Evelyn bergerak ingin mencium, namun dengan cepat ia menyadari dan menahannya.
Lagi-lagi Evelyn dibuat menahan geram. Pasalnya setiap kali ia ingin mencium, Virza selalu menepisnya. Tapi tak apa, menurutnya hubungannya dengan Virza sudah cukup membuatnya bahagia. Sebentar lagi mereka akan bertunangan. Siap menuju ke jenjang pernikahan yang sudah sejak lama ia nantikan.
"Kamu enggak mau nganterin aku?."
Virza kembali menghela nafas. Kemudian masuk kedalam kamar, mengambil kunci mobil yang teronggok diatas nakas. Lalu berjalan keluar. Diikuti Evelyn yang berlari kecil mengimbangi langkahnya.
Hari sudah menjelang sore. Usai mengantar Evelyn ke bandara, Virza kembali pulang menuju hotel. Namun ditengah jalan, tiba-tiba ia merasa bosan. Dan akhirnya memilih terus melajukan mobil tanpa tahu tujuan. Sepanjang jalan, pemandangan disuguhkan dengan keindahan pantai Nusa Dua yang memanjang. Dan orang-orang yang sepertinya sudah bersiap menunggu mata hari terbenam. Ia akhirnya menghentikan mobil. Membuka jas dan sepatu yang sejak tadi ia kenakan. Berjalan menapaki hamparan pasir putih.
"Om ganteng." teriakan bocah kecil dan sebutan yang tak asing membuatnya menoleh pada sumber suara.
"Nathan. Kamu disini?." Virza berjalan menghampiri bocah kecil yang sedang membeli es krim bersama dengan seorang wanita. Ia tak menyangka akan bertemu dengan bocah kecil itu kembali. Bocah yang kemarin tak sengaja ia temui saat hendak pergi ke acara pertunangan Yohan.
"Iya, Om. Lagi jalan-jalan sama Mama." kata Nathan dengan gaya bahasanya yang manja.
Virza tersenyum melihat Nia. Wanita yang ia kira adalah Mama dari bocah kecil itu.
Sementara Nia yang sejak tadi terpukau dengan pria tampan yang ada didepannya dibuat tersenyum."Tuan yang kemarin ngobatin lukanya den Nathan, ya?." Nia mengulurkan tangan."Kenalin, saya Nia baby sitter-nya den Nathan."ucapnya sambil tersenyum malu-malu.
Virza turut tersenyum menyambut uluran tangan wanita itu."Saya, Virza. Saya kira kamu Mamanya."
Nia terkikik pelan."Bukan, Tuan."
"Om, ayo aku kenalin sama Mama aku."
Nathan tiba-tiba menarik lengannya. Sebenarnya ia ingin menolak. Tapi dirinya tak sampai hati melihat bocah kecil itu yang dengan semangat bertemu dengannya.
"Itu Mama, Om." Nathan menunjuk sang Mama yang tengah duduk diatas hamparan pasir putih sambil menekuk kedua lutut.
_
-
-
Like, komentar, dan Vote-nya dong readers sayang.😘🙏
__ADS_1