
Maura menelan ludah. Ia melempar ke sembarang arah. Tanpa sengaja netranya tersita pada sosok pria memakai jas rompi berwarna biru tua, tampak sedang mengobrol santai dengan Pak Gerry.
Ia langsung menghela nafas kasar. Menduga Virza lah yang sudah mengatur semuanya. Ini pasti karena kamu, Mas. Kenapa, sih ... kamu harus melakukan ini. batinnya, ketika saat itu suara Kevin kembali memanggilnya.
"Maura ... sepertinya aku harus kembali ke kantor."
Maura mengangguk pelan.
"Kamu naik apa kemari?."tanya Kevin lagi.
"Tadi diantar supir, kak. Cuma baru aja Pak Rudy pulang karena anaknya tiba-tiba sakit."Jadi nanti, mungkin pulang naik taksi saja."
"Pulang bareng aku aja, gimana?." tawar Kevin kemudian.
"Acaranya belum selesai kak. Kakak duluan aja."Maura tersenyum tipis."Enggak apa-apa, kok."
Kevin manggut-manggut."Ya udah ... aku pergi sekarang." ia mengusap sekilas puncak kepala Maura."Nanti kamu hati-hati."
"Iya."Maura kembali tersenyum."Kakak juga hati-hati."
Saat itu Kevin tiba-tiba saja ingin melayangkan kecupan di pipinya, namun Maura dengan cepat mendorong tubuh tegap pria itu, lalu tertawa pelan. Maura tau Kevin hanya sedang bercanda. Bahkan Maura dibuat kembali tersenyum ketika pria itu berjalan meninggalkannya seraya menunjukkan jari berbentuk hati kepadanya.
Beberapa saat berlalu, satu persatu orang-orang meninggalkan gedung itu. Termasuk Salma dan Aya, yang telah lebih dulu kembali ke kantor.
Namun Maura, wanita itu masih berada didalam toilet. Baru saja membasuh wajahnya yang sedikit mengantuk. Seraya berdiri didepan cermin, ia mengambil tisu, menghapus jejak air diwajahnya yang bersih. Sesaat ia hening, mengingat Virza yang tiba-tiba menyambangi pikirannya.
Maura akhirnya hanya bisa menghela nafas berat. Kemudian menyempatkan diri merapikan penampilannya, lalu melangkah keluar dari dalam toilet. Dengan langkah cepat ia menuju ruangan utama, hendak meninggalkan gedung itu. Namun siapa sangka, saat sedang didepan pintu, ia tak sengaja melihat Virza yang juga kebetulan hendak keluar.
Langkah keduanya pun, sama-sama terhenti. Saling menatap tanpa kata. Namun itu sesaat karena kemudian Maura memutuskan untuk buru-buru pergi.
"Tunggu!" Virza dengan cepat menahan menarik lengannya.
"Mas ... tolong lepaskan tanganku."ucap Maura berusaha menepis.
__ADS_1
"Enggak, aku nggak bakalan lepasin tangan kamu, sebelum kamu menjelaskan kenapa kamu menghindari ku?."sahut Virza cepat masih memegang tangan Maura.
"Waktu dirumah sakit, kenapa kamu tiba-tiba aja ninggalin aku? bahkan setiap kali aku telpon, kamu juga enggak pernah angkat."
"Kamu kenapa?." tanya Virza lagi.
"Karena kamu calon tunangan orang!."jawab Maura cepat."Kamu harus ingat itu, Mas. Sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan Evelyn. Aku nggak mau dianggap sebagai wanita perusak hubungan orang."
"Dan satu lagi, Mas ... aku minta sama kamu, jangan pernah ikut campur lagi dengan apapun yang terjadi dengan perusahaanku. Aku tau Mas ... kamu kan, yang udah meminta Pak Gerry untuk menerima perusahaanku?."
"Aku enggak butuh itu, Mas." sambung Maura lagi dengan tegas."Aku enggak mau menang karena rasa kasihan. Jadi aku minta sama kamu, Mas ... bilang sama Pak Gerry, kalau aku mundur dalam proyek ini!."pungkas Maura panjang lebar, kemudian pergi meninggalkan Virza.
"Maura ... tolong dengarkan aku!." ucap Virza mengimbangi langkah wanita itu."Aku melakukan itu karena karena perduli denganmu." ia menarik lengan Maura, dan berhasil membuat wanita itu berhenti.
"Dengarkan aku." Virza memegang kedua bahu Maura, seraya menatap kedua bola mata wanita berwajah sendu itu dalam-dalam."Kamu kan, yang bilang ... kalau kamu nggak mau PT. Alingga hancur?."
Maura hanya diam.
"Aku hanya membantumu untuk membangkitkan PT. Alingga kembali." sambung Damar kembali seraya terus melemparkan tatapan lembut pada wanita itu."Anggap ini permintaan maaf ku atas permasalahan yang terjadi."
Virza menelan ludah getir.
"Maura ... apa maksudmu?."
Sementara Maura sama sekali tak ingin menjawab. Tangannya melambai pada sebuah taksi yang melintas.
Taksi tersebut berhenti. Maura langsung membuka pintu taksi tersebut untuk segera masuk. Namun tiba-tiba,
Brak!
Dengan cepat pintu mobil itu ditutup oleh Virza.
"Mas ... kamu apa-apaan, sih?."
__ADS_1
"Pulang denganku!."
"Enggak!." Maura dengan cepat menolak.
"Jalan, Pak!."ucap Virza tegas pada sang supir taksi tersebut agar pergi.
"Tunggu, Pak!." sergah Maura cepat dan kembali membuka pintu hendak masuk kedalam mobil. Namun lagi-lagi Virza menutupnya.
"Jalan, Pak!."tegas Virza kembali, membuat sang supir taksi jadi kebingungan.
"Ini gimana, sih? jadi naik nggak, neng? kalau nggak ... saya pergi aja."ucap sang supir taksi itu akhirnya.
"Jalan aja, Pak. Istri saya memang begini kalau lagi ngambek." ujar Virza tiba-tiba membuat Maura membeliakkan mata.
"Suka kabur-kaburan." sambung Virza lagi.
"Oh, gitu ... maaf, Pak. Kalau begitu saya jalan aja." ujar supir taksi tersebut meninggalkan keduanya.
"Kamu apa-apaan sih, Mas?." Maura menghela nafas kasar.
"Lagian aku tuh, mau pulang. Kenapa taksinya malah disuruh pergi?."
"Kamu lupa aku tadi ngomong apa?." tanya Virza mengingatkan."Pulang sama aku sekarang!."
"Enggak! kamu pulang aja sendiri." Maura berbalik, kemudian berjalan meninggalkan Virza. Namun pria itu dengan cepat kembali menarik lengannya dan memeluknya dari belakang. Membuat tubuh Maura seketika mematung.
"Tolong jangan menghindariku lagi."ucap Virza setengah berbisik. Mengeratkan pelukannya, seraya merapatkan wajah disisi wajah Maura.
Maura menelan ludah. Beberapa saat diam, namun tiba-tiba ia teringat ucapan Evelyn yang memintanya untuk menjauhi Virza. Sebagai wanita, ia tahu perasaan Evelyn. Siapa pun, tak ingin kekasihnya dicuri.
"Maaf, Mas ... " ucap Maura dengan suara bergetar, seraya melepaskan pelukan itu dan segera pergi.
"Aku masih cinta sama kamu."
__ADS_1
Mendengar itu, kaki Maura yang baru saja melangkah kembali berhenti. Seketika juga meluruhkan bulir bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata.