
"Fariz." lirih Maura pelan. Wajahnya menegang.
Ia lalu mencoba merangkai semua yang baru saja didengarnya. Donor mata misterius dari seseorang yang sama sekali tidak ia ketahui. Perasaan anehnya tentang Damar yang semenjak berangkat menuju Bandara dua hari lalu, sama sekali belum pernah mengabarinya. Keberadaan Fariz yang ternyata ada di rumah sakit ini. Hal itu membuat kepala Maura terasa berdenyut diiringi debaran dada yang semakin tak beraturan. Kedua bola matanya memerah.
"Apa yang terjadi, Ma? Pa?." tanyanya pada Razdan dan Desi dengan tubuh gemetar. Pertanyaannya hanya dijawab air mata oleh sepasang paruh baya itu. Membuat Maura semakin meyakini bahwa hal buruk telah menimpah suaminya itu.
"Mas?!"teriak Maura sambil berlari menyusuri koridor rumah sakit dan membuka setiap pintu ruang rawat untuk mencari keberadaan suaminya. Ia menangis. Tak perduli dengan orang-orang yang sedang memandanginya.
"Suster, dimana suamiku?." tanya Maura dengan air mata yang terus bercucuran pada seorang perawat yang berjalan melintasinya."Tolong katakan, suster. Dimana suamiku? namanya Damar Putra Alingga. Tolong kasih tau saya, suster."ucapnya memaksa.
Perawat itu hanya diam menatap iba pada Maura.
"Maura!" Desi dan Razdan sambil mengejar menantunya itu.
"Dia tidak ada disini, nak." Desi menangis sesenggukan memeluk tubuh kurus Maura.
"Jadi Mas Damar, dimana, Ma? Pa?." Maura menatap mertuanya bergantian."Apa dia baik-baik saja?"
Desi dan Razdan hening tanpa kata.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Maura lagi."Kenapa kalian diam saja?."
"Kita pulang dulu, Nak. Nanti dirumah akan kami jelaskan semuanya."ucap Razdan akhirnya.
Sesampainya dirumah, Maura mengalihkan pandangannya kesetiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan Damar. Rumah itu terlihat sepi. Tak ada satupun tanda bahwa suaminya itu sudah kembali. Ditambah lagi tatapan semua orang yang memandangnya dengan tatapan penuh kasihan. Membuat dirinya semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk sudah terjadi.
Donor mata? jemari Maura menyentuh netranya. Siapa yang sudi merelakan penglihatannya untuk orang lain?
Tidak ada. Maura bergeleng lemah. Selamat, ya, non. Non beruntung, bisa mendapatkan pendonor mata. Jarang-jarang loh, non ada orang yang dapat donor mata.
Orang yang melakukan itu pasti orang yang baik, Non. Mudah-mudahan dia mendapatkan tempat terbaik disisi Tuhan.
Biasanya sih, begitu Non ... kalau saya nonton disinetron sinetron. Orang yang mendonorkan mata, biasanya orang yang meninggal. Mana ada non, orang yang masih hidup donorin matanya.
Tiba-tiba ucapan Nia beberapa hari lalu kembali berputar-putar di kepalanya. Tubuh Maura seketika lemas, kedua lututnya seakan tidak lagi sanggup untuk berdiri."Mas Damar." teriaknya histeris. Tubuhnya luruh ke lantai
"Maura,"ucap Desi dan Razdan bersamaan.
Desi memeluk tubuh Maura yang terduduk dilantai, sambil menangis meraung."Maafkan kami Maura. Ini adalah permintaanya. Suamimu sempat meminta agar kami tidak memberitahumu terlebih dahulu. Karena jika kamu tau mata ini adalah miliknya ... kamu pasti tidak akan mau menerimanya."
"Maafkan kami ... kami tidak ada niat untuk menutupinya darimu."terang Desi dengan suara yang terisak. Bahunya bergetar menahan tangis.
_____________________
Saat ini, wanita itu tampak berselimut sendu. Melamunkan titik-titik bayangan semu. Dia tak bergeming dalam bisu. Langit tau dia sibuk menahan pilu. Wanita itu mencoba memanggil sebuah nama, namun terdengar tak ada jawaban. Semua ucapnya berlalu. Entah apakah yang dipanggil mendengarkan atau tidak.
Langit tau dia hilang harapan. Mimpi indahnya seakan menjadi sisa tinggal kenangan.Tawanya hilang perlahan. Wanita itu menyendiri. Meresapi apa yang tengah terjadi. Mencoba kembali menata hati seperti semula lagi.
Maura menarik kedua sudut bibirnya, sambil netranya yang sembab menatap matahari yang akan bersembunyi di peraduan."Senja, kau tau? seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa sinarmu terlihat indah."
"Dan ternyata benar ..." Maura kembali menarik sudut bibirnya tipis. Membiarkan angin laut membelai lembut rambutnya yang terurai."Keindahanmu mengagumkan. Sama seperti seseorang, yang mengatakan keindahanmu itu."
"Terima kasih, Mas." netra Maura mulai berkabut bening."Terima kasih atas cinta dan kebahagiaan yang pernah kamu beri. Meski singkat ... tapi aku bersyukur, masih ada bagian dirimu yang tertinggal di tubuhku."
"Itu membuatku merasa bahwa kamu masih selalu ada di dekatku." Maura terus memandang senja. Sambil membiarkan bulir bening menitik dipipinya yang putih."Aku janji, akan menjaga mata ini." sambungnya lagi, seraya mengusap jejak basah air mata. Ia lalu menghela nafasnya dalam-dalam. Berusaha membung kesedihan yang tenggelam didasar jiwanya.
________________________
Sampai saat ini. Sudah seminggu sejak kecelakaan itu terjadi. Adira masih setia menunggu Fariz yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Kenapa dia belum sadar-sadar ya, tante?." Adira bertanya pada Desi dan Razdan yang hari ini datang menjenguk."Aku jadi takut."
"Kamu sabar, ya ... percayalah, dia pasti akan baik-baik saja." Desi mengusap bahu gadis itu.
Adira menatap sendu wajah Fariz yang masih tertidur. Tapi tiba-tiba ia terkesiap saat merasakan jemari Fariz bergerak menyentuh punggung tangannya."Tante, Om dia sadar." ucapnya setengah berteriak saking bahagianya.
Desi dan Razdan tersenyum haru.
"Cepat panggil dokter." titah Razdan.
"Iya, Om." Adira buru-buru keluar.
Fariz perlahan membuka matanya."Om, Tante ... kenapa kalian disini? apa kalian yang menjagaku?" suaranya terdengar parau.
"Tidak, Riz. Kami hanya menjengukmu. Adira yang menjagamu beberapa hari ini." Desi tersenyum tipis."Dia sangat sedih karena melihatmu tidak sadarkan diri. Kamu beruntung memiliki calon istri seperti dia. Dia terlihat sangat menyayangimu."
"Adira?"tanya Fariz tak percaya.
"Iya, Riz ... Adira yang menjagamu,"timpal Razdan sambil tersenyum.
"Oh, iya, Fariz ... kami minta maaf, karena tidak memberitahu keluargamu bahwa kamu kecelakaan. Ponselmu saat itu rusak ... jadi kami tidak ada nomor yang bisa dihubungi." jelas Razdan lagi.
"Tidak apa-apa, Om. Aku juga tidak ingin membuat keluargaku menjadi khawatir."
"Permisi?"sapa seorang dokter yang masuk bersama dengan Adira.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"tanya Adira dengan tidak sabaran usai Dokter tersebut memeriksa keadaan Fariz.
"Keadaannya sudah lebih membaik. Ini karena Mbaknya, karena sudah menjaga Pak Fariz dengan penuh cinta."goda Dokter tersebut sambil tersenyum.
Adira meringis, malu.
"Terimakasih Dokter."sahut mereka hampir serempak.
"Bagaimana keadaan Pak Damar?." pertanyaan Fariz membuat ruangan seketika hening. Fariz pun, menjadi bertanya-tanya. Apalagi melihat Desi yang tiba-tiba menangis.
"Dia tidak tertolong, Riz." ujar Razdan dengan bibir yang terasa berat. Tatapannya kembali sendu."Anak kami sudah meninggal."
Fariz mematung. Kedua bola matanya memerah. Sungguh, ia benar-benar tidak menyangka, Damar sudah tiada. Baginya Damar adalah pria dan atasan yang sangat baik. Meski saat bekerja dia terlihat tegas. Namun tak jarang keduanya saat diluar jam kerja menghabiskan waktu bersama sebagai teman. Tanpa sadar air matanya menitik.
"Maafkan saya, Om, Tante ... ini salahku."ucap Fariz teringat kembali dengan kecelakaan nahas yang menimpah dirinya dan Damar.
"Tidak perlu, meminta maaf, Riz." Razdan menghela nafas pelan."Tidak ada yang salah, ini semua sudah takdir yang kuasa."
"Kami sudah ikhlas." sambungnya lagi. Kemudian menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan."Sekarang ... tidak usah bicara yang sedih sedih lagi. Karena Damar pasti akan sedih juga."
"Iya, itu benar." timpal Desi sambil menyusut jejak air mata."Sekarang ... ceritakan tentang hubungan kalian. Kapan kalian akan menikah?"tanyanya hingga membuat Fariz dan Adira melongo saling pandang.
"Emm ... tante, om ..." Adira menelan ludah dengan wajah memerah karena malu."Sebenarnya kami hanya pura-pura. Kami tidak pernah pacaran."
"Pura-pura? tapi kemarin ..." suara Desi terpotong karena Alya tiba-tiba masuk bersama Kamal.
"Apa? pura-pura??." tatapan Alya sangat kecewa."Jadi kalian tidak pernah pacaran?"
"Mama, Papa?"Adira tekejut dengan kedatangan kedua orang tuanya.
Melihat situasi saat ini, Desi dan Razdan jadi merasa tidak enak. Keduanya akhirnya memutuskan untuk undur diri. Memberi kesempatan pada mereka untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.
"Adira, Fariz ... cepat jawab! apa benar kalian hanya berpura pura?"tanya Alya sedikit keras.
__ADS_1
"Ma ... sudah lah, nanti saja. Tidak enak dengan Fariz, dia masih sakit."ucap Kamal setengah berbisik pada istrinya itu. Membawa istrinya keluar.
"Enggak, bisa, Pa!." Alya menepis tangan suaminya.
"Tante, Om ... saya minta maaf sebelumnya." kata Fariz membuka suara setelah tadi hanya hening."Memang benar kami hanya berpura-pura pacaran." ia menelan ludah.
"Tapi, itu kemarin. Karena mulai sekarang ... aku akan membuat hubungan kami menjadi serius." aku Fariz tiba-tiba. Membuat Adira tercengang memandangnya.
"Maksud kamu?." tanya Alya sinis.
"Setelah aku sembuh aku akan melamar Adira, Tante."ucap Fariz tanpa keraguan.
Adira yang sejak tadi tercengang, kini dengan cepat dia tersadar dan menutup kembali mulutnya. Raut wajahnya berubah menjadi geram. Wah ... anak ini pandai sekali akting. Udah kayak aktor aja. Dalam situasi seperti ini dia masih ingin melanjutkan permainan? Apa dia sudah gila. umpatnya dalam hati.
"Kamu serius, nak Fariz? jangan-jangan kamu cuma mau membohongi kami lagi, demi menolong anak konyol ini."ucap Alya sambil menoyor kepala Adira hingga membuat gadis itu berdecak kesal.
"Mama." rengek Adira pelan seraya mengusap kepalanya.
"Aku serius, Tante."ucap Fariz lagi dengan mantap.
"Baiklah ... semoga apa yang kamu katakan adalah benar. Jangan mempermainkan kami lagi."ucap Kamal dengan tegas.
"Iya, Om ... aku serius." kata Fariz lagi.
Adira kembali tercengang seperti orang bodoh. Ia menatap intens wajah pria yang dianggapnya gila itu. Namun tidak ada tanda kepura-puraan disana. Ya Tuhan ... dia ngomong apa?? apa dia sedang mengigau karena pengaruh obat?
"Bagaimana keadaanmu? apa sudah jauh lebih baik?"tanya Kamal.
"Sudah lebih baik, Om."cicit Fariz lalu ia melihat pada Adira yang terus memandanginya penuh tanya. Gadis itu seolah menuntut jawaban.
"Syukurlah, kalau begitu kami permisi dulu. Karena kami masih ada urusan yang harus diselesaikan."ucap Kamal kemudian.
"Jaga menantuku."cicit Alya sambil mencubit gemas lengan anaknya."Kalau ada apa-apa kabarin Mama."
"Iya." sahut Adira malas seraya mengusap lengannya akibat cubitan sang Mama.
Usai kepergian kedua orang tuanya, Adira langsung memukul kaki Fariz, hingga membuat pria itu meringis kesakitan."Heh ... ternyata kecelakaan kemarin sudah membuat otak kamu sakit juga, ya? barusan kamu ngomong apa? Kamu sudah gila?."
Fariz tak menjawab. Ia hanya tersenyum melihat wajah kesal Adira.
"Tuh kan ... bener. Kamu jadi gila gara kecelakaan kemarin." Adira meringis."Otak kamu pasti geser."
"Jangan sembarangan kalau ngomong." ujar Fariz tak terima.
"Ya udah, Jawab!"ucap Adira sambil memukul kaki Fariz.
"Aaa!."pekik Fariz. Tiba-tiba kedua matanya terpejam. Ia tak sadarkan diri membuat Adira panik.
"Fariz, kamu kenapa?." tanya Adira ketakutan."Fariz bangun, maaf aku tadi enggak sengaja." ia semakin panik karena Fariz tak juga sadarkan diri.
"Fariz, aku minta maaf. Tolong bangun ... jangan seperti ini. Aku enggak mau kehilangan kamu.!"racau Adira sambil terisak. Namun tiba-tiba Adira terkesiap saat merasakan tubuh Fariz berguncang. Betapa kesalnya Adira, ternyata pria itu sedang menahan tawa.
"Nyebelin banget, sih!." Adira memukul bahu Fariz, lalu mengusap pipinya yang basah."Enggak lucu, tau!." ia masih sesenggukan.
Fariz perlahan menyandarkan tubuhnya. Ia meraih tangan Adira dan menggenggamnya."Terima kasih karena sudah menjagaku selama aku sakit."
Adira bergeming.
"Aku ingin mengatakan, bahwa apa yang tadi aku katakan adalah benar."Fariz menatap manik hitam Adira lekat-lekat."Aku akan melamarmu."
__ADS_1