KIMCHI

KIMCHI
Tuhan Menunjukkan Jodoh Untukku


__ADS_3

Tinggal satu hari, besok Maura akan kembali ke Jakarta. Hari ini, ia memilih menghabiskan waktu membawa Nathan keliling menikmati ke indahan kota Bali. Dari mulai mendatangi Pura Ulun Danu Beratan Bedugul. Lalu menghabiskan makan siang di restoran yang cukup terkenal di daerah tersebut. Namun ada yang berbeda. Nathan terlihat lesu tak bersemangat.


"Kamu kenapa, sayang?." tanya Maura keheranan."Kamu sakit?." ia menyentuh dahi Nathan.


"Aku nggak apa-apa, Ma."ucap Nathan tanpa ekspresi.


"Enggak suka tempatnya?." tebak Maura.


Nathan bergeleng pelan."Aku suka kok, Ma."


Maura tersenyum."Gimana kalau habis ini kita ke kebun binatang. Kamu mau?."


Nathan mengangguk.


Sore harinya Maura memilih Bali Safari Marine Park. Salah satu tempat wisata yang menjadi favorit di Bali.


"Den Nathan ... lihat itu. Ada burung unta." Nia menunjuk beberapa ekor burung unta didalam kandang."Kita kasih makan, yuk."


"Ayo, Mbak Nia." ucap Nathan bersemangat. Ditemani Maura dan sang baby sitter, bocah gembul itu dengan berani memberi makan si burung unta. Ia memberikan daun-daunan yang memang telah disediakan ditempat itu.


Malam hari, tampak Maura sedang mengemasi pakaian sambil dibantu oleh Nia. Kerena besok pagi, mereka akan kembali ke Jakarta. Tapi ditengah kesibukannya, tiba-tiba suara bel berbunyi.


"Siapa yang datang malam-malam begini?." Maura mengernyit.


"Enggak tau Non. Sebentar saya lihat dulu."Nia berjalan membuka pintu, namun tak lama dia kembali.


"Ada yang nyariin, non."


"Siapa, Mbak?"


"Waduh siapa, ya, tadi namanya." Nia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal baru saja ia masuk, namun sudah lupa."Davin, vin ... kayaknya ada vin, vin-nya gitu, non."


"Kevin, maksud kamu?."


"Nah, iya." Nia terkikik pelan.


Melihat itu Maura menghela nafas pelan."Mbak Nia, Mbak Nia ... gitu aja lupa." Muara berdiri berjalan ke depan. Meski dalam hati ia merasa heran apa gerangan yang membawa Kevin datang menemuinya.


"Selamat malam." Kevin yang sedang duduk langsung berdiri ketika melihat kedatang Maura.


"Selamat malam Pak Kevin. Ada perlu apa, ya?."


"Oh, ini ...." Kevin membungkuk mengambil kotak berukuran cukup besar dari atas meja."Aku kemari ingin mengantarkan ini." ia memberikannya pada Maura.


"Apa ini?"tanya Maura bingung sambil meraih kotak tersebut.


"Ini dari Virza, untuk anakmu."


Maura hening sesaat.


"Dimana dia?." tanya Maura kemudian.


"Dia sudah kembali ke Jerman malam ini."


"Oh." hanya itu respon Maura. Entah mengapa, ada perasaan yang tak mampu ia jelaskan ketika mendengarkan penuturan Kevin.

__ADS_1


"Kenapa?." Kevin menatap ekspresi lain diwajah Maura.


Maura tersenyum tipis seraya bergeleng."Tidak apa-apa, Pak. Tolong sampaikan ucapan terima kasih dariku, ya."


"Iya, nanti aku sampaikan." Kevin balas tersenyum.


"Silahkan duduk Pak Kevin." ucap Maura mempersilahkan."Sebentar, ya ... aku antar ini ke kamar dulu." ia melangkah menuju kamar.


"Maura."


Kaki Maura berhenti ketika Kevin memanggilnya."Iya, Pak Kevin ... ada apa?."


"Apa kamu tidak mengenaliku?" pertanyaan Kevin membuat Maura mengernyit. Walaupun jujur, sebenarnya dirinya merasa tidak asing dengan pria yang duduk didepannya itu.


"Maaf, tapi aku ...."


"Sudah kuduga."Kevin tersenyum kecut memutus kalimat Maura." Kamu pasti tidak mengenaliku."


Maura masih mengernyit.


"Aku Kevin Aryan Wiguna? kakak kelasmu waktu SMP yang dulu sering menjahilimu?."jelas Kevin mengingatkan.


Bibir Maura membulat seketika.


"Kak Aryan?!." ucap Maura yakin.


Kevin tersenyum manis seraya menaik-turunkan alisnya.


"Ya ampun, jadi kamu kak Aryan?" Maura setengah berteriak menyebut nama Aryan. Nama itu adalah nama panggilan yang dulu sering ia gunakan untuk memanggil Kevin.


"Ya ampun bukan begitu kak. Itu sudah lama sekali." Maura meletakkan kotak yang masih ia pegang diatas sofa."Lihat dirimu ... kamu sekarang terlihat sangat tampan. Dulu kamu burikan ... tidak setampan dan sekeren ini. Jelas saja aku tidak mengenalimu."


"Bayangkan, kak ... terakhir kali aku melihatmu sekita 12 tahun yang lalu. Kamu masih SMP, tubuhmu masih kurus kering kayak pohon cabe. Jelas aja aku lupa."cecar Maura tidak berhenti.


Kevin kembali berdesis."Kamu mau mengenang masa lalu atau ingin mengejekku?." tanyanya dengan nada suara yang kesal.


Maura tertawa."Ya ampun kak ... aku masih tidak percaya." ia berjalan mendekati Kevin."Ini benaran kamu?."


"Bukan ... patung lilin.!"jawab Kevin ketus seraya menjatuhkan diri diatas sofa.


"Selama ini aku tidak pernah melihatmu." Maura ikut mendudukkan diri."Memangnya kamu tinggal dimana?."


"Aku tinggal di Jerman. Sudah lima tahun disana membantu Virza mengurus perusahaan."


"Oh gitu." Maura manggut-manggut."Jadi kapan kembali ke Jerman?."


"Untuk sementara aku ingin di Jakarta dulu. Aku merindukan tanah kelahiranku." Kevin mengambil cemilan kue bawang yang tersedia diatas meja, lalu memasukkannya kedalam mulut, menciptakan suara riuh didalam mulut."Lalu, bagaimana denganmu? kapan kembali ke Jakarta?."


"Rencana besok."


"Woow! Bagus dong ... itu artinya kita akan sering ketemu."ucap Kevin sambil menggerak gerakkan kedua alisnya, ada sorot bahagia terpancar diwajahnya.


"Tentu saja." sahut Maura senang."Oh iya, kakak sudah menikah?."


Kevin menunjukkan jari manisnya yang polos, sebagai tanda bahwa dirinya belum memiliki ikatan."Masih kosong." ia kembali memasukkan kue bawang kedalam mulut."Tapi aku yakin kali ini ... Tuhan membawaku kembali ke Indonesia, sepertinya ingin menunjukkan jodoh untukku."

__ADS_1


"Dan saat ini wanita itu ada didepan mataku." sambungnya lagi dengan yakin.


Maura hanya berdesis pelan. Tak ambil pusing dengan celetukan yang dilontarkan oleh Kevin. Karena sejak dulu dirinya sudah terbiasa mendengar ocehan dan ketengilan Kevin yang membuatnya ingin muntah.


"Oh, iya ... dari mana kakak tau tentang status ku sekarang?" tanya Maura kali ini dengan serius.


"Virza yang mengatakannya sebelum dia berangkat." sahut Kevin santai."Sebenarnya ada hubungan apa kamu sama dia? kelihatannya dia sangat dekat dengan anakmu."


Maura terdiam sesaat."Emm ... tidak ada. Hanya sebatas teman kerja saja. Beberapa hari yang lalu tidak sengaja dia bertemu dengan anakku, Nathan."


"Kemarin juga tidak sengaja bertemu lagi, jadi mereka sempat bermain. Mungkin itu sebabnya mereka menjadi dekat." Maura menelan ludah.


Usai kepergian Kevin, Maura masuk kedalam kamar sambil membawa kotak yang diberikan oleh Virza. Ia melihat Nathan yang ternyata belum tidur.


"Hei, sayang ... coba tebak Mama bawa apa?."


Nathan melihat kotak yang dibawa oleh sang Mama dengan ekspresi cemberut.


"Ini hadiah dari Om Virza."


Mendengar nama sipemberi hadiah itu, wajah Nathan seketika berubah ceria."Ini dari Om ganteng, Ma?." ia meraih kotak bersampul karakter itu.


"Iya, sayang." Maura tersenyum. Melihat ekspresi Nathan yang begitu bahagia. Kali ini, ia baru menyadari apa gerangan yang membuat anaknya itu cemberut sejak pagi.


Dengan tidak sabaran Nathan membuka sampul yang membungkus kotak itu. Matanya berbinar saat melihat sebuah mobil-mobilan kesukaannya."Yeee ... aku punya mobilan baru."


"Non, barang-barang yang akan dibawa semuanya sudah beres. Saya keluar dulu, ya."ucap Nia memberitahu.


"Iya Mbak Nia .... terimakasih, ya."


"Gimana sayang, kamu suka?" Maura menatap Nathan.


"Suka, Ma. Tapi kenapa Om ganteng enggak kemari?." tatapan Nathan kecewa.


Maura hening sesaat.


"Mungkin Om Virza lagi sibuk sayang ... jadi enggak bisa kemari, deh."


Nathan hening.


Maura menyadari ekspresi kekecewaan Nathan. Sebenarnya dirinya merasa bersalah karena telah berbohong. Tapi tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya bahwa Virza sudah kembali ke Jerman. Karena sudah pasti itu akan membuat Nathan semakin sedih.


.


.


.


.


.


Terus baca bab bab selanjutnya ya, sebenarnya Author syediiih, pembacanya masih dikit๐Ÿ˜ž๐Ÿ˜ž. Tapi jangan khawatir, Bab Bab akan terus berlanjut, kok.


Jangan lupa tinggalin jejak ya, kalau boleh minta Votenya hehehe

__ADS_1


__ADS_2