KIMCHI

KIMCHI
Jangan Jadi Pengecut


__ADS_3

Inggrid memutuskan segera pulang ke rumah hari itu juga. Meski pun, Virza sempat ragu karena khawatir jika kondisi sang Mama belum pulih sepenuhnya. Tapi Inggrid meyakinkan bahwa kondisinya saat ini sudah jauh membaik.


"Jadi kapan kalian akan menikah?"tanya Inggrid ketika beberapa saat sampai dirumah. Wanita paruh baya itu saat ini tengah duduk kursi ruang tamu sambil mengistirahatkan diri setelah perjalanan dari rumah sakit.


Virza dan Maura terdiam sejenak saling pandang. Keduanya tersenyum kikuk.


Virza lalu berdehem."Mama maunya kapan?"cicitnya kemudian seolah tak masalah jika pernikahan itu dilaksanakan kapan saja. Tentu saja. Karena dirinya sudah tidak sabar menunggu hari bahagia itu tiba.


"Kenapa tanya Mama? yang mau menikah kan, kalian."


"Iya, sih ..." Virza cengengesan."Mungkin secepatnya, Ma. Tapi yang pasti harus menunggu Mama benar-benar sehat dulu."


Inggrid manggut-manggut."Itu bagus, nak. Lebih cepat lebih baik." Ia lalu memandang Maura."Bagaimana menurutmu, Maura?"


Maura menelan ludah gugup."S-saya terserah Mas Virza aja, tante."


"Mama senang mendengarnya." Inggrid tersenyum."Rasanya udah nggak sabar. Mama ini sudah tua. Sudah pingin gendong cucu."


"Mama takut kalau Mama enggak sempat lihat anak-anak kamu ... anak-anak Kevin." wajah Inggrid berubah sendu."Kamu tau sendiri kan, Mama sudah sakit-sakitan."


Virza menghela nafas pelan. Lalu duduk disisi kanan Inggrid."Mama jangan ngomong gitu, dong." ia merangkul dan mengusap pelan bahu Inggrid."Pasti masih sempat lah ... makanya Mama jangan mikirin yang aneh-aneh supaya penyakit Mama enggak kambuh lagi."


Inggrid tersenyum tipis seraya mengangguk.


"Ya udah ... aku ke kamar dulu, ya, sayang." ujar Virza pada Maura."Mau bersih-bersih. Setelah itu baru aku antar kamu pulang."


"Enggak apa-apa, kan?."?"


"Iya, Mas ... enggak apa-apa." Maura mengangguk pelan.


Virza berdiri, mengusap lembut puncak kepala Maura, lalu berjalan ke lantai atas.


Inggrid tersenyum memandang anaknya yang sudah berlalu. Perlakuan Virza begitu hangat. Ia bisa merasakan bahwa Virza sangat mencintai wanita cantik yang sedang berada dihadapannya ini.


"Sambil menunggu Virza .... gimana kalau kita duduk di taman belakang? Biasanya setiap sore Tante duduk disana. Udaranya enak." Inggrid terkekeh pelan di akhir kalimat.


Maura mengangguk pelan."Boleh, tante." ia lalu berdiri. Berjalan disamping wanita paruh baya itu menuju halaman belakang. Disana, Maura dibuat takjub ketika netranya melihat keindahan warna warni bunga mawar yang tumbuh subur di halaman. Lebih tepatnya sebuah taman kecil. Angin sore yang berhembus mengumbar keharuman dari bunga-bunga itu. Memanjakan mata siapapun yang berada disana.


"Waah .. indah sekali tante."seru Maura, lalu berjalan menuju taman bunga mawar itu.


Inggrid tersenyum."Kamu suka?"

__ADS_1


"Suka Tante. Bunga-bunga ini indah."


"Itulah kenapa setiap sore saya suka sekali duduk duduk disini." Inggrid, mendudukkan diri di kursi santai yang tersedia ditaman itu."Mata berasa di manja." ia kembali terkekeh.


"Apa ada pekerja khusus yang merawat bunga-bunga ini, Tante? kelihatan sangat terawat, soalnya."


"Enggak ... Tante sendiri yang merawatnya. Setiap pagi Tante berkebun disini. Lumayanlah Maura ... hitung hitung cari keringat." Inggrid tersenyum lebar.


Maura manggut-manggut.


"Bunga-bunga mawar ini tante tanami sekitar tiga tahun lalu." Inggrid memandang pohon-pohon bunga mawar yang ada didepannya."Itu ketika Virza berubah sikap menjadi dingin semenjak kehilanganmu."


Maura berjalan, lalu duduk disisi Inggrid.


"Saat itu Tante jadi merasa kesepian karena Virza lebih banyak menghabiskan waktunya menyendiri. Itu sebabnya tante mencari kegiatan ... mengisi kesunyian dengan berkebun."


"Maafkan saya, Tante."ujar Maura merasa bersalah.


Inggrid bergeleng pelan."Enggak perlu minta maaf." ia memegang punggung tangan Maura."sekarang Tante tau kamu enggak bersalah."


"Tante sudah memaklumi kenapa kamu memutuskan untuk meninggalkan Virza saat itu." sambung Inggrid memandang lekat wajah Maura."Ya .... walau pun, awalnya tante sempat marah dan membenci kamu. Tapi setelah mendengar cerita Kevin tadi pagi ... akhirnya saya bisa mengerti dan memahami." ia tersenyum lembut diakhir kalimat.


Jadi kak Aryan?? Maura tersenyum tipis mengingat Kevin. Selain tengil dan terkadang menyebalkan, namun pria itu peduli dengannya.


"Cerita apa sih? sepertinya seru." tanya Virza ingin tahu, karena tadi ia sempat melihat Maura dan sang Mama tertawa bersamaan.


"Udah enggak usah ikut ngerumpi. Mendingan sekarang kamu antar Maura pulang." jawab Inggrid cepat."Ini sudah sore. Jangan sampai keluarganya mengira Maura diculik."


"Memangnya kamu mau pulang, sayang? Enggak pingin nginap disini?." Virza Menaik-turunkan kedua alisnya yang tebal.


Inggrid membeliakkan mata lalu memukul lengan anaknya itu."Nikah dulu! sejak kapan Mama mengajarkanmu seperti itu."


Maura tertawa melihat Virza yang ternyata suka sekali membuat Mamanya jengkel.


Virza berdecak pelan."Enggak apa-apa kali, Ma. Kan, enggak ngapa-ngapain."


"Enggak lah, Mas. Kasihan Nathan seharian aku tinggal."ucap Maura menimpali.


"Tuh, kan ..." Inggrid memandang anak tampannya itu."Oh, iya ... lain kali kalau kemari ajak anak Nathan , ya ... tante pingin kenalan." ucap Inggrid pada Maura.


Maura mengangguk seraya tersenyum."Iya, Tante."

__ADS_1


Saat sudah berada didalam mobil, entah sadar atau tidak Maura terus memandangi wajah Virza yang saat ini sedang mengemudi. Jujur saja, sampai saat ini ia tak pernah menyangka roda yang berputar kembali mempertemukan dirinya dengan orang yang pernah ia cintai sekaligus ia sakiti dimasa lalu.


Perjalanan panjang yang sudah ku lalui, penuh luka, cinta dan air mata. Pada akhirnya kembali menghadapkan ku dengan orang yang sama dan cinta yang sama. Apa ini takdir? atau Tuhan selama ini hanya menguji kekuatan hatiku sebelum bertemu orang yang tepat?


"Gitu banget ngelihatin aku." Virza mengulum senyum mendapati Maura memandanginya tanpa berkedip.


Maura tergeragap. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya pada jendela mobil. Namun ia terkesiap karena Virza menarik pelan lengannya lalu menciumi punggung tangannya yang putih dengan penuh cinta.


"Aku bahagia banget, sayang ... sekarang enggak akan ada lagi yang menghalangi cinta kita."


**********


Ditempat lain, Evelyn yang merasa hatinya saat ini sedang berkecamuk, memutuskan untuk mencari tempat yang menurutnya tepat untuk melampiaskan kekalutan hatinya saat ini. Ia masuk kedalam sebuah Bar berniat memesan minuman. Tapi saat itu, disudut lain tanpa sengaja bola matanya melihat seorang pria berkemeja hitam. Pria yang sangat ia kenali sedang duduk menyendiri dengan sebuah botol minuman ditangan kanannya. Pria itu terlihat frustasi.


Evelyn tersenyum smirk, melangkah mendekati pria itu. Lalu berdecak-decak pelan."Kevin, Kevin ... perasaan udah lama banget aku enggak pernah lihat kamu minum-minum seperti ini. Kenapa? patah hati?."


Kevin yang sempat melihat, kembali acuh tak menggubris pertanyaan Evelyn. Ia malah meneguk minumannya lagi. Tapi Evelyn dengan cepat mengambilnya.


"Kembalikan minumanku." pinta Kevin yang memang belum terlalu mabuk.


"Aku heran ... entah pesona apa yang ada di wajah wanita murahan itu. Kenapa laki-laki yang tidak bisa memilikinya selalu saja menjadi bodoh." ucap Evelyn meletakkan minuman Kevin diatas meja.


"Apa maksudmu?."


"Sudah lah ... tidak perlu berpura-pura. Aku tau kamu suka sama dia."


Kevin bergeming.


"Janda murahan jadi rebutan." Evelyn tersenyum mengejek.


"Jaga mulutmu! atau ..." Kevin berhenti menahan geram. Matanya memerah. Bau khas minuman keras tercium dari mulutnya.


"Atau apa?"tanya Evelyn lembut, seraya merapikan kemeja Kevin yang sedikit berantakan."Hemm?."


Kevin menepis tangan Evelyn.


"Jangan jadi pengecut." sambung Evelyn lagi. Tak gentar meski wajah Kevin sudah terlihat mengetat. Ia bahkan dengan santai memutar-mutar gelas milik Kevin tadi.


"Begini saja ... aku tau kamu mencintai Maura. Dan kamu juga tau aku mencintai Virza. Bagaimana kalau kita sebaiknya bekerja sama untuk memisahkan mereka?."tawar Evelyn dengan senyum licik.


Mendengar rayuan setan itu Kevin berdengus, sambil tersenyum Devil."Aku memang mencintai Maura. Tapi aku tidak licik seperti dirimu. Lebih baik kamu pergi dari sini. Buat semak saja!."ujar Kevin ketus, mengambil minumannya kembali. Lalu meneguknya lagi.

__ADS_1


Bukannya pergi, Evelyn malah memesan minuman yang sama seperti Kevin. Ia memperhatikan Kevin yang perlahan semakin kehilangan kesadaran. Senyum licik muncul disudut bibirnya.


__ADS_2