
Tampak Desi sesekali tertawa dengan pria itu. Sementara disisi wanita paruh baya itu ada sang cucu yang turut duduk menemaninya.
"Maura ... kenapa malah berdiri disitu?"
"Sini!." Desi melambaikan tangannya pada Maura.
Maura berjalan kikuk. Ia mendudukkan diri di samping Desi."Kakak, ada apa kemari?."
Kevin tersenyum.
"Loh ... kok, nanya gitu?." sambung Desi tiba-tiba."Tadi nak Kevin bilang kamu pingsan waktu datang ke Bramasta Group. Makanya sekarang dia mau lihat kamu."
"Tuh, dia sampai repot-repot membawa buah untuk kamu." Desi menujukan dagunya bada pada bermacam-macam buah yang dikemas rapi dalam bentuk parsel diatas meja.
"Terima kasih, ya, kak. Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa." sahut Kevin santai.
"Maura ...." Desi menjeda kalimat memegang tangan Maura."Kenapa bohong sama Mama? kenapa enggak jujur kalau kamu sedang sakit?."
"Maafin aku, Ma." Maura memandang Desi sayu."Aku cuma nggak mau bikin Mama khawatir."
Desi menghela nafas pelan."Kamu itu sudah Mama anggap seperti anak kandung Mama sendiri. Kalau Mama khawatir, itu hal yang wajar, nak."
Maura menunduk.
"Tolong, lain kali jangan begitu, ya." ucap Desi lagi.
"Iya, Ma." Maura tersenyum tipis.
"Ya, sudah ... kamu temani nak Kevin dulu. Mama mau menyiapkan makan malam sebentar." Desi berdiri, kemudian mengambil parsel buah yang diberikan oleh Kevin."Tante, bawa, ya." ia tersenyum menatap Kevin.
"Silahkan, Tante." Kevin balas tersenyum.
Sementara Nathan, sejak tadi hanya diam. Entah apa yang dipikirkan bocah kecil itu. Ia terus memandang Kevin dengan tatapan penuh tanya.
"Sayang ... kenalin .... Om ini, namanya Om Kevin. Teman Mama."ucap Maura pada sang anak.
"Udah kenal, Ma. Kan Oma dari tadi manggil nama om ini, om Kevin." kata Nathan dengan suaranya yang terbata.
"Hei, ganteng ... jutek banget sih. Main sama Om, mau enggak?." goda Kevin sambil tersenyum.
Nathan hening.
"Sayang ... di ajak ngomong sama om Kevin. Di jawab dong." ucap Maura kemudian.
"Aku enggak mau, Ma. Aku maunya main sama Om ganteng." Nathan menunduk lesu.
__ADS_1
Maura memandang Kevin, ia merasa tidak enak. Takut jika Kevin tersinggung.
"Om ganteng siapa?." tanya Kevin dengan nada setengah berbisik pada Maura. Pria itu terlihat biasa saja, sama sekali tak tersinggung dengan ucapan bocah kecil itu.
"Pak Virza." ucap Maura datar.
"Oh." Kevin manggut-manggut. Entah apa yang dipikirkannya, tapi sejauh ini, ia bisa menilai kedekatan Nathan dan Virza sudah sangat dalam.
"Maafin Nathan, ya, kak."
"Santai aja. Dia masih jual mahal. Entar juga kalau udah kenal sama aku ... dia lupa sama om gantengnya."
"Biasa ... kalau mau dapatin emaknya, emang harus merayu anaknya dulu." Kevin terkekeh pelan.
Mendengar itu Maura hanya dibuat geleng-geleng.
Nathan yang tau sedang dibicarakan, bocah itu terlihat menatap Kevin dengan tatapan awas. Sementara Kevin membalasnya dengan senyum jahil. Membuat Nathan akhirnya memilih turun dari atas sofa dan pergi.
"Yah ... dicuekin." ucap Kevin saat Nathan beranjak.
Sementara Maura dibuat tertawa.
"Bagaimana keadaan kamu? sudah baikan?."
Maura mengangguk pelan."Alhamdulillah, sudah, kak."
"Maksud kakak?." dahi Maura berkerut.
"Iya lah ... lift itu rusak sedang dalam perbaikan. Kamu enggak lihat ada peringatannya di samping pintu lift?."
"Aku enggak lihat, kak. Tadi aku buru-buru."
"Karena Virza?." pertanyaan Kevin sarat akan pertanyaan menuntut lebih dalam. Membuat Maura bungkam.
"Sebenarnya ada hubungan apa kamu sama dia?." tatapan Kevin menyelidik."Boleh aku tau?."tanyanya lagi. Sebenarnya ada beberapa alasan yang membuatnya melayangkan pertanyaan itu. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali pertanyaan besar kerap muncul saat dirinya melihat kedekatan Maura bersama saudara angkatnya itu.
Maura menelan ludah."Kami hanya berteman."
Kevin hening. Namun ia bisa melihat Maura sedang menyembunyikan sesuatu. Rasanya tak cukup untuk mengulik, ia pun kembali melayangkan pertanyaan.
"Sebentar lagi dia akan menikah. Bagaimana menurutmu?."
Pertanyaan Kevin lagi-lagi membuat Maura terdiam.
"B-bagus, dong." ucap Maura sedikit terbata."Evelyn cantik. Dia pantas mendapatkan calon suami seperti Mas Virza."
"M-maksud saya, pak Virza." ralat Maura memberi penekanan pada kata Pak.
__ADS_1
"Oh."Kevin manggut-manggut.
Saat itu, Desi berjalan kembali ke depan. Menemui Maura dan Kevin diruang tamu."Nak Kevin ... ayo makan malam bersama kami. Tante sudah menyiapkan malam."
"Enggak perlu, Tante. Enggak usah repot-repot."
"Sudah ... jangan sungkan-sungkan. Tidak baik menolak rezeki." Desi tersenyum.
Kevin akhirnya mengangguk. Mau tak mau, ia akhirnya menerima tawaran makan malam itu. Meski sedikit canggung. Karena ini merupakan kali pertama dirinya datang ke rumah itu. Namun bukan Kevin jika tak mampu menghidupkan suasana. Pelan-pelan ia bisa mendekatkan diri pada orang-orang yang ada disana. Namun tidak dengan Nathan yang masih terus menatapnya penuh ancaman.
________________
Pukul sembilan malam, Virza baru kembali pulang ke rumah. Didepan pintu, ia melihat sepasang sapatu mahal wanita tengah teronggok. Menyadari siapa pemiliknya, akhirnya dirinya hanya bisa membuang nafas kasar. Siapa lagi kalau bukan Evelyn.
"Sayang ... kamu baru pulang?." Evelyn tersenyum manis menyapa Virza. Namun tidak dengan pria itu yang hanya memasang wajah datar. Tanpa berniat untuk menjawab.
"Virza ... kemari lah, nak." titah Inggrid dengan suara yang lembut.
"Ada apa, Ma? aku lelah. Aku mau mandi dan beristirahat." sahut Virza dengan nada suara yang malas.
"Hanya sebentar. Ada yang Mama mau omongin." Inggrid menatap Virza lembut."Kemari lah." Inggrid menepuk-nepuk sofa disampingnya. Mempersilahkan sang putra untuk duduk.
Tanpa penolakan kembali, akhirnya Virza menurut untuk duduk di samping sang Mama.
"Mama mau membahas tanggal pertunangan kalian." ucap Inggrid tanpa basa-basi. Membuat Virza terkejut, pasalnya ia telah memutuskan hubungan dengan Evelyn, namun ia tak mengerti kenapa acara pertunangan masih kembali dibahas?
"Maaf, Ma ... aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini." aku Virza akhirnya membuat sang Mama terkejut dan kecewa.
"Kenapa? apa karena Maura?."
Pertanyaan sang Mama membuat Virza bungkam seketika.
"Mama tau, belakangan ini kamu kembali dekat dengannya. Evelyn sudah cerita semuanya." ucap Inggrid dengan nada suara yang marah."Sudah berkali-kali Mama katakan .... lupakan Maura. Apa susahnya, sih??."
"Ingat, Virza ... dia dulu pernah mencampakkanmu dan menikah dengan orang lain. Mama tidak akan pernah sudi kalau kamu kembali padanya!."
"Pokoknya, apa pun, alasannya ... Mama tidak ingin pertunangan kamu dengan Evelyn batal. Kalian harus segera menikah." ucap Inggrid dengan tegas.
"Maaf, Ma ... aku tetap tidak bisa. Aku tidak pernah mencintai Evelyn, Ma. Aku nggak bisa memaksa hatiku untuk menerima dia." jelas Virza lagi masih terus berusaha menolak meski ia tau sang Mama pasti terluka, namun ia tak bisa terus-terusan membohongi perasaannya.
"Tolong, Ma ... tolong mengerti perasaanku." ucap Virza hampir menyerah. Ia sudah tidak tau bagaimana caranya mengurungkan hati sang Mama yang memintanya untuk terus menikahi Evelyn. Wanita yang sama sekali tidak pernah ia cintai.
Sementara Evelyn yang sedang berdiri, hanya bisa menangis mendengar penolakannya.
"Mama sudah sakit-sakitan, Virza." ucap Inggrid kembali, kali ini sambil menangis. Ia merendahkan suara berharap Virza bisa mengerti dengan keinginannya."Ini permintaan terakhir Mama, nak ... Mama takut Mama tidak sempat melihatmu menikah."
Sungguh kalimat itulah yang membuat Virza tak berdaya. Apalagi sorot mata sendu dari sang Mama. Sarat akan tatapan penuh pengharapan.
__ADS_1
Virza hening. Pikirannya dilanda kekalutan.