
Hamburg, Jerman
Dari balik kaca mobil, Maura menyapukan pandangan melihat kota Hamburg yang dikenal dengan kota air itu. Sepanjang jalan menuju apartemen milik Virza, mata Maura memang dimanjakan dengan keindahan sungai Alster. Tak hanya itu, jembatan batu yang memanjang disepanjang jalan, serta bangunan bangunan bersejarah menawarkan sejuta pesona bagi siapa saja yang melihat.
"Masih banyak tempat-tempat indah lainnya, sayang. Selama dua pekan disini, kita bisa menikmatinya." kata Virza mendapati ekspresi istrinya yang tiada henti memuja keindahan kota Hamburg."Tapi hari ini, kita harus istirahat dulu. Aku tau, kamu pasti lelah." ia mengusap pelan kepala sang istri yang langsung tersenyum dan menyandarkan kepala di dadanya.
Bulan madu, sebenarnya tidak tercatat dalam benak Maura sebelumnya. Selain karena kesibukan kantor yang padat, ia juga berat meninggalkan Nathan yang selalu merengek bila jauh darinya. Akan tetapi Desi yang memahami masa masa indah pengantin baru, ia mengeluarkan jurus bujuk rayu untuk sang cucu yang ternyata berhasil. Begitu pun, Razdan. Pria paruh baya itu meyakinkan Maura agar tak terlalu pusing dengan pekerjaan. Karena semua bisa diatur olehnya, dan juga Fariz.
Tak butuh waktu lama. Tepat pukul 5 sore, mobil yang membawa mereka akhirnya sampai di apartemen milik Virza. Apartemen yang menjadi tempat tinggal dirinya dengan Kevin ketika mengurus anak perusahaannya di negara ini.
"Schon, sie wiederzusehen, Sir."(Senang bertemu kembali denganmu, Tuan.)" ucap Greta dengan bahasa Jerman yang fasih. Wanita paruh baya berkulit putih bersih dengan bola mata kebiruan itu menunjukkan dirinya adalah penduduk asli Eropa. Greta lalu mengambil dua koper besar dari tangan Virza."Berikan padaku, Tuan." ia kemudian tersenyum ramah pada wanita cantik yang mengenakan jaket hangat berwarna cream, berdiri disisi Virza.
"Danke, Bibi Greta." (Terimakasih, Bibi Greta.)"
"Oh, cantik sekali. Apa dia istrimu, Tuan?."tanya Bibi Greta yang memang sudah mendapat kabar tentang pernikahan sang majikan sebelum datang kemari.
"Ya, perkenalkan Bibi Greta, dia istriku. Namanya Maura."
Greta langsung mengulurkan tangan kanannya."I'am Grate. I'am the maid here."ucapnya kali ini dengan bahasa Inggris agar lebih memudahkannya berkomunikasi dengan Maura yang mungkin saja tidak mengerti bahasa Jerman. Karena sejak tadi, wanita cantik itu memang hanya diam."Nice to meet you, Nona."
__ADS_1
"Bitte rufen Sie Miss nicht an. Ruf einfach meinen Namen." (Tolong jangan panggil Nona. Panggil namaku saja). Maura menjabat tangan itu seraya tersenyum hangat. Ia menjawab menggunakan bahasa Jerman dengan fasih. Membuat sang suami dan Bibi Greta sedikit tak percaya.
"Schon dich auch kennenzulernen, Bibi Greta."(Senang juga bertemu denganmu, Bibi Greta.)"
"Ternyata kamu pandai berbahasa Jerman?."tanya Bibi Greta kemudian.
"Nur ein paar. Nicht sehr eloquent."(Hanya sedikit. Tidak terlalu fasih.)"ucap Maura malu-malu.
"Ah, das ist schon sehr gut."(Ah, itu sudah sangat bagus.)" Tak hanya cantik, kamu juga pintar. Tuan memang pandai memilih istri." puji wanita paruh baya itu tak jemu memandang wajah Maura yang menurutnya tak hanya cantik dari luar saja. Tapi juga kecantikan yang terpancar dari dalam. Mendengar itu Maura kembali tersipu malu..
"Masuk lah, aku sudah memasak makanan lezat untuk kalian.)" ajak Bibi Greta bersemangat seraya menarik dua koper yang sejak tadi berada ditangannya.
"Kalau ingin langsung mandi, aku juga sudah menyiapkan air hangat untuk kalian berdua. Kalian pasti lelah menempuh waktu belasan jam untuk sampai disini."
"Terimakasih sekali lagi Bibi Greta, seharusnya tidak perlu repot-repot."ujar Maura kembali.
"Ini sambutan untuk pengantin baru." Bibi Greta tersenyum penuh arti.
"Bibi Greta benar!" sahut Virza cepat."Sepertinya kita memang harus mandi, sayang. Menurutku mandi berdua pasti akan lebih menyenangkan."celetuknya seraya memeluk manja tubuh mungil Maura. Bibi Greta yang menyaksikan kemesraan itu dibuat mengulum senyum, meski tadi Virza menggunakan bahasa Indonesia, tapi dari tingkah Maura yang malu-malu, Bibi Greta bisa menebak kalau majikannya itu sedang menggoda sang istri. Sambil terus tersenyum, ia lalu membawa dua koper itu kedalam kamar utama.
__ADS_1
"Mas, kamu ini ngomong apa? enggak malu ada Bibi Greta."Maura berbisik geram dengan tingkah sang suami, seraya berusaha mengurai pelukan erat lengan kokoh itu.
"Aku bicara memakai bahasa negara kita. Dia tidak akan paham, sayang." Virza masih menempel manja."Ngomong-ngomong bahasa Jerman mu ternyata bagus juga. Aku tidak menyangka."
"Benar kata Bibi Greta. Ternyata selain cantik, istriku juga sangat pintar."sambung Virza memuji sang istri kali ini dengan sedikit berbisik menggunakan bahasa Jerman kembali.
"Jangan merayuku, Mas. Aku tidak percaya bahasa Jerman ku sebagus yang kamu bilang."
"Aku sedang tidak merayu, sayang. Itu keren! air liurku tadi bahkan hampir jatuh kalau tidak segera sadar. Kamu membuatku kagum dan terpukau."
"Mas, kamu berlebihan." Maura tersenyum konyol.
"Ich mochte dich nur loben (Aku hanya ingin memujimu)"Virza yang kini membenamkan wajah di ceruk leher Maura, memberikan kecupan sekilas di pipi putih istrinya itu."Tapi dari siapa kamu belajar?." ia mendadak penasaran.
"Waktu SMA aku sempat bisa menguasai tiga bahasa. Inggris, Jerman dan Mandarin. Untuk Jerman dan Mandarin, aku hampir sedikit lupa karena jarang menggunakannya. Tapi kak Aryan sempat mengajariku beberapa kali untuk bahasa Jerman. Jadi, sedikit lebih lancar." aku Maura, yang diakhir kalimat menoleh kesamping, detik itu baru menyadari perubahan wajah Virza. Suaminya yang semula hangat, mendadak dingin.
"Kamu dan Kevin sepertinya sangat dekat." Virza kembali pada posisi berdiri dengan benar."Apa itu panggilan spesial darimu untuknya?."
Maura menelan ludah.
__ADS_1