KIMCHI

KIMCHI
Sate Kambing Favorit


__ADS_3

..."Sajak Ku terbuang dan larut bersama malam. Dan kelak akan melebur bersama embun yang ku teteskan. Seketika lara ku habis jua lekas tertikam, memungut kepingan rindu yang tak terelakkan."...


^^^_Satrawanamatir_sajakbidari^^^


Maura sesekali berguling-guling dengan posisi berbaring, sambil memainkan ponsel lalu meletakkannya asal diatas ranjang. Menghela nafas kasar sambil mendudukkan diri. Tiba-tiba merasa bosan dan sepi tidak tau harus berbuat apa sejak sus Ana dan Zayn ikut bersama Mama Amelia ke Surabaya, sore tadi.


Bersamaan saat itu, bunyi krucuk dari dalam perut pertanda usus sedang mengirimkan sinyal pada lambung. Membuatnya teringat pada sate kambing Mang Asep langganannya yang memang sudah lama juga ia tak merasainya lagi sejak beberapa bulan terakhir. Ia segera bangkit mengambil dompet dan memasukkannya kedalam kantong celana.


Bik Imah yang sedang berada didapur buru-buru ke depan begitu mendengar pintu depan seperti terbuka. Dirinya mengira itu Damar yang memang sore tadi kembali ke kantor. Ternyata itu adalah Maura.


"Non, mau kemana.?."


"Keluar sebentar, Bik. Mau cari sate. Dekat, kok ... biasa .... ditempat Mang Asep."


"Dekat sih, dekat, non. Tapi ini sudah malam. Bahaya anak gadis keluar sendirian. Jalan kaki lagi. Pesan sate lain saja ya, dari goFood." Bik Imah memberi pilihan. Meski tau itu pasti tidak akan berhasil. Dan benar saja, Maura langsung bergeleng. Sejak dulu, gadis itu memang hanya menyukai sate kambing yang dijual Mang Asep. Beberapa kali ia juga pernah mencicipi ketika Maura membelikannya. Memang ia akui sate kambing dengan campuran kuah kacang yang dijual tak jauh dari seberang komplek itu memang tak ada tandingannya ketika dibanding sate lain yang pernah ia coba selama ini.


Cita rasanya lezat, dengan tingkat kematangan yang sempurna. Manis, gurih, dan wangi menggugah selera. Ditambah lagi irisan bawang dan cabai yang berhasil menggoyang lidah. Membuat rasa laparnya kian meronta."Jangan khawatir, Bik. Jam segini masih ramai ... pasti aman, kok."


Masih ingin membuka mulut akhirnya kembali ditutup karena ketika itu Maura sudah berlari kecil membuka gerbang. Bik Imah hanya bisa menghela napas pasrah sambil bergeleng.


Masih disekitar komplek perumahan, sambil berjalan Maura sesekali melempar senyum dan menegur pada ibu-ibu yang ia kenali.


"Maura, mau kemana?." tanya Buk Rani sambil menggendong menidurkan anak bayinya di teras rumah.


"Cari sate, Buk." ia menjawab sekenanya dengan senyum.


"Mbak Sri ..."


Kali ini ia menyapa Sri, kakak kelasnya masa SMA dulu tampak berusaha memberi makan anak balita yang terlihat berlari kesana-kemari.


"Hei, mampir, Ra."


"Makasih, mbak. Mau keluar dulu, cari sate."


"Oh, iya." Sri tersenyum. Ada juga beberapa anak-anak yang sedang bermain sepeda melintas menegurnya.


"Kak cantik."

__ADS_1


"Hai." sapanya dengan senyum ramah."Awas jatuh."


Tanpa terasa ia sudah berjalan jauh melewati komplek perumahan. Hingga beberapa menit, ia akhirnya sudah keluar berada dijalan besar. Dari kejauhan ia melihat gerobak sate dan asap yang mengepul disekitarnya. Tampak ramai dengan beberapa pengunjung yang berdiri, dan duduk mengantri. Wangi bakaran daging kambing dengan cita rasa yang tak bisa dilupakan membuatnya menelan air liur hanya dengan membayangkannya saja. Ia masih harus berjalan melewati beberapa ruko, dan toko yang masih buka dipinggir jalan, kemudian menyeberang dengan hati-hati untuk sampai dan ikut mengantri bersama pengunjung lainnya.


"Mang, dua porsi, ya. Dibungkus, seperti biasa tidak pakai lontong." setelah sempat menimbang karena teringat pada Damar.


Ingin membeli tiga, namun akhirnya urung karena rasa kesalnya yang belum surut pada pria itu. Dan menurutnya ide itu juga hanya akan membuat kekesalannya semakin menggunung. Karena sudah dipastikan kalimat penghinaan akan menguap dari bibir tebal pria itu. Itu makanan tidak higienis, aku tidak akan memakannya. Sorry, aku tidak suka makanan itu, itu pasti tidak enak. Atau apalah, bla bla bla yang sudah pasti tak ingin ia dengar karena hanya akan membuat kuping terasa panas.


"Eh, neng Maura. Sudah lama tidak kelihatan." ucap Mang Asep sambil memotongi lontong daun pisang.


"Iya, Mang. Kerja terus ... baru sekarang sempat mampir kesini. Padahal sudah kangen sekali pingin makan sate kambing mamang." ia nyengir.


"Sabar, ya, neng. Masih ngantri dulu."


"Iya, tidak-tidak apa, Mang." ucapnya sambil melihat sekitar, pada beberapa orang yang sedang duduk sambil menikmati sate. Sedikit lega karena menemukan satu kursi plastik kosong, hingga membuatnya tak harus bersusah payah menunggu berdiri. Gegas iya menggeser kursi agar tidak terlalu dekat dengan orang yang duduk disebelah, ketika itu suara wanita dari belakang memanggilnya.


"Maura."


Sementara baru hendak duduk, Maura dibuat menoleh."Gea?." panggilnya tak percaya karena bisa bertemu dengan Gea disini. Teman sekelasnya dulu semasa SMA. Keduanya dulu memang sangat dekat. Tapi harus terpisah karena setelah lulus sekolah, Gea memilih melanjutkan kuliah di Korea ikut dengan orang tuanya yang saat itu menetap disana."Gea, ya ampun."


Keduanya langsung berpelukan melepas rindu setelah bertahun-tahun tak bertemu.


"Lebay, deh kamu. Dari dulu aku juga begini. Kamu kenapa bisa ada disini?"Maura dengan semangat menggeser kursi didepan meja Gea.


"Mas ku menikah. Dapat orang Indonesia." Gea kembali duduk.


"Lama disini?."


"Cuma seminggu. Lusa sudah harus kembali ke Korea. Sekarang aku cukup sibuk, sejak diterima menjadi guru memasak di Korea."


"Seriously?." lagi-lagi Maura dibuat tak percaya. Mendengar kata memasak membuat dirinya tertarik untuk kembali bertanya."Kamu jadi guru sekarang?."


"Em." Gea mengangguk."Guru junior lebih tepatnya."


"Kamu keren."Maura berdecak kagum."Tapi bicara soal memasak, aku juga punya rencana akan belajar memasak disana, loh."


"Wah, bagus dong. Itu artinya kita bisa bertemu disana." lanjut Gea antusias ketika itu, Mang Asep berkata pada Maura.

__ADS_1


"Neng Maura, satenya sudah siap, neng."


"Mang satu dibuka saja. Makan disini." sepertinya waktu masih terasa kurang bagi Maura. Bertemu Gea membahas tentang kursus memasak mungkin akan sedikit memberi bekal pengetahuan untuknya sebelum berangkat ke negeri ginseng tersebut.


Disela-sela memakan sate kambing, keduanya kembali melanjutkan cerita sekaligus melepas rindu. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para pembeli di warung mang Asep sudah mulai berkurang, terhitung paling hanya tinggal beberapa saja. Maura melambaikan tangan pada Gea yang sudah masuk didalam taksi.


"Sampai ketemu di Korea." ucap Gea ketika taksi yang membawanya perlahan malaju.


Maura pun memutuskan kembali pulang. Angin malam mulai menyapu kulit putihnya yang hanya di balut kaos putih oversize, dan celana kain pendek sebatas paha. Dan semakin dingin, membuat rambutnya yang terurai ikut bergerak tersapu angin. Langit sepertinya mendung, karena bintang-bintang bersembunyi. Sebenarnya bukan tiba-tiba, hanya saja dirinya terlalu asik bercerita dengan Gea hingga tak menyadari.


Ia berjalan melewati ruko dan toko-toko yang kini hampir semua sudah tutup. Bahkan lampu-lampu beberapa telah mati. Membuat jalanan menjadi lebih gelap. Begitu juga dengan jalanan yang sudah lengang. Hanya beberapa saja kendaraan yang melintas.


Menyadari itu dirinya semakin mempercepat langkah agar lekas sampai dirumah. Hingga akhirnya ia sudah lebih dekat dengan jalan menuju komplek perumahannya. Tapi ketika itu ia dibuat cemas dengan keberadaan sekelompok laki-laki dipinggir jalan.


"Hai, cantik."


"Suit-suit!." terdengar melengking dan menjijikkan di telinganya.


"Mau kemana, neng."Maura sempat melihat sekilas pada pria yang hanya terlihat gigi putihnya saja.


Ia menelan ludah, dengan genggaman semakin erat memegang plastik putih berisi satu bungkus sate didepan perut, kemudian memberanikan diri terus berjalan lebih cepat. Sambil sedikit meminggir ke kiri agar lebih jauh dari pria-pria itu.


Tapi saat itu, dua orang pria langsung berdiri menghadang jalan, hingga berhasil menghentikan langkahnya.


"Wuih, cantik banget." ucap si laki-laki berkaos putih yang berpenampilan lumayan."Sepertinya kita jodoh, neng. Warna bajunya samaan."


Mendengar itu Maura berdesis kesal.


Terdengar tawa dari beberapa teman pria itu yang sedang nongkrong dengan memegang kartu ditangan masing-masing. Juga beberapa botol minuman didekat mereka.


"Jangan mau sama dia, neng. Sama saya saja." ucap pria yang terlihat sempoyongan dengan bau mulut khas minuman yang menyengat, langsung memegang tangan Maura.


"Lepaskan!." bentak Maura, menarik tangannya kuat dengan tatapan sengit pada pria itu. Ketika itu hujan akhirnya turun sekaligus suara petir menyambar. Membuat tubuh Maura menegang ketakutan. Matanya mulai memanas sambil memegang bungkusan plastik semakin erat.


"Hei, jangan sombong, neng!." ucap pria mabuk itu tersulut emosi karena Maura membentaknya.


"Angkat, angkat ... bawa ke markas!" terdengar seruan dari salah satu suara pria yang tadi bermain kartu sambil berdiri mendekati"Sayang di anggurin. Enak nih, mumpung hujan pasti anget."

__ADS_1


Pria sempoyongan itu kembali menarik tangannya dengan paksa."Ayo, ikut kami."


"Jangan! Lepaskan!." Maura kini menangis berusaha memberontak, saat sebuah mobil berhenti dan seseorang turun dari dalam.


__ADS_2