KIMCHI

KIMCHI
Pengakuan Cinta


__ADS_3

"Kamu lapar?." suara lembut Aina mengalihkannya.


Maura mengangguk.


Dan Deva yang sejak tadi menyadari kedatangan Maura, beberapa kali sempat memperhatikan gurat wajah gadis itu yang berubah. Ada sesak yang tertahan, dan garis bibir yang memaku. Entahlah, seperti menular seketika saja rasa itu menjangkiti dirinya. Mungkin sebuah rasa yang sama, yang saat ini dirasakan oleh Maura, ketika melihat Damar pergi membawa Aira.


Sejengkal pandangannya turun kebawah beralih pada jaket kulit berwarna coklat tua yang saat ini dikenakan oleh Maura, menggantikan jaket miliknya yang kini entah dimana. Mungkin dibuang, seperti dirinya yang tak di anggap. Yang hanya si pemilik cinta dalam diam. Seperti tenggelam sebelum berlayar, mematahkan harapan. Ada rasa getir ketika ia menelan ludah, sebelum akhirnya kembali bersuara.


"Kebetulan, aku juga lapar." Deva tersenyum, namun jelas itu senyum terpaksa."Aku akan masak untuk kalian. Tapi kayaknya tinggal stok mi instan. Bahan makanan lain sudah habis tadi malam."


"Enggak apa-apa, chef. Kalau chef yang masak, mi instan juga pasti rasa spaghetti." Aina nyengir, sementara Maura balas dengan mengangguk-angguk setuju.


Deva kembali tersenyum tipis, namun kali ini tanpa rasa terpaksa."Ya sudah, yuk!."


Eh, tasnya buk Aira. Hampir aja ketinggalan. Aku kasih bentar ya, Ri.


Iya, buruan. Udah kebelet, nih.


Iya sabar ... kalau udah enggak tahan pipis di semak-semak aja.


Anyaaaa!!!


Terdengar suara Anya berbicara pada Riri ketika mereka berjalan menuju tenda perdapuran.


 


Mendapatkan libur khusus dalam setahun, kemudian ditambah hari Jum'at yang memang merupakan hari libur karyawan Nara House setiap minggunya, waktu dua hari berkemping mungkin cukup untuk mereka menenangkan diri dari beban hidup masing-masing. Dan akhirnya kini harus kembali pada rutinitas didapur, bermain asap dan aroma masakan serta ramainya pengunjung.


Denting piring, hentakan pisau, dan riuh sahut suara yang bersambut dari meja pengunjung ke dapur memenuhi setiap sudut ruangan. Tampak Andre yang baru masuk sedang bersusah payah mendorong troli berisi dua tandan pisang ambon yang baru saja di antar oleh supplier menuju gudang penyimpanan.


Banana milk dua, Tteokbokki pedas satu, Jajangmyeon satu!.


Oke!


Dan itu suara Aina yang beberapa menit lalu datang, karena memang saat ini dirinya sedang berada di shift ke dua. Bicara pada Vino yang memang bertugas sebagai asisten chef di shif ke dua, menggantikan Deva yang entah kemana.


Berbeda dengan hiruk pikuk dilantai bawah, dilantai atas yang merupakan khusus rooftop, hanya diisi suara dari dua orang yang baru saja naik kesana.


"Ya ampun, bagus banget."

__ADS_1


Maura langsung berseru terpukau melihat aneka ragam bunga yang tersusun rapih didalam pot dengan ukuran berbeda-beda dilantai dua itu. Bunga mawar, bunga tulip, dan beberapa jenis anggrek yang berhasil menyejukkan mata dengan keindahan warna masing-masing. Serta sebuah kursi berwarna hitam dan satu meja berukuran minimalis didepannya, ada juga dua buah kursi kayu panjang serata bantal bantal berukuran sedang tersusun rapih diatasnya. Cukup lebar, jika untuk tidur dan bersantai menikmati langit biru akan terasa sangat menenangkan. Pikirnya, yang memang baru pertama kali menginjakkan kaki di lantai atas, karena yang ia ketahui lantai ini merupakan tempat yang tak pernah di injakkan kaki oleh seluruh karyawan termasuk dirinya.


"Iya, tempat ini memang bagus." sahut Deva mengikuti arah pandang Maura, yang langsung melihat kepadanya.


"Jadi chef pernah naik kesini?."


Deva melihat sekilas pada Maura, kemudian mengangguk, berjalan menuju railing kayu setinggi perut lalu melipat dan menumpukan kedua tangan diatasnya."Dulu, beberapa kali waktu pertama-tama diterima kerja disini. Sambil ngopi-ngopi sama chef Damar, sekalian di ajarkan beberapa hal tentang memasak."


Maura melihat Deva tak percaya, keduanya yang kini setiap berjumpa terlihat seperti es lilin dan es balok terjepit dalam kulkas berisi salju, ternyata pernah saling hangat seperti kopi pahit yang diseduh ketika hujan.


"Sebenarnya kamu ngapain kesini?." Deva menoleh pada Maura yang berdiri disisinya. Tadi ketika jam pergantian shift, dirinya yang hendak menuju loker untuk mengambil melihat ponsel, tak sengaja melihat Maura berjalan menapaki tangga lantai atas. Yang ia tahu, biasanya gadis itu akan langsung pulang usai pekerjaan selesai.


Maura hening sesaat. Dirinya juga tak mengerti sebab apa kakinya melangkah kemari. Namun bayangan kecemasan dari wajah Damar ketika menggendong Aira kemarin, membuat rasa penasaran menuntunnya. Pikiran seolah berkata masa bodoh, namun hati menuntut ingin tau. Kisah masa lalu apa, kedekatan seperti apa, dan hubungan apa di antara keduanya yang seolah tak bisa dipisahkan. Mungkin disini, dilantai dua ini ia bisa menemukan sebuah jejak kisah yang katanya sebuah persahabatan itu. Dan ternyata cuma ada teras berukuran besar dengan segala keindahannya.


"Enggak ada, cuma pingin kesini aja."aku Maura akhirnya seraya diikuti senyum tipis.


Deva hening sesaat, dan kemudian memanggil dengan ragu.


"Maura."


"Iya, chef?." Maura menoleh, suaranya terdengar lembut.


"Aku mau bilang sesuatu sama kamu." Deva menatapnya.


"Aku suka sama kamu, Ra." Deva menelan ludah, menatapnya dalam."Aku cinta sama kamu."


Maura hanya hening menyimak kalimat yang baru saja terlontar dari bibir pria itu. Sebuah pernyataan hati yang ia tunggu-tunggu selama ini. Sambutan isi hati yang ia pendam, bahkan nyaris gila menunggunya. Membuatnya tak tahu malu, selalu menggoda saat dimana bertemu pria itu. Namun entah mengapa, pengakuan itu menjadi terasa biasa saja. Harusnya itu menjadi hal yang membahagiakan, bukan? cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan. Kisah manis impiannya akan segera dilalui, menjalani hari-hari dengan pria yang paling dicintai. Seperti kisah romantis drama-drama Korea yang selama ini ia bayangkan.


"Aku tau selama ini kamu juga mencintaiku." Deva tersenyum meraih, dan menggenggam kedua tangannya."Aku akan sabar menunggu sampai kontrak pernikahan itu berakhir. Dan setelah itu kita bisa sama-sama."


"Kita enggak akan curi-curi perhatian diam-diam lagi. Enggak akan pegangan tangan diam-diam lagi."sambung Deva terkekeh pelan."Semua orang akan tau kalau kita saling suka."


Rangkaian kalimat Deva berterbangan begitu saja, terkunci pada kalimat kontrak pernikahan, yang seketika membuat Maura menelan ludah. Jika selama ini ia ingin segera pernikahan itu diakhiri, namun entah mengapa tiba-tiba membuatnya merasa tak ingin itu terjadi. Tapi mengingat kedekatan Damar bersama Aira, dirinya merasa ingin marah dan menangis. Apa semua ini??


"Maura."


Deva memperhatikan Maura yang sepertinya sedang tidak fokus. Hingga akhirnya memanggil kembali, dan berhasil membuat gadis itu terlonglong.


"Kamu dengar aku, kan?."

__ADS_1


Maura menelan ludah, perlahan menarik kedua tangannya, hingga genggaman itu terlepas. Tentu saja itu membuat Deva bingung.


"Maaf, chef ... tapi sesuai kesepakatan, aku baru boleh punya kekasih kalau kontrak pernikahan itu sudah benar-benar berakhir."


Deva tersenyum lembut."Enggak apa-apa, aku akan menunggu waktu itu tiba."


Bugh!


Pletak!


Bunyi suara dari dalam, tepat dibalik pintu rooftop membuat keduanya terkejut, kemudian saling pandang penuh tanya.


Deva akhirnya melangkah untuk membuka pintu. Saat itu, pandangannya tertumbuk pada Anya yang sedang membungkuk, mengusap ponsel.


"Yaaaah, retak."


"Anya, kamu ngapain?."


Anya mengangkat wajah seraya berdiri tegak menatap Deva. Sementara Maura tampak berjalan mendekat."E- ini, chef ... itu di panggil, Vino. Katanya Tteokbokki pedas habis. Ada pesanan lagi dari pengunjung."


"Oh, ya sudah ... aku akan turun."


Anya buru-buru pergi, seraya menghidupkan kembali ponselnya yang mati akibat tak sengaja terhempas ke lantai.


"Ra, aku turun dulu, ya." Deva melihat Maura yang langsung mengangguk."Kamu enggak pulang?."


"Sebentar lagi, chef. Aku masih mau disini dulu."


"Ya sudah." Deva kemudian menutup pintu, turun ke dapur bergabung dengan karyawan lain.


Maura berbalik, melihat ke sembarang arah yang tak sengaja mengarah pada sebuah pintu lain di area rooftop. Sebuah ruangan cukup besar yang baru ia sadari. Perlahan kakinya melangkah dan membuka pintu ruangan itu yang ternyata di kunci.


Maura mengernyit, melihat deretan angka di handle pintu.


"Pakai sandi segala."Maura menekuk bibir seperti sedang berpikir. Tanggal restoran ini pertama kali dibuka adalah tebakannya. Yang segara ia tekan satu persatu, namun ternyata salah. Pintu itu masih belum terbuka. Lalu kemudian berinisiatif menekan tanggal lahir Damar yang memang pernah ia lihat dari biodata diri yang tertera dibuku nikah. Itu pun harus benar-benar mengingati, karena memang tanggal lahir itu sedikit samar dalam kepalanya.


Beberapa kali mencoba, dan dari sekian tanggal yang menurut Maura penting namun ternyata masih tetap gagal. Merasa menyerah, ia bersandar pada daun pintu seraya menekan angka angka mustahil yang terbersit dikepalanya dengan gerakan jemari tak yakin. 080822. Yang tanpa disadari membuat tubuhnya terhuyung, bahkan hampir terjerembab karena pintu yang bergerak mundur secara otomatis.


Maura ternganga, masih tak percaya dan mengingati kembali angka yang baru saja ia tekan. 080822, itu adalah hari pernikahan mereka.

__ADS_1


Kok, bisa? Sebegitu penting, kah? kemudian ia berdesis. "Tentu saja. Dia menggunakan kode ini pasti supaya enggak lupa kapan kontrak pernikahan itu berakhir." gerutunya dengan nada kesal, kemudian terperanjat karena pintu itu kembali tertutup secara otomatis.


"Ngeselin!" ia memukul pintu dengan keras."Sama aja kayak yang punya!."


__ADS_2