KIMCHI

KIMCHI
Malam Pertama di kota Hamburg


__ADS_3

"Kamu dan Kevin sepertinya sangat dekat." Virza kembali pada posisi berdiri dengan benar."Apa itu panggilan spesial darimu untuknya?."


Maura menelan ludah.


"Ihre habe deine Kleider in den Schrank gestellt. Jetzt, da es spät ist, muss ich nach Hause. (Pakaian kalian sudah saya susun kedalam lemari. Sekarang berhubung sudah sore, saya harus pulang.)" suara Bibi Greta yang berjalan mendekat membuat keduanya teralihkan.


Maura yang mengira Bibi Greta tinggal di apartemen ini, namun ternyata wanita itu adalah maid yang bekerja paruh waktu saja. Wanita itu tinggal di perumahan sewa yang tak jauh dari apartemen milik Virza berada.


"Oh Ja. Vergiss nicht zu essen."(Oh, iya. Jangan lupa makan!.)" Bibi Greta tersenyum sambil menunjuk ke arah dapur.


"Danke, Bibi Greta." ucap Virza, sementara Maura hanya mengangguk pelan seraya tersenyum sebelum Bibi Greta berlalu keluar. Kemudian menoleh pada Virza yang berjalan masuk kedalam kamar utama.


"Mas, kamu marah?." Maura berjalan mengikutinya. Namun Virza dengan cepat membuka sepatu dan masuk kedalam kamar mandi.


Maura hanya menghela nafas berat memandang pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Dalam hati ia merasa bersalah karena mungkin sudah memantik kecemburuan di hati suaminya itu. Meski sebenarnya tidak ada hubungan spesial antara dirinya dan Kevin. Ia meletakkan tas tangan yang sedari dipegang, lalu membuka jaket tebal yang melingkupinya. Duduk pada sofa busa, melihat pemandangan kota Hamburg yang kini dihiasi kelap-kelip lampu dari gedung-gedung yang menjulang dari balik dinding kaca kamar itu.


Virza termenung. Sementara air shower dibiarkan mengalir begitu saja membasahi kepala dan tubuhnya. Ia masih memikirkan panggilan spesial yang diberikan Maura pada saudara angkatnya itu. Bukan sekali dua kali ia mendengar. Dan kali ini ia benar-benar terusik. Bukan cemburu, tapi hal ini membuat ingatannya kembali terlempar pada sebuah janji masa lalu.


"Aargh!." Virza memeras air yang mengalir di wajah."Apa yang aku pikirkan?!."umpatnya gusar pada diri sendiri. Ia mematikan shower, lalu menarik handuk dengan gerakan kasar. Tak lama, ia keluar. Di sofa, ia melihat sang istri tengah tidur bersandar dengan posisi kaki sedikit tertekuk.


Virza mendekati, sejenak ia tatap wajah pucat sang istri yang terlihat lelah, lalu kemudian menarik pelan-pelan tubuh mungil itu, menggendongnya menuju ranjang. Namun ketika hendak membaringkan nya, ia terkesiap karena Maura menarik tubuhnya hingga terjerembab diatasnya. Saat itu Virza langsung terkekeh tanpa suara.


"Jadi tadi cuma pura-pura tidur? hum?." suara Virza terdengar lembut.


Maura bergeleng manja."Air yang menitik dari rambut tipis mu ini yang membuatku terbangun." ucapnya dengan gaya sensual membelai halus rambut Virza yang basah. Kemudian perlahan jemarinya turun meraba halus dada bidang Virza yang polos tak berbaju. Mata Maura menjadi sayu. Tak ingin berhenti, jemari lentiknya terus berselancar turun. Kali ini ingin menarik handuk putih yang yang terlilit di pinggang Virza. Dapat ia rasakan, alat tempur didalam sana sudah berada dalam mode aktif. Handuk itu hampir lepas, tapi Virza tiba-tiba menahan jemarinya.


"Kamu semakin berani. Apa ini trik untuk merayuku?."tanya Virza kemudian.


Maura merengek manja."Jangan marah padaku, Mas ... tidak ada hubungan apapun antara aku dan kak .... hmpp ...."


Belum selesai Maura berkata, bibir Virza telah lebih dulu membungkam bibirnya. Tanpa diminta, Maura langsung mengimbanginya. Entah apa yang membuat, kali ini dirinya terlihat lebih agresif dan mendominasi. Betapa aroma manly yang menguar dari tubuh Virza seakan membuatnya melambung. Ia tak ingin berhenti.


Merasakan Maura semakin berani memantik hasrat Virza semakin terbakar. Namun meski begitu, malam ini sengaja ia biarkan istri cantiknya itu yang menuntun permainan.


Hari ini, malam pertama di kota Hamburg. Keduanya kembali tenggelam dalam pergulatan panas di ranjang.


______________


"Wah ... bagus banget tempatnya, Mas." Maura terpukau melihat pesona danau Binnenalster dan Ausennalster yang luas mengumbar pesona. Sementara di pinggirnya, terdapat banyak kapal yang bersandar. Tak hanya itu, dari kejauhan, Maura dapat melihat alun-alun kota Hamburg yang dipenuhi oleh banyak pengunjung.

__ADS_1


"Mari kita ambil beberapa foto, sayang." Virza mengambil ponsel, sementara Maura langsung bersiap berdiri disisinya seraya tersenyum manis.


Virza memeluk pinggang Maura sambil memfokuskan diri mereka pada background terbaik."1,2,3 ..."


"Coba aku lihat, Mas."


Virza memperlihatkan hasil gambar itu pada Maura.


"Ah, kamu terlihat tampan sekali, Mas." Maura tersenyum pada Virza.


"Kamu juga terlihat sangat cantik, sayang." ucap Virza gemas, seraya mengecup pipi kanan Maura."Ayo kita ambil beberapa lagi. Disana juga pemandangannya bagus."ia menunjuk ke arah danau itu, yang didepannya mengarah pada sebuah bangunan tinggi bersejarah.


Keduanya melanjutkan perjalanan. Pasangan yang sedang menikmati masa-masa pengantin baru itu terlihat sangat bahagia. Hampir seluruh setiap destinasi wisata yang ada di Hamburg mereka singgahi, selalu tak lupa untuk mengabadikan moment-moment yang dilewati bersama. Kini, keduanya menempuh perjalanan menuju kota Berlin, kota terbesar yang ada di Jerman itu, tak kalah indah dengan spot destinasi wisata yang ada di Hamburg. Dari mulai taman kota Tiergarten, mengendarai perahu menikmati keindahan sungai Spree, museum-museum bersejarah yang memukau, dan masih banyak lagi keindahan lain di kota itu yang tak ingin mereka lewatkan.


Waktu terus berjalan, keduanya terus mengukir keromantisan yang seakan tidak pernah bosan. Hari ini adalah hari terakhir mereka di negara ini. Karena besok, mereka akan terbang menuju Paris. Tinggal satu minggu lagi tersisa. Sesuai jadwal yang telah mereka rencanakan sebelumnya, keduanya akan terus menghabiskan masa-masa pengantin baru berkeliling hampir seluruh negara di Eropa.


Maura sesekali tertawa kecil melihat video yang baru saja dikirim oleh Mama Desi. Video menggemaskan Nathan yang sedang bermain disekolah dengan teman-teman seusianya. Benar, sudah seminggu ini bocah kecil itu bergelut disekolah TK. Bermain dan belajar dengan banyak teman, sedikit mengurangi fokus anak itu pada sang Mama yang saat ini sedang berada jauh di negara yang berbeda.


Desi juga mengirimkan video Nathan yang saat ini sedang tertidur dengan sebotol susu yang belum lepas dari tangan dan mulutnya. Tampak sesekali botol susu itu hampir lepas, namun antara sadar atau tidak, bocah itu reflek mengenyot-nya lagi. Maura tertawa haru, sambil menyusut air mata kerinduan yang menitik disudut mata.


Cukup kan, videonya? kalau masih kangen besok video call. Mama mau tidur dulu, sudah malam. ucap Desi pada pesan berikutnya.


Iya, nak. Nikmati lah bulan madu kalian, jangan risau dengan Nathan. Mama dan Papa selalu menjaganya.


Maura melihat jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Tiba-tiba ia merasa lapar. Perlahan ia beranjak turun dari ranjang berjalan ke dapur, berniat ingin mencari camilan disana. Akan tetapi ketika melintas didepan sebuah ruangan lain yang tampak seperti kamar, Maura melihat Bibi Greta tengah kepayahan berusaha mengambil sebuah kotak putih berukuran cukup besar dari atas lemari.


"Bibi Greta, was machst du?."(Bibi Greta, apa yang sedang kamu lakukan?." Maura berdiri didepan pintu kamar itu.


"Oh, ich will das nehmen." (Oh, aku ingin mengambil ini.)" Bibi Greta menunjuk pada koper hitam yang sedikit usang diatas lemari dan sepertinya sudah lama tidak digunakan."Tuan Kevin Minggu depan akan kembali. Aku ingin merapikan kamarnya."


Maura memanggut pelan.


"Tuan belum kembali?." tanya Bibi Greta yang mengetahui kalau Virza tadi terpaksa harus pergi kekantor cabang, karena ada berkas penting yang memerlukan tandatangannya.


"Belum, Bibi. Mungkin sebentar lagi." ucap Maura masih berdiri didepan pintu."Kann ich reinkommen."( Boleh aku masuk?.)"tanyanya ragu.


Beberapa detik Bibi Greta diam, baru kemudian menjawab."Bitte."(Silahkan")


Maura kemudian berjalan mendekati."Aku akan membantumu mengambilnya."

__ADS_1


"Tidak perlu, Maura. Aku bisa melakukannya." cegah Bibi Greta kemudian.


"Tidak apa-apa, Bibi Greta. Aku sedikit lebih tinggi darimu." ucap Maura setengah bergurau melihat pada Bibi Greta."Aku rasa ini tidak begitu sulit."


Bibi Greta terkekeh pelan."Vorsichtig sein!."(Hati-hati.") refleknya ingin menangkap tubuh Maura yang hampir limbung saat sedikit melompat mengambil kotak besar itu.


"Auu!." pekik Maura sedikit membungkuk merasakan sakit tiba-tiba dibawah perutnya.


"Kamu baik-baik saja?." Bibi Greta cemas.


Maura mengangguk pelan."Sedikit keseleo." ucapnya meringis seraya memberikan kotak yang berhasil ia raih pada Bibi Greta.


"Maafkan aku."Bibi Greta merasa tidak enak.


"Tidak masalah, Bibi."Maura tersenyum lembut."Sakitnya sudah hilang. Sekarang, apa lagi yang akan kamu lakukan?."


"Aku akan memasukkan buku-buku lama yang sudah tidak dibaca ini kedalam kotak itu agar sedikit lebih rapih."Bibi Greta berjalan menuju meja coklat cukup besar yang ada disudut kamar. Lalu berbalik seraya membawa tumpukan buku-buku dikedua tangannya. Meletakkannya dilantai, lalu menyusunnya satu persatu kedalam kotak besar.


"Dari mana Bibi tau kalau buku-buku ini tidak dipakai lagi? em .... maksudku, mungkin saja buku-buku ini salah satunya berisi berkas berkas perusahaan yang masih penting."


"Sepertinya tidak. Karena Tuan Kevin sendiri yang mengatakan padaku tadi saat menelpon, kalau dia ingin kamarnya dirapikan sebelum kembali." jelas Bibi Greta dengan suaranya yang lembut. Dan buku-buku yang ada diatas meja ini, dia sendiri yang memintaku untuk dipindahkan kedalam boks ini."


"Untuk buku-buku yang masih dipakai ... Tuan biasanya selalu meletakkannya di lemari itu." Bibi Greta menunjuk pada lemari kaca coklat disamping meja.


"Oh begitu."


Bibi Greta tersenyum tipis.


"Tunggu, Bibi." Maura tiba-tiba menghentikan tangan kanan Bibi Greta yang sedang menyusun buku. Membuat Bibi Greta bingung. Tangan kanan Maura mengambil sebuah buku tebal bersampul biru muda disalah satu tumpukan buku lainnya. Rupanya, wanita ini tak sengaja melihat sesuatu diantara helai buku yang sempat terangkat lalu tertutup.


Rupanya itu lembar foto berukuran 5 inc, berisi gambar lawas seorang gadis remaja yang cantik sedang tersenyum menggunakan seragam SMP. Wajah difoto itu masih sangat jelas, hanya saja kecerahan warna yang sedikit memudar.


Sudut bibir Maura tertarik tipis. Ia tak menyangka Kevin masih menyimpan foto dirinya, meski persahabatan sempat terputus belasan tahun lamanya. Tanpa sengaja ia membaliknya, kini ia dibuat tertegun mematung melihat tulisan tangan tinta hitam dibelakang foto itu.


Aku mencintaimu. Selamanya kamu tetap dihatiku


Bibi Greta memperhatikan dengan seksama wajah Maura dan wajah di lembar foto itu bergantian."Gadis difoto ini mirip denganmu. Apa ...."


Suara Bibi Greta menarik kesadaran Maura. Ia menelan ludah."Tidak Bibi, ini bukan aku." ia gegas menyelipkannya kembali kedalam lembar buku tebal bersampul biru itu."Mungkin hanya mirip saja."

__ADS_1


__ADS_2