KIMCHI

KIMCHI
Biarkan Tetap Seperti Ini


__ADS_3

Desi melangkah masuk kedalam kamar Maura. Ia tersenyum melihat menantunya itu sedang duduk bersandar ditempat tidur sambil menatap fokus pada layar laptop. Sementara Nathan sedang asik didepan televisi menonton tayangan kartun kesukaannya.


"Eh, Oma." ucap Nathan melihat kehadiran Desi.


"Iya, sayang." sahut Desi kembali tersenyum pada cucunya itu.


"Ma, ada apa?." Maura menutup laptop sambil membenarkan posisi duduknya."Tumben kemari?."tanyanya seraya meletakkan laptop diatas ranjang.


"Enggak apa-apa, pingin cerita-cerita aja." Desi mendudukkan diri ditepi ranjang menghadap Maura."Bagaimana dengan pekerjaan di kantor hari ini?."


"Semuanya lancar, Ma." Maura tersenyum tipis. Dalam hati ia merasa berdosa karena telah membohongi Desi. Karena sesungguhnya PT. alingga sedang tidak baik-baik saja.


Ya, pagi tadi, terjadi keributan di kantor. Beberapa pelanggan mengeluh dan protes karena seluruh tubuh anak-anak mereka mengalami iritasi akibat memakai pakaian yang diproduksi oleh PT. Alingga. Keluhan itu tak hanya dilayangkan secara langsung, namun juga melalui media. Membuat PT. Alingga di kecam hampir seluruh masyarakat. Diduga bahan pakaian yang digunakan oleh PT. Alingga terbuat dari bahan zat pewarna yang berbahaya.


Sebisa mungkin Maura tak ingin Razdan dan Desi mengetahui masalah perusahaan saat ini. Untuk sementara ia dan Fariz masih berusaha mencari tahu tentang kebenarannya. Bahan yang ia gunakan adalah milik PT. VB Textile. Namun anehnya, saat ini ia tak mendengar sama sekali hal-hal miring pada Bramasta Group. Salah satu perusahaan konveksi milik Virza. Hal itu membuat Maura tak mengerti. Mengapa hanya perusahaannya saja yang mendapatkan protes dan keluhan.


"Syukurlah kalau begitu."balas Desi sambil tersenyum tipis.


Hening.


"Maura ... ada yang Mama ingin tanyakan sama kamu." Desi menatap Maura dengan tatapan serius.


"Iya, Ma? ada apa?." Maura menunggu pertanyaan Desi dengan hati berdebar. Ia mengira sang Mama sudah mengetahui apa yang terjadi dengan PT. Alingga.


"Apa kamu tidak ingin menikah lagi, nak?"


Pertanyaan sang mertua membuat Maura seketika bungkam beberapa saat.


"Kenapa Mama bertanya seperti itu?"tanya Maura akhirnya.


"Tidak apa-apa, Nak." Desi tersenyum tipis. Lalu kembali berbicara."Kamu kan, masih muda ... masa depanmu masih sangat panjang. Tidak baik terlalu lama menutup hatimu untuk menerima kehadiran pria lain."sambungnya dengan hati-hati.


Maura hening, wajahnya berubah sendu.


"Mama dan Papa tidak akan melarangmu, nak."sambung Desi lagi dengan sorot mata penuh ketulusan.


"Mama bicara seperti ini apa itu karena pria yang Nathan ucap kan waktu itu?."


Desi menelan ludah.


"Mama sama Papa salah paham ... pria itu hanya temanku. Tidak lebih." aku Maura menatap Desi sungguh-sungguh."Lagi pula, sampai saat ini aku masih sangat mencintai Mas Damar, Ma."


"Aku sama sekali belum berfikir kesana." sambung Maura lagi.


Desi menarik nafas pelan, dan membuangnya perlahan."Mama tau kamu mencintai anak Mama. Tapi Damar sudah tidak ada nak." ia menyentuh dan menggenggam tangan Maura."Ini sudah tiga tahun berlalu ... jangan biarkan dirimu terus menutup hati."


"Pikirkan masa depanmu." sambung Desi lagi seraya menatap manik hitam Maura lekat-lekat."Kamu perlu seorang pendamping untuk menemanimu dihari tua nanti."

__ADS_1


"Tidak bagus juga terus-menerus sendiri. Kamu paham maksud Mama, kan?." tanya Desi lembut.


Maura terdiam, ia tak tau harus menjawab apa. Meski dirinya menyadari, apa yang dikatakan Desi sebenarnya ada benarnya. Selain menjaga harga dirinya sebagai wanita, ia juga pasti akan memerlukan seorang pendamping yang akan menemaninya dihari tua nanti.


Pemirsa, malam ini kami akan menyampaikan berita tentang tersebarnya sebuah merek pakaian produksi dari perusahaan PT. Alingga. Diduga terbuat dari bahan dan warna pakaian yang berbahaya, saat ini polisi .....


Maura dan Desi seketika menoleh pada layar televisi berukuran 45 inc itu. Rupanya serial kartun itu telah berganti acara. Sang penonton yang sejak tadi menyaksikan, tak ada yang menyadari bahwa ternyata telah tertidur.


"Maura ... apa yang sudah terjadi, nak?." tanya Desi cemas menatap Maura."Apa yang sudah terjadi dengan perusahaan kita?."


Maura tergugu. Netranya memerah menahan bulir bening yang mulai menggenang. Kali ini, ia tak bisa berbohong lagi."Maafin, aku, Ma." ia menatap Desi dengan raut bersalah."Aku gagal."


"Aku tidak bisa menjaga kepercayaan kalian." sambung Maura lagi, kali ini ia menangis tak bisa membendung air mata."PT. Alingga dalam masalah besar."


"Ini semua salahku, Ma." sambung Maura sambil terisak.


Desi langsung memeluk tubuh kurus menantunya itu."Tidak, nak ... Mama tidak menyalahkanmu. Mama hanya terkejut." ia mengusap punggung Maura."Jadi pengusaha, ya memang seperti itu. Kadang berada diatas .... kadang juga tiba-tiba bisa berada dititik terendah."


"Sekarang ...." Desi menjeda kalimat mengurai pelukan seraya menyusut air mata di pipi Maura."Kita sama-sama pikirkan bagaimana caranya untuk tetap bertahan dan bangkit kembali."


"Bagaimana dengan Papa? dia pasti akan marah, Ma?." tatapan Maura cemas.


Desi bergeleng."Papa kamu sudah lama bergelut di bidang konveksi. Dia sudah sudah biasa mengalami hal seperti ini."


"Dia pasti bisa mengerti dan memahami." sambung Desi lagi.


"Aku akan berusaha membersihkan nama PT. Alingga lagi, Ma. Perusahaan itu satu-satunya milik almarhum Mas Damar. Aku ingin perusahaan itu tetap berdiri, sampai kapan pun."


__________________


Bramasta Group.


"Atur pertemuan dengan PT. Alingga." ucap Virza pada Kevin diujung telepon."Secepatnya."ucapnya lagi, sebelum panggilan di putus.


Tapi tak lama, dering telepon kembali berbunyi.


"Apa lagi?."sahut Virza cepat. Tapi kali ini, suara yang menjawab bukanlah Kevin melainkan sang petugas resepsionis.


"Suruh masuk." ucap Virza kemudian usai mendengar penjelasan dari sang petugas resepsionis tersebut.


Tak lama, seorang wanita masuk ke dalam ruangan dimana Virza berada. Wanita itu adalah Maura. Wajah wanita itu terlihat dingin.


"Silahkan duduk." ujar Virza kemudian.


"Tidak perlu." Maura meletakkan map berwarna hitam didepan Virza."Saya rasa bapak sudah tau maksud kedatangan saya kemari. Saya datang hanya untuk mengantarkan ini, Pak."


Virza membuka map hitam tersebut.

__ADS_1


"Itu adalah berkas pembatalan kontrak kerja sama kami dengan PT. VB Textile."jelas Maura lagi.


"Maura ... saya minta maaf."Virza menutup map itu kembali."Saat ini kami sedang berusaha mencari tau masalah yang sedang menimpah perusahaan kamu."


"Saya permisi, Pak." Maura seakan tak perduli dengan penjelas Virza, ia memilih untuk keluar dari ruangan itu.


"Maura ... tolong dengarkan aku!." seru Virza mengejar Maura. Namun wanita itu dengan langkah cepat berjalan masuk kedalam lift yang kosong. Beruntung Virza berhasil menahan, dan langsung ikut masuk kedalam.


"Mas ... kamu mau ngapain?."


"Aku mau kamu mendengarkan penjelasanku."


"Penjelasan apalagi, Mas?." Maura menatap Virza kecewa."Perusahaanmu kamu sudah membuat PT. Alingga hancur. Nama baiknya tercoreng."


"Itu adalah satu-satunya perusahaan yang sedang aku perjuangkan. Perusahaan satu-satunya milik almarhum Mas Damar."sambung Maura dengan netra berkaca-kaca."Aku enggak nyangka Mas ... ternyata kamu licik."


"Aku fikir bekerja sama dengan perusahaanmu adalah cara yang benar untuk membantu perusahaanku. Ternyata aku salah, Mas." tatapan Maura begitu kecewa.


Virza mengusap wajahnya kasar.


"Tolong dengarkan aku dulu. Aku juga tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi." ucap Virza kemudian seraya memegang kedua bahu Maura, dan menatap wanita itu dalam-dalam."Aku dan Kevin saat ini sudah mengkonfirmasi dengan perusahaanku yang ada di Jerman. Dan saat ini mereka sedang mencari tahu kebenarannya."


Maura menepis tangan Virza yang ada di bahunya."Apa pun alasan kamu ... aku tidak akan melanjutkan kontrak kerja sama itu kembali, Mas."


Braaak!!!!


Tiba-tiba lift terhempas dan berhenti. Membuat Maura dan Virza terkejut.


"Apa yang terjadi, Mas? kenapa bisa begini?." Maura ketakutan.


"Kamu jangan panik." Virza mencoba menenangkan Maura."Sebentar." ucapnya, lalu gegas mengambil ponsel berniat untuk menghubungi petugas lift. Namun dirinya harus bernafas kecewa karena ponselnya mendadak tak ada jaringan.


"Kenapa, Mas?." tanya Maura cemas.


"Tidak ada sinyal." Virza bergeleng lemah.


"Lalu kita harus gimana? aku takut, Mas. Gimana kalau kita kehabisan nafas. Aku nggak mau mati konyol disini."ucap Maura hampir menangis.


Virza perlahan menarik tubuh Maura kedalam pelukan. Berusaha menepikan ketakutan yang sedang menguasai pikiran wanita itu."Kamu harus tetap tenang. Saat ini pasti ada petugas yang berjaga mengontrol lift. Jika ada kerusakan ... mereka pasti akan segera memperbaikinya."


"Berdoalah, semoga tidak lama." ucap Virza lembut, seraya mengusap punggung wanita itu. Detik itu, Maura langsung mundur mengurai pelukan. Rupanya rasa takut telah membuatnya tak sadar telah berada didalam pelukan pria itu.


Braaak!!!


Lift kembali terhempas, membuat Maura terkejut dan dengan gerakan tanpa disengaja langsung memeluk tubuh Virza kembali. Beberapa detik ia kembali memundurkan tubuh, tapi Virza menahannya.


"Biarkan tetap seperti ini." pinta Virza pelan membalas pelukan Maura.

__ADS_1


__ADS_2