
Lift kembali terhempas, membuat Maura terkejut dan dengan gerakan tanpa disengaja langsung memeluk tubuh Virza kembali. Beberapa detik ia kembali memundurkan tubuh, tapi Virza menahannya.
"Biarkan tetap seperti ini." pinta Virza pelan membalas pelukan Maura.
Maura hening. Ia tak lagi menjauh. Kedua tangannya memeluk Virza dengan erat.
Hingga beberapa saat berlalu, keduanya masih pada posisi yang sama. Virza kemudian mengurai pelukan. Ia menatap wajah Maura. Dilihatnya dahi wanita itu telah dilumuri pelu. Perlahan tangannya terangkat, untuk menghapus. Namun tanpa sengaja Virza menurunkan pandangan, seketika tatapannya bersirobok dengan bola mata Maura yang menatapnya sendu. Tapi itu tak lama, karena Maura tiba-tiba menurunkan pandangan. Seakan tak ingin wajah cantik itu berpaling. Dengan cepat ia mengangkat wajah Maura kembali.
Bak dituntun rasa rindu yang menggunung, tanpa sadar Virza semakin merapatkan wajahnya. Sedetik, dua detik, ujung hidung keduanya saling bersentuhan. Wanita itu memejamkan mata, namun entah apa yang terjadi tiba-tiba tubuh Maura terkulai lemas. Virza yang terkejut, dengan cepat menahan tubuh mungil itu agar tak terjatuh. Rupanya udara didalam lift yang terbatas, membuat Maura kekurangan nafas hingga tak sadarkan diri.
"Maura." Virza sangat cemas. Ia kemudian menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu."Maura, tolong sadarlah! Kamu harus bertahan."
Ting!!
Saat itu, tiba-tiba pintu lift terbuka. Virza bisa sedikit bernafas lega. Gegas ia menggendong tubuh mungil Maura, dan membawanya keluar dari dalam sana. Tak perduli dengan beberapa karyawan yang tengah berdiri memperhatikan.
Sementara seseorang disudut lain yang melihat adegan itu, hanya berdiri dengan perasaan hancur dan terluka.
__________________
Maura membuka mata. Ia merasakan kepalanya pusing seperti berputar. Pandangannya sedikit kabur, namun perlahan ia bisa melihat dengan jelas. Saat ini ia bisa melihat Virza sedang duduk di samping ranjang, menungguinya.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Virza tersenyum tipis.
"Aku dimana, Mas?." Maura memandang ruangan berdinding putih disekelilingnya.
"Kamu dirumah sakit. Tadi kamu pingsan."
Maura hening. Ia mengingat kembali kejadian yang membuatnya sampai berada ditempat ini.
"Maaf aku sudah merepotkan mu."ucap Maura merasa tidak enak.
"Tidak masalah." sahut Virza santai.
Hening.
"Kalau begitu aku keluar sebentar, ya ... aku akan membelikan makanan untukmu." Virza berdiri.
"Enggak perlu, Mas." Maura menarik lengan Virza. Tapi kemudian langsung melepaskannya."Aku enggak lapar."
__ADS_1
"Kamu harus makan biar sehat dan bisa segera pulang. Nathan pasti saat ini sedang menunggumu."Virza menatapnya lembut. Mengusap pelan puncak kepala Maura. Lalu kemudian langsung melangkah keluar.
Beberapa waktu berlalu, Virza akhirnya kembali dengan dua buah kantong plastik ditangannya, berisi beberapa makanan yang baru saja ia beli. Ia masuk kedalam ruangan dimana Maura dirawat. Namun saat berada didalam, ia tak mendapati keberadaan Maura. Ranjang rumah sakit itu telah rapi.
"Maura!." ia berjalan menuju kamar mandi, berfikir Maura sedang berada didalam sana, namun kamar mandi itu pun, terlihat kosong.
Saat itu, seorang perawat masuk kedalam ruangan tersebut sambil membawa selimut tebal. Virza pun, langsung menghampiri.
"Suster dimana pasien yang berada di ruangan ini? kenapa saya tidak melihatnya?."
"Maaf, Pak ... pasien atas nama Buk Maura baru saja pulang." ujar perawat tersebut dengan ramah.
Virza hening sesaat. Ia merasa heran mengapa Maura pergi tanpa menunggunya.
"Terima kasih, Suster."ucapnya kemudian, seraya memberikan dua bungkus plastik berisi makanan pada perawat rumah sakit tersebut."Tolong berikan pada pasien yang lain."
__________________
"Maura ... apa yang terjadi, nak? kenapa wajahmu pucat sekali?." Desi menghampiri Maura yang baru saja kembali."Kamu sakit?."
"Cuma lelah, Ma." ucap Maura pelan."Aku nggak apa-apa, kok."
"Aku ke kamar dulu, ya, Ma."sambung Maura lagi sambil berjalan hendak menaiki tangga.
"Enggak makan dulu, nak?."tawar Desi kemudian membuat langkah Maura kembali berhenti.
"Nanti saja, Ma ... aku belum lapar."
Desi menghela nafas berat. Ia merasa khawatir dengan Maura. Ia berfikir menantunya itu sedang lelah dengan permasalah perusahaan yang saat ini dihadapi.
Didalam kamar, Maura langsung meletakkan tasnya diatas nakas. Kemudian mendudukkan diri, dan bersandar pada dinding ranjang. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam, dan membuangnya perlahan.
"Mungkin ini yang terbaik." lirihnya pelan, mengingat percakapannya dengan Evelyn beberapa saat lalu, sebelum ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan meninggalkan Virza tanpa pamit.
"Evelyn? kamu disini?." Maura sedikit terkejut melihat kemunculan Evelyn kala itu, usai Virza keluar membelikan makanan untuknya.
"Bagaimana keadaanmu?." tanya Evelyn, kali ini tidak ada tatapan kebencian seperti saat ia menampar Maura beberapa Minggu lalu.
"Aku baik." ucap Maura dengan senyum tipis dibibir pucatnya, Kemudian memposisikan diri duduk bersandar pada dinding ranjang rumah sakit."Duduk lah."ucapnya pada Evelyn yang sedang berdiri.
__ADS_1
"Terima kasih."Evelyn menarik pelan kursi, lalu mendudukkan diri "Sebenarnya kedatanganku kemari ... aku ingin meminta maaf padamu." ia menelan ludah."Aku sudah keterlaluan karena menamparmu waktu itu, Maura. Maafkan aku, ya."
"Aku seperti itu karena aku sangat mencintai Virza. Aku tidak ingin kehilangan dia, Maura." sambung Evelyn lagi.
Maura hening saat, tapi kemudian bersuara."Aku mengerti perasaanmu waktu itu. Seharusnya aku lah, yang meminta maaf. Aku sadar ... aku lah, yang salah."
Ia menelan ludah kelu."Kamu tenang saja. Aku dan Mas Virza sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami hanya berteman."Maura menatap mata Evelyn lekat-lekat.
"Dia milikmu." sambungnya lagi, namun entah mengapa hatinya terasa sakit.
"Syukurlah ... aku lega mendengarnya."Evelyn tersenyum.
"Sebenarnya hubungan kami atas dasar perjodohan. Mamanya Virza yang meminta." sambung Evelyn kembali menjelaskan."Belakangan ini Tante Inggrid kesehatannya menurun."
"Dia ingin Virza menikah denganku dan segera memberikannya cucu." Evelyn tersenyum membayangkan hari-hari bahagia itu tiba."Sebentar lagi kami akan bertunangan dan setelah itu menikah."
"Maura ... aku minta tolong sama kamu." Evelyn menatap Maura penuh harap."Tolong jangan pernah muncul lagi didepan Virza, ya. Jauhi dia."
Maura kembali menelan ludah. Tapi kemudian dia mengangguk.
"Permisi."
"Non!."
Suara Bik Imah dari luar membuat Maura tersadar.
"Iya, Bik Imah ... masuk." sahut Maura kemudian.
"Non ... dibawah ada tamu yang nyariin." ucap Bik Imah memberi tahu.
"Siapa?." Maura mengernyit.
"Enggak tau, Non. Cuma laki-laki, mukanya ganteng, non."ucap Bik Imah cengengesan.
Maura berjalanan menuruni tangga. Sejenak ia berhenti, mengintip dari balik dinding untuk memastikan siapa gerangan pria yang berani datang menemuinya malam-malam begini.
Tampak Desi sesekali tertawa dengan pria itu. Sementara disisi wanita paruh baya itu ada sang cucu yang turut duduk menemaninya.
"Maura ... kenapa malah berdiri disitu?"
__ADS_1
"Sini!." Desi melambaikan tangannya pada Maura.