KIMCHI

KIMCHI
Camping III


__ADS_3

..."Kamu bisa menutup matamu dari hal-hal yang tak ingin kamu lihat. Tapi kamu tidak bisa menutup hatimu dari hal-hal yang tak ingin kamu rasakan."...


Bunga-bunga Tulip bermekaran, dihiasi warna-warni kupu yang menari mengelilingi. Tetes hujan yang beberapa saat lalu turun menjadi air minum kesegaran baginya. Lahan dengan luas 1500 hektar itu, hampir separuhnya ditanami rentetan bunga tulip yang terlihat indah dengan berbagai warna. Selalu berhasil memanjakan mata bagi siapapun yang melihat.


Rencananya, di dekat perkebunan itu, akan segera dibangun resort oleh sang pemilik lahan. Demi untuk menunjang peminat para wisatawan yang berkunjung.


"Sampai bertemu besok, Pak." Damar bersalaman dengan Pak Wijaya, begitu juga Aira.


Keduanya kemudian berjalan menuju mobil yang terparkir didepan pintu masuk perkebunan.


"Mau langsung ke hotel?." tanya Aira ketika sudah masuk kedalam mobil.


"Iya. Rasanya lelah sekali." Damar menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Kemudian duduk dengan benar memegang kemudi."Apa ada agenda lain hari ini?."


"Sebentar." Aira mengambil dan membuka buku kecil dari dalam tasnya."Bertemu supplier pisang ambon untuk restoran sudah ... makan siang bersama Pak Wijaya, sudah .... survey lapangan juga sudah."


"Tidak ada."Aira tersenyum."Dan itu artinya Tuan Damar yang terhormat bisa istirahat dengan puuuas siang ini."


Damar berdesis konyol, seraya menyalakan mesin mobil.


Tak butuh waktu lama, keduanya telah sampai dilobi hotel, dan berjalan menuju meja resepsionis. Usai mengkonfirmasi bukti pemesanan kamar hotel melalui e-mail, dua Cardlock langsung diberikan oleh si petugas resepsionis, pada Aira.


Keduanya masuk kedalam lift, dengan seorang bellboy yang membawa koper dan mengantarkan mereka sampai didepan pintu kamar hotel.


"Ini kamarnya, Pak ... Bu." pria tersebut menadah satu tangan pada pintu kamar hotel yang berada bersebelahan dengan nomor yang tertulis didepannya, 201, 202."Beritahu kami kalau butuh sesuatu yang lainnya."


"Terima kasih."


"Terima kasih."


Damar dan Aira menjawab bersamaan.


"Kalau begitu, saya permisi."ucap pria itu undur diri.


"Eh, lihat deh ... karyawan restoran mu, ternyata mereka camping di daerah sini." Aira menunjukkan sebuh video. Dengan malas Damar melihat.


Hai, guys ... kita mau pergi camping ke Ranca Upas, nih. Tapi mampir dulu di kebun orang. Lumayan, makan stroberi gratis hahaha. Tampak dalam Video itu Anya yang sedang merekam tertawa, dengan Aina dan Riri dibelakang yang sedang sibuk memetik buah stroberi. Sementara cukup jauh dibelakang para wanita itu, seorang wanita lain memakai jaket kulit berwarna abu muda tampak berpose centil dengan seorang pria tampan yang menjadi sang fotografer.


Usai memperhatikan dengan intens, Damar sontak melebarkan mata. Dan, yaaa ... itu Maura. Dan pria itu adalah Deva. Rahangnya seketika mengetat beradu.


"Sepertinya seru sekali." ucap Aira kemudian sambil terus melihat video itu.


"Berikan Cardlock ku."


Aira mengangkat wajah.

__ADS_1


"Ini."ucapnya memberikan pada Damar.


Damar langsung mengambil dan gegas membuka kamar yang bertuliskan 201. Meninggalkan Aira yang masih berdiri tertegun didepan pintu.


Didalam, ia langsung berjalan menuju kulkas kecil yang memang tersedia didalam kamar hotel tersebut. Menyambar sebotol air mineral dan meneguknya separuh, kemudian mendudukkan diri. Seolah ingin meredakan emosi yang kembali mencuat kepermukaan usai teringat kembali suara Bik Imah yang mengatakan bahwa Maura kabur melalui balkon kamar pagi tadi, ketika dirinya sudah dalam perjalanan mengemudi ke Bandung. Dan apa tadi? video itu ... sungguh-sungguh membakar dada.


"Cih!! apa itu yang dia inginkan? Pergi camping supaya bisa terus berduaan dengan pria itu?."gerutunya pelan sambil meremas botol air mineral hingga peot. Membuat sisa air didalamnya mencuat kepermukaan, membasahi celananya.


"Sial!!." umpatnya pelan sambil membersihkan tumpahan air. Gegas berdiri dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa saat berlalu. Usai membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian santai, Damar langsung naik keatas ranjang kamar hotel untuk segera mengubur rasa lelah yang sejak tadi tertahan. Tapi sudah hampir satu jam lamanya dengan mata yang sengaja di pejam, bergerak ke kanan ke kiri mengambil posisi tidur ternyaman, namun lelah dan kantuk itu seperti menguap tanpa jejak. Netranya hanya nyalang menatap langit-langit kamar hotel. Video singkat yang ia lihat beberapa saat lalu seolah terus berputar memenuhi kepala.


Akhirnya sebuah rasa yang sejak tadi mengungkung menuntunnya untuk bangkit mengambil sebuah jaket dari dalam koper. Berjalan menuju nakas, memunguti ponsel, kunci mobil, serta dompet yang tadi sempat ia letakkan diatas sana. Kemudian berjalan keluar.


Ternyata saat itu Aira juga keluar.


"Damar, kamu mau kemana? Bukannya tadi kamu bilang mau istirahat."Aira memperhatikan penampilan santai Damar yang dilapisi jaket kaos berwarna biru tua.


"Habis mandi ngantuk ku tiba-tiba hilang. Bingung mau ngapain. Jalan-jalan sepertinya enak. Kamu mau ngapain?."


"Mau pinjam charger kamu ... sepertinya punyaku tertinggal di mobil."


"Oh, ada didalam." Damar memberikan Cardlock-nya pada Aira."Ambil saja."


"Kayaknya enggak jadi, deh. Aku mau ikut jalan-jalan sama kamu. Boleh, ya?.' ucap Aira kemudian, dengan tatapan penuh harap.


"Sebentar, aku ambil tas dulu."


Berniat jalan-jalan demi untuk membuang pikiran yang tak sejalan dengan hati. Setelah hampir dua puluh menit memacu mobil, namun Damar sepertinya tak menemukan tempat yang dirasa tepat.


"Kemana, nih?."


Mendengar itu Aira dibuat tertawa lucu."Kan tadi kamu yang pingin jalan-jalan. Aku sih ngikut aja."


Damar merasa konyol, sambil terus mengemudi mengikuti jalan lurus berharap akan menemukan tempat sesuai untuk membuang riuh dikepalanya. Hingga tak terasa, mobil yang ia kemudi telah sampai disebuah perkampungan dengan jalan cukup kecil, yang hanya bisa dilewati oleh satu buah mobil saja. Dan pepohonan hijau yang berdiri disepanjang jalan.


Aira tertegun sesaat, menyaksikan jalanan tak asing dengan sebuah tulisan besar didepan pintu masuk sebuah tempat wisata.


"Nyasar kesini?." Aira tersenyum kecut.


"Ikut ngumpul mungkin seru." Damar menepikan mobil diantara deretan mobil lain yang terparkir.


Meski berusaha keras menahan diri agar tidak pergi, namun hati seolah terus menuntun agar datang saja. Hingga ketika menyadari kemana arah mobil membawa, ia akhirnya menepi. Sadar meski akan ada banyak tingkah menyebalkan gadis itu yang tentu akan membuat gaduh kepalanya.


Seraya turun dari dalam mobil, Damar meraih ponsel dari dalam saku. Membuka layar dan memilih satu nama di daftar kontak. Lokasi disini cukup luas. Ia tak ingin lelah berjalan mencari-cari posisi yang tak jelas.

__ADS_1


Memanggil Bocah alay ...


Satu kali tidak diangkat, namun tidak untuk panggilan ke dua yang justru malah di tolak.


"Kok di reject, sih?." decak Damar kesal."Keenakan pacaran kali nih, anak!." gerutunya pelan. Dan itu bisa didengar oleh Aira yang baru saja menyusul turun, dan berjalan ke arahnya.


"Hallo, Ndre ... kalian booking di area mana? Saya sekarang didepan pintu masuk." akhirnya dirinya memilih untuk menghubungi Andre.


Hah? Bapak disini? suara Andere seperti terkejut.


Siapa?


Bapak mu?


Pak Damar ...


Damar mendengar suara saling berbisik diseberang ponsel. Kalau tidak salah itu adalah suara Vino dan Donny."Buruan!."


Di dekat danau, Pak. Cuma ada tiga tenda disini ... dan itu punya kami. Bapak datang saja.


____________


Maura memasukkan satu persatu camilan kentang goreng dengan gerakan cepat kedalam mulutnya. Yang dalam hitungan menit telah tuntas ditelan. Di kantong plastik masih ada aneka macam jajanan lainnya yang menanti giliran untuk dimakan. Ia memilih duduk pada sebuah kursi panjang didalam sebuah kedai kecil yang tersedia didepan pintu masuk tempat wisata. Di sekelilingnya, ada sepasang muda-mudi yang juga duduk sambil menikmati jajanan seperti dirinya.


"Bu, air mineral dingin satu!."


Tak lama, seorang wanita memasuki usia senja datang meletakkan satu botol air mineral dingin diatas meja panjang yang ada didepannya."Ini neng, minumnya. Segera diminum ... biar lebih adem."wanita itu tersenyum penuh arti."Kalau masih kurang, jajanannya juga masih banyak."


Maura nyengir."Makasih, ya, Bu." tangannya langsung meraih dan meneguk minuman itu hingga habis separuh. Dan sesaat kemudian bergerak memilih kacang atom hendak dimakan selanjutnya. Lima butir langsung masuk hingga menciptakan riuh didalam mulut, ketika itu ponsel di saku jaketnya berdering.


Dengan malas ia meraih untuk melihat. Seketika netranya melebar, dengan sudut atas bibir ditarik keatas membaca dalam hati nama, JENGKEL MAN yang tertera dilayar ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Damar Alga Zachni. Pria yang menurutnya menjengkelkan dan selau membuat naik darah.


"Males banget. Paling juga mau marah-marah."gerutunya pelan seraya mengabaikan ponsel diatas meja. Dan selanjutnya ia dibuat berdecak melihat kembali nyala layar dengan nama yang sama. Kali ini merasa berisik sontak menekan icon panggilan berwarna merah seraya mencebikkan bibir didepan layar benda pipih itu.


Hampir setengah jam berlalu, luapan emosi seakan reda usai menelan bermacam-macam camilan serta dua botol air mineral. Maura akhirnya memutuskan untuk kembali ke tenda.


"Sudah plong, neng?." Ibu penjaga kedai tersenyum. Pasalnya ketika Maura datang tadi, ia melihat gadis itu masuk dengan wajah tertekuk. Langsung membeli jajanan penuh dalam satu kantong plastik. Hal itu mengingatkannya pada masa muda setiap kali dilanda percekcokan hati. Memilih untuk makan sebanyak mungkin dari pada marah-marah tak berarti.


Maura kembali nyengir. Tak mengerti dengan maksud pertanyaan itu."Air mineral 2 tadi berapa, Bu?."


"10 ribu, neng."


Maura mengambil dua lebar uang sepuluh ribu rupiah yang tergulung didalam saku celana, sisa kembalian dari jajanan yang ia beli sebelumnya. Kemudian memberikan satu lembar pada penjual tersebut.


"Terima kasih, ya, Bu. Permisi." Maura tersenyum ramah, kemudian berjalan keluar.

__ADS_1


Hampir 15 menit berjalan, Maura berhenti. Ia sedikit bingung. Tak seperti saat pergi tadi, kali ini ia merasa jalan menuju tenda terasa sangat lama. Bahkan ia merasa berputar-putar ditempat yang sama.


"Kok nggak nyampe-nyampe, sih? Perasaan tadi lewat sini."


__ADS_2