KIMCHI

KIMCHI
Butik Pengantin


__ADS_3

......"Jangan lagi menyalahkan ku. Kau tidak pernah tau seberapa keras aku berusaha lepas dari trauma yang membelengguku."......


"Proses pembangunan proyek sudah empat puluh persen, Pak. Tapi setelah sejauh ini, ternyata di satu titik ada perbedaan kondisi lapangan dengan gambar rancangan yang telah bapak buat, Pak. Sepertinya kita perlu merubah desain di bagian yang ini." kata salah seorang karyawan menunjuk pada gambar desain proyek awal yang bermasalah.


"Kamu benar. Seperti saya harus membicarakan hal ini dengan Pak Gilang."


Aira menghela nafas pelan."Hal ini sudah kuduga. Aku sudah membuat desain untuk itu, Damar. Coba lihat ini. Apa menurut mu ini bagus?."ucapnya menyodorkan layar laptop miliknya pada Damar.


"Benar, kah?." Damar melihat dan meneliti hasil desain milik Aira. Rapih dan menurutnya sesuai dengan kondisi lapangan yang saat ini menjadi permasalahan."Ini bagus, Aira. Kamu memang bisa diandalkan."


Aira tersenyum.


"Kalau begitu, segera atur pertemuan dengan Pak Gilang. Kita harus membicarakan tentang perubahan desain ini." ucap Damar pada Aira.


"Baik. Aku akan menghubunginya."


"Untuk logistik, apa ada masalah?." tanya Damar memastikan.


"Tidak ada."sahut Aira sekenanya.


"Oke, kalau begitu saya tutup rapat hari ini." Damar berdiri, ketika itu ponselnya bergetar. Ia gegas menjawab saat melihat wajah Amelia dilayar ponsel.


"Iya, Ma. Ada apa?." tanyanya sambil berjalan keluar dari ruang rapat.


Hallo, nak. Kamu tidak lagi sibuk, kan?


Terdengar suara lembut Amelia dari balik ponsel yang menempel disisi telinga Damar.


"Tidak, Ma. Tadi sih, ada rapat. Tapi sudah selesai." aku Damar sekenanya.


Kalau begitu, Mama minta kamu sekarang datang ke butik pengantin, ya. Ajak Maura juga. Kalian harus segera fitting baju. Karena tanggal pernikahan tinggal beberapa hari lagi.


Pinta Amelia, membuat Damar menghela nafas jengah mendengarnya.


"Apa aku harus kesana juga, Ma? Apa tidak bisa Mama saja yang urus semuanya?." tanya Damar dengan nada yang kesal."Lagi pula sudah ku katakan. Aku tidak mau ada resepsi. Kenapa harus ada fitting baju, sih, Ma?."

__ADS_1


Tidak ada resepsi, tapi kan akad nikah juga butuh baju pengantin, sayang. Tidak lama ... paling cuma satu jam. Mama tau sebentar lagi jam istirahat. Jadi ini juga tidak akan menggangu pekerjaanmu.


Damar hening. Rasa kesal membuatnya tak berniat menjawab.


Damar ...


Lagi-lagi terdengar suara sang Mama memanggilnya lembut.


"Oke, baiklah, Ma. Aku kesana sekarang."dengan terpaksa akhirnya Damar menjawab.


Ya sudah, Mama tunggu disana. Mama akan kirim alamatnya.


Damar ingin segera mengakhiri panggilan, tapi kembali suara Amelia terdengar.


Ingat, sayang ... jangan lupa bawa Maura juga.


Damar memijat pelipisnya. Rasanya lelah, juga pusing memikirkan pernikahan yang sama sekali tak pernah ia harapkan. Saat itu, Aira keluar dan memperhatikan.


"Kenapa?."


"Ke butik pengantin?." tebak Aira tak suka.


"Dari mana kamu tau?."


Aira menghela nafas berat."Pergi lah. Sebelum pukul 3 sore kembali. Kita akan menemui Pak Gilang."ucapnya lalu pergi, meninggalkan Damar yang berdiri dengan tatapan tak mengerti.


****


Nara House dipadati oleh pengunjung. Ini karena memang sudah waktunya orang-orang menyantap makan siang untuk mengisi perut yang kosong. Didapur, ada Maura yang tengah sedikit kerepotan membantu Deva tengah menyiapkan pesanan. Beberapa karyawan lain juga tampak tak kelah sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Ketika sedang serius membantu Deva menyiapkan tugas perbumbuan, seperti tadi pagi lagi-lagi ia dibuat terkejut dengan suara tebal Damar yang tiba-tiba memanggilnya. Tapi kali ini, pria itu tak menarik tangannya.


"Maura!!."


Maura yang tengah berdiri berjingkat karena terkejut. Ia mencari pada sumber suara, ternyata Damar tengah berdiri melihat kearahnya melalui meja bar restoran yang menjadi batas antara dapur dan ruang makan pengunjung.

__ADS_1


Astaga, ngapain lagi sih, dia? tidak pagi, tidak siang, selalu saja mengejutkanku. batin Maura mengumpat geram menghentikan tangannya yang sedang mengiris bumbu.


"Maaf, chef. Saya kesana dulu." ucap Maura pada Deva. Pria itu mengangguk.


"Ikut denganku! Mamaku meminta kita untuk fitting baju pengantin."ucap Damar tanpa basa-basi.


"Ya sudah. Aku ganti baju dulu."


"Cepat, jangan lama-lama. Aku tidak punya banyak waktu!." ucap Damar dengan nada yang ketus.


Maura berdengus kasar."Iya!." ucapnya langsung berjalan menuju ruang locker untuk mengganti seragam kerjanya. Tak lama, ia keluar sudah memakai pakaian casual yang ia kenakan ketika pergi ke Nara House pagi tadi. Ia menghampiri Damar yang sudah menunggu didalam mobil.


"Lama banget, sih cuma ganti baju doang." kata Damar masih dengan nada suara yang kesal ketika Maura masuk kedalam mobilnya.


Meski geram, Maura sama sekali tidak berniat menjawab. Energinya hanya akan habis terbuang percuma. Rasa lapar karena belum makan siang, ia takut akan menelan kakak iparnya itu hidup-hidup.


Sepanjang jalan, keduanya hanya diam membisu. Damar fokus melihat jalan, sementara Maura memalingkan wajah kesamping jendela, melihat pada kendaraan yang melintas. Namun tak lama, mobil melintasi jalanan yang lengang. Saat itu, Damar menambah kecepatan mobilnya.


Maura yang menyadari, tiba-tiba tubuhnya mamaku. Wajahnya memucat, dengan kedua tangannya memegang seat belt kuat-kuat. Disaat yang sama, sebuah mobil melaju kencang dengan arah yang berlawanan.


Aaaaaaa!!!


Jerit Maura membuat Damar terkejut dan langsung menoleh pada gadis yang saat ini menutup mata dengan kedua tangannya. Ia hendak marah, karena tindakan Maura bisa saja membuat mereka celaka. Namun tertahan ketika melihat ketakutan yang teramat sangat serta keringat dingin yang mengucur di pelipis gadis itu. Ia perlahan menepikan mobil.


"Kamu kenapa?."tanya Damar kemudian.


Maura menelan ludah, dengan gerak dada tak beraturan. Matanya memerah teringat kembali kecelakaan yang dialami beberapa waktu lalu."Tidak apa-apa, Mas."


Damar hening, sesaat memperhatikan. Lalu kembali memacu mobil dengan perlahan. Ia sengaja mengurangi kecepatan. Keduanya kembali membisu, hingga akhirnya Damar memarkirkan mobilnya didepan sebuah toko yang didepannya tertulis Butik Pengantin.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar dan votenya🙏


__ADS_2