KIMCHI

KIMCHI
Pikiranmu Sepertinya Sedang Tidak Fokus


__ADS_3

..."Jika kau membenciku, apakah kau juga harus ku benci? Mungkin kau tak tau sayang ini bukan seperti asap yang terbang ke awan lalu hilang, dari terbakarnya hati kering yang kau percikan api."...


^^^_puisitentangcinta^^^


"Maaf, non. Tapi Tuan bilang harus diantar sama saya." ucap Pak Rudi ketika Maura menolak diantar olehnya. Sudah seminggu ini, rupanya kekesalannya pada Damar masih belum reda sejak malam peresmian hotel itu. Seperti tak mendengarkan Pak Rudi, gadis itu berjalan saja menuju gerbang.


"Waduh, gawat ini. Bisa-bisa saya di semprot sama Tuan." Pak Rudi bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pasalnya Damar sudah mengingatkannya agar kejadian kemarin tidak terulang lagi. Hal itu adalah ketika Damar mengetahui semalam Maura diantar pulang oleh Deva. Pak Rudi bimbang antara mengejar gadis itu atau langsung memberitahukan Damar. Dan pada akhirnya ia harus menelepon Damar ketika melihat Maura sudah masuk kedalam sebuah taksi.


"Aduh, non ... kenapa keras kepala sekali, sih." ucap Pak Rudi dengan tangan bergetar ketakutan menempelkan ponsel disisi telinga. Tamat sudah, mungkin hari ini akan dipecat. Pikirnya mengingat betapa marahnya Damar semalam. Dan keringat dingin mengucur ketika suara tebal menyahuti dari seberang ponsel.


"M-maaf, Tuan. Non Maura menolak lagi saya antar."kata Pak Rudi sedikit terbata. Tapi ternyata tak seperti dugaannya. Meski tidak ada marah-marah seperti kemarin, hanya saja Pak Rudi merasakan hawa dingin dari suara tebal itu.


_______________


Nara House,


Aina menutup telepon, kemudian berjalan menuju sebuah ruangan dengan interior modern. Didalamnya, sebuah meja besar dengan dua sofa panjang berbahan kayu yang disusun saling berhadapan. Terlihat sederhana, namun nuansa minimalis menciptakan suasana menenangkan disana.


Sementara pada dindingnya terdapat hiasan dan juga lampu hias yang terpasang kokoh. Ruangan itu, merupakan sebuah ruangan yang kerap dijadikan tempat pertemuan beberapa pengusaha penting. Aina merapikan dan membersihkan, memastikan tidak ada debu yang menempel sedikitpun disana. Setelah itu, kembali keluar dan menutup pintu ruangan.


"Dari mana, beib?." tanya Maura dari meja bar ketika melihat Aina lewat.


"Dari ruang pertemuan. Mbak Aira tadi meneleponku, katanya mau ada rapat. Oh, iya ... tadi juga Mbak Aira pesan ini. Minta dibuatkan kalau tamunya sudah datang." Aina memberikan catatan menu yang ia catat tadi.


Maura melihatnya, ketika itu Ivan si pria sedikit melambai yang bertugas di bagian kasir datang menghampiri mereka."Hei, besok kan liburan, tadi aku sudah diskusi sama yang lainnya. Tapi mereka belum menemukan tempat yang bagus. Kalian ada saran tidak? Dimana, gitu?." tanyanya dengan gaya bicaranya yang centil.


"Ya ampun, terlalu sibuk kerja aku sampai lupa kalau besok jadwalnya kita liburan." Aina tersenyum ceria.

__ADS_1


Besok memang adalah libur khusus yang diberikan Damar pada para karyawannya setiap satu tahun sekali di setiap tanggal 31 Januari. Itu adalah tanggal Nara House diresmikan. Biasanya para karyawan di Nara House akan memanfaatkan itu untuk berlibur. Pergi ke pantai, atau touring menjelajahi tempat indah beramai-ramai.


"Kemana, ya?." Aina berpikir sesaat, tapi dirinya sendiri bingung. Ia lalu melihat Maura."Ra, menurutmu kemana yang bagus.?."


"Emm, bagaimana kalau kemping? Di daerah Bandung sepertinya oke." ujar Maura memberi pendapat. Saat itu beberapa karyawan yang lain datang ikut bergabung. Termasuk Deva dan Andre. Suasana restoran saat ini memang lagi sepi, karena memang belum waktunya jam makan siang.


"Yups, aku setuju. Pasang tenda sama api unggun sepertinya seru. Belum pernah kan, kita begitu." ujar Anya antusias.


"Oke, semua setuju, kan?!." kata Ivan memastikan.


"Oke, aku setuju!." seru semuanya bersamaan dengan wajah ceria. Namun tidak dengan Maura yang hanya diam dan tersenyum tipis.


"Ra, kamu ikut, kan?." tanya Aina memegang siku Maura.


"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut dengan kalian."ujar Maura dengan wajah sedih.


Aina sedikit kecewa, begitu pun yang lainnya. Termasuk Deva yang jelas sekali terpancar ekspresi kekecewaan diwajahnya. Tapi beberapa dari mereka akhirnya memahami mengingat status Maura saat ini yang sudah menjadi ibu sambung. Ditengah musyawarah yang hampir selesai, sebuah mobil sedan hitam yang mereka kenali berhenti dipelataran.


Suara sepatu dengan tegas menapaki lantai dari wanita cantik yang berjalan mengikuti Damar sambil membawa laptop dan tas mahal ditangannya. Kemudian berjalan mendekati Aina."Ruangannya sudah disiapkan, kan?."


"Sudah, Mbak."


"Terima kasih." Aira tersenyum tipis, ia berbalik ketika Damar memilih tempat yang tak biasa. Empat buah kursi dengan meja bulat disudut ruang, sedikit memiliki jarak dari kursi yang biasa diisi oleh pengunjung. Dekat dengan jendela kayu yang terbuka.


"Cuaca di luar sedang panas. Aku rasa lebih baik memilih tempat duduk disini saja." Damar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dengan tatapan tak lepas dari Maura yang saat ini sedang memasak bersama Deva.


Jarak dari kursi yang dipilih oleh Damar dengan dapur mungkin berkisar empat meter. Masih cukup jelas baginya untuk bisa melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu disana. Saat itu, Maura juga melihat padanya. Tapi cuma sebentar karena gadis itu langsung membuang muka. Damar bisa melihat raut kesal dari wajah itu saat melihatnya.

__ADS_1


"Damar, apa maksudmu. Bagaimana bisa melakukan rapat disini? Akan ada banyak pengunjung yang datang dan tempat ini pasti akan ramai."protes Aira tak setuju.


"Tidak masalah sesekali rapat ditempat terbuka, Aira. Kalau disini bisa membuat suasana menjadi lebih santai. Tidak terlalu serius."jelas Damar kembali.


Membuat Aira menghela nafas kasar dan akhir duduk pada kursi kosong disisi Damar. Ketika itu dua orang pria dengan usia berbeda memakai setelan jas hitam masuk kedalam restoran. Damar dan Aira berdiri menyambut.


"Aku suka suasana restoran ini. Interiornya juga bagus. Aku yakin ini hasil rancanganmu sendiri."tebak Pak Wijaya melihat Pada Damar. Pria tampan itu hanya tersenyum membalasnya.


"Aku sudah duga." pria berkumis itu tertawa renyah.


"Papamu bilang kamu jago di bidang desain. Dan aku juga sudah melihat hasil beberapa bangunan dari klien yang memakai jasamu. Menurutku hasilnya sangat bagus. Itulah kenapa aku tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaanmu."


"Terima kasih, Pak." Damar tertawa pelan begitu pun Aira.


"Oh, ya, Pak. Damar sudah membawakan beberapa contoh desain resort yang Bapak inginkan." Aira membuka laptop dan menunjukkannya pada Pak Wijaya.


Beberapa saat rapat masih berlangsung. Aira melihat Damar, pandangan pria itu terus tertuju ke arah dapur. Entah sejak kapan, Aira baru menyadari. Ia mengikuti pandangan itu yang ternyata tepat menuju pada Maura yang tampak sibuk membantu Deva. Tatapan pria itu seperti mengintai tak ingin lepas. Sarat akan tatapan kecemburuan. Aina menelan ludah, sudut hatinya tiba-tiba berdenyut.


Hingga ketika Pak Wijaya berbicara, Damar tak mendengar. Aira langsung memanggilnya, barulah pandangan pria itu teralihkan.


"Pak Wijaya bertanya padamu."


"Oh, sorry, sorry." Damar menyadari hal konyolnya, seraya duduk dengan tegap."Iya, tentang apa, Pak?."


"Untuk survey lokasi. Kira-kira kapan kalian ada waktu?."


Damar diam seperti berpikir."Mungkin besok bisa."

__ADS_1


Pak Wijaya tersenyum lega."Baik lah, saya tunggu kedatangan kalian."


"Pikiranmu sepertinya sedang tidak fokus." ucap Aira pelan tanpa ekspresi, ketika Pak Wijaya dan asistennya baru pamit undur diri usai rapat dan makan siang berakhir.


__ADS_2