
"Mama!"
"Ada apa, sayang?"
"Ma ... tadi aku lihat Om ganteng. Tapi keburu pergi."ujar Nathan dengan nafas berkejaran.
Maura hening. Ia tak menyangka Nathan begitu sangat merindukan Virza. Kedekatan keduanya yang terbilang singkat, telah membuat sang anak merasakan kehilangan.
"Sayang ... Om ganteng nggak ada disini." Maura membelai lembut pipi Nathan."Kamu pasti salah lihat."
"Itu pasti orang lain yang kebetulan mirip." sambung Maura lagi.
"Gitu, ya, Ma?." Nathan menekuk bibir kesamping. Suaranya terdengar kecewa.
Maura mengangguk seraya tersenyum tipis.
Sementara Nathan memilih naik ke atas sofa busa yang ada disudut ruangan, kemudian duduk bersandar. Bocah kecil itu seperti sedang berfikir.
"Ssst, sssst."Adira memajukan kakinya dari bawah meja, menyenggol kaki Maura. Saat itu Maura langsung menoleh."Om ganteng siapa?." tanyanya penasaran.
Maura berdecak pelan."Bukan siapa-siapa."
Adira seakan tak percaya. Ia mendekatkan wajah pada Maura, seraya menyipitkan mata melempar tatapan menyelidik. Detik itu Maura langsung tergelak.
"Apa, sih, kamu?." Maura menepis pipi Adira pelan.
"Payah!." Adira mencebikkan bibir."Emaknya enggak bakalan ngaku." ia beralih pada Nathan yang kini sedang bersandar memegang satu bungkus jajanan dia atas sofa.
"Nathan, sayang ... anak genteng." Adira memanggil dengan suara yang amat sangat lembut sambil berjalan menghampiri bocah kecil itu.
"Iya, Tante ... ada apa?." Nathan bergerak, dari posisi bersandar menjadi duduk dengan benar.
"Ya ampun, Ra." Maura bergeleng pelan. Melihat Adira yang selalu pingin tahu, menurutnya sahabatnya itu sangat pantas jika mendapatkan julukan sebagai wanita si ratu kepo.
"Kalau Tante boleh tau ... Om ganteng itu siapa, sih?." tanya Adira dengan gaya bahasanya yang manja seperti anak kecil.
"Om genteng itu ... namanya Om Virza Tante." sahut Nathan dengan polos. Kemudian memasukkan kembali cemilan kedalam mulutnya yang mungil. lalu mengunyahnya."Aku kenal Om itu waktu di Bali."sambungnya lagi.
Bibir Adira membulat sempurna. Kemudian ia melihat Maura tak percaya."Kok, bisa?." ia berjalan dan duduk pada tempatnya semula, menghadap Maura.
"Bisa aja." sahut Maura santai."Perusahaan ku lagi butuh pasokan kain. Aku mengundang perusahaannya untuk kerja sama."
"Ya ... sebenarnya, awalnya aku tuh enggak tau kalau perusahaan PT. VB Textile itu milik dia. Selama ini aku taunya perusahaan konveksi dia yang ada di Jakarta, aja."
"Jadi waktu kami ketemuan ... ya, aku kaget juga."Maura menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi."Ternyata dia."
"Oh my God, oh my God." ucap Adira lagi dengan bahasanya yang lebay."Jangan-jangan ..." ia menjeda kalimat dengan bibir membulat sempurna.
__ADS_1
"Jangan-jangan, apa?." Maura bertanya malas.
"Jangan-jangan dia jodoh kamu yang tertunda, Maura." sambung Adira dengan sangat yakin.
Maura berdecak pelan."Jangan ngaco. Ra."
"Kok, ngaco, sih?." Adira memandang Maura serius."Mungkin aja, kan?."ucapnya dengan tatapan yakin."Kalian sempat terpisah, terus dipertemukan lagi."Adira memperbaiki posisi duduknya dengan posisi serius."Tau enggak ... orang kalau sudah berjodoh, sebesar apapun, rintangan dan halangannya .... kalau memang jodoh, pasti akan bersatu juga."
Maura bergeleng."Dia udah punya calon tunangan, Ra."
"Cuma calon, Maura ... belum nikah." ujar Adira lagi.
Maura menghela nafas berat."Tau, ah ... kamu ngomongnya aneh-aneh."
Adira menarik sudut bibirnya kesamping.
________________
Hari ini adalah hari pernikahan Yohan. Tampak para undangan telah hadir untuk memeriahkan acara. Sebagian besar mereka adalah para pengusaha pengusaha hebat. Dan orang-orang terpandang yang ada di Jakarta. Tak terkecuali Maura, Adira dan juga Fariz.
Adira datang bersama sang suami. Sementara Maura baru saja tiba diantar oleh supir sang mertua. Ia mengenakan gaun berwarna merah maroon yang menjuntai indah, dipadu dengan make up Flawless, serta rambutnya yang dibiarkan tergerai ikal. Membuat penampilannya terlihat anggun dan elegan.
Maura berjalan masuk kedalam hotel berbintang yang telah dipenuhi oleh para undangan. Ia langsung melempar senyum saat melihat Adira bersama Fariz tengah duduk diantara para tamu-tamu lainnya.
"Maura, kamu cantik banget." Adira berdiri menyambut sang sahabat.
"Hai, cantik!" Seorang pria tampan tiba-tiba saja menghampiri dengan senyum lebar kepada Maura."Ah, aku benar-benar enggak nyangka kita bakalan ketemu lagi."
"Kak Aryan." Maura menyulam senyum tak percaya."Kakak juga diundang?."
Kevin membentang kedua tangannya, untuk menjelaskan bahwa dirinya benar-benar ada didepan Maura."Tentu, saja ... Yohan adalah sepupuku."
"Lihat ..." Yohan menyenggol lengan Maura."Sepertinya kamu adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku. Kita bertemu lagi tanpa direncanakan."
Maura terkekeh pelan."Kakak, bisa aja."
"Siapa dia?." kali ini Adira yang menyenggol lengan Maura, membuatnya sedikit terkejut. Wanita ini berbisik ditelinganya."Kamu enggak mau ngenalin ke aku?."
"Perkenalkan, dia Kevin." Maura memandang Adira dan Fariz." asisten perusahaan PT. VB Textile.
Saat itu, Fariz langsung menyalami Kevin dengan ramah."Perkenalkan, saya Fariz ... asisten buk, Maura."
Kevin menyambut uluran tangan keduanya dengan senyum hangat."Senang bertemu dengan kalian."
Selamat malam untuk para tamu undangan yang kami hormati ... terima kasih atas kedatangan kalian semua. Malam yang indah kita rasakan bersama, karena pada malam ini kita semua dapat menghadiri resepsi pernikahan yang di selenggarakan oleh Tuan Yohan dan istrinya Nathalie.
Terdengar suara pembawa acara memenuhi ruangan hotel itu. Pertanda acara resep siap dimulai.
__ADS_1
Hadirin undangan yang berbahagia.
MC pernikahan itu kembali bersuara. Menyambut kehadiran sepasang mempelai pengantin. Yang bersiap menuju pelaminan.
Tampak seorang wanita cantik dengan penampilan elegan berdiri disisi kanan Yohan dengan senyum bahagia. Membuat Maura yang kebetulan pandangannya tertuju pada wanita itu menatap penuh tanya.
"Itu bukannya Evelyn, calon tunangan Pak Virza?." Maura menatap Kevin.
"Yup." Kevin menaikkan sekilas kedua alisnya."Dia adik kandung Yohan."
"Oh." Maura manggut-manggut pelan.
Acara telah berlangsung beberapa saat. Tampak beberapa para tamu undangan masih menikmati hidangan. Namun saat itu, MC pernikahan kembali bersuara.
..... Untuk memeriahkan acara resepsi pernikahan ini kami sudah menyusun rangkaian acara agar menjadi lebih meriah.
Sesuai tema, malam ini adalah tema romantis. Pembawa acara tersebut meminta para undangan melakukan pesta dansa. Namun anehnya, kali ini punya keunikan. Ya, MC pernikahan tersebut mengatakan bahwa pesta dansa kali ini dengan tema dansa bertukar pasangan.
Baiklah, pesta dansa akan segera dimulai ... kami mempersilahkan para tamu undangan semua, untuk memilih pasangan kalian masing-masing. Karena sebentar lagi pesta dansa akan segera di mulai.
Jelas pembawa acara resepsi itu kembali.
Maura yang sedang berdiri, tiba-tiba keheranan saat Kevin menyodorkan telapak tangan kepadanya.
"Ayo."Kevin tersenyum lembut."Kita dansa."
"T-tapi aku enggak bisa dansa, kak." Maura menelan ludah gugup.
"Enggak masalah ... aku akan mengajarimu."ucap Kevin kembali tersenyum.
Dengan ragu Maura menyambut uluran tangan pria berwajah tengil itu. Namun dengan gerakan cepat Kevin langsung menarik tangan dan juga pinggangnya, membuat tubuhnya seketika mendekat bahkan hampir menabrak tubuh tegap pria itu.
"Kak, apa ini tidak terlalu dekat?." tanya Maura yang sebenarnya merasa risih dengan posisi keduanya yang sangat rapat saat ini.
"Maura ... berdansa memang seperti ini." Kevin tersenyum."Udah ... santai saja. Rilekskan pikiranmu .... ikuti irama musiknya. Maka perlahan gerakkanmu pasti akan sempurna."sambungnya dengan suara yang lembut seraya mengeratkan genggaman tangan pada tangan Maura.
Maura menelan ludah. Kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Ia mencoba untuk tenang seperti yang diucapkan oleh Kevin. Benar saja, irama musik yang mengalun lembut dan romantis, membuatnya perlahan mampu menyesuaikan gerakannya yang semula kaku menjadi terlihat lebih santai.
Disekitar mereka ada banyak pasangan yang sedang berdansa dengan begitu manis. Tak terkecuali Adira bersama Fariz yang sedang mengikuti irama dengan gerakan dan tatapan penuh cinta.
Beberapa menit berlalu, tibalah saatnya pergantian pasangan. Hampir semua para tamu undangan yang sedang berdansa pun, melakukan hal yang sama. Kevin menggerakkan lengannya keatas dengan gerakan berputar, hingga membuat tubuh Maura mengikuti gerakan itu berkali-kali. Tubuh Maura yang tak siap, mendadak terhuyung.
Braaaak!!
Tubuh Maura menabrak tubuh seorang pria tegap memakai setelan jas rompi berwarna hitam. Ia mendongakkan wajahnya, tatapannya bersirobok dengan tatapan mata elang yang menatapnya dingin.
"M-mas ... kamu disini?."
__ADS_1