
"Kamu kenapa nggak bilang-bilang dulu sih, Mas kalau mau mengadakan lamaran seperti ini?"tanya Maura setengah berbisik kepada Virza saat acara lamaran sudah selesai. Keduanya saat ini tengah duduk bersisian ditengah-tengah seluruh keluarga."Kamu tau enggak, aku tadi terkejut. Gimana kalau aku pingsan?."
Virza tersenyum."Aku sudah bilang sama Om Razdan tadi pagi. Aku datang sendiri ke kantornya, minta izin untuk melamar kamu. Memangnya Om Razdan enggak cerita?."
"Aku pikir kamu sudah tau." kata Virza pelan.
Maura bergeleng.
Virza terkekeh pelan."Itu sih, ulahnya Om Razdan. Mungkin mau kasih kejutan untuk kamu."
"Tapi ngomong-ngomong ... kamu cantik sekali malam ini."sambungnya memandang Maura dengan tatapan kagum.
Maura menekuk bibir kesamping."Jadi menurut kamu selama ini aku tidak cantik?."
"Tentu saja cantik. Hanya saja malam ini kamu jauh lebih cantik."
Ucapan Virza membuat Maura jadi malu.
"Jangan menggombaliku." ucapnya kemudian.
"E-ehemmm ... !!"
Kevin tiba-tiba berdehem keras.
"Sepertinya ada yang sudah tidak sabar untuk segera dinikahkan, nih."Kevin melirik pasangan yang baru saja terikat tali pertunangan itu."Apa tidak sebaiknya pernikahan dilaksanakan hari ini juga, Om, Tante?" ia memandang Razdan dan Desi.
Para orang tua semua dibuat tertawa.
"Tutup mulutmu! Jomblo dilarang berkomentar." cecar Virza, membuat orang-orang tertawa memandang Kevin.
"Loh .... nak Kevin masih jomblo? saya benar-benar tidak percaya, ternyata orang tampan bisa jomblo juga"Razdan tertawa keras.
Kevin nyengir, sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal."Calon pacar masih on the way, om." Dalam hati ia menggerutu, mengapa malah dirinya yang jadi bahan tertawaan.
Razdan manggut-manggut."Iya deh ... tungguin aja dulu. Om do'ain semoga kamu dapat jodoh yang cantik dan baik hati."
Kevin malu-malu."Aamiin ... terima kasih, om."
__ADS_1
"Opa .... Opa."Nathan menyenggol-nyenggol lengan sang kakek."Jomblo itu apa, sih? kok, Om Kevin di bilang jomblo?"
"Emmmm ... jomblo itu, artinya orang dewasa yang enggak punya pacar." ucapnya kemudian."Contohnya, ya kayak Om Kevin." Kalau Om Virza udah nggak jomblo. Kan udah sama Mama."kata Razdan menjelaskan.
"Ooo." Nathan manggut-manggut."Hihihi." ia terkikik pelan."Kasian Om Kevin, jomblo. Mending sama Mbak Nia aja, biar enggak jomblo. Kan Mbak Nia juga nggak punya pacar." ucap Nathan sedikit terbata.
"Waduuh." Netra dan bibir Nia seketika membulat
Semua orang kembali tertawa. Kecuali Kevin. Dia meringis. Sementara Nia memandangnya dengan senyum malu-malu.
"Gimana Nia ... mau enggak?." tanya Desi menggoda.
"Kalau saya sih, ya mau, mau aja buk. Mas Kevin kan, ganteng." Nia menutup bibirnya dengan nampan kosong.
"Tuh, Vin ... si Nia mau. Udah buruan ... sikat!."timpal Virza mantap."Entar aku kasih kado 10 hektar kebun jeruk yang ada di Bogor."
Kevin melihat Nia yang dengan genit memainkan mata kepadanya."Eee ... enggak deh. Jomblo dulu aja, enggak apa-apa."
Semuanya kembali tertawa.
"Ayo ... silahkan dinikmati dulu makanannya."ujar Desi kemudian, setelah berhenti membahas ke jomblo'an Kevin."Cuma seadanya. Semoga suka." ia tersenyum.
Desi terkekeh pelan."Sama sekali, tidak merepotkan buk Inggrid."
"Aduh .... ini enak sekali loh. Kapan kapan ajarin saya, ya."pinta Inggrid antusias. Keduanya saling bercerita dan terlihat akrab.
Waktu sudah semakin malam, sebagian orang keluar dari rumah mewah itu. Virza pun, berjalan keluar menyusul Kevin yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil bersama Inggrid.
Namun tiba-tiba Fariz menyapa dan membuatnya berhenti.
"Selamat atas pertunanganmu." Fariz tersenyum.
"Terima kasih."sambut Virza ramah.
"Tapi ngomong-ngomong, bagaimana dengan wanita yang tergila-gila denganmu itu? apa kamu yakin dia tidak akan mengganggu dan menyakiti Maura lagi?"tanya Fariz."Kamu tau sendiri ... dia bahkan nekat membayar seseorang untuk membuat PT. Alingga tercemar."
"Aku tidak mau itu terjadi lagi."sambung Fariz pelan. Tapi setiap kata dilempar dengan tatapan awas.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu Virza terdiam. Ya, ia tau Evelyn adalah wanita licik. Apa lagi ketika tau dirinya dengan Maura telah bertunangan. Evelyn pasti tidak akan tinggal diam.
Virza menghela nafas pelan."Kamu tenang saja. Aku pastikan dia tidak akan pernah menyakiti Maura lagi."
"Aku harap kamu bisa menjaga ucapanmu. Kamu ingat almarhum Damar, kan? perlu kamu ketahui ... Maura adalah wanita yang dia cintai."
"Almarhum bagiku bukan hanya seorang bos. Tapi dia juga sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Jadi, selama aku masih hidup ... aku tidak akan tinggal diam jika ada seseorang yang menyakiti orang orang yang dia cintai."pungkasnya tegas, dengan sorot mata penuh ancaman.
Virza tersenyum tipis."Aku mengerti.'" ia menatap Fariz lekat."Tapi apa kamu lupa ... aku lebih dulu mencintai Maura. Bahkan setelah kami sempat berpisah .... cinta itu tidak pernah hilang. Aku selalu mencintainya."
"Jadi kamu jangan khawatir." sambung Virza lagi, memegang bahu Fariz."Aku tidak akan pernah menyakitinya. Apa lagi membiarkan orang lain melakukannya."
"Jika ada ... aku sendiri yang akan memberinya pelajaran." Virza memungkasi.
Fariz diam.
"Aku pergi dulu." Virza menepuk-nepuk pelan bahu Fariz. Lalu berjalan menemui Kevin dan Mamanya yang sudah menunggu didalam mobil.
_____________________
Didalam kamar, Desi menangis terisak sambil sesekali menyeka air matanya. Razdan yang baru saja masuk hendak ke kamar mandi, tanpa sengaja melihat dan akhirnya menghampiri.
"Kamu kenapa menangis?"Razdan memegang bahu istrinya yang berguncang.
"Mama sedih, Pa. Setelah menikah nanti, Maura akan pergi dari rumah ini." jawab Desi dengan suara sengau.
Razdan menghela nafas pelan."Apa itu artinya Mama tidak rela Maura menikah lagi?."
"Bukan begitu Pa." Desi memandang suaminya."Mama cuma sedih. Kita sudah kehilangan Damar. Mama tidak ingin kehilangan Maura juga. Dia sudah ku anggap seperti anakku sendiri."
Razdan tersenyum sambil mengusap lembut punggung istrinya."Apa bedanya kalau dia anak kandung kita? dia pasti akan menikah juga, kan? Dan dia pasti akan ikut dengan suaminya."
Desi mengusap hidungnya dengan ujung baju.
"Tapi bukan berarti dia tidak kembali lagi ke rumah ini."sambung Razdan dengan senyum."Dia tetap akan pulang. Kita orang tuanya. Dan dia tetap menjadi anak kita."
"Tidak perlu menangis seperti itu. Hapus air matamu." Razdan membantu mengusap air mata di wajah istrinya."Jangan sampai Maura melihat ini ... karena dia pasti akan sedih. Kita tidak boleh egois, biarkan dia bahagia."
__ADS_1
Desi mengangguk pelan, dengan senyum tipis."Papa benar." ia menyambut pelukan suaminya.