
..."Tak bisa banyak kata terucap dari bibirku. Banyak yang ingin ku sampaikan tertahan dihatiku. Aku hanya bisa diam. Kita sudah jauh dimata, akan kah kita dekat dihati?."...
^^^_Goresansangdewi_^^^
"Aku pura-pura tanya alamat. Eh, mang Dadang malah pinjam korek buat bakar rokoknya."jelas Andre sambil mendudukkan diri di kursi mengingat dirinya tadi yang sengaja turun untuk memancing perhatian pria paruh baya itu.
"HAHAHAHAHA!."tawa serempak dari yang lain mendengarkan ceritanya.
"Dan Maura, bagaiman kamu bisa keluar? tadi Aina memberitahuku, katanya kamu dikunci chef Damar didalam kamar." Anya bertanya dengan mulut penuh mengunyah kacang atom.
Membayangkan hal tadi Maura menghela nafas kasar."Aku turun dari balkon pakai kain seprai yang aku ikat ikat jadi panjang."
"Seriously?."Anya tak percaya, kemudian tertawa diikuti oleh teman-teman yang lain.
"Astaga, Maura."Aina bergelang tak percaya mengetahui kenekatannya."Bagaimana kalau tadi kamu jatuh, dan pinggang kamu patah? bukannya ikut camping ... malah masuk rumah sakit."
Maura mengendikkan bahu."Cuma itu jalan satu-satunya. Kalau tidak, aku tidak bisa ikut. But, thanks ... kalian sudah menolongku."
"Terutama kamu, Ndre." ia melihat kebelakang, pada Andre yang kebetulan berada di baris kursi terakhir, duduk bersama Deva yang saat itu sedang memainkan gitar, Deva melempar senyum tipis kepadanya. Ia lantas membalas dengan senyum malu-malu.
"It's okay, aku senang kita bisa pergi semua. Kalau begini kan, jadi ramai." sahut Andre sambil tersenyum senang.
"Tapi, ngomong-ngomong ... kamu tidak takut chef Damar marah, Ra? Bagaimana pun, kan sekarang dia suami kamu?." kali ini Aina merasa cemas.
"Masalah marah atau tidak, itu urusan nanti, Na. Sekarang yang penting aku bisa ikut. Paling juga kalau marah ngomel doang."Maura nyengir santai, ketika itu Anya mendekati wajahnya dengan tatapan intens."Apa sih, Nya?."Ia mengibaskan tangan didepan wajah.
"Itu bibir kamu kenapa? bekas di cium, ya?."todong Anya tersenyum menggoda. Sebagai gadis dewasa, Anya paham betul ketika melihat jejak itu. Dirinya memang bertanya dengan suara sedikit pelan. Tapi keadaan mobil yang saat itu kebetulan tak lagi riuh seperti tadi, bisa dipastikan semua orang yang berada didalam minibus mendengar.
Terbukti ketika semua orang melihat pada mereka. Termasuk Deva yang raut wajahnya berubah dingin.
Kedua bola mata Maura membulat seraya refleks memegang bibir. Astaga, apa mimpi tadi malam membuat aku menggigit bibir ku sendiri? Mengingat didalam mimpi itu dirinya memang begitu menggebu. Sungguh memalukan! Dan ketika bersiap hendak pergi tadi, ia juga sama sekali tidak memperhatikan. Mungkin karena terlalu terburu-buru.
"Hei." Anya menggerak-gerakkan telapak tangan didepan wajah Maura. Sontak Maura terkesiap, menurunkan tangan dari bibir."Ditanya, malah melamun."
"B-bukan." sangkal Maura kemudian."Ini tidak sengaja tergigit waktu makan."
"Iya, deh, iya." Anya masih tersenyum, melihat Aina dan Ivan seraya menggerakkan kedua alis.
Kurang lebih dua jam lamanya, bus sewaan yang membawa mereka telah memasuki kawasan kota Bandung, Jawa Barat. Masih sekitar 1 jam lagi untuk sampai di Ranca Upas, yang tepatnya berada dikawasan wisata Ciwidey. Salah satu bumi perkemahan di kota kembang ini, yang menjadi tempat pilihan mereka.
Jalanan yang mereka lewati tampak basah. Sepertinya hujan baru saja turun. Terasa sekali hawa dingin yang menyusup melalui kaca bus kemudi yang terbuka. Beberapa kilometer meter berjalan melewati Jalan Raya Ciwidey-Rancabali bus yang mereka membawa mereka tiba-tiba berhenti tepat didepan sebuah rumah makan yang bertuliskan didepannya SAUNG GAWIR. Restoran yang menyajikan makanan khas Sunda.
"Neng, mampir dulu, ya. Kebelet pipis." kata Mang Darman pada mereka sambil memakai jaketnya untuk kemudian membuka pintu."Kalau mau makan siang sekalian saja. Disini makanannya enak-enak, kok. Lagipula ini sudah pukul setengah 12 siang."
__ADS_1
"Kalau mau dilanjut sampai ketempat camping, takutnya malah kelaparan." Mang Darman nyengir.
"Oh, gitu ya, mang? Ya udah, yuk ..."Anya melihat pada Maura, Aina dan Riri. Sementara Ivan tengah tertidur pulas sambil memeluk bantal donat kesayangan yang sengaja dibawa dari rumah. Kemudian menoleh kebelakang melihat pada teman-teman laki-lakinya yang lain. Andre, Donny dan beberapa teman lain tampak tidur. Sementara Deva terjaga dengan ponsel ditangannya.
"Hei, bangun bangun ... jangan molor terus!." seru Anya gemas sambil bertepuk-tepuk tangan. Membuat semuanya terbangun. Kecuali Ivan yang masih lelap, tanpa sadar mengeluarkan ences dari sudut bibir. Sepertinya cuaca mendung membuatnya seolah sedang berada dirumah dengan selimut karakter berbulu halus kesayangannya.
"Hah, sudah sampai?." sentak Donny sambil duduk tegap dengan netra yang dipaksa melebar melawan kantuk.
"Sudah." sahut Maura terkekeh pelan.
"Alhamdulillah." Donny buru-buru bangkit mengambil tas ransel, matras, dan sleeping bag miliknya."Ayo, turun." ia berdiri.
"Noh, sana gelar didepan restoran." Maura menunjuk keluar lebih tepatnya kearah tulisan besan didepan restoran SAUNG GAWIR. Membuat semuanya tergelak.
"Kamu, Ra ..."Donny menghela nafa kecewa sambil menggaruk kepala."Kirain udah sampai."
"Tidur mulu, sih." Maura kembali tertawa dan beberapa teman lainnya. Ketika itu, ponsel miliknya bergetar dengan nyanyian singkat. Sebuah pesan dari seseorang membuatnya buru-buru melihat.
Deva
Dasar jahil!.
Jemari Maura bergerak membalas ingin membalas. Bersamaan dengan Aina yang mengajaknya turun."Iya, Na ... duluan, nanti aku nyusul."
Deva
Jaketnya dipakai. Diluar dingin.
Bibir Maura tersenyum bahagia. Deva sangat memperhatikannya. Tapi baru jemarinya hendak kembali membalas, langkah kaki berhenti disisinya tepat dilorong antara kursi penumpang.
"Chef." Maura nyengir.
"Jaketnya mana?."
"Ada didalam tas, chef." Maura kemudian membuka tas ransel yang berada didekatnya demi untuk mengambil jaket miliknya. Tapi apakah Maura berkhayal? Setelah hampir meminggir-minggirkan seisi tas, ia tak menemukan sesuatu yang dicari.
"Kenapa?." Deva mengernyit heran.
"Yaaah ... jaketku ketinggalan, chef."hela Maura dengan nada menyesal.
"Bagaimana bisa?."
"Tadi buru-buru. Aku pikir aku sudah memasukkannya. Ternyata belum." jelas Maura dengan wajah tertekuk sedih. Padahal jaket adalah sesuatu yang penting untuk dibawa. Bagaimana bisa dirinya melupakan benda itu. Huh, Maura kini hanya bisa merutuki kebodohannya.
__ADS_1
"Tidak usah bingung." Deva membuka jaket miliknya."Pakai punyaku dulu. Nanti kamu masuk angin."
"Tapi ..." Maura merasa tak enak, ketika kedua tangan kokoh, serta jaket kulit itu menyentuh pundaknya.
"Tidak masalah ... kemeja ku panjang. Di tas juga masih ada satu lagi."
Maura akhirnya menuruti, kemudian memasukkan tangannya satu persatu pada bagian lengan jeket kulit berwarna abu muda itu.
"Pakai yang benar. Dikancing."
"Iyaa ..." sahut Maura gemas seraya memakai jaket dengan benar.
"Ayo, turun." Deva melihat keluar dari jendela mini bus. Teman-teman yang lain tampak berjalan kesebuah kebun yang berada tak jauh dari restoran tersebut. Kemudian menggenggam tangan Maura, membuat gadis itu terkesiap.
"Ivan bagaimana?." Maura melihat Ivan yang masih terlelap dengan dengkuran halus.
"Biar saja. Nanti kalau bangun pasti menyusul."
Keduanya akhirnya turun menyusul. Begitu juga dengan genggaman tangan Deva yang akhirnya terurai ketika turun dari dalam bus. Bagaimana pun tentang status pernikahan Maura yang sesungguhnya, tak ada yang tau selain dirinya. Atau jika mereka terus bergandengan tangan, maka akan terjadi kesalahpahaman besar.
Senyum Maura mengembang melihat hamparan buah strawberry yang subur. Aina, Riri dan Anya tampak sibuk mengabadikan moment. Bergaya didepan camera ponsel yang dibidik oleh Vino. Begitu juga Andre. Sementara Donny asik memasukkan buah strawberry kedalam mulut. Tampaknya pria itu tak ingin melewatkan memakan buah strawberry dengan gratis.
"Seger!." Donny nyengir sambil terus mengunyah strawberry. Kemudian menoleh pada Maura dan Deva yang baru datang."Ivan mana?."
"Masih tidur."sahut Deva sekenanya."Kamu mau foto?." ia melihat Maura.
"Boleh." Maura mengangguk senang.
Deva langsung membuka camera yang tergantung dileher."Ke kiri sedikit." ucapnya seraya menggerakkan tangan kanannya dengan sebelah mata membidik pada Maura."Oke, pas."
"1, 2, ... 3." hitungan terakhir Maura tersenyum manis. Deva menatap potret itu.
"Apa hasilnya bagus?."
Deva tersenyum kagum."Orangnya cantik. Pasti hasilnya juga bagus."
Mendengar itu pipi Maura bersemu merah. Cuaca dingin, membuat rona itu jadi kentara. Warna warni kupu-kupu berterbangan bebas diudara. Umpama sayap kupu-kupu yang menari menggelitik di sanubari. Ah, pria itu semakin berani. Sesuai kata yang terus melambung dalam asa. Ini adalah kisah manis cerita hidup impianku. Sabar Maura. Ini baru permulaan. Sebentar lagi ....
"Jahat sekali kalian. Aku kenapa ditinggal?." rengek Ivan dengan nada manja berjalan menghampiri Mura dan Deva yang memang saat ini berada didekat pintu masuk perkebunan. Sementara yang lain sudah lebih jauh ketengah. Membuat lamunan Maura buyar seketika.
"Kamu tidur mulu, sih. Kami jadi tidak tega membangunkan mu." sahut Deva tertawa melihat rengekan Ivan yang gemulai.
"Halah, alasan." Ivan menarik sudut bibir kanannya keatas."Eh ... tapi tadi waktu aku turun .... aku tidak sengaja melihat mobil lewat ... dan mobil itu mirip sekali dengan mobil milik Pak Damar."ujarnya kali ini dengan mimik wajah yang serius."Apa jangan-jangan Pak Damar mau ikut bergabung dengan kita?"
__ADS_1
"Siapa tau mau kasih kejutan?."sambung Ivan lagi dengan yakin."Waaah, kalau benar, seru dong!."