
Maura memandangi Nathan yang sedang tertidur. Tiba-tiba hatinya menjadi gelisah tak menentu mengingat kembali pertanyaan bocah kecil itu beberapa saat lalu.
"Ma, tadi aku dengar Papa bilang ke Opa kalau besok mau pindah. Pindah kemana, Ma?." tanya Nathan tadi, ketika sebelum tidur.
"Mama juga ikut? aku di ajak kan, Ma.?"tanya Nathan kembali dengan suara terbata.
Maura terdiam, menelan ludah. Ia bahkan tidak tau harus menjawab apa. Pertanyaan itu .... entahlah. Ia bahkan belum memikirkan sama sekali sebelumnya.
"Nathan mau ikut Mama ... atau Oma, sama Opa?"tanya Maura kemudian dengan ragu. Sejujurnya, ia merasa tak siap jika Nathan memilih tak ikut dengannya.
Namun bagaimana perasaan Desi dan Razdan? mereka juga pasti merasa kan hal yang sama. Nathan adalah cucu pewaris Alingga. Cucu satu-satunya milik mereka. Apa mereka akan membiarkan Maura membawanya? Nathan sudah terikat dengannya. Hati dan jiwa keduanya telah menyatu. Seperti seorang Ibu dengan anak kandungnya sendiri. Egois kah, jika ia meminta Nathan untuk ikut bersamanya?
"Aku ikut Mama sama Papa, dong."ujar Nathan mantap."Boleh kan, Ma?."
"Boleh dong, sayang." Maura tersenyum tipis seraya mengusap kepala sang anak."Ya udah, bobok ... udah malam."ia menepuk-nepuk pelan pantat Nathan hingga bocah kecil itu benar-benar tertidur.
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Maura menoleh. Mengira suaminya, ternyata itu adalah Desi. Ia gegas turun dari atas ranjang.
"Nathan sudah bobok?." tanya Desi lembut, kemudian duduk di sofa panjang didalam kamar itu
"Sudah, Ma." ucap Maura seraya menggulung rambut berjalan mendekati Desi."Ada apa, Ma?. Mas Virza mana?."
"Masih ngobrol sama Papa di bawah." Desi memandang Maura lembut."Duduk sini." ia menepuk pelan sofa berwarna abu-abu itu."Ada yang mau Mama omongin."
Maura mengikuti, mendudukkan diri disebelah sang Mama.
"Ini soal Nathan." ucap Desi tanpa basa-basi.
Maura menelan ludah.
"Mama tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini."Desi tiba-tiba meraih tangan Maura dan menggenggamnya hangat."Tidak perlu cemas." ia tersenyum lembut memandang Maura."Nathan sudah menjadi anakmu .... dia akan ikut denganmu."
"Mama tau ... Nathan sangat menyayangimu. Begitu pun, kamu." sambung Desi lagi."Kamu yang merawat dia dari kecil. Bahkan saat dia masih menjadi bayi merah." ia tertawa pelan, nyaris tak bersuara mengingat kembali masa-masa dulu, saat Maura merawat Nathan kala itu. Maura begitu telaten, meski sedikit kebingungan kerena mendadak harus menjadi seorang ibu demi sang keponakan.
Tak jarang Maura meminta di ajari olehnya. Dari mulai cara menggendong, mengganti popok dan banyak lagi hal lainnya. Ia tau ketulusan Maura. Hingga detik ini, bahkan tak berubah.
"Kalian sudah seperti ibu dan anak. Bagaimana mungkin kami tega memisahkan kalian?"sambung Desi kembali menatap Maura.
__ADS_1
Namun Maura bisa menangkap sorot kesedihan dari bola mata paruh baya itu yang berkaca-kaca. Hatinya merasa tak tega. Satu tangannya yang kosong perlahan bergerak membalas genggaman tangan Desi.
"Kalau Mama mau Nathan tinggal disini ... " ia menelan ludah."Aku nggak apa-apa kok, Ma."
Desi bergeleng pelan."Enggak, nak. Dia anak kamu ... kamu Mamanya."Desi tersenyum tipis sambil menyeka bulir bening yang menitik dari sudut matanya yang sedikit keriput."Ini air mata haru. Mama bersyukur karena Nathan bisa mendapatkan ibu sambung sebaik kamu."suara Desi bergetar. Bulir bening lolos kembali.
Maura menyusut air mata wanita paruh baya itu. Lalu memeluk tubuh yang sudah ringkih itu dengan erat. Air mata Maura seketika luruh. Merasakan tubuh Desi membalas pelukannya dengan hangat. Sebuah pelukan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Pelukan hangat seorang ibu kepada anaknya. Bahkan ia lupa bagaimana rasanya.
"Nanti kalau sudah pindah sering-sering main kemari."Desi mengurai pelukan, menangkup wajah Maura."Ini tetap rumah kamu."
Maura mengangguk, sambil menyusut air matanya.
"Kami tetap orang tua kamu."Desi tersenyum lembut."Enggak akan berubah walau pun, saat ini kamu sudah menikah lagi."
"Terima kasih, Ma." ucap Maura pelan dengan mata kembali memerah menahan haru.
Desi mengusap pelan kepala Maura, ketika saat itu tanpa sengaja melihat Virza masuk kedalam kamar.
"Sudah selesai ngobrolnya?."tanya Desi lembut.
"Duduk disini, dekat Mama."Desi bergeser sedikit. Dan membiarkan Virza duduk disamping kanannya. Sementara Maura sejak tadi berada disamping kirinya.
"Mama senang sekarang kalian sudah menikah." Desi kemudian mengambil tangan Virza dan menyatukannya dengan tangan Maura."Mama menaruh harapan sama kamu, nak." ia memandang Virza."Tolong jaga Maura sama Nathan, ya."
"Terima mereka dengan segala kekurangan mereka." sambung Desi kembali dengan bola matanya yang kembali berlinang.
Virza mengangguk pelan."Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ma. Sebenarnya tadi dibawah .... aku sama Papa juga sudah membahas tentang ini. Dan aku berterima kasih sekali karena Mama sama Papa sudah mempercayakan ku untuk menjaga Maura dengan Nathan."
"Aku janji, Ma ... aku akan menjaga mereka."pungkas Virza mengusap punggung tangan Desi lembut.
Desi menyusut air mata dengan sebelah tangannya yang kosong."Mama percaya sama kamu." ia melihat Virza sesaat, lalu menyatukan tangan Maura dan Virza kembali."Mama do'akan semoga cinta kalian selalu kuat, dan pernikahan kalian berkekalan sampai akhir hayat."
"Aamiin ... terimakasih, Ma."sahut Virza dan Maura secara bersamaan. Keduanya saling memandang dan tersenyum.
"Yah ... pernikahan itu bukan akhir bahagia dari setiap hubungan. Tapi itu justru awal perjalanan baru bagi kalian." sambung Desi kembali dengan wajah serius memberi wejangan kepada sepasang pengantin baru itu."Jadi ... kalau ada masalah, mau itu kecil ... atau pun, besar ... Mama minta kalian bisa menyikapinya dengan sabar."
"Yang namanya rumah tangga itu pasti ada lika-likunya. Jalannya enggak selalu mulus." Desi tersenyum tipis."Tapi Mama akan selalu mendoakan agar kalian selalu bahagia."
__ADS_1
"Makasih ya, Ma."ucap Maura pelan. Ia merasa haru.
Desi tersenyum tipis, mengusap pelan punggung tangan Maura."Mama keluar dulu, ya. Sudah larut malam soalnya." ia mengulum senyum penuh arti.
"Mama ...." Maura malu. Sementara Virza tertawa pelan.
"Oh, iya ... Nathan, apa perlu dipindahkan saja ke kamar Mama?"tanya Desi sebelum berlalu.
"Enggak perlu, Ma. Disini aja." Maura berdiri.
"Ya sudah." Desi menurunkan sedikit bajunya."Tapi jangan berisik. Entar dia bangun."
"Ma ..."
Desi terkikik pelan lalu berjalan keluar.
Setelah Desi menghilang dari balik pintu, sejurus kemudian Virza menarik lengan Maura hingga terduduk kembali di sofa. Tangan kokoh itu dengan lincah menyusup masuk kedalam piama tidur sang istri.
"Mas, tangan kamu mau ngapain?." Maura memukul-mukul gemas tangan suaminya itu. Ia hendak kembali berdiri, tapi tubuhnya justru ditarik Virza kembali hingga jatuh dengan posisi terlentang di sofa. Saat itu Virza langsung mengungkungnya.
"Mas ... geli." Maura terkikik menggeliat, ketika Virza menggigit-gigiti kecil daun telinganya. Lalu berpindah menciumi lehernya.
"Mas ... ada Nathan, Mas." Nggak baik kalau dia lihat."
"Dia masih tidur, sayang ... makanya jangan berisik." ucap Virza disela-sela menciumi leher Maura.
"Mama sama Papa ngapain?"terdengar suara serak Nathan.
Sontak keduanya tersentak dan menoleh pada bocah kecil yang saat ini sedang mengucek mata.
"Oh, ini, sayang ... Papa minta main kuda-kudaan." sahut Maura cepat sambil berusaha duduk dengan benar. Dilain posisi, Virza yang berada diatasnya masih mematung. Entah mengapa ia merasa geli dengan pengakuan sang istri. Kuda-kudaan?? Saat Maura mengisyaratkan mata padanya untuk membenarkan posisi, baru lah ia bergerak untuk duduk.
"Benar sayang, seperti kamu. Papa juga pingin main kuda-kudaan."ucap Maura kembali meyakinkan sang anak. Namun Nathan yang memang bijak tampak sedang berpikir, membuat Maura menelan ludah.
"Harusnya Mama yang diatas, Papa yang dibawah. Kan Papa lebih besar." ucap bocah kecil itu dengan polos."Emang Mama kuat kalau Papa yang diatas? Entar sakit pinggang loh, kayak Om Kevin waktu itu. Hihihihi."sambungnya terkekeh geli.
Maura dan Virza sejenak saling pandang, memutar pikiran untuk penjelasan yang masuk akal pada bocah gembul, yang kini sudah turun dari tempat tidur.
__ADS_1