
Beberapa saat menghabiskan waktu dengan tujuan tak tentu arah, Virza akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Didalam ia melihat sang Mama tengah duduk bercerita dengan Evelyn.
Wanita seksi itu tampak terkejut dan bahagia melihat kehadiran Virza. Tapi tidak dengan Inggrid yang sepertinya memahami wajah murung anaknya itu. Wajah yang belakangan ini sering ia perhatikan. Ia menduga Maura telah memenuhi janjinya untuk tidak mendekati anaknya lagi.
"Za ... kamu dari mana aja? aku dari tadi nungguin kamu." Evelyn memandang Virza lembut."Kamu pasti habis ketemuan sama Maura." todong Evelyn kali ini dengan nada suara tak suka.
"Bukan urusan kamu." sahut Virza sinis.
"Jelas urusan aku dong, Za. Kamu itu calon tunanganku!. Siapa sih, yang mau calon tunangannya dekat-dekat sama perempuan lain?."
"Berhenti menyebutku sebagai calon tunanganmu. Tidak akan ada pertunangan diantara kita!." seru Virza dengan tegas.
"Virza!." seru Inggrid kemudian.
"Mama sudah meminta Maura untuk menjauhiku, kan, Ma?."ucap Virza tanpa basa-basi menatap sang Mama."Mama tenang aja, dia sudah memenuhi keinginan Mama."
"Hubungan kami sudah berakhir, Ma. Itu kan, yang Mama mau?." Virza tersenyum kecut.
Inggrid tak menjawab.
"Aku juga sudah memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi, Ma." kali ini suara Virza terdengar berat."Tapi Mama perlu tau ..."ia sesaat menjeda kalimat menatap sang Mama."Itu tetap tidak akan membuatku menikahi wanita ini."ia menunjuk wajah Evelyn di akhir kalimat. Lalu pergi.
"Virza ...." suara Inggrid tercekat. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba nyeri. Hingga akhirnya terkulai dilantai.
"Tante,"
"Mama!" seru Kevin yang baru turun dilantai bawah. Membuat Virza berbalik karena terkejut. Keduanya terlihat panik dan cemas.
___________
"Bagaimana keadaan Mama saya, dok?." tanya Virza cemas pada Teddy, pria yang telah memasuki usia kepala lima, berprofesi sebagai dokter spesialis jantung yang baru saja memeriksa keadaan sang Mama.
"Kondisi Mama kamu sedang kritis. Pembuluh darahnya masih belum stabil memompa darah ke jantung. Ini akibat syok berat yang Mama kamu alami."
__ADS_1
"Kenapa bisa sampai terjadi seperti ini? Ini bahaya untuk Mama kamu, Virza. Penyakit jantungnya sudah kronis."
Virza menelan ludah."Ini salahku."
Teddy menghela nafas berat. Lalu menepuk-nepuk pelan bahu Virza."Berdoalah, semoga Mamamu lekas sadarkan diri."
"Aku permisi dulu." Teddy keluar dari ruangan itu.
Virza mendudukkan diri, tepat disisi kanan sang Mama yang sedang tertidur di ranjang rumah sakit. Ia lalu menggenggam jemari pucat sang Mama, lalu menciumnya. Raut penyesalan terpancar diwajahnya telah membuat kambuh penyakit jantung wanita paruh baya itu."Maafin aku, Ma. Maafin aku kalau selama ini aku sudah melukai hati Mama."lirihnya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tolong sadarlah, Ma." ia kembali mencium punggung tangan sang Mama lembut. Sungguh ia tak ingin kehilangan wanita ini.
"Kali ini, apa pun keinginan Mama ... aku janji aku akan memenuhinya. Termasuk meski itu menikahi Evelyn."
"Tapi aku mohon, Mama harus bangun."pintanya merayu sang Mama agar segera sadar. Detik itu, ia merasakan jemari sang Mama bergerak pelan. Virza gegas keluar memanggil petugas medis untuk memeriksa kembali keadaan sang Mama.
"Syukurlah, keadaan Mama kamu sudah stabil." Teddy tersenyum lega usai memeriksa keadaan Inggrid kembali."Tapi saat ini jangan mengajaknya bicara dulu. Biarkan Mama kamu tetap istirahat sampai keadaannya benar-benar tenang."
Pagi hari, matahari dengan tegas menampakkan sinarnya dibalik embun pagi yang masih menyelimuti bumi. Cahayanya perlahan merangkak naik, menembus jendela kaca rumah sakit.
Virza yang tertidur di kursi seraya memegang tangan sang Mama berkali-kali mengerjapkan mata untuk menjernihkan pandangannya yang sedikit kabur sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Ia sempat melihat keadaan sang Mama yang masih tertidur, kemudian memutuskan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
Setelah dirasa sudah jauh lebih segar, ia keluar dari kamar mandi. Pandangannya tertuju pada Kevin yang ternyata baru datang sambil membawa satu buah Tote bag.
"Kali ini biarkan aku yang menjaga Mama." Kevin menutup pintu."Kamu bisa pulang ... istirahatlah dirumah. Aku tau tidurmu tadi malam pasti tidak lelap."
"Kamu yakin?."
"Tentu saja. Mama Inggrid juga Mamaku. Aku juga ingin menjaganya."
"Baiklah." Virza meraih jaketnya yang berada diatas sofa."Aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa sama Mama .... hubungi aku."
Kevin menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
Beberapa menit kepergian Virza, Inggrid terbangun setelah semalaman terus tertidur. Mungkin karena efek penenang yang disuntikkan oleh Teddy di botol infusnya. Kelopak matanya yang sayu menatap dinding putih rumah sakit. Ia beralih ke sisi kiri, memandang Kevin yang duduk menungguinya.
"Kevin ..." suara Inggrid terdengar parau.
"Alhamdulillah Mama sudah bangun." Kevin tersenyum lega."Bagaimana keadaan Mama? apa sudah terasa membaik?."
"Apa jantung Mama masih terasa nyeri?."
Inggrid bergeleng lemah dengan senyum tipis."Mama sudah merasa lebih baik, nak."
"Tapi Mama haus, tolong ambilkan minum." pinta Inggrid pelan.
"Iya, Ma ... sebentar."Kevin lalu menuangkan air bening kedalam gelas."Ini, Ma." ia membantu mengangkat sedikit punggung sang Mama.
"Terimakasih, nak." Inggrid kembali tersenyum tipis dengan bibirnya yang masih terlihat pucat."Dimana Virza?."
"Baru saja pulang, Ma. Aku menyuruhnya istirahat dirumah." Kevin merapikan selimut Mama angkatnya itu."Semalaman dia berjaga. Sekarang gantian .... aku yang disini."
Sudut bibir Inggrid kembali tertarik tipis."Kalian memang anak-anak Mama yang baik."
Kevin turut tersenyum."Sekarang Mama harus sarapan." ia mengambil tote bag yang tadi ia bawa lalu membukanya."Tadi dirumah aku buatin bubur ayam dengan racikan khusus. Ini dijamin lezat, Ma. Masakan restoran tetap kalah. Apalagi rumah sakit ini."
"Bebas MSG (Monosodium Glutamat) ... Dijamin aman untuk kesehatan Mama."pungkas Kevin mantap.
Inggrid terkekeh pelan."Makasih, sayang. Mama tau ... masakan kamu memang paling enak dan lezat."
"Tentu." Kevin tersenyum bangga.
"Vin ..."
"Iya, Ma?."
"Mama mau tanya sesuatu sama kamu. Ini soal Maura."
__ADS_1