
Tetes demi tetesan embun bergelayut manja diujung dedaunan, bersama kabut pagi yang menyelimuti bumi. Kicau burung, dan semilir angin yang menari seolah perpaduan yang harmonis, menyambut sinar keemasan yang mulai menampakkan diri di garis cakrawala.
Senyum cerah tergambar disudut bibir Aina. Sambil menyeruput teh hangat pemberian Deva yang kini tinggal separuh dan hampir beku karena suhu udara yang dingin. Anggap ini ucapan terima kasih dariku, karena tadi malam sudah memberiku jagung bakar. Begitu kata Deva tadi. Dengan senang hati Aina menerima.
Keduanya duduk diatas karpet kecil menghadap tepat ke arah Danau dengan air berwarna kehijauan memanjakan mata, seraya sesekali mengusap bahu merasakan semilir angin yang terasa menusuk pori-pori kulit meski saat ini keduanya memakai jaket tebal.
"Bagaimana tidur tadi malam." Aina kembali membuka suara usai Deva hanya diam setelah berbicara beberapa kata."Kamu nyenyak?." ia melihat sisi wajah pemuda itu, karena melihat ke depan. Terlihat tampan dengan lengkung hidung dan garis rahang yang tegas. Ini tak kalah indah dari pemandangan alam pagi ini.
Deva tersenyum kecut."Tidak juga. Bisa dibilang aku tidak tidur sama sekali."
"Karena, Maura?." tebak Aina ragu. Kemudian ia merasa menyesal sudah bertanya seperti itu, menyadari wajah Deva yang tiba-tiba berubah dingin.
"Bukan ... " sahut Deva akhirnya."Karena sempit, dan berisik"ia tersenyum tipis, ketika Aina kemudian tertawa.
"Donny tidur terlalu lasak. Dan Ivan bantal donat kesayangannya, cukup besar makan tempat. Sementara Andre dan Vino mendengkur terlalu keras."
Aina tertawa pelan."Kasihan sekali, kamu."
Deva menghela nafas, ketika saat itu satu persatu bangun dan keluar dari tenda.
Aina melihat Aira keluar. Wajah wanita itu terlihat pucat dan seketika limbung ketika hendak berdiri. Dengan gerakan refleks ia berdiri mencoba menahan agar tidak jatuh. Tapi tanpa diduga, seperti tadi malam, tangannya langsung ditepis dengan keras.
Aira memandang Aina sinis.
"Sombong banget, sih?!." Deva langsung berdiri menghampiri, merasa geram melihat perlakuan Aira pada Aina."Aina tadi mau nolong kamu. Kalau enggak kamu pasti sudah jatuh sekarang!."
"Aku enggak perlu bantuan siapapun!."
Deva hendak kembali bersuara tapi tangan Aina yang memegang lengannya berhasil menahan.
"Wajah kamu pucat. Kamu sakit?." kali ini ada nada kecemasan dari suara Aina. Menurutnya ini pasti karena tadi malam Aira menolak keras memakai selimut pemberian darinya. Suhu dingin mencapai 5 derajat Celcius tadi malam mungkin sudah membuat wanita itu kedinginan dan masuk angin.
"Aku enggak apa-apa."
"Aku buatkan teh hangat, ya."
"Aku sudah bilang aku enggak apa-apa!." sahut Aira cukup keras membuat Aina berjengit karena terkejut.
Begitu juga dengan Andre dan segerombolannya yang baru kembali mencuci muka. Termasuk Anya dan Riri yang masih terlelap seketika tersentak.
__ADS_1
"Aduuuh ... apa sih, ribut-ribut. Masih malam, juga." keluh Anya menggeremang diiringi suara decak-decak pelan, menarik selimut. Sementara Riri yang sempat tersentak saat ini sudah kembali terlelap, seolah mata sangat lengket tenggelam dalam mimpi dengan aneka makanan yang lezat seolah berputar-putar mengelilingi.
"Hemmm, Neng Anyaaa! Ini sudah pagi, neng. Bukan malam lagi." Donny menggoyang-goyangkan tenda menciptakan suara angin ribut didalam tenda."Bangun-bangun! Ah, elaaaah. Gimana kita nikah nanti. Molor Mulu."
"Sudah, Na ... Enggak usah pedulikan dia." Deva bicara pada Aina, namun dengan tatapan tajam pada Aira. Sungguh, ia tak suka perempuan ini."Orang kayak begini enggak perlu di bantu."
"Ada apa, ini?."
Tanya Damar tiba-tiba datang entah dari mana. Aira yang melihat pria itu dengan tatapan tak suka langsung beranjak. Namun baru beberapa langkah, pandangannya tiba-tiba kabur, dan dengan sendi-sendi yang mendadak terasa lemas. Aira sempat mendengar Damar memanggilnya, dan merasakan sepasang tangan kokoh milik pria itu menyambut tubuhnya sebelum akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri.
Semuanya panik, termasuk Anya dan Riri yang baru saja terbangun akibat guncangan tenda yang dibuat oleh Donny.
"Astaga, Bu Aira pingsan!." Riri terkejut.
"Please, RI! Jangan ngomong lagi. Nafas kamu bau karbit." celetuk Ivan sambil mengibas-ngibaskan tangan didepan hidung. Membuat gadis berambut keriting bertubuh gempal itu nyengir kuda sambil menutup mulut.
"Ada yang bawa minyak kayu putih?." suara Damar terdengar cemas sambil menggendong tubuh kurus Aira.
"Saya, bawa, Pak. Sebentar." Aina langsung masuk kedalam tenda, mencari minyak kayu putih dari dalam tas miliknya. Tak lama, ia kembali keluar membuka pintu tenda lebar-lebar. Mempersilahkan Damar meletakkan Aira didalam.
"Ini, Pak, minyak kayu putihnya."
"Syukurlah, kamu sudah sadar."ada nada kelegaan terdengar dari suara Damar yang melihat Aira meringis memegangi pelipis. Sepasang tangan kokohnya meraih tangan kurus itu lalu mengusapnya berulang-ulang menyalurkan kehangatan.
"Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit?."
Baru bangun?
Begitu suara disela-sela pembicaraan Damar dengan Aira.
Aira bergeleng pelan."Enggak perlu. Cuma sakit kepala. Mungkin dibawa tidur sebentar bisa hilang."
Damar menghela nafas."Kita harus kembali ke hotel. Udara dingin disini tidak baik untukmu."
****
Maura mengerjap-ngerjapkan mata ketika nyanyian burung terdengar diluar tenda. Dan perlahan sepasang bola matanya terbuka lebar, merasakan hembusan nafas teratur menyapu wajah dari pria yang terlelap didepannya. Membuatnya memaksa menelan ludah, dari lidah yang terasa kering, begitu menyadari tubuh kurusnya berada didalam dekapan Damar. Dengan satu tangannya memeluk tubuh tegap itu pria itu, tertutup selimut yang melingkupi tubuh keduanya.
Ini bukan pertama kali. Tadi sudah kesekian kali. Yang tanpa disadari selalu membuat tidurnya menjadi sangat lelap. Begitu pun, tadi malam. Udara dingin nyaris tak terasa. Yang ada hanya rasa hangat, menenangkan sepanjang malam. Meski sempat menggigil ketakutan ketika sayup-sayup telinganya menangkap suara tawa berkali-kali dari luar. Itu bukan suara Aina apa lagi Anya dan Riri. Ia yakin itu.
__ADS_1
"Suara apa itu, Mas? Kamu dengar?." Begitu tanyanya tadi malam. Sambil menajamkan telinga dengan keberanian."Seperti kuntilanak."
Tak ada sahutan, ia berdecak kesal ketika menyadari Damar ternyata sudah memejamkan mata. Cukup jelas dari cahaya lampu tenda yang sengaja dikurangi cahayanya. Tanda pria itu mulai masuk ke dalam arus mimpi. Terbukti ketika dia memukul lengan pria itu keras, pria itu tersentak."Bangun, Mas!!."
Decak Damar kesal sambil membuka mata yang terasa berat."Apa, sih?."
"Itu suara apa? Kayak ada suara kuntilanak tertawa."suara Maura terdengar ketakutan.
Damar kini membuka mata, mencoba menajamkan telinga menunggu suara yang dimaksud, ketika saat itu suara tawa terdengar. Netranya melebar, memastikan lebih jelas. Barulah ia bersuara."Bukan ... itu suara musang bulan lagi birahi."jelasnya kemudian, lalu kembali memejamkan mata.
"Oh." Maura manggut-manggut."Tapi perasaan birahi Mulu, deh. Tadi siang, Rusa ... sekarang musang bulan. Kamu enggak lagi birahi juga, kan, Mas?."tanyanya dengan mata menyipit.
Pertanyaan polos itu tiba-tiba membuat Damar yang sedang memejamkan mata sontak menahan tawa.
Lagi-lagi Maura berdecak kesal memukul lengannya."Aku serius."
"Aku birahi bisa kapan saja. Sekarang juga bisa kalau kamu dekat-dekat. Apalagi udah lama." sahutnya menakut-nakuti masih dengan mata terpejam. Saat itu Maura langsung menjauh memberi jarak, terasa dari selimut yang tertarik menutupi tubuhnya. Ia membuka mata, menoleh kesamping, melihat pada Maura yang saat ini sudah memunggunginya sambil menutup seluruh tubuh dengan selimut. Hal itu membuatnya mengulum senyum.
Anehnya, pelukan ini tak membuat Maura takut. Ia justru semakin merasa terlindungi. Tanpa sadar sudut bibir tertarik tipis. Ditatapnya wajah yang kini masih terpejam dalam lelap. Sedetik, dua detik, Maura dibuat terpana dengan ukiran indah wajah pria itu. Sungguh, Tuhan telah menciptakannya dalam wujud yang sempurna. Alis tebal, hidung mancung, dengan rahang tegas ... Maura terus menekuri. Namun tiba-tiba ia dibuat panik dan langsung menutup mata. Berpura-pura tidur kembali ketika menyadari Damar bergerak dengan mata yang mengerjap-ngerjap.
Pria itu bergerak duduk, sempat merasakan Damar memperbaiki selimut yang menutupi dirinya, sebelum akhirnya ia merasakan Damar benar-benar keluar dari dalam tenda.
Beberapa saat Damar keluar, dirinya hampir terbawa kantuk kembali. Hingga sayup-sayup suara ramai diluar terdengar, ia akhir keluar. Dari jarak beberapa meter, ia melihat Damar tengah menggendong Aira masuk kedalam tenda. Dengan dituntun rasa penasaran ia mendekati perkumpulan. Dapat ia lihat Damar dengan wajah cemas mengusap-usap kedua tangan Aira.
"Baru bangun?." tanya Aina menyadari kedatangannya. Yang langsung dibalas anggukan olehnya. Tanpa bertanya, ia sudah menebak apa yang terjadi.
"Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit?."
Aira bergeleng pelan."Enggak perlu. Cuma sakit kepala. Mungkin dibawa tidur sebentar bisa hilang."
Damar menghela nafas."Kita harus kembali ke hotel. Udara dingin disini tidak baik untukmu."
Maura melihat Aira mengangguk, kemudian wanita itu mendudukkan diri dan perlahan berdiri, diikuti oleh Damar yang sejak tadi menunjukkan kesigapan disisi Aira.
Dan kali ini ia dibuat tercengang, ketika Damar dengan gerakan refleks menahan tubuh Aira yang tiba-tiba kembali limbung, lalu menggendong tubuh kurus wanita itu, membawanya menuju mobil yang saat ini memang sudah diparkirkan didekat tenda oleh Damar sejak tadi malam, ketika mengambil jaket kulit untuk dirinya.
Sepanjang melihat perlakuan itu, entah mengapa sudut hati Maura kembali terusik. Rasa yang sama sejak semalam ketika mendengar cerocosan Anya. Perasaan kesal, tidak rela, marah, dan benci seolah berbaur menjadi satu. Yang pada akhirnya membuat mata terasa panas.
"Kamu lapar?." suara lembut Aina mengalihkannya.
__ADS_1