
"Enggak, Mas!"
"Buka, Maura!."
"Enggak! Aduuuh ... sakiit."
"Masih sakit?." dengan spontan Damar memegang tangan kanan Maura yang kini sudah dibalut plaster luka. Seketika Maura tertegun. Kembali mengingatkannya pada tatapan tak mengerti Deva ketika dirinya mengucapkan terima kasih, beberapa saat lalu.
Jadi ternyata laki-laki menyebalkan ini yang sudah memberiku kotak obat itu?
Sejak tadi malam, akhirnya ia mengakui Damar adalah pria yang baik. Meski tetap tak bisa menutupi sikap menyebalkan yang kerap membuatnya sinting. Otak pun terasa denyutnya tatkala berdebat. Tapi pernah juga menjalarkan angin sejuk yang menentramkan jiwa. Sungguh tidak bisa ditebak.
Damar mengernyit."Kenapa menatapku seperti itu?."
Maura tergeragap menelan ludah gugup refleks mendorong tubuh tegap Damar yang mengungkung dirinya hingga membuat tubuh tegap itu terduduk."Minggir!"
Maura bangkit, lalu dengan gerakan kikuk merapikan pakaian dan rambutnya yang tergerai, dan sedikit berantakan.
"Ngomong, ngomong ... makasih obatnya."sambungnya dengan nada suara tenang. Entah disadari atau tidak, tiba-tiba nada kemarahan dan kekesalan yang sempat memuncak mendadak menguap entah kemana.
Damar mengangguk sekilas, kemudian meraih tangan Maura kembali."Lukanya masih sakit?."
Maura bergeleng cepat, sentuhan tangan Damar membuat tubuhnya seperti memaku. Bibirnya terbuka. Ingin bersuara namun seolah tak sejalan dengan pikiran. Astaga, kenapa dengan otakku? Sepertinya suhu dingin disini membuat otakku ikut beku sampai-sampai aku jadi kesulitan berpikir.
Refleks ia menggerakkan kepala. Berharap bisa berguncang sedikit demi untuk mencairkan otak agar bisa berpikir lebih waras.
"Beneran?"tanya Damar memastikan.
"Iya, benar. Tadi cuma tidak sengaja tertekan. Sekarang sudah enakan."
Damar menghela nafas. Hening sesaat, kemudian kembali bersuara."Tidur disini saja. Jangan keluar lagi. Diluar dingin. Aku takut demam mu tadi malam kumat lagi."
__ADS_1
Seolah kalimat itu adalah mantra sihir, tanpa perlu pemaksaan Maura langsung mengangguk menuruti. Ia mengikuti pergerakan Damar yang mematikan lampu, kemudian perlahan membuka pintu tenda, membungkuk keluar. Dan kasak kusuk suara, tatapan terkejut serta gerak gerik beragam dari semua orang yang berada didepan. Bisa ia lihat melalui celah antara tenda dan tubuh Damar yang perlahan berdiri.
"Kalian ngapain disini?."
"J-jagungnya, gosong!." kilah Andre seraya berlari menuju perapian diikuti Riri dan Ivan yang mengejar. "Iya, ya ampun ..." begitu timpal suara Riri sebelum menjauh.
"Mau ambil kayu untuk api unggun, Pak."Donny nyengir sambil meraih sebatang kayu basah yang kebetulan berada tak jauh darinya berdiri. Tapi tanpa diduga, ternyata kayu berukuran sedang itu cukup berat. Vino yang melihat ekspresi mengejan dan wajah merah Donny bak angin segar menemukan alasan yang sempat buntu.
"Ayo, Don ... ku bantu." keduanya membawa patahan kayu basah dengan hela nafas lega berhasil lepas dari tatapan tajam menyelidik sang atasan. Sementara Aina dan Anya masih berdiri nyengir. Seolah sambil berpikir kali ini, alasan apa selanjutnya.
"Kalian alasannya apa? Sudah dapat?."
"Belum, Pak."
Jawaban spontan Anya refleks membuat Aina mencubit gemas bokong gadis itu, hingga berjengat sedikit. Maura yang berada didalam tenda dibuat menahan tawa.
"Ini, Pak ... emm." Aina menggaruk leher."Sebenarnya kami mau kasih tau kalau jagung bakarnya sudah masak."
"Oh." Damar manggut-manggut. Masuk akal, pikirnya."Kalian habiskan saja. Kami sudah kenyang." sahutnya datar. Namun bukannya tak tau jika semua alasan yang keluar adalah sebuah pengalihan. Damar hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan abstrak seluruh karyawannya.
"Iyaaa." sahut Maura malas seraya menutup tenda.
*****
Satu tongkol jagung dan sebotol air mineral berada ditangan Aina. Kakinya terhenti, mendadak ragu melangkah pada tenda paling ujung yang kini tertutup rapat.
"Mungkin Deva sudah tidur." Andre yang hendak masuk seolah mengerti tujuan Aina.
"Aku rasa belum." Aina melihat sedikit cahaya dari dalam yang menurutnya itu adalah sinar gawai yang dimainkan oleh Deva."Bisa titip ini untuknya? Mungkin dia lapar."
Andre tersenyum seraya menerima jagung dan botol air mineral dari tangan Aina."Baiklah, akan ku kasih."
__ADS_1
Aina balas tersenyum, ketika saat itu Anya, dan Riri masuk kedalam tenda kedua. Tepatnya berada ditengah-tengah. Berbeda dengan tenda pertama yang dipasang lebih jauh, tenda mereka berdampingan dengan tenda yang kini dimasuki oleh Andre dan yang lain.
Aira, gadis itu sedang meringkuk menghadap tepat pada dinding tenda. Sedikit bergeser maju begitu menyadari Anya dan Riri masuk dan rebah di balik punggungnya. Gegas menyusut pipi yang entah mulai kapan basah.
Tatapan mendalam, rentetan kalimat yang dikumandangkan oleh Damar, saat bicara dengan Deva tadi, juga kehebohan Donny yang melihat bayangan dari dalam tenda terekam di kepala. Ya, semua dia tau. Dan semua dia dengar. Berputar tak ingin senyap barang sedetik. Membuat dada kian sesak dan kepala penuh ingin meledak. Terus memaksa mata untuk terpejam, namun urung. Benar-benar satu kesalahan besar datang ketempat ini.
Sendawa Riri akibat kekenyangan membuat gaduh dalam tenda ketika sahut suara Anya menggema menimpali."Ih, Riri ... sendawanya ditutup, dong. Bau belerang!." ia mendorong tubuh Riri kesamping.
"Hihihi. Sorry, Nya .... kelepasan." Riri menutup mulut menahan tawa.
"Geseran dikit. Badan kamu lebar banget. Sempit tau!"keluh Anya kemudian.
"Kemana lagi, Nya ... ini udah mentok."
Riri sedikit menggeser badan yang sudah benar-benar menyentuh dinding tenda, ketika Aina masuk dan melihat bagian kosong disisi Aira. Yang sepertinya memang sengaja disisakan oleh Anya untuknya.
"Kalau gitu, kamu aja yang disebelah sini."
"Ogah! ntar si Donny manggil-manggil aku. Yang ada aku enggak bisa tidur sampai pagi."
"Dia juga enggak bakalan tau kalau kamu yang disebelah sini." Riri menjawab, ketika suara panggilan dari tenda sebelah terdengar. Tak pelak itu membuatnya menahan tawa. Menurutnya Anya dan Donny memiliki firasat hati yang saling bersambut.
Neng Anya, ssst, ssst!.
"Tuh, kan ... apa ku, bilang. Baru juga diomongin."Anya memasang wajah sebal, langsung menarik selimut menutupi kepala agar tak mendengar. Namun usahanya sepertinya sia-sia, karena hanya dalam hitungan detik suara Donny kembali mengalun. Seperti lirik dengan nada yang tak seirama, membuat sakit telinga.
Neng Anya, semoga mimpi indah ... jangan lupa mimpiin AA, ya.
"Berisik Don! sekali lagi kamu ngomong, tenda kamu aku pindahin!." ancam Anya dengan suara memenuhi tenda. Dari tenda sebelah ia mendengar gelak tawa, seolah menertawakan Donny.
Aina perlahan merebahkan diri seraya menarik selimut hingga sebatas dada setelah sempat melihat pada Aira yang sepertinya masih terjaga, mengesampingkan keberisikan Anya dan Riri yang perlahan tak lagi terdengar. Pergerakan tangannya ragu meletakkan lembar selimut di pinggang Aira. Yang ternyata langsung dibalas tepisan.
__ADS_1
"Suhunya dingin, kamu harus pakai selimut. Kalau enggak, kamu bisa masuk angin." ucap Aina pelan, tapi dirinya tau Aira yang sedang memunggungi pasti mendengarnya. Mungkin juga dengan Anya dan Riri yang saat ini telah terpejam dengan posisi berhadapan, diiringi hembusan nafas perlahan teratur. Pertanda keduanya mulai terbawa arus alam mimpi. Padahal kebisingan keduanya baru saja berakhir dalam hitungan menit.
"Aku enggak butuh! Tolong jaga sikapmu."