KIMCHI

KIMCHI
MINTA KAWIN


__ADS_3

..."Kerap kali aku disini. Disudut didekat pepohonan, menatap dan berharap. Aku dengan sendiriku, dan aku dengan cemas ku. Diantara mereka dalam lamunan dan dengan rasa yang dalam. Sebab ku rasakan aku sudah tenggelam ..."...


^^^_puisitentangcinta^^^


"Kok nggak nyampe-nyampe, sih? Perasaan tadi lewat sini."


Maura celingukan. Mencoba mengamati sekeliling ada atau tidaknya jalan lain. Tepat ketika ia menoleh ke kiri, sebuah jalan terlihat."Mungkin ini jalannya." Ia gegas melangkah, sampai tak melihat sebuah tulisan yang terpampang disisi kanan.


Ingin bertanya, tapi tak ada orang disekitar tempat itu. Namun tidak diarea lain yang jaraknya mungkin berkisar puluhan meter dengan rentetan tenda yang terpasang, dan beberapa orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Cukup jauh berjalan, tiba-tiba satu ekor Rusa dengan tanduk gagah tampak berlari mengejar ke arahnya. Sontak Maura berbalik dan berlari dengan panik."Aaa ... Tolong!!."serunya dengan langkah panjang. Dan .....


"Awas, Mbak!!."


"BRAAAAKK!!."


Maura sempat mendengar suara seorang pria sebelum dirinya jatuh tersungkur kedalam tanah galian yang telah ditumbuhi rumput dan sampah.


"Aduuuuuh ... sakiit."Maura meringis hampir menangis sambil meniup telapak tangannya yang mengalami beberapa goresan dan mengeluarkan sedikit darah.


"Ya ampun, Mbak .... itu tadi Rusa-nya mau minta kawin."ujar pria kurus bertopi itu mendekati.


"HAH, MINTA KAWIN?!."netra Maura terbelalak tak percaya. Oh, ya ampun ...!! Aku lebih rela dikawini oleh Damar Alga Zachni, dari pada harus dikawini oleh seekor Rusa. Enggak apa-apa deh, walaupun nyebelin juga. Batinnya ngeri.


"Iya, mbak. Sini saya bantu naik."Pria itu mengulurkan tangan kanan padanya.


"Tapi sekarang aman, kan, Mas. Enggak ngejar lagi kan, Rusanya?."


"Aman."pria itu tertawa lucu melihat wajah pucat dan ekspresi ketakutan Maura dan dengan ragu-ragu menyambut uluran tangannya.


"Pelan-pelan, Mas. Tangan saya terluka." ucapnya sebelum pria itu berhasil menarinya ke atas.


"Sebenarnya itu tadi Rusa-nya mengejar Rusa betina yang ada disana."pria itu menunjuk Rusa tak bertanduk, di antara dua Rusa bertanduk yang saat ini berkisar lima meter dari tempat mereka berdiri."Bukan mau ngejar mbak-nya."


Maura mengikuti arah pandang pria itu."Oh ... jadi bukan ngejar, saya?."


"Bukan, Mbak." pria itu terkekeh pelan."Rusanya tadi lagi dalam birahi. Dia langsung mengejar karena melihat Rusa betina sedang didekati oleh Rusa jantan lain."

__ADS_1


"Oh, gitu."kali ini ia nyengir. Merasa geli karena sudah mengira Rusa itu ingin mengawininya.


"Tadi kalau mbak nggak jatuh, mungkin tadi Rusa-nya sudah nyeruduk mbak-nya. Soalnya kalau lagi musim kawin dia bisa berubah buas."


"Makanya kami tulis tanda di ujung sana." Pria itu menunjuk tanda peringatan disebelah kanan."Dilarang masuk area ini. Mbaknya nggak baca, ya?."


"Tadi enggak lihat."


"Lain kali hati-hati ya, mbak."


Maura tersenyum tipis pada pria yang menurutnya adalah pawang hewan tersebut."Terima kasih, Mas. Sebenarnya saya mau menuju ke danau. Tapi lupa."


"Oh, kalau mau ke danau lewat sini, mbak." pria itu menunjuk ke arah jalan yang ia lewati sebelumnya."Nanti lewat kiri. Jangan ke kanan."


Maura mengangguk mengerti."Sekali lagi terima kasih, ya, Mas. Kalau begitu saya permisi." ucapnya sebelum pergi mengikuti jalan yang ditunjuk oleh pria itu. Kurang lebih lima menit, dirinya telah sampai. Mendadak berhenti melihat Damar dan Aira ternyata berkumpul diantara teman-teman yang lain. Hiss!! Nyasar ... hampir diseruduk Rusa, sekarang malah ketemu dia. Apes banget sih, aku hari ini. Lagian ngapain sih, dia kesini?! Bawa perempuan itu lagi!


"Maura! Ya ampun ... kamu dari mana saja?." Aina langsung mendekat begitu menyadari kepulangan Maura. Terkejut melihat penampilan sahabatnya itu saat ini. Kaos putih yang dilapisi jaket penuh dengan noda, rambut sedikit berantakan dengan beberapa dedaunan yang menempel diatasnya."Ini kamu kenapa bisa begini?."


"Dari mana, sih?."


"Jatuh ke lobang gara-gara mau diseruduk Rusa."ucapnya dengan wajah tertekuk masam.


"Ampun, deh, Ra .... kesal sih, kesal. Tapi enggak usah pasrah juga diseruduk Rusa. Hahaha."timpal Anya yang hanya diabaikan olehnya.


"Aina ... tolong segera bawa dia bersih-bersih."


Suara itu membuat Maura beralih, memandang dengan sinis."Aku nggak mau mandi. Dingin begini ... tinggal di lap-lap doang, juga udah bersih."


Aina melihat Damar bingung.


"Bawa ke kolam air panas. Biar dosa-dosanya sekalian luntur! kalau enggak mau jeburin aja."seperti biasa, suara Damar terdengar tegas. Membuat Aina tak ingin membatah seolah ini adalah suatu pekerjaan yang harus dilakukan.


Mendengar itu sontak netra Maura membulat dengan bibir dirapatkan menahan geram."Kam ...."rengkuhan tangan Aina memegang bahunya saat itu berhasil menahan umpatan yang hampir keluar.


"Sudah, ayo! Mandi di kolam air panas enak, tau."ucap Aina pelan.


Maura akhirnya setuju. Sempat melempar tatapan tajam ketika melewati Damar saat berjalan menuju tenda untuk mengambil tas.

__ADS_1


"Pak nginap disini, kan?." tanya Riri sambil memasukkan potongan wafer coklat kedalam mulut.


"Tidak, saya akan kembali ke hotel nanti."


"Yaah ... nggak seru, dong!."keluh Riri sambil terus mengunyah.


"Gabung lah, Pak sekali-kali. Biar seru ... Jarang-jarang loh, Bapak ikut-ikutan ngumpul bareng karyawan begini."timpal Vino kemudian.


"Ho'oh." kali ini Anya mengiyakan seraya mencomot wafer yang dipegang Riri. Dan langsung mendapat pukulan kecil dari gadis berpipi chubby itu.


Sementara Andre, tampak tak menyahuti. Bukan tak setuju, hanya saja ia berpikir perang dingin akan terjadi. Ia melihat Deva yang sudah berdiri berjalan menuju tenda. Bukan ia tak memperhatikan selama ini. Setiap dua pria ini berada ditempat yang sama, suasana akan mendadak beku seolah berada di kutub Utara. Usut punya usut, ternyata itu disebabkan oleh satu wanita. Maura Serillya Ayu.


Damar melihat Aira dengan tanya. Bagaimana pun, Aira ikut bersamanya. Ia merasa tak enak, jika Aira merasa keberatan kalau harus bermalam ditempat ini.


"Terserah kamu saja. Aku ngikut." ucap Aira yang mengerti dengan tatapannya.


Damar menghela nafas pelan."Oke, saya ikut bergabung hari ini." ucapnya kemudian melihat pada pria berjaket kulit yang sedang sibuk menyusun kayu api bersama Donny dan karyawan yang lain."Ndre, dimana tempat sewa tenda?."


"Waduh ... tenda kosong, Pak. Kehabisan karena banyak pengunjung. Saya taunya tadi waktu sewa lampu tenda." jelas Andre.


"Oh gitu, ya."


"Begini saja, Pak. Nanti Bapak bisa tidur di tenda saya. Biar nanti saya sama Ivan tidur di tenda Vino dan yang lain."


"Waduh, jadi ngerepotin dong."


"Tidak sama sekali, Pak. Justru seru kalau ada Bapak disini. Lebih ramai ...." Vino menimpali dengan antusias."Tenda kami kalau 5 orang masih muat. Nanti Bapak bisa tidur sama Maura disitu."


"Kalau Bu Aira, nanti bisa tidur sama Anya dan yang lain. Kapasitas tenda sama, bisa muat 5 orang juga."pungkas Vino disela-sela membantu Andre dan Donny menyusun kayu bakar yang hampir selesai.


"Tapi jangan kaget ya Mbak Aira, kalau nanti malam berisik. Soalnya kata Mama aku kalau tidur ngorok. Hihihi." sahut Riri masih terus mengunyah. Sementara Aira hanya balas tersenyum kaku.


"Itu mah, gampang ... nanti kalau kamu ngorok aku sumpelin bantal. Kalau perlu dikeluarin dari tenda. Hahahaha." celetuk Anya


"Jangan dong, Nya ... tega amat." Riri cemberut


"Ya sudah kalau gitu. Kami ikut bergabung dengan kalian." ucap Damar kemudian.

__ADS_1


"Aaaa ... ADA LABA-LABA!!" teriakan Ivan yang berlari terbirit-birit kedalam tenda memecah tawa semuanya melihat larinya yang gemulai.


__ADS_2