KIMCHI

KIMCHI
Kita Tidak Akan Bercerai


__ADS_3

Suara dengkuran halus dari mulutnya sendiri membuat Maura tersentak. Sambil menggaruk leher dan dengan pandangan sedikit kabur, kedua bola matanya yang sayu meraba pada lukisan besar yang menempel di dinding kamar, yang perlahan terlihat semakin jelas. Detik itu tubuhnya dengan setengah melompat langsung duduk. Menyadari dimana dirinya telah tertidur. Gegas melihat jam dipergelangan tangan yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam.


"Astaga, kebo banget sih, aku." gerutunya menyesali karena telah membuka lembar demi lembar foto yang membuat matanya jadi mengantuk. Meski isinya hampir sepenuhnya foto kenangan Damar dan Aira. Bagaimana wanita itu tak pernah jauh dari sisi suaminya. Merasa kesal, namun anehnya dia penasaran.


Maura gegas berdiri dan berjalan cepat membuka handle pintu yang tak kunjung terbuka. Dengan sedikit menguji kesabaran karena lupa jika pintu itu memakai kode rahasia.


"Ribet banget, sih." gerutunya sambil menekan satu persatu angka yang tadi sore ia gunakan untuk masuk dengan gerakan cepat. Selang kemudian pintu terbuka. Rooftop terlihat remang. Hanya pendar cahaya dari rembulan dan bintang-bintang di langit malam yang menerangi. Dengan langkah terburu-buru Maura menuruni tangga menuju lantai satu.


Seharusnya restoran memang sudah tutup sejak setengah jam lalu. Namun dirinya masih berharap masih ada satu atau dua orang yang belum pulang. Dengan begitu, ia tak akan terkunci didalam restoran ini. Dilantai bawah, Maura harus menghela nafas kecewa karena ruangan telah hening menjadi gelap gulita. Pintu dan semua jendela telah tertutup rapat. Dirinya benar-benar terkurung.


Ia menekan sakelar lampu tepat disisinya berdiri. Membuat menyala satu buah lampu di ruangan terdekat. Lalu masuk kedalam loker untuk mengganti seragam kerja dengan pakaian yang ia gunakan tadi pagi ketika datang ke restoran.


Hal yang pertama ia lakukan adalah membuka tas dan mengambil ponsel yang sejak tadi pagi tidak terjamah. Berniat untuk menghubungi siapapun yang bisa dimintai pertolongan. Namun lagi-lagi dirinya harus menelan kekecewaan karena layar ponsel itu kini berubah gelap.


"Ya ampun .... kenapa harus lowbat sekarang, sih." keluhnya dengan suara ingin menangis."Enggak ada charger, lagi."


Usai mengganti pakaian, dengan langkah lesu Maura berjalan ke depan. Duduk disalah satu kursi pengunjung yang semuanya kosong. Merasa bingung tidak tau harus berbuat apa. Ketika itu, jerit rontaan cacing menerjang-nerjang usus membuatnya mengusap perut.


Maura perlahan berdiri berjalan menuju dapur restoran. Membuka kulkas berukuran besar yang biasanya digunakan untuk menyimpan beberapa sayuran dan minuman untuk karyawan. Beruntung saat itu ia menemukan dua botol air mineral, beberapa sayuran segar, dan camilan yang dirasa cukup untuk mengobati rasa laparnya. Tak hanya itu, ia juga menemukan kimchi didalam wadah tembus pandang.


Kimchi? Maura tersenyum seolah menemukan ide brilian untuk kebosanannya.


Usai meneguk setengah botol air mineral dan menghabiskan semangkuk kecil kimchi serta camilan, ia gegas mengeluarkan hampir keseluruhan isi kulkas.


Satu buah lobak, dan sawi putih, kecap ikan dan beberapa perintilan perbumbuannya telah tersedia di atas meja dapur. Tersenyum semangat seraya mengusap kedua tangan, ia lalu mengambil pisau miliknya langsung menebas lobak hingga menjadi beberapa bagian. Ketika itu derit dari pintu depan membuat tangannya berhenti. Dan derap langkah yang perlahan semakin jelas membuatnya memutar badan dengan tatapan awas. Diikuti gerak dada yang perlahan berkejaran. Merasa takut, namun berusaha keras untuk tetap tenang.


Bukan apa, jika restoran ini dirampok, ya biarkan saja. Toh, pemiliknya kaya raya. Sekalipun membangun ulang restoran kembali tidak akan menghabiskan seluruh uang si pria menjengkelkan itu. Pikirnya.


Namun yang ia takutkan adalah keselamatan dan juga keperawanannya. Setengah mati menjaga sampai-sampai bertaruh diatas kontrak, rasanya lebih rela direnggut oleh si pria menjengkelkan itu dibanding direnggut oleh sekelompok perampok. Selain ternodai, ia bisa saja mati terbunuh dengan sia-sia.


"Aduh ... enggak apa-apa deh kalau kehilangan perawan gara-gara papanya si Zayn. Kan dapat restorannya. Tapi jangan sampai diperkosa sama perampok, ya Allah. Bisa mati gentayangan aku." gumamnya dengan suara bergetar ketakutan dan langkah mengintai bersandar dibalik sudut ruangan, juga gagang pisau dalam genggaman, yang kapan saja siap tertancap jika perampok itu mendekat.


Kini, Maura bisa merasakan derap langkah itu kian dekat. Serta bau harum tercium samar yang cukup ia kenali. Dan wajah serta kemeja hitam yang perlahan semakin jelas dari bias lampu yang terpasang di area kursi pengunjung dan dapur ketika dirinya mengintip dari balik tembok dinding. Berhasil mengendurkan kakinya yang terasa tegang dalam posisi siaga. Serta gagang pisau digenggaman yang sejak tadi dalam posisi waspada perlahan turun ke bawah. Menarik kepalanya kembali, Maura bersandar pada tembok dinding mengatur nafas yang perlahan lega.Ternyata dia. Untung aja aku cepat lihat. Kalau enggak, malam ini mungkin aku bisa langsung jadi janda.

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa ada disini?"


Suara itu mengagetkan Maura. Dia melihatku??


"Dari jauh aku sudah melihatmu." Damar mengerti arti keterkejutan diwajahnya. Pria itu menujukan dagu ke arah dinding ruangan pengunjung yang terpasang cermin besar tepat menghadap pintu utama restoran. Terlihat jelas pantulan dirinya dari dalam sana karena cahaya lampu yang terang benderang.


"Enggak sengaja terkunci." akunya dengan nada malas sambil berjalan ke dapur untuk mengembalikan pisau. Moodnya mendadak rusak melihat pria itu. Rencana membuat kimchi pun akhirnya batal.


Damar memperhatikan Maura yang memasukkan satu persatu kembali bahan kimchi kedalam kulkas. Sejenak ia menghela nafas lalu kembali bersuara."Keluarkan lagi. Aku akan mengajarimu bagaimana membuat kimchi yang benar."


Tersisa kecap asin yang hendak segera dimasukkan membuat tangan Maura berhenti. Ia melihat pada Damar dengan pandangan sinis dan tak percaya. Si pria pelit ilmu ini ingin mengajariku? yang benar saja.


"Sesuai kesepakatan kontrak, kalau aku berani mencium bibirmu maka aku harus bersedia mengajarimu memasak. Bukan begitu?."


Mendengar itu dahi Maura berkerut.


"Walaupun itu bukan sepenuhnya salahku. Tapi dirimu lah, yang lebih dulu memulai."


"Apa??."Maura semakin tak mengerti. Aku menciumnya?


"Tapi sebagai pria yang bisa menepati janji ... aku akan melakukan kesepakatan kita yang sudah tertulis di dalam kontrak. Jangan berpikir aku membohongimu. Kalau aku berniat curang .... aku bisa saja menutupi semua ini dan tidak perlu mengajarimu memasak. Toh, sampai ka pun kamu tidak akan tau."


Maura menelan ludah. Perlahan menunduk menutupi wajah yang mendadak panas. Mengingat kembali mimpi itu yang memang terasa sangat nyata. Jadi ciuman itu beneran?


Ia merasa malu, geli, dan bodoh ketika mengingat betapa didalam mimpi itu ia begitu menggebu. Beberapa saat Damar diam, ia dengan ragu akhirnya membuka suara.


"Untuk ciuman itu ... kamu enggak perlu memenuhi kesepakatan kontrak, Mas. Itu semua salahku."ucap Maura masih menunduk, kemudian langsung pergi dari dapur.


"Kamu mau kemana?."


"Pulang."sahut Maura tanpa melihat. Mendadak hatinya berkecamuk. Malu, kesal pada diri sendiri, marah yang tidak menentu seolah menjadi satu. Membuatnya tak ingin melihat pria itu saat ini, disini. Tapi langkahnya dibuat terhenti karena Damar dengan cepat mengejar dan menarik lengannya.


"Kita pulang sama-sama."

__ADS_1


"Aku bisa pulang sendiri.!."sergah Maura cepat.


"Enggak ada taksi malam-malam begini, Maura."Damar memperhatikan wajah gadis itu yang berubah penuh emosi."Kamu kenapa, sih? kenapa tiba-tiba ketus begini. Aku salah apa?."


Pertanyaan itu membuat Maura terdiam. Dirinya sendiri pun tak mengerti alasan dibalik kemarahannya yang tak menentu. Ketika itu, ponsel dari dalam saku celana Damar bernyanyi. Pria itu mengambil kemudian menjawab, masih dengan genggaman tangannya di lengan kurus Maura.


"Iya, ada apa?." sahut Damar, ketika saat itu ia dibuat tersentak merasakan Maura melepaskan tangan dengan kasar, langsung melangkah cepat menuju pintu.


"Maaf, Hardi ... aku tutup dulu. Nanti ku telpon balik."


Maura yang sudah berada didepan pintu seketika menggeram. Ingin segera pulang tapi lupa meminta kunci. Jemarinya mengusap pipi yang tiba-tiba basah karena air mata yang turun tanpa alasan. Dasar bo doh! umpatnya pada diri sendiri.


Denting besi yang beradu membuatnya menoleh. Damar sudah berdiri dibelakang dengan beberapa kunci ditangan, menjuntai tepat didepan wajahnya. Berada pada posisi ini, membuatnya bak korban penculikan yang hendak melarikan diri dari sang penyandera, namun ketahuan.


"Butuh ini?."


"Berikan padaku!." Maura ingin merampas tapi Damar dengan secepat kilat langsung menarik kembali.


"Kita pulang sama-sama. Aku takut kamu kenapa-kenapa lagi, seperti malam itu."sahut Damar dengan suara yang lembut berharap gadis itu mendengarkannya. Namun Maura lagi-lagi menatapnya sinis.


"Enggak usah sok peduli. Kamu disini aja. Bukannya tujuan awal kamu memang mau kemari dan bukan mau pulang ke rumah. Ngapain harus repot-repot nganterin aku?."cetus Maura dengan suara sedikit bergetar dengan mata yang kembali terasa memanas.


"Kamu urus aja pacar kamu itu, Mas. Bukannya kalian udah janjian buat ketemuan disini? Belum puas kan, tiga hari di Bandung?."


Damar tercengang sesaat mendengar rentetan kalimat itu."Pacar?? Maksud kamu, Aira?."


"Siapa lagi? wanita yang selalu menempel sama kamu. Bukan cuma dia aja ... aku juga lihat, bagaimana cemasnya kamu saat mbak Aira pingsan. Kalian saling suka, kan? Kalau iya, kenapa enggak dari awal nikah sama sama dia aja. Jadi kamu enggak perlu nikahin aku."tegas Maura panjang lebar dengan mata semakin panas dan memerah. Detik itu air bening akhirnya mengalir tanpa bisa di tahan.


Damar terdiam, kedua bola matanya memperhatikan gadis itu yang menangis, lalu kemudian tangan kurus itu dengan gerakan gusar langsung menghapus. Membiarkan saja gadis itu terus berbicara menumpahkan kekesalan.


"Enggak perlu menunggu setahun untuk berpisah. Urus perceraian mulai sekarang, biar kamu bisa menikah sama dia!."


Damar masih bergeming, ketika Maura sudah mengambil kunci dari tangannya. Dan gegas membuka pintu.

__ADS_1


"Kita tidak akan bercerai." ucap Damar kemudian. Berhasil menghentikan jemari Maura, dan menoleh.


"Kamu egois, Mas." Maura menatap dengan mata basah.


__ADS_2